Pagi hari aku sudah berkutak didapur, dan ya setiap pagi inilah keseharianku,sebelum berangkat kerja shif pagi aku slalu menyempatkan memasak untuk sarapan diriku dan Ayah. Wangi tumisan bawang putih dan bawang merah bercampur sedikit cabai rawit yang diulek lembut memenuhi indra penciumanku yang kurasa harumnya sangat aku sukai. Pagi ini aku memasak simpel saja yaitu nasi goreng karena aku belum sempat berbelanja dan untungnya Ayah tidak masalah tentang apapun yang akum asak, karena bagi Ayah masakan terlezat yaitu masakanku dan juga masakan Almarhum Ibu
“aduh baunya harum sekali sayang” kata seseorang yang tak lain adalah ayah, akupun langsung menengok kearahnya dan tersenyum
“iya dong siapa dulu yang masak”
“anak ayah yang paling cantik”
“iya lah anak ayah kan Cuma aku, ya aku yang paling cantik” kataku membuat Ayah tertawa
“kamu shif pagi sayang?”
“iya Yah, alhamdulilah Mba Diva ngertiin aku kalau harus jaga ayah jadinya dia kasih aku jaga malamnya Cuma dua kali dalam satu minggu”
“apa temanmu engga ada yang iri sayang?”
“alhamdulilah engga Yah, palahan mereka yang ngrekomendasikan aku suruh jaga malamnya dua kali aja”
“syukurlah kalau begitu, Maafin ayah ya jadi nyusahin kamu” kata Ayah membuatku yang sedang menuangkan nasi goreng ke dalam mangkuk besar berhenti dan langsung menatap Ayah
“Ayah, kan aku udah pernah bilang Ayah sama sekali engga nyusahin Alisha, jadi jangan bilang kaya begitu terus deh” kataku dan langsung menyelesaikan menuangkan nasi goreng ke dalam mangkuk, setelah itu aku langsung berjalan ke meja makan tempat dimana ayah sedang duduk disitu
“Tuh kan dibilangan jangan merasa bersalah begitu udha deh yah” kataku kepada Ayah, dan Ayah hanya tersenyum kepadaku
“iya sayang maafin Ayah yah”
“kali ini aku maafin, kalau besok kaya begitu lagi aku ngambek loh” kataku dengan wajah cemberut membuat Ayah tersenyum dan langsung mencubit pipiku dengan Gemas
“anak ayah udah besar main ngambekan, kaya anak kecil aja”
“biarin kan aku kaya begini Cuma sama Ayah”
“kalau sama Genta gimana?” kata Ayah menggodaku, dan akupun hanya tersipu malu, setelah Ayah mengatakan Mas Genta aku jadi ingat tadi malam dia mengatakan akan menjemputku dan berangkat Bersama dan juga dia meminta dibuatkan sarapan
“ih Ayah, udah jangan godaain aku, sekarang sarapan yuk udah jam tujuh kurang sebentar lagi aku berangkat”
“iya iya deh, berangkat sama siapa?”
“sama Mas, Genta tadi malam katanya mau nganter aku padahal kan pasti dia Lelah karena perjalanan jauh, tapi ngeyel banget”
“itu tandanya cinta, Ayah dulu sama Ibu juga begitu”
“iya kan dulu Ayah bucin banget sama Ibu, dan Ayah yang ngejar-ngejar Ibu dulu kan”
“Ibumu itu dulu banyak yang suka dan ngejar-ngejar dia sayang, dan saat Ayah tahu Ibumu baru putus sama pacarnya, Ayah langsung deketin dia, aduh Ayah jadi kangen sama Ibu Sha”
“Alisha juga kangen Yah, ya udah nanti sore kita tengokin Ibu ya Yah”
“oke” jawab Ayah
“ya udah sekarang kita sarapan ya yah”
“iya sayang”
“berapa centong?”
“dua centong aja sayang”
“oke” jawabku dan aku langsung melayani Ayah, setelah mengambilkan Ayah akupun mengambil untukku, dan setelah itu kami sarapan Bersama dengan suasana yang harmonis, walaupun hanya makan berdua dengan menu yang sederhana tapi bagi kami sangat nikmat.
***
Setelah mengantar Alisha kerja, ternyata aku mendapatkan kabar dari Juna bahwa meeting dibuat lebih awal pukul setengah Sembilan karena Papa juga ikut dalam meeting itu, kata Juna Papa ingin mengetahui bagaimana kinerjaku diperusahaan, memang Papa belum memberikan jabatan direktur kepadaku karena aku tidak mau langsung ke jabatan yang tinggi dan akhirnya aku meminta untuk dibagian yang terbawah dulu dan sekarang aku sudah menjabat sebagai Manajer Pemasaran. Dan karena Meeting diajukan, dan alhais aku belum sempat mencicipi sarapan yang dibuat oleh Alisha
Meeting berjalan denngan lancer, dan aku melihat Papa sangat puas dengan hasil penjualan bulan ini. Setelah meeting selesai aku langsung menuju ruanganku karena sungguh aku sangat lapar terlebih lagi saat meeting tadi aku membayangkan masakan Alisha.
Sesampai diruanganku aku langsung mengambil kotak bekal dengan semangat, dan setelah membukanya aku tersenyum melihatnya, nasi goreng dengan telur dadar yang diiris-iris dan dibuat bentuk lucu yang menampilkan wajah senyum. Akupun tersenyum melihat bekal yang dibuat Alisha sungguh sangat sayang jika dimakan, tapi aku juga lapar. Saat diriku sedang menatap bekal yang dibuat Alisha, pintu ruanganku terbuka, akupun mendongkak dan mendapati Papa berjalan kearahku
“Papa ngapain kesini?” tanyaku santai
“emang engga boleh papa datengin anak Papa, kamu bukannya setelah meeting nemeuin Papa malah langsung pergi begitu saja” kata Papa dan langsung duduk disofa depanku
“aku belum sempat sarapan Pa, makanya laper langsung pergi begitu aja”
“makanya pulang ke rumah, kamu ini punya rumah malah lebih suka tinggal diaparteman”
“kan lebih dekat sama kantor Pa”
“sama aja alasannya dari dulu, engga pernah berganti”
“hehehhe Papa tahu aja” kataku dengan memulai menyendokan nasi goreng buatan Alisha
“tumben kamu bawa bekal pakai tempat bekal biasanya kamu pesan direstoran” tanya Papa, akupun hanya tersenyum
“pasti daric e*e kamu yah?” tanya Papa, namun aku masih terdiam dan tersenyum kearap Papa
“kapan kamu kenalin dia ke Papa dan Mama Ta, udah tiga tahun kan kamu menjalin hubungan sama dia” kata Papa membuatku terkejut karena sungguh aku tidak pernah menceritakan hubunganku dengan Alisha
“engga usah terkejut begitu Papa udah tahu kok”
“kok bisa Pa?” tanyaku dan Papa hanya tersenyum
“kamu engga perlu tahu Papa tahunya dari mana, yang ingin Papa tanyakan apakah kamu beneran serius sama dia dan apakah kamu mencintainya?”
“aku sangat mencintainya Pa dan juga Genta serius sama dia”
“bagus, kalau begitu tunggu apa lagi kamu bawa dia temui Papa dan Mama?”
“apakah Papa merestuinya, Alisha bukan dari…” kataku terpotong oleh Papa
“bukan dari kalangan atas begitu?” tanya Papa kepadaku karena sungguh ini yang aku takutkan
“Genta-Genta, kamu ini, kamu tahu kan Papa dulu juga bukan dari kalangan atas kalangan biasa, dan kamu tahu kan baik Mama dan Papa engga memandang status seperti itu” kata Papa, dan akupun cukup tahu bahwa Papa memang bukan dari kalangan atas dan Kakekku dulu juga hanya memiliki perusahaan kecil tidak besar, sedangkan Mama memang dari kalangan atas dan yang kutahu pernikahan Mama dan Papa dikarenakan karena perjodohan.
“jadi kamu engga perlu takut bawa dia ke hadapan Papa dan Mama, dan Papa yakin wanita pilihan anak Papa itu Wanita yang baik-baik”
“jadi beneran Papa menrestuinya?” tanyaku lagi dan Papa mengangguk
“tapi kamu sebaiknya mengatakan kepada Mamamu dulu sebelum kamu membawa Alisha ke rumah”
“baik Pa, terimakasih Pa” kataku kepada Papa, sungguh aku merasa Bahagia Papa sudah merestuiku dan setelah ini aku tinggal mengatakannya kepada Mama, semoga Mama juga merestui sama seperti Papa yang merestui diriku dengan Alisha.
***
Pukul empat sore Genta sudah selesai bekerja dan dia akan langsung pulang ke rumahnya dan menemui sang Mama, setelah mendapatkan saran dan restu dari Papanya, Genta juga akan meminta restu kepada sang Mama, dan harapa Genta semohga sang Mama sama-sama merestuinya.
Sesampai dirumah, Genta disambut oleh Bi Minah, asisten rumah tangga dirumah Genta yang sudah bekerja dirumah ini dari Genta kecil
“Mama ada Bi?”
“ada den, ditaman belakang, digazebo membaca buku seperti biasanya” jawab Bi Minah
“oke Bi, aku langsung ke belakang ya”
“silahkan den” jawab Bi Minah, Gentapun langsung berjalan menuju taman belakang untuk menemui Mamanya, sesampai ditaman belakang Genta melihat sang Mama sedang sibuk membaca buku digazebo, Gentapun tersenyum dan berjalan menuju Gazebo, Mama Genta yang tengah asyik membaca buku tidak mengetahui anaknya sedang berjalan kearahnya hingga kegiatan membacanya berhenti kala mendapatkan pelukan hangat dari seseorang
“Mama asyik banget baca bukunya, sampai aku berjalan ke sini aja engga sadar” kata Genta dan hanya dijawab senyuman oleh sang Mama
“kamu masih inget pulang?” bukannya menjawab pertanyaan dari anaknya, Mama Genta malah bertanya balik
“Mama kok bilangnya begitu”
“habisnya kamu pulang ke rumah Cuma satu bulan sekali”
“hehhee aku kan sibuk kerja Mama”
“slalu saja alasannya begitu”
“iya iya deh, Genta minta maaf ya Ma, Genta janji deh bakal sering-sering pulang ke rumah” kata Genta dengan memeluk Mamanya dengan erat
“janji yah, rumah sepi tahu Ta, semenjak Salsa pergi ke Inggris ngelanjutin studi rumah jadi sepi, engga ada kamu sama Salsa” kata Mama terlihat sedih
“iya iya Ma, maafin Genta ya Ma”
“iya kali ini Mama maafin, kamu juga Ta lebih baik Kembali ke rumah aja jangan tinggal diaparteman terus” kata sang Mama membuat Gentapun tak tega juga
“oke kalau begitu, besok Genta akan Kembali ke rumah Ma”
“kenapa engga sekarang aja sih Ta?”
“soalnya pekerjaan Genta, Genta tinggal diaparteman Ma”
“ya udah kalau begitu, tapi janji yak amu Kembali ke rumah”
“iya iya Ma”
“oke, terus ada apa kamu pulang ke rumah?”
“kangen sama Mama dan juga masakan Mama”
“beneran Cuma itu?, engga ada sesuatu yang ingin diomongin sama Mama?”
“ada sih Ma?”
“ap aitu?” tanya sang Mama dengan penasaran dan menatap Genta, Gentapun menatap sang Mama dan menimbang-nimbang apa yang akan dia katakana
“apa Ta?, jangan bikin Mama penasaran deh?”
“Genta mencintai seorang Wanita Ma” kata Genta dengan menutup matanya dan menunduk takut-takut sang Mama marah, dan tidak ada jawaban sang Mama membuat Genta penasaran dan membuka matanya perlahan dan terlihat sang Mama menatap Genta dengan tatapan datar, dan tentu hal itu membuat Genta takut
“Ma…” panggil Genta lagi namun Mamanya masih terdiam membuat Genta merasa ketakutan hingga dia merasakan pukulan dipunggungnya
“anak Mama sudah besar ternyata sudah mengenal Wanita, siapa Wanita itu?, Wanita mana yang udah buat anak Mama jatuh cinta?” tanya sang Mama lagi dan tentu mendapat respon seperti itu Genta merasa lega bukan main, karena sang Mama tidak marah kepadanya
“dia Wanita yang sangat cantik dan sederhana Ma”
“Waw, baru pertama kali Mama mendengar anak Mama memuji seorang Wanita” kata sang Mama membuat Genta merasa malu
“siapa Namanya Ta?”
“Namanya Alisha Ma”
“nama yang cantik, Mama pengin tahu bagaimana anaknya Ta, jadi kapan kamu bawa dia ke Mama”
“tapi Ma, Alisha bukan dari kalangan atas, dia hanya gadis sederhana dan bukan dari keluarga yang kaya raya”
“astaga Genta, kamu piker Mama akan melihat seseorang dari status sosialnya, bagi Mama asal Wanita itu baik, sopan dan lemah lembut dan juga sama-sama menyanyangi dan mencintai anak Mama, Mama engga mempermasalahkan status sosial seseorang, kamu tahu kan dari dulu Mama diajarkan oleh Kakek kamu untuk tidak memandang status sosial seseorang, begitupun sebaliknya Mama juga mengajarkan kamu dan salsa jangan melihat seseorang dari status sosial”
“iya Ma, Genta tahu itu”
“makanya kamu jangan berfikir seperti itu, jadi kapan kamu mau ngenalin dia ke Mama?”
“minggu depan, Genta bawa Alisha menemui Mama, tapi apakah Mama merestuinya”
“kita lihat saja besok”
“kenapa engga sekarang sih Ma?”
“ya jangan dong, Mama juga harus lihat dulu bagaimana anaknya apakah dia pantas dampingin anak Mama yang bandel ini” kata Mama membuat Genta mencebik kesal, namun dalam hati Genta juga merasa sangat Bahagia karena sang Mama ternyata merespon dengan baik, dan harapan Genta semoga sang Mama merestui dirinya dengan Alisha karena sungguh Genta sangat mencintai Alisha, setelah ini tinggal Alisha dan Genta akan mengakui semuanya kepada Alisha tanpa ditutupi lagi.