“Mom ... Dad ... maafkan Sera ya?” kata Sera dengan tatapan memelasnya kepada orang tuanya. Mereka sekeluarga sekarang sedang berada di restoran dekat pantai, dan Zadith yang mengikuti Sera sedari tadi mengamatinya dari kejauhan untuk memastikan Sera tidak membuat kesalahan fatal.
“Kamu kenapa tiba-tiba? Seharusnya kami yang meminta maaf karena sudah membohongimu sedar waktu kecil,” ujar Lucia seraya tersenyum dan mengusap surai anaknya.
“Iya, seharusnya kami yang meminta maaf kepadamu. Kami terlalu khawatir kehilangan Putri tunggal kami satu-satunya, walaupun tidak sedarah, tetapi Daddy dan Mommy merasakan ikatan batin yang kuat dengan kamu,” timpal Felix.
“Nih Sera ada hadiah buat Mommy dan Daddy, bukanya waktu nanti sampai rumah saja ya.” Sera memberikan sebuah kado berbentuk kota dibaluti bunkusan bewarna biru dan pita merah yang melilitinya.
“Apa ini?”
“Buka saja nanti. Mommy dan Daddy sudah mau pulang?” tanya Sera melihat wajah mereka berdua secara bergantian.
“Iya, kami ada hal penting yang harus diurus. Gapapa kan?” Lucia menatap Sera khawatir, ia takut jika Sera berpikir bahwa dirinya tidak penting lagi.
“Iya tida apa-apa, lagian kan seharusnya kita tidak bertemu, karena Sera masih dalam masa penyesuaian lingkungan sekolah. Nanti kita ketemu lagi waktu Sera liburan,”
“Oke, kalau begitu Mommy sama Daddy pergi dulu ya,” ujar Felix pamit kepada Putrinya.
Mereka bertiga berdiri dan Sera mengantar kedua orang tuanya ke bandara dekat pantai tersebut, sebaik sampai di depan pesawat kecil, Sera dengan cepat memeluk kedua orang tuanya yang sangat disayanginya tersebut. Ia sangat berterima kasih kepada mereka berdua karena telah membesarkannya dengan baik, Sera merasakan nyesak yang sangat kuat di dadanya. Ia tau kenapa mereka berdua seperti ini sekarang, Sera melihat dengan jelas bagaimana sikap mereka yang seakan ingin pergi selamanya dari hadapan Sera.
Sera sangat lama memeluk keduanya dengan erat, begitu juga dengan Lucia dan Felix memeluk Sera dengan erat. Air mata mereka mengalir turun tanpa sadar, mereka saling memendam rasa yang sangat hangat, dan tidak ingin perpisahan ini akan terjadi dengan sangat cepat.
Tiba-tiba Sera dengan cepat melepaskan pelukannya dan membalikkan badannya, “Sudah, cepat kalian berdua pergi.” Ucapan Sera tersebut membuat Lucia dan Felix sedikit kaget, tetapi mereka paham maksud Sera dan dengan cepat mereka memasuki pesawat yang akan membawa mereka berdua pergi. “Sampai jumpa sayang, Mommy dan Daddy akan selalu menyayangimu,” ucap Lucia dan langsung masuk ke dalam pesawat begitu juga dengan Felix.
Sampai hingga pesawat itu hidup dan melesat melaju pergi Sera terjatuh dengan lutut yang menahan tubuhnya, Zadith yang melihat Sera sudah sendirian segara menghampirinya. “Hei, Sera? Apa yang terjadi?”
“Zadith ... gue udah paham sekarang,” ucap Sera seraya menahan tangisnya yang sangat sakit di dadanya, ia tidak mampu berdiri sekarang. Ia sudah lelah dengan semuanya, seperti hal berharga di hidupnya begitu saja lenyap.
“Apa maksudmu?”
“Gue baru ingat, tiga hari yang lalu umur gue genap 17 tahun. Dan gue paham kalau gue merupakan anak titipan melalui perjanjian kontrak dengan sekolah s****n ini,” jawab Sera sembari memukul-mukul lantai di bandara itu.
“Gue ... merupakan anak dari hasil percobaan s****n sekolah ini.”
***
“Dan yang terakhir, kemampuan pasif lo apa?” tanya Xian kepada Angkasa yang duduk santai di hadapannya.
“Ini lebih terlihat seperti pembongkaran paksa identitas, untuk apa lo menanyakan hal seperti itu?”
“Lo kenapa banyak tanya sih? Tinggal jawab doang, ini berguna untuk perkembangan diri kita yang nanti akan dipandu oleh sekolah secara langsung,”
“Kenapa hanya Starzy dan gue?”
“Karena Starzy nanti yang akan diberi tugas untuk mengecek dan keteraturan siswa di sekolah ini, makanya Starzy dan lo itu penting banget untuk sekarang,” ucap Xian yang akhirnya diangguki oleh Angkasa.
“Baiklah, kemampuan pasif gue sesuai dengan zoodiak gue Virgo,” jawab Angkasa yang membuat Xian berkerut bingung, “Maksud lo apa?”
“Sifat dan karakter gue bisa dapat berubah dengan cepat sesuai dengan hal yang lagi gue fokuskan, manipulatif, dan membaur seperti bunglon. Sudahkan?” tanya Xian di akhir kalimatnya.
“Wait, bentar bentar, jadi bisa dibilang sikap lo labil gitu?”
“Mungkin,” jawab Angkasa lalu pergi dari kamar Xian.
“Kalau sikapnya begitu, kenapa dia yang terpilih menjadi ketua angkatan?” gumam Xian mulai berspekulasi dan meragukan banyak hal.
“Mulai dari Stella, Xera, Rei, Xander, Zadith, George, Sera, bahkan Sana. Semuanya sangat aneh dan memiliki banyak rahasia pada diri mereka.” Xian memperhatikan kembali hasil konseling dia dengan teman-temannya.
“Stella memiliki tubuh yang sangat sempurna dan tidak bisa terluka, bahkan ia dapat melakukan hal apapun yang berkaitan dengan kegiatan fisik, lalu poin tambahan yang gue dapat dari Xera, langkah Stella tidak dapat ditebak karena tidak memiliki hasrat pada dirinya,” ujar Xian membaca halaman bagian Stella dengan cermat dan menyimpulkannya dengan cepat.
“Lalu Xera...” Xian berhenti di halaman Xera, ia tidak terlalu memahami apa kemampuan dari Xera karena bisa dibilang tidak ada?
“Aneh.. ia hanya berkata bahwa dirinya tidak memiliki apapun.” Xian mencoba mengingat hal yang berkaitan dengan Xera, ia benar-benar kesulitan bagamana mendeskripsikan kepribadian Xera, bukan hanya Xera. Seluruh Starzy pun begitu, mereka semua sangat sulit ditebak.
“Tidak, justru dia memiliki segalanya.” Xian menggaruk kepalanya, ia tidak sejalan sama hal yang dikerjakannya sekarang.
“s**l! Gue masih nggak paham apa itu kemampuan pasif, dan yang lain sepertinya begitu. Tetapi mengapa di lembaran yang diberi sekolah ini ada pertanyaan seperti ini, bahkan dibuat dengan huruf kapital dan dicetak tebal menandakan ini sangat penting diisi.”
“Terus tugas gue yang sebenarnya apa? Para Dater menyuruh gue untuk ... membuat kesimpulan dari masing-masing karakter Starzy, tetapi gue masih belum memahaminya.”
Xian meregangkan tubuhnya dan mendongakkan kepalanya ke atas, ia lumayan penat menghadapi Angkasa yang terlalu banyak menyembunyikan sesuatu. Walaupun sebenarnya semuanya begitu sih, tetapi dia terlalu rapat menutupi dirinya,” gumam Xian.
“Dan satu-satunya yang mungkin sangat berbahaya adalah ...” Xian membalik-balik berkasnya yang di atas meja dan menunjuk sosok perempuan berkulit pucat dengan wajah khas Indonesia dan mata koreanya.
“Sana. Ya, dia terlalu berbahaya jika tidak diawasi untuk sementara ini.”
***
Rei menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang tidak jauh dari Villate. Rei hanya ingin memastikan saja, apa yang dikatakan oleh Angkasa merupakan hal yang benar tentang bagaimana sebenarnya Nayla yang mempunyai sifat sangat terbalik dari kehidupannya sekarang.
Rei memasangkan sebuah pin pada mobilnya, lalu pin itu terlihat menyelimuti keseluruhan mobil Rei dan perlahan menghilang berbaur dengan keadaan di sekitarnya layaknya bunglon. Terlihat seperti mustahil bukan? Tetapi itulah kemampuan sosok Xander yang dapat menciptakan alat sesempurna itu.
Rei mulai melangkahkan kakinya memasuki pinggiran hutan yang penuh dengan semak semak belukar dan tajam. Hutan kali ini beda dengan kebanyakan hutan di Starlight School, hutan yang sekarang dimasuki Rei sama sekali tidak terawat dan energinya kacau, semua tumbuhan menyatu saja dan banyak duri duri tanaman tajam dimanapun. Tidak dengan hutan terlarang yang selama ini menjadi tempat untuk perkembangan siswa, di sana sangat bersih dan menenangkan.
Setelah Rei mulai menyesuaikan kondisinya dengan hutan yang sekarang sedang di laluinya. Ia mulai mengedarkan pandangannya dengan memanfaatkan teknologi yang ada pada softlens buatan Xander, softlens tersebut dapat mendeteksi hawa panas dari makhluk hidup. Tentu saja hal itu sangat membantu Rei mencari siapa yang ingin ia mata-matai.
Sudah cukup lama Rei menelusuri hutan belukar tersebut, tetapi ia tidak menemui gudang kecil yang dimaksud oleh Angkasa. “Apa aku hanya dijebak?” celetuk Rei, entah mengapa ia tiba-tiba saja terpikirkan hal seperti itu. Bukan ia meragukan Angkasa dan Nayla, hanya saja mereka terlalu sempurna dan bersemangat mengikuti rencana Rei tanpa menentang sedikitpun, seakan mereka sudah terbiasa dengan lingkunga yang seperti ini dan sedang mencoba mencari mangsa baru untuk mereka tuntaskan.
“Ah..” Rei secara tiba-tiba mencium bau yang sangat menyengat, tetapi harum. Sangat sulit apa yang sekarang dirasakan oleh Rei. Ia mencari asal bau tersebut dan mendapati seekor kuda putih yang tidak berdaya di dekat jurang pada hutan itu, Rei menghampirinya dan memeprhatikan kuda putih itu yang darahnya masiih menetes sedikit demi sedikit dari lehernya.
Rei memeriksa leher kuda tersebut dan menemukan banyak cakaran dan gigitan di daerah sana. “Apa ini?” Rei mengusap bagian luka pada kuda yang sudah mati itu, dan merasakan permukaan yang sangat tidak rata dan berantakan.
“Tidak, ini bukan kerjaan serigala atau hewan pemangsa lainnya, tetapi mengapa bau darah ini amis bercampur harum?”
Rei secara tiba-tiba merasakan sebuah pergerakan di arah belakangnya dan ia dengan cepat menoleh, mendapati sosok berjubah hitam mengawasinya, sensor softlens yang ada pada matanya menunjukkan warna merah yang begitu kuat dan mengartikan itu merupakan sosok manusia. Rei dengan cepat mengejarnya, sosok berjubah tersebut pergi dengan cepat dan semakin mengarah ke dalam hutan yang minim cahaya.
Rei berhenti, ia segera berbalik arah. Ia tau sekarang sedang dijebak, Rei kembali ke jurang di mana kuda putih tadi terkapar, tetapi ia sudah tidak menemukan appaun dan hanya tulisan mengering dari darah yang berpadu dengan tanah saja yang ia dapatkan.
“Kau terlalu mudah ditebak dan dijadikan b***k pion, Rei.” Tulisan terssebut langsung dihapus Rei menggunakan alkohol dan menggeseknya dengan sepatunya. Ia juga kembali memberikan alkohol pada sepatunya, tidak ingin meninggalkan jejak pada dirinya.
“Sebentar..” Rei teringat akan suatu hal yang cukup mengganjal pikirannya. Ia mencoba melihat video yang direkam oleh softlensnya beberapa waktu lalu. Memutar bagian di mana ia di mengejar sosok berjubah hitam. Lalu menjedanya saat sosok itu melihat ke arah samping.
“Wajah ini ... Bukannya itu Zadith?”
***
“Angkasa, lo kenapa gitu sih?” tanya Nayla kepada Angkasa yang sedang sibuk menyetir mobilnya. Angkasa emang diberi fasilitas serupa dengan Starzy hanya saja tempat mereka tinggal berbeda.
“Kenapa? Tentang yang tadi? Yaelah gue Cuma bercanda, ingin mengetes mereka saja, terutama Stella.”
“Hah? Kenapa gitu?”
“Hanya ingin membuktikan sensor mereka yang katanya dapat mendeteksi kebohongan seseorang.” Tidak lama setelah Angkasa berkata seperti itu, sebuah pukulan melayang di kepalanya. Nayla memukulnya dengan buku tebal, lalu berpindah ke lengannya. “Lo kira lucu? Jangan kaya gitu juga b**o, mereka manusia Angkasaaaa, bukan tuhan yang dapat mengetahui segalanya. Lo makin kesini makin b**o ya gue lihat.”
“Aduh.. jangan pukul-pukul gue begitu woy, bisa bisa kita jadi arwah dua duanya. Mau lo?” teriak Angkasa mulai panik, karena Angkasa itu tipe orang yang kalau digangguin dia nggak akan bisa fokus. Pasti semuanya bakalan hancur.
“Ya jangan sampai nabrak juga lah,” elak Nayla tidak terima ia disalahkan.
“Mau nyoba?”
“Lo duluan,”
Angkasa mulai menggerakkan mobilnya aneh, “Woi-woi, Lo nggak seriusan ingin bunuh diri kan?” tanya Nayla panik.
“Gue Cuma bercanda kali,” ujar Angkasa lalu menetralkan pergerakan mobilnya.
“Jadi lo itu nggak suka sama Starzy?” Angkasa terdiam cukup lama dan tidak menjawab, “Bukan begitu, gue hanya tidak suka salah satu dari mereka saja.”
“Siapa?”
“Rahasia.”
“YAA ANGKASA!”
***
“Jadi ini tempat khusus untuk tumbuhan herbal? Cantik ya, baru tau gue di Starlight School ada tempat beginian.” Nayla dengan girang berlari-lari di tempat yang luas dan sejuk itu.
“Apa coba yang tidak ada disini? Lo harus banyak menjelajahinya, bahkan wahana bermain aja disini ada.”
“Hah? Lo serius?” tanya Nayla menatap Angkasa tidak percaya, ekspresi datarnya menunjukkan wajah kebohongan di sana.
“Iya serius,” jawab Angkasa.
“Bohong lo, yakali.”
Angkasa mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan wahana Starlight School yang di rekamnya beberapa hari yang lalu, “Lo lihat ini tanggal berapa?” Angkasa menunjuk pojok kiri bawah ponselnya yang menunjukkan waktu perekaman video.
“Tiga hari yang lalu? Lo kok nggak ajak gue sih, yaudah kita kesana aja yuk.” Nayla menarik tangan Angkasa yang tentu saja tidak membuat Angkasa bergerak karena tubuh lemahnya Nayla.
“Ayo ih,” kesal Nayla.
“Kita selesaikan dulu ini, nanti janji deh gue temani lo kesana sepuasnya.”
“Baiklah.. mari kita cari tumbuhan yang kemungkinannya sangat cocok.” Nayla kembali masuk ke area tumbuhan herbal dan berjalan melihat-lihat seluruh tanaman dengan bentuk yang aneh hingga indah.
“Eh, tapi tunggu sebentar. Kalau misa tanaman itu dipakai di setiap makanan, berarti secara tidak langsung itu mengartikan tanaman tersebut sering dipakai. Tanaman yang mudah tumbuh dan pastinya banyak dikembangkan di sekolah ini. Bukankan begitu?” Nayla menanyakan pendapat Angkasa yang berjalan di belakangnya.
“Mungkin iya dan tidak, bisa jadi mereka menaruhkan tanaman itu di tempat rahasia yang tidak diketahui apapun. Atau bisa jadi juga tanaman itu merupakan tanaman yang bisa tumbuh dimana saja dan ada di setiap penjuru lingkungan sekolah,”
“Tapi entah mengapa gue merasa itu bukan tanaman herbal, melainkan tanaman beracun.” Nayla mulai memikirkan kemungkinan lain dan membalik lembaran-lembaran buku yang diberi oleh Stella, ia berusaha mengingat tanaman yang dilingkari dengan spidol merah oleh Stella.
“Kalian berdua ngapain kesini?” tanya sebuah suara yang dikenali oleh mereka berdua.