Alisha masih terdiam dengan perasaan yang tak karuan, dan tersentak kala merasakan tangannya diusap dengan halus oleh Genta, dan Alisha langsung menatap Genta, Genta menatap Alisha dengan wajah yang sedang menunggu jawaban dari Alisha
“bagaimana dek?, kamu mau menikah dengan Mas?” tanya Genta lagi dengan lembut
“tapi Mas apakah ini tidak terlalu cepat”
“kita sudah saling mengenal selama tiga tahun dek, bahkan baik kamu dan Mas sama-sama sudah mengenal dengan baik buruknya kita”
“memang Mas, tapi aku belum mengenal keluarga Mas, Mas bahkan tidak pernah menceritakan tentang kedua orang tua Mas, Mas hanya sering menceritakan adek Mas saja, apakah kedua orang tua Mas menyetujui kita?” tanya Alisha dengan penuh khawatir, sedangkan Genta tersenyum dan mencium tangan Alisha yang ada digengaman Alisha membuat Alisha bingung dengan kelakuan Genta
“Maafkan Mas yah, tapi percayalah mereka pasti menyukaimu”
“kenapa Mas bisa bilang begitu?, aku bahkan belum bertemu dengan mereka”
“memang kamu belum pernah bertemu dengan mereka, tapi percayalah mereka pasti menyukaimu dek dan juga Mas akan mengajakmu bertemu dengan mereka, karena mereka ingin sekali bertemu denganmu”
“Mas…”
“jadi bagaimana?, Mas butuh jawaban yang pasti nih dek, kamu tahu kan Mas engga suka digantung kaya begini, jadi gimana?”
“kalau aku bilang tidak bagaimana?” tanya Alisha meledek
“itu tidak mungkin, kan kamu udah bucin banget sama Mas” kata Genta dengan penuh percaya diri membuat Alisha kesal dan langsung mencubit perut Genta
“idih PD banget siapa yang dulu ngejar-ngejar dulu, Mas lah jadi Mas yang bucin akut sama aku”
“iya itu memang Mas, makanya Mas engga mau kehilangan kamu, Mas ingin kita berjalan ke jenjang yang lebih serius dan sekali lagi Mas mengatakannya dek, maukah kamu menikah dengan Mas?, merajut kisah kasih Bersama sampai maut memisahkan kita” kata Genta dengan penuh penekanan dan juga tatapan yang menyiratkan harapan yang besar dengan penuh cinta, Alishapun tertegun dengan tatapan Genta, karena baru kali ini Genta mengucapkan sesuatu hal yang cukup serius
“jadi bagaimana dek?, Mas harap kamu menjawab….” Kata Genta belum selesai namun sudah dipotong oleh Alisha
“iya… Alisha mau menikah dengan Mas Genta” jawab Alisha dengan menatap lembut Genta, membuat senyum langsung terbit dibibir Genta, Genta sangat Bahagia mendapatkan jawaban dari Alisha, dan dengan Gerakan cepat dia mengambil sesuatu disaku celananya dan ternyata kotak berudu berwarna merah, dan Genta langsung membuka kotak tersebut yang ternyata isinya adalah sebuah cincin berlian yang sederhana namun sangat indah, dan tak membutuhkan waktu lama Genta langsung memasangkan cincin tersebut dijari manis Alisha, dan Genta sangat bersyukur karena ukuran cincin tersebut pas dijari alisha
“Mas ini…” tanya Alisha
“karena kamu menerima Mas sudah sepantasnya kan cincin ini tersemat dijari manismu, sangat indah dek”
“Mas…” kata Alisha terharu
“teriimakasih ya sudah menerima lamaran dadakan Mas ini, Mas sungguh serius tentang ini dek, dan Mas akan segera membawa kedua orang tua Mas kerumahmu”
“jangan dulu”
“kenapa?”
“alisha ingin bertemu dengan kedua orang tua Mas dulu, Alisha ingin mengenal mereka terlebih dahulu Mas”
“baiklah jika tuan putri menginginkan seperti itu, minggu depan Mas ajak kamu ke rumah Mas, Mas akan kenalkan kamu sama Papa dan Mama”
“tapi Mas Alisha takut” kata Alisha membuat Genta tertawa terbahak-bahak
“ih Mas kok malah ketawa sih, aku kan serius”
“lah tadi katanya mau kenal sama Papa dan Mamanya Mas, ya makanya Mas akan mengajak kamu ketemu sama mereka, lah kok malah takut sih kan lucu”
“tapi aku merasa”
“merasa rendah diri begitu, dek jangan seperti itu lah, Mas yakin mereka akan menerima kamu percaya sama Mas yah” kata Genta menyakinkan dan akhirnya Alisha mengangguk,
“nah begitu dong, aduh Mas Bahagia banget hari ini dek” kata Genta dengan menarik Alisha ke dalam pelukannya dan Genta kecup Kening Alisha dengan lembut membuat Alisha sangat nyaman berada dipelukan Genta, dan senja sore dipantai sebagai saksi kisah cinta Genta dan Alisha akan berjalan ke jenjang yang lebih serius, semoga kamu lelaki yang memang Tuhan takdirkan untukku, batin Alisha dengan membalas pelukan Genta dengan tak kalah erat.
***
Setelah mengantarkan Alisha pulang, aku pergi menuju tempat Gym karena tadi tiba-tiba Arfan mengirim pesan mengajakku untuk olahraga, aku yang memang tidak ada kegiatan lagi mengiyakan ajakannya.
Sesampai ditempat Gym langgananku dan Arfan, aku langsung menuju tempat ganti, saking seringnya aku ke tempat Gym ini pemilik Gym ini sudah mengenalku dekat bahkan aku juga memiliki lemari kecil sendiri yang berisikan beberapa pakaian olahragaku, supaya saat tiba-tiba ingin nge Gym aku tidak perlu pulang terlebih dahulu. Setelah berganti dengan kaos hitam dan celana training aku berjalan menuju studio, dan studio tidak terlalu ramai dan hanya beberapa orang saja, aku menatap kesekeliling dan mendapati Arfan sedang berjalan diatas trandmill, akupun berjalan kearahnya dan menuju trandmill sebelah Arfan yang kosong, sesampainya aku langsung menghidupkan trandmill dan memulai olahraga. Tampak Arfan begitu serius dan tubuhnya memang sudah dibanjiri keringat
“tumbenan lo ngajak gue kesini Ar?, biasanya nih kalau lo ngajak gue kesini ada masalah” kataku tiba-tiba membuat Arfa terkejut dan untungnya dia bisa menjaga keseimbangannya
“sialan lo ngagetin gue” kata Arfan, membuatku tertawa
“makanya jangan melamun begitu, kenapa lo?, masalah cewe?”
“kenapa sih cewe tuh ribet?” tanya Arfan dengan wajah muramnya dan memelankan Gerakan trandmillnya
“kenapa lagi si Diva?, berantem lagi?”
“hm… padahal Cuma masalah sepele tapi dibesar-besarin”
“masalah apa emangnya?”
“Mama gue kan pengin nih dikenalin sama pacar gue, lah Diva gue akan ketemu Mama dia belum mau, dia takut ditanyaain macam-macam apalagi pertanyaan seputar pernikahan, Diva belum siap apalagi umur dia masih muda, dia belum mau kejenjang yang lebih serius, gue juga tahu itu lagian Mama juga engga mungkin kan tanya-tanya begituan, Mama Cuma pengin ketemu udah gitu aja, Diva tetap bersih keras engga mau akhirnya kita bertengkar dan ya, sampai sekarang dia marah sama gue”
“Diva kayaknya belum siap deh Ar, kasih dia waktu untuk berfikir dulu”
“iya gue juga kasih dia waktu untuk berfikir dan juga gue merasa hubungan ini kayaknya dia engga serius sama gue”
“jangan bilang kaya begitu, gue lihat Diva serius kok sama lo dia cinta sama lo”
“tapi masa iya kalau dia beneran cinta sama gue, dia engga mau ketemu sama Mama gue, ketemu doang apa susahnya sih Ta..” kata Arfan dengan mematikan trandmillnya dan menatapku dengan wajah kecewa
“mungkin Diva belum siap, dan besok lo bicarain sama dia baik-baik”
“alah udah gue lakuin tetap aja dia tuh keras kepala, bikin gue pusing” kata Arfan dan langsung turun dari trandmillnya dan berjalan menuju kursi Panjang. Akupun menghembuskan nafasku dan ikut mematikan trandmillku dan berjalan kearahnya.
“tapi lo cinta kan sama dia?”
“iya cinta lah makanya gue ngalah dan males berdebat lebih Panjang sama dia”
“ya udah mungkin dengan lo kasih dia waktu, Diva bisa memikirkannya dan mencari jalan solusi”
“iya, dan ow hiya Ta malam ini gue tidur diaparteman lo yah, males gue pulang ke rumah nanti pasti Mama tanyain lagi males gue”
“lah kenapa ke aparteman gue, kenapa engga ke aparteman lo”
“aparteman gue engga ada makanan dan juga terlalu jauh dari sini, kan aparteman lo lumayan deket dari sini jadi gue nginep diaparteman lo yah”
“idih lo kalau tidur diaparteman gue ngotorin banget tahu”
“kali ini engga janji deh gue Ta, dan juga gue butuh suasana baru, aparteman lo kan besar dan dipaling atas dan malam-malam begini lihat suasana kota dari atas bagus buat merenung gitu, makanya gue nginep diaparteman lo ya Ta, yayayya Ta..” rayu Arfan dengan centilnya membuatku jijik melihatnya
“iya iya gue izinin tapia was aja kalau lo ngotorin aparteman gue, gue engga akan kasih izin lo lagi buat nginep diapartemen gue”
“idih terimakasih babang Genta”
“engga usah lebay deh lo” kataku dengan melemparkan botol yang berada disampingku dan dengan Gerakan tangkas Arfan menangkap botol tersebut
“tau aja lo kalau gue haus, makasih ye” kata Arfan lagi
“sialan lo” kataku dan Arfan hanya tertawa terbahak-bahak
“terus gimana hubungan lo sama Alisha?” tanya Arfan dengan meneguk air didalam botol
“gue udah lamar dia” jawabku santai dan hal tersebut membuat Arfan terkejut dan tersedak minum
“what?, seriusan lo udah lamar Alisha?” tanya Arfan akupun mengangguk santai, dan hal tersebut langsung mendapatkan pukulan dilenganku
“Sialan lo, dulu kan kita udah ngomongin ini kalau gue dulu yang nikah, eh malah lo curang lo”
“lah lo aja yang belum berani serius, gue udah serius sama si Alisha dan dia juga menerima lamaran gue”
“ya lo tahu sendiri kan Diva”
“ya makanya kalau lo memang cinta sama Diva tunggu dia, dan harus sabar dan tabah melihat gue dulu yang ke pelaminan dulu”
“sialan lo ngelangkahin gue, tapi engga papa deh gue ikut seneng dengernya tapi beneran Alisha nerima lo?, umur dia baru dua puluh tahun lo Ta”
“berjalan dua puluh satu, dan di Indonesia umur segitu udah legal kali menikah”
“iya juga sih dan ap aitu engga terlalu muda”
“engga lah, lagian gue penginnya punya anak besok umurnya engga terlalu jauh sama gue, biar dikira adek kaka begitu kan enak tuh”
“dasar lo yah, ow hiya terus lo udah ngasih tahu status lo sama Alisha”
“belum”
“kok belum sih Ta, ini lo udah lamar anak orang dan bentar lagi nikah tapi lo belum ngomong status lo yang sebenarnya”
“gue akan ngajak Alisha ketemu sama Papa dan Mama sekaligus ngomong status gue yang sebenarnya”
“emang kapan lo mau ngajak dia?”
“minggu depan”
“owh ya kalau begitu bagus deh, gue harap Alisha engga tahu status lo dari orang lain, karena kalau dari orang lain pasti dia kecewa banget, terlebih lo udah bohongin dia”
“makanya gue akan ngaku semuanya dan minta maaf sama dia, dan semoga aja dia engga marah sama gue”
“semoga aja Ta, masalahnya cewe susah ditebak, tapi gue doain setelah Alisha tahu, dia engga merasa kecewa”
“semoga aja” jawabku dengan langsung memikirkan bagaimana reaksi Alisha jika mengetahui statusku, dan kuharap dia tidak marah kepadaku karena sungguh aku tidak berniat berbohong kepadanya karena keadaan lah yang membuatku harus berbohong kepada dirinya.
***
Hari ini aku shiff pagi sehingga pukul tiga sore aku sudah selesai dengan pekerjaanku dan aku berniat akan pulang, dua hari setelah lamaran Mas Genta sungguh aku merasa sangat Bahagia dan masih tidak menyangka dengan ucapan Mas Genta kemarin, rasanya seperti mimpi tapi ini kenyataan bahkan setelah Mas Genta mengantarkan aku pulang senyum dibibirku tidak pernah luntur, bahkan cincin yang Mas Genta kasih kepadaku terus aku pandangi, tapi jika aku bekerja seperti ini cincinnya tidak aku pakai dan kupakai sebagai bandul kalung saja, karena aku tidak ingin teman-teman kerjaku kepo dengan cincin ini.
Setelah bersih-bersih aku langsung menuju lokerku untuk mengambil tas dan berniat untuk pulang, biasanya Mas Genta akan menjemputku jika aku pulang dari kerja tapi sudah dua hari ini dia sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan bahkan kita hanya bisa berhubungan melalui video call bahkan hal ini dilakukan malam hari. Akupun tidak masalah dengan hal ini karena aku percaya dengan Mas Genta terlebih lagi Mas Genta mengatakan sedang bekerja giat untuk modal nikah bersamaku katanya, walaupun dia bicaranya dengan nada bercanda tapi aku tahu dia serius, menjadi pegawai biasa diperusahaan tentu tidak mudah dan pekerjaan Mas Genta yang kutahu lumayan sulit karena saat dia sedang ke rumahku dan bermain disana pasti sibuk dengan tabletnya, dan jika kalian piker aku marah dicueki seperti itu kalian salah bahkan aku sangat salut kepada dia karena dia sangat gigih bekerja.
“Sha lo udah mau pulang?” tanya Mas Tara
“iya nih Mas, kenapa emangnya?”
“bantuin gue bisa”
“bantu apa Mas?”
“anterin makanan ini ke perusahaan WCS grup yah, gue kebelet BAB nih Sha”
“emang yang lainnya engga ada Mas?”
“engga ada sha, Doni sama Arga lagi nganter pesanan juga, dan yang lainnya lagi sibuk juga, lo kan free habis ini dan juga bisa naik motor kan, jadi gue minta tolong ya Sha” kata Mas Tama dengan memegangi perutnya, akupun juga tak tega melihat Mas Tama yang kesakitan, terlebih tadi Mas Tama bilang ke perusahaan WCS Grup itu kan perusahaan tempat Mas Genta kerja,
“mau ya Sha pliss, aduh.. udah engga tahan nih..”
“oke oke aku bantu Mas”
“makasih ya sha, makannya lagi disiapin sama Alma kayaknya udah siap tuh”
“oke Mas..”
“ya udah gue ketoilet dulu, duh duh… udah mau keluar nih” kata Mas Tama dengan berlari menuju toilet dengan memegangi p****t dan perutnya , akupun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Mas Tama. Setelah Mas Tama pergi akupun langsung menuju dapur untuk mengambil makanan yang akan aku antar ke WCS grup, dan dengan mengantarkan makanan ini semoga aku bisa bertemu dengan Mas Genta dan sedikit melepaskan rindu setelah dua hari ini tidak bertemu dengan dia.