Sana meminum kopi hitam kesukaannya, ia menyesap, dan juga menghirup aroma kopi yang menurutnya sangat enak tersebut. Sana membuka buku jurnal catatannya, ia selalu membawa buku itu kemana-mana, sangat penting bagi Sana untuk melindungi buku yang sangat berharga baginya itu.
Sana sekarang sedang berada di tempat rahasia yang jarang diketahui oleh orang-orang, hanya bagi mereka jiwa penjelajah saja yang akan menemukan tempat ini. Starlight School emang sekolah terbaik dan tempatnya pun luas, tetapi masalah denah, daerah, dan fasilitas yang tersebar di seluruh penjuru pulau. Itu merupakan tugas masing-masing siswa untuk mengetahuiny, pihak sekolah hanya menyediakan saja, untu berbagai hal yang ada itu urusan siswa.
Disinilah Sana sekarang yang termasuk siswa langkah dan dapat dengan mudah melihat pemandangan indah, ia sedang berada di menara yang sangat tinggi dan sunyi, sekeliling menara itu dikelilingi oleh hutan tinggi dan lebat, tetapi sangat terawat. Sana yakin bahwa ada orang yang setiap seminggu sekali membersihkan tempat ini, menara yang ia kunjungi pun sangat bersih. Tetapi walaupun begitu, Sana belum pernah menemukan orang yang datang kemari atau berpapasan ketika berjalan ke arah sini.
Dari atas menara, Sana dapat melihat pantai dengan pasir dan air indah di arah barat, gunung yang dipenuhi tumbuhan di selatan, dan selebihnya hanya hutan hutan. Sana sudah tau dengan jelas dan memaklumi bahwa di pulau ini terdiri dari 85% hutan, jadi ia sudah tidak heran jika sepandang memandang hanya melihat hutan-hutan saja.
“Baiklah, mari kita coba untuk membuat cerita yang menarik.”
Sana membaca ulang jurnalnya yang memiliki isi cerita dengan judul “Scarlet”
Kila merupakan seorang anak keturunan kerajaan yang sangat mewah dan agung. Ia sangat dimanja oleh keluarganya sehingga ia menjadi putri yang naif dan pembangkang, bahkan sikapnya sangat acuh tak acuh. Ini sangat membuatnya dibenci oleh satu kerajaan, semua orang akan sangat paham dengan sikap ceroboh dan sembrono putri mereka, Tidak ada satupun yang menyukainya, selalu saja setiap hari Kila mendapati tatapan tidak suka dan benci dari banyak orang, sosok Kila hanya membalasa mereka dengan kekuatan kekuasaannya yang merupakan anak raja.
Pada suatu hari Kila disuruh untuk pindah ke luar kerajaan karena penduduk mulai resah akibat sikap Kila yang tidak mencerminkan kebaikan dan contoh yang baik. Rakyat kerajaan mulai memboikot keluarga istana jika tidak mengeluarkan Kila dari garis keturunan mereka dan melemparkannya ke luar kerajaan. Kila yang awalnya mendapatkan kabar itu marah besar dan tidak terima, tetapi apa daya kekuasaan ia dibawah raja. Kila akhirnya diusir keluar dari keluarga kerajaan.
Kila diusir tanpa diberi bekal apapun, ia dibuang di sebuah hutan, dan sebaik bangun ia sudah berada di lain tempat saja. Ia awalnya merasakan sakit yang luar biasa karena merasa terbuang, tetapi semakin lama ia semakin merasakan ada gejolak liar lain di dalam dirinya yang lebih ingin kebebasan, ia akhirnya kembali ke ibukota kerajaan dengan menyamar sebagai warga biasa. Ia bermain dengan licik disana, wawasannya yang sudah pasti luas membuat siapa saja warga yang berjumpa dengannya sangat takjub,
Mulai muncul ide buruk Kila, bagaimana jika ia mencoba membunuh satu per satu warga desa dengan mengerikan, lalu memberikan surat peringatan kemarahan dari dewa atas pengusirannya yang snagat tidak sopan.
Saat itulah Kila muloai merencanakan ide buruknya, dalam sehari ia sudah merancang semuanya, dan dalam tiga hari ia sudah mencari target dan menyekapnya di rumah. Di hari ke-empat ia sudah menaruh para korbannya sebanyak 7 ke pasar pusat di desa yang sangat ramai di kunjungi. Semuanya heboh dan kaget, setelah sampai berita tersebut ke kerajaan. Kerajaaan langsung menyelidiki kasus itu, tetapi semua prajurit yang menyelidiki kasus itu tiba-tiba hilang selama seminggu, dan ditemukan seminggu kemudian para prajurit sudah mati tergantung diri mereka di lehernya pada sebuah pohon besar di kerajaan itu.
Pohon yang dianggap sebagai sumber kehidupan, berubah sekejap menjadi pohon berdarah dan terkutuk. Bacaan dengan darah mengering dimana-mana sudah mulai menyebar dengan tulisan, “Kembalikan tuan putri dan beri dia kekuasaan tertinggi di negeri ini!”
Tulisan seperti itu semakin berada di manapun, Kila hanya tersenyum tipis melihat para warga yang heboh, ia terkadang sering membantu mereka membersihkan tempat pembunuhan untuk membersihkan identitasnya dengan hati-hati
Tidak lama, Putri dipanggil kembali untuk mendatangi kerajaan. Putri yang mendengar itu sangat senang, Kila akhirnya mempersiapkan dirinya kembali dengan begitu indah dan anggun. Tanpa menunggu panjang, Kila datang pada hari esok setelah pengumuman disebutkan, semua kekhawatiran semakin bercampur aduk, warga takut mereka akan dieksekusi mati karena telah menghancurkan hidup Kila sebelumnya.
Saat malam penobatan Kila di hari itu juga. Sebuah tikaman dari pedang Raja, yaitu ayah Kila mendarat tepat menusuk di jantung Kila. Kila kaget bukan main melihat pemandangan menjijikan Ayahnya saat menikamnya, lalu jatuh terkapar di lantai dengan mengenaskan. Semua mereka yang berada di sana sangat syok bukan main melihat kejadian itu.
Setelah seminggu semenjak kejadian itu, kerajaan mulai kembali tentram dan aman, tidak ada tanda-tanda yang dapat merusak kerajaan itu kembali. Meskipun sebenarnya Kila yang asli masih terduduk manis di sebuah pohon apel kembali mencari mangsa baru, ia lebih tertarik untuk hidup sebagai pembunuh.
Sana berhenti membaca, karena itu sudah merupakan bagian akhir yang ia buat, dengan rengutan tipis ia mulai puas dengan cerita yang sedikit demi sedikit mulai terasa sangat seru. Tetapi akan lebih seru menurutnya jika ini merupakan kejadian nyata.
“Bagaimana jika gue menbuat nama karakter tokohnya dengan memakai nama mereka saja ya? Cerita kehidupan mereka sepertinya lebih menarik dan menyenangkan jika kutulis ulang,” gumam Sana memikirkan bagaimana kira-kira jalan cerita yang akan dibentuknya nanti.
“Baiklah, mari kita coba mulai dari sosok gadis yang naif. Nayla?”
***
Angkasa emang tidak salah ingat waktu itu ia emang menemukan Nayla yang sedang memakan bangkai dari binatang, “s**l, kenapa gue masih mengingatnya? Padahal gue udah coba menghapusnya.”
Angkasa baru saja ingin tertidur, tetapi ia terbangun oleh bayangan mengerikan tentang Nayla dan suara ketukan tanpa salam. “Siapa yang datang malam-malam begini? Jangan bilang Nayla lagi?” Angkasa berdiri dan mebukakan pintu yang memperlihatkan Rei dengan muka datar.
“Eh Rei? Ada hal apa lo datang kesini?” Ucapan Angkasa hanya diabaikn oleh Rei, karena Rei langsung menerobos masuk dan mencari-cari berkas-berkas yang dimiliki Angkasa.
“Lo ngapain?” tanya Angkasa yang tidak sama sekali di gubris oleh Rei.
“Rei, gue tanya sekali lagi. Lo ngapain?” Nada bicara Angkasa sudah berubah yang membuat Rei berhenti mengacak-ngacak meja Angkasa.
“Lo bohong kan sama gue tentang Nayla,”
“Lo kenapa nanya hal itu? Jangan bilang kalau-“ Angkasa memejamkan matanya seraya memijit pelipisnya, “Lo ke hutan itu?” tanya Angkasa kaget bukan main.
“Iya, dan lo tau apa yang gue dapat? Ini seperti jebakan,”
“Calm down, jangan emosional. Lo harus tenang,” ucap Angkasa menenangkan Rei yang lagi dipenuhi oleh amarahnya.
“Lo seakan-akan membodohi gue, Sa!” seru Rei tidak terima.
“Maksud lo?” Angkasa sebenarnya bingung kemana arah pembicaraan mereka.
“Lo berbohonkan bahwa Nayla yang lo liat waktu malam itu?”
“Ngapain juga gue bohong Rei, orang gue melihatnya dengan mata kepala gue sendiri. Langsung saat itu juga gue tanda kalau itu Nayla,” ucap Angkasa sangat yakin.
“Gini deh, coba gue minta apapun itu yang berkaitan dengan Nayla,”
“Hoo... makanya dari itu lo mengacak-acak barang gue?” sindir Angkasa. “Itu bukan hal yang penting sekarang,”
Angkasa terdiam dan langsung menuruti perkataan Rei, entah mengapa ia mudah sekali menuruti perkataan Rei, padahal mereka baru saja mengenal beberapa hari. Angkasa merasakan seperti Rei bisa diandalkan daripada yang lain, lebih tepatnya ia percaya dengan Rei karena sikapnya yang cenderung santai dan bijaksana.
Tidak lama, Angkasa balik dengan membawa sebuah buku. “Nih, semuanya tentang Nayla dan gue tulis sendiri.” Rei mengangguk dan mengambil buku itu lalu membacanya dengan sangat cepat untung menghemat waktu.
“Lo pernah merasakan sikap Nayla yang berubah tidak?” Rei bertanya sembari membandingkan beberapa foto Nayla yang ada pada buku seperti diary tersebut.
“Pasti pernah, bukannya setiap persahabatan selalu seperti itu?” tanya Angkasa.
“Tidak, justru hal seperti itu mustahil terjadi, Waktu sikap dia berubah, lo paham nggak apa yang dia mau? Atau sesuatu yang mengubah sikapnya menjadi seperti itu?” Kali ini Rei bertanya dengan menatap Angkasa yang memikirkan sesuatu.
“Terkadang gue paham, tapi pernah beberapa kali ia terlihat seperti sangat asing.”
“Itu dia! Siapa coba orang berbeda yang memiliki tubuh dan muka persis?”
“Gimana? Gue nggak paham,” celetuk Angkasa.
“Saudari kembar,” balas Rei cepat. Itu membuat Angkasa membelalakkan matanya dan menggeleng cepat, “Tidak, Nayla tidak memiliki saudari kembar,” elak Angkasa.
“Mungkin aja lo tidak diberi tau karena ada keanehan pada saudari kembarnya, lo harus selidiki itu. Nih lo lihat.” Rei mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto yang ia ambil dari rekaman softlensnya, disana menunjukkan perempuan berjubah hitam dengan rambut pirang dan sangat mirip dengan Nayla. Angkasa yang melihat itu membeku seketika, ia tidak menyangka bahwa Nayla memiliki saudari kembar.
Angkasa saat itu juga langsung mempercayai Rei, karena ia melihat sosok perempuan di foto itu sangat mirip dengan Nayla, tetapi sangat asing ketika melihatnya. Ia juga mencoba mengingat saat ia bersama dengan Nayla, hal itu menjawab semuanya. Benar, ada saat ketika Angkasa merasakan keasingan saat berada di dekat Nayla beberapa kali,
“Gimana lo percaya?” tanya Rei yang melihat Angkasa sedikit kaget dan menghayal.
“Iya, gue percaya. Lalu bagaimana?” Angkasa merasakan keadaan sekarang semakin aneh, ia tidak bisa memutuskan langkah yang harus diambil, karena ia pasti akan sulit menemukannya karena Nayla merupakan orang terdekatnya, bahkan sahabat sedari kecilnya.
“Kalau misal gue suruh lo untuk ikutin perkataan gue tentang beberapa hal, lo bakalan nurut nggak?” Rei berjalan menaruh buku yang diberi Angkasa tadi ke meja belajar dan Rei duduk di kursinya menunggu jawaban Angkasa.
“Tergantung,”
“Tenang, ini tidak akan terlalu berbahaya dan merugikan pihak siapapun. Tetapi lo harus bisa melakukannya, serealistis mungkin. Bisa?”
“Gue harus apa?”
“Lo harus coba ubah sikap lo saat bersamanya setiap dua jam sekali,”
“Tujuannya apa?” tanya Angkasa tidak paham. “Bukankah sudah jelas? Tujuanya adalah membuat dia bingung dengan sikap lo dan mengetes seberapa tau dia tentang lo, dengan begitu nanti secara tidak sadar ia mengeluarkan sifatnya yang asli.”
“Jadi selama ini dia hanya bersandiwara?”
“Bukan, lebih tepatnya ia banyak menyembunyikan sesuatu. Sehingga ia harus menetralkan sikapnya supaya tidak ketahuan siapapun.”
“Baiklah, gue paham,” kata Angkasa menutup pembicaraannya bersama dengan Rei.
***
“Sana, lo mau kemana?” tanya Xian dan menghampiri Sana.
“Balik ke kamar, kenapa?” tanya Sana tidak mengerti baahsa tubuh Xian.
“Nggak apa, gue hanya bau bahas sesuatu tentang beberapa materi. Boleh?”
“Oh ... boleh kok, mau dimana?”
“Di kamar lo aja, gue penasaran bagaimana desain interior yang diberi oleh Starlight School untuk lo.” Xian berbohong.
“Baiklah, ayo sini.” Xian tersenyum mendengar jawaban Sana, “Kena kau, penyihir!” batinnya.
***
“Stella!” panggil Nayla.
Stella yang lagi bersibuk latihan memanah menghentikannya dan menaruh perlengkapannya dibawah, lalu melihat asal suara yang memanggilnya dari kejauhan. Ia melihat sosok perempuan yang sedang berlari ke arahnya, yang ternyata itu adalah Nayla.
Sebaik sampai di dekat Stella, Nayla tidak berbicara apapun karena ia terengah-engah. Stella yang melihat Nayla membawa buku yang diberinya tadi pagi pun mengerutkan keningnya, “Lo udah dapat tanamannya? Kenapa cepat sekali?” tanya Stella heran.
“Oh begini ... itu yang ingin gue sampaikan. Saat gue sama Angkasa sampai di pembudidayaan tanaman herbal, kami bertemu dengan Sera.”
“Sera? Ia terlihat baik-baik saja bukan? Sudah tiga hari kami tidak melihatnya,”
“Lebih dari baik menurut gue, dan gue beritahu kepadanya kalau kita sedang cari tanaman herbal. Lalu gue jelaskan satu persatu tentang semuanya dengan cepat, ia pun langsung paham karena sudah menyadari sebaik datang ke sekolah ini, tapi ia sedikit tidak yakin dengan pemikirannya.”
“Terus, Sera bilang kalau itu bukan tanaman herbal melainkan tanaman beracun yang bernama ‘Black and white flower of evil’, itu merupakan tanaman langka yang bisa dihitung jari keberadaannya di dunia. Dan ia sudah lebih dahulu mencari tanaman itu bersama Rei untuk dimusnahkan di sekolah ini karena berbahaya, dan membuat obat untuk keperluan yang lebih baik,” sambung Nayla dan menghentikan perkataannya. Ia terlihat kelelahan berkata panjang lebar habis berlari ke tempat Stella.
“Sewaktu sampai di sana, mereka sudah menemukan tumbuhan itu hilang dan sudah digunakan oleh oknum yang tidak bertunggung jawab yang ternyata sekolah ini. Kata Sera juga tumbuhan seperti itu dapat membunuh seluruh penduduk di bumi karena racunnya, dan kalau untuk memproduksi ransangan syaraf pusat otak dan ingatan, itu bisa saja didapat dari bunga itu. Bisa dipakai selama 10 tahun lamanya dengan memudarkan racunnya menjadi banyak serbuk obat,”
Stella langsung mengangguk paham dengan semua perkataan Nayla. “Baiklah, gue paham. Lo bisa balik ke Villatte, biar kami yang urus masalah obat. Dan bisa nggak lo dengan Angkasa setiap malam menjaga gerbang utama Villatte untuk melihat siapa saja yang keluar sewaktu malam hari?” tanya Stella yang dengan cepat diangguki Nayla.
“Tentu saja bisa, apa yang tidak bisa kami lakukan?” Nayla tentu saja sangat girang menerima perintah dari Sera, ia snagat menyukai dunia malam, karena dapat meliht bintang-bintang favoritnya, terlebih lagi galaksi andromeda yang sangat cantik dan menenangkan jika dilihat.
“Gue percayakan semuanya sama lo,” ucap Stella sembari mengenggam kuat pundak Nayla dengan sebelah tangannya.
“Siap!” seru Nayla.