Hari ini adalah hari jatahnya diriku libur kerja, dan tentunya waktu liburku tidak ku sia-siakan untuk terus rebahan dikamar tidur, nyatanya pagi ini pukul Sembilan aku dan Ayah sudah berada di rumah sakit untuk menemani Ayah yang akan periksa rutinan, Ayah memiliki penyakit Jantung dan tentunya Ayah menyembunyikan penyakit ini dariku dari dulu, dan aku mengetahui penyakit yang diderita Ayah tiga tahun yang lalu kala Ayah sesak nafas didepanku dan langsung pingsan, waktu itu sungguh aku sangat shock dan terkejut karena Dokter mengatakan bahwa Ayah memiliki kelainan jantung dan Jantung Ayah rusak, entah apa aku kurang tahu yang aku pahami hanya itu, dan sampai sekarang Ayah terus melakukan gaya hidup sehat dan pengobatan ke dokter saja untuk bisa bertahan dan aku sangat bersyukur ayah masih bisa bertahan sampai tiga tahun ini, sungguh aku ingin lebih dari tiga tahun ini, namun pemeriksaan kemarin mengatakan bahwa umur Ayah sudah tidak lama lagi dan harus segera mendapatkan donor Jantung, tentu hal tersebut mmebuatku bersedih terlebih lagi, tapi kata dokter masih ada alternatif lain yaitu dengan mengkonsumsi obat yang slalu diberikan dokter, jaga pola makan sehat, istirahat yang cukup dan rutin periksa, dan aku sebagai anak ayah tentunya mengikuti saran dokter.
setelah menemani ayah periksa aku sedikit lega karena dokter mengatakan bahwa Ayah masih bisa bertahan dan terlihat lebih sehat, walaupun tidak sepeunuhnya bisa sembuh tanpa donor jantung setidaknya bisa menekannya. Dan setelah periksa aku dan Ayah langsung menebus obat untuk ayah dan kami duduk dikursi tunggu
“Sha..”
“iya yah?”
“kata dokter kan Ayah udah baik-baik aja, jadi..”
“mau minta berhenti berobat begitu?” tanyaku yang sudah tahu kelanjutan apa yang akan Ayah katakana, dan Ayah terlihat menunduk
“ayah, Alisha Cuma mau Ayah sembuh dan slalu disamping Alisha karena hanya Ayah yang Alisha punya sebagai keluarga Alisha, masalah biaya Ayah engga usah mikirin, Alisha masih sanggup untuk membayar pengobatan Ayah, dan jika sudah mendapatkan donor Jantung yang cocok untuk Ayah, Alisha juga udah slalu mengumpulkan uang setiap Alisha gajian dan jika masih kurang Alisha bisa pinjam ke yang lainnya, jadi Ayah engga usah memikirkan itu semuanya, biar Alisha yang mengurusnya, focus Ayah sekarang lebih baik Kesehatan dan jaga pikiran Ayah, jangan memikirkan hal-hal yang engga perlu dan bisa membahayakan penyakit Ayah, Ayah masih ingin kan melihat Alisha Bahagia” kataku dan Ayah mengangguk
“makanya Ayah jangan berfikir yang macam-macam, ya udah Alisha mau mengambil obat dulu itu udah dipanggil” kataku dan beranjak dari dudukku berjalan menuju petugas apotek, tanpa terasa air mataku terjatuh, sungguh aku tidak ingin Ayah pergi meninggalkanku karena Ayah adalah cinta pertamaku dan tak akan tergantikan, aku tidak Lelah sama sekali jika harus terus bekerja yang penting adalah Ayah bisa sembuh dan slalu berada disiku.
Setelah menebus obat, aku langsung Kembali ke Ayah dan mengajaknya untuk pulang
“ayo Yah, kita pulang” kataku dan Ayahpun mengangguk
“Maafin Ayah ya sha, Ayah hanya sedih bukannya bikin kamu Bahagia malah bikin kamu susah”
“sungguh Ayah engga nyusahin Alisha, sama sekali engga Yah, dan Ayah tahu kan kebahagiaan Alisha salah satunya yaitu melihat Ayah sembuh” kataku dan tak terasa air mataku jatuh, sungguh kalau aku tidak ingat ini ditempat umum pasti air mataku sudah keluar lebih banyak lagi, Ayahpun menatapku dan menghapus air mataku
“iya iya ayah Janji engga akan mengatakan ini semuanya, intinya Ayah mau mengucapkan terimakasih sama kamu sayang yang masih slalu ada disisi Ayah saat Ayah sedang sakit begini” kata Ayah dan hal tersebut membuatku semakin bersedih dan aku langsung memeeluk Ayah, karena sungguh tanpa ayah mengucapkan seperti itu aku akan sennag hati menjaga dan disisi Ayah karena hanya ayah yang dimiliki, bahkan keluarga Ibu tidak ada yang peduli pada kami karena keluarga Ibu dulu tidak menyukai Ayah, sedangkan keluarga Ayah seakan dibuat buta dan tuli tentang kondisi ayah. Dan tentu hal ini membuatku ingin Ayah sembuh dan slalu bersamaku.
***
Setelah kejadian dirumah sakit tadi, aku dan Ayah merasa canggung satu sama lain, Ayah terlihat menghindariku dan kalian tahu hal ini sangat aku tidak aku sukai, bahkan Mas Genta sore bermain ke rumah sepertinya merasa ada sesuatu antara diriku dan juga Ayah, sehingga aku sempat meninggalkan mereka berdua untuk mmebuatkan minum, namun saat aku Kembali tiba-tiba Mas Genta mengajakku untuk pergi ke Pantai karena mumpung aku libur kerja katanya, aku yang memang sedang Lelah dan ingin suasana damai seperti pantai mengiyakan ajakan Mas Genta, dan Ayah tentu langsung mengizinkan karena Ayah sudah mempercayakan diriku kepada Mas Genta.
Sesampai dipantai aku merasakan sejuknya angin pantai yang langsung menembus kulitku yang kala itu aku hanya memakai dress sederhana yang lengannya hanya sampai siku, Mas Genta berjalan disampingku dengan terus menggandeng tanganku, sungguh aku sangat suka jika tanganku digandeng seperti ini oleh Mas Genta, karena terasa pas dan nyaman.
Akupun menatap Mas Genta dan diapun menatapku dengan tersenyum manis, ya aku masih saja deg-degan kala Mas Genta tersenyum seperti itu kepadaku, dia terlihat sangat tampan dan terkadang aku merasa bahwa tak yakin lelaki yang sedang tersenyum kepadaku ini adalah kekasihku, dulu aku merasa tidak pantas Bersama Mas Genta karena aku Wanita sederhana dan tidak ada cantik-cantiknya sedangkan Mas Genta sangat tampan dan juga penampilanya sangat keren dan itulah mengapa dulu aku slalu menolak Mas Genta karena aku merasa insecure, namun karena kegigihan Mas Genta yang mendekatiku dan memeluhkan hatiku dan menyakinkanku akhirnya aku menerimanya, dan setelah menjalin hubungan tiga tahu bersamanya aku nyaman berada didekatnya dan dia juga slalu memperlakukanku dengan lembut slalu sabar dan slalu menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin saat ada perselisihan dengan diriku, dan hal inilah yang membuatku semakin mencintainya dan takut kehilangannya.
“duduk sini ya” katanya dan akupun mengangguk, kamipun duduk Bersama dibawah pohon kelapa dan menikmati pemandangan ombak yang bergulung dengan tenang
“dek…”
“Hm…” jawabku kepadanya, diapun hanya diam saja sehingga aku menoleh dan menatapnya terlihat dia sedang menatap hamparan laut didepannya
“kamu masih ingat pertemuan kita pertama kali?” tanyanya
“masih, sangat teringat jelas” jawabku dan mengingat bagaimana pertemuanku dan Mas Genta pertama kali.
FLASBACK ON
Saat itu aku pulang kerja sangat larut sekitar pukul sebelas, karena restoran tempatku bekerja diboking untuk acara keluarga, yang kutahu itu acara anniversary pernikahan seseorang dan tentunya itu adalah orang kaya, dan orang miskin seperti diriku mana mungkin mengadakan hal itu direstoran mewah seperti ini.
Lelah, badan lengket, ngantuk itu yang kurasakan saat ini, tapi aku juga senang karena dengan lembur seperti ini aku mendapatkan bonus lembur yang lumayan untuk bisa berobat Ayah bulan ini dan menyisihkannya untuk ditabung.
Namun sialnya malam-malam seperti ini jalannan sudah sepi terlebih lagi aku sudah memesan ojek online dicancel semuanya sehingga aku berjalan kaki menuju halte yang tidak jauh dari restoran dan semoga masih ada Bus yang melewati area rumahku. Sebenarnya tadi temanku menawarkan untuk mengantarkan diriku, tapi aku tidak mau merepotkan dirinya dan juga pasti dia sama-sama lelahnya dengan diriku.
Setelah sampai dihalte aku langsung duduk dikursi tunggu, dan disampingku hanya ada satu orang yang sepertinya sama-sama menunggu bus datang, sambal menunggu aku memainkan ponselku dan hanya ada pesan dari Ayah mengatakan untuk aku pulangnya hati-hati dan jaga diri.
Tak lama kemudian orang yang duduk disampingku berdiri dan menghampiri seseorang yang kuyakini adalah kekasihnya dan tak lama kemudian mereka pergi menaiki motor, akupuun hanya tersenyum melihatnya andaikan aku memiliki kakak atau adik aku pasti akan langsung meminta jemput, jika kekasih sungguh aku belum kefirikan sampai kesitu karena umurku masih sangat muda terlebih lagi aku sedang focus mengurusi Ayah, dan dalam list hidupku memiliki kekasih bukan porsiku saat ini.
Dan saat diriku sedang melamun tiba-tiba aku merasa tersentak kala tas yang ada dipangkuanku ditarik oleh seseorang, akupun mendongkak dan mendapati seseorang lelaki dengan wajah menyeramkanya akan menarik tasku, aku yang ingat bahwa ditasku ada uang bonus lembur tentu langsung menarik tasku
“siniin tas lo!!”
“Abang mau apa, jangan!!” kataku dengan menarik tasku dengan gemetar dan ketakutan karena sungguh tubuhku tidak ada apa-apanya dibandingkan lelaki tersebut
“lepas ngga!!”
“jangan Bang ini tas saya”
“banyak bacot loh!!” teriak preman tersebut dan dengan kuatnya menampar diriku hingga aku terhempas begitu saja dan tasku sudah berada ditangannya
“makanya nurut, jadi engga gue gampar loh”
“jangan ambil tas saya Bang, Tas saya tidak ada isinya”
“ini apa lo bilang engga ada isinya hah!!” kata preman dengan mengeluarkan amplop coklat, astaga uang itu, dengan sekuat tenaga aku bangkit dan akan merebut uang tersebut namun, abang preman langsung mencengkram tanganku kuat
“lo mau ngrebut ini uang dari gue hah!!” tanyanya dan akupun mengangguk
“oke akan gue kasih tapi kasih gue kepuasan dulu cantik, disini sepertinya sepi” kata preman tersebuut dengan mencengkram kuat tanganku, sungguh aku sangat ketakutan ditambah lagi tempat ini sangat sepi dan tak terasa air mataku sudah jatuh membasahi pipiku, preman tersebutpun tersenyum dan mencengram daguku dengan kuat
“jangan menangis sayang, kamu ingin uang ini Kembali kan, kalau iya puasin gue dulu!!” kata preman tersebut dengan mendekatkan wajahnya ke wajahku, akupun memberontak dan menggeleng-geleng kelapaku untuk menghindari dirinya, sungguh aku sangat takut, dan aku tidak ingin kehilangan kesucianku dengan cara seperti ini
“tolong!!1”
“teriaklah, tidak ada yang akan menolongmu” kata preman tersebut dan menarikku menuju semak-semak dibelakang kursi halte, ya tuhan tolonglah aku, aku hanya bisa merintih sendirian dengan air mata yang sudah membanjiri wajahku, hingga saat preman tersebut mulai membuka kancing bajuku, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tubuh preman tersebut dan memukulinya
“b******k!!!, kurang ajar!!” kata lelaki tersebut dengan terus memukuli preman tersebut, sedangkan aku hanya bisa melihat lelaki tersebut terus memukuli preman tersebut dan memegangi bajuku yang ternyata kancing atasnya sudah terlepas, sungguh aku hanya bisa menangis dan ketakutan, hingga kurasakan orang mendekat dan ternyata lelaki yang menolongku, dan tanpa fikir Panjang aku memeluknya dan menangis dipelukannya
“sa…saya ta.. takut..” kataku dengan memegangi kemeja miliknya, diapun mengelus pundakku dan menangkanku
“tidak usah takut, kamu sudah aman bersamaku” katanya dan entah kenapa ucapannya membuatku merasa tenang
FLASBACK OFF
“kamu tahu dek, pertama kali Mas melihatmu rasanya Mas ingin slalu menjaga dan melindungimu, dan pertama kalinya Mas percaya dengan adanya cinta pandangan pertama” katanya dengan masih melihat hamparan air laut didepan kami, akupun menengok dan menatapnya dan menunggu apa yang akan dia bicarakan lagi
“dan setelah itu Mas mendekatimu, kamu merasa takut dan enggan mengenal Mas, Mas ingat itu, tapi Mas terus mengejarmu karena pertama kalinya Mas mengenal cinta” katanya membuatku tertegun, pasalnya aku memang tidak tahu jika aku adalah cinta pertama Mas Genta sama halnya dengan Mas Genta yang merupakan cinta pertamaku, akupun yang menatapnya dengan melamun tiba-tiba merasakan tanganku digengam erat olehnya, akupun mendongkak dan ternyata dia menatapku dengan tatapan penuh cintanya
“Dek, Mas sangat mencintamu, tiga tahun kita menjalani hubungan Mas merasa nyaman bersamamu, kamu yang Mas cari selama dua puluh lima tahun ini, Mas sangat takut kamu pergi dari Mas jadi, dengan segenap hati Mas, Mas ingin kamu menjadi milik Mas seutuhnya, Dekk..” katanya dengan menghentikan ucapannya membuat jantungku berdetak lebih kencang dan menunggu kelanjutan ucapannya, dan juga gengaman tangannya ditanganku sangat erat
“Maukah kamu menikah denganku…” katanya dengan lembut dan menatapku, akupun terdiam membisu dengan mencerna ucapannya barusan, dan mendadak aku menjadi bisu.