"Aku gak tau harus gimana? Tapi aku tahu batasan hatiku untuk disakiti!"
°°°
Benda pipih itu terus saja menyuarakan tanda hubung. Sampai ruangan bernuansa serba putih itu hanya terisi dengan suara bising.
Pip... pip...
Sayang sekali yang dihubungi tidak lekas mengangkat. Lelaki itu nampak gusar. Dia mengambil pulpen lalu di ketuk-ketukkan pada berkas yang tertumpuk rapi.
Bagaimana tidak cemas, dia tadi baru saja ditelpon sang adik. Namun tak ada suara, hanya terdengar isakan tangis saja yang semakin terdengar menyayat.
Renald membuang napasnya gusar. Dia terlihat sangat frustrasi. Rasa khawatir dengan sang adik tiba-tiba memuncak.
Sudah hampir 5 tahun tidak bertatap muka secara langsung membuat Renald diliputi rasa cemas dan bersalah.
Raka sedang apa? Bagaimana kabar dia sekarang? Raka baik-baik aja kan? Bahkan rasanya terlalu sulit setiap harinya untuk mengatakan itu karena sibuk urusan pekerjaan.
Dasar, kakak macam apa dirinya.
"Hey, why are you stunned?" tiba-tiba ada seorang perempuan cantik yang memakai pakaian sexsy masuk ke dalam ruang kerja Renald.
Renald hanya menanggapinya dengan tersenyum. "Why are you here?"
Perempuan setengah bule itu terkekeh lalu tertawa hambar menatap Renald yang mengangkat alisnya heran.
"Enggak kok, kan sekarang waktunya makan siang. Ini aku bawa makanan buat kamu."
Perempuan itu menyodorkan sekotak sandwich yang langsung diterima dengan senang hati oleh Renald.
Lantas Renald tersenyum, "Thanks Karen."
Perempuan yang dipanggil Karen itu hanya terkekeh dan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Sini deh!" suruh Karen sambil menepuk sofa yang kosong.
Renald hanya menurut saja, lekas dia bangkit dan ikut duduk di samping Karen.
"How, enak enggak?"
Renald tersenyum mengangguk kalem sambil mengunyah setengah sandwich buatan teman kerjanya ini.
Sedangkan Karen kembali terkekeh melihat Renald yang betapa lucunya saat mengunyah. Tapi manik matanya yang sayu tidak bisa berbohong kalau lelaki dihadapannya ini sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu kenapa? Ada masalah?" Karen merasa aneh dengan mimik Renald yang langsung tegang.
"Aku cuma lagi khawatir aja sama Raka." Renald tersenyum tidak mau membuat suasana terasa awkward.
"Memangnya Raka kenapa?" tanya Karen penasaran.
Raka menaruh setengah sandwich nya ke dalam kotak makan. Dia melihat raut Karen yang mendesak ingin tahu. Maka dengan setengah mendengus Renald menghela napas.
"Mau aku cerita?"
Karen mengangguk lucu. Spontan Renald langsung mengacak rambut Karen dengan gemas.
"f**k, you ruined my hairdo!" Karen melotot marah sedangkan Renald hanya tertawa.
"Jadi tadi Raka telpon, gak ada suaranya. Dan tiba-tiba dia nangis. Katanya sih kangen sama aku. Tapi aku gak yakin, apalagi setelah itu dia langsung mutusin sepihak. Dan aku yakin banget ada sesuatu sama Raka dia gak mungkin nelpon—" perkataan Renald terpotong dengan ucapan Karen yang langsung menyambar.
"Udah jangan dipikirin! Raka pasti baik-baik aja kok!"
Renald masih bergeming. Dia benar-benar sangat khawatir. Apalagi Raka adalah adik satu-satunya yang sangat disayangi.
Ingin sekali Renald berkunjung ke tempat kelahirannya untuk sekedar bertemu keluarganya. Temu kangen mungkin, tapi pekerjanya sungguh tidak bisa ditinggalkan.
Renald juga ingin sekali mengakhiri pekerjaannya di London. Tapi mau bagaimana, cabang ayahnya yang ada di sini diatas namakan dirinya. Apalagi ini juga permintaan sang bunda yang terakhir kalinya, menyuruhnya mengambil beasiswa untuk bisa kuliah di Inggris.
Mengetahui fakta itu Renald juga akan mengingat kejadian kelam di mana semuanya mulai tidak sama lagi.
Saat malam prom night definisi malam menyenangkan untuk bersuka ria dengan sahabat dan malam kebanggaan. Tapi nyatanya tidak berlaku untuk Renald.
Bagi Renald malam itu bencana. Malam mengerikan dan malam yang dengan cepat mampu membuat hatinya hancur.
Renald dengan raut panik harus rela tidak mengikuti prom night disebabkan sang bunda mengalami kecelakaan.
"Gak mungkin, ayah pasti bohong!"
"Maafin ayah, tapi bener bunda sekarang kecelakaan dan bunda koma. Sekarang Raka masih shock gak tau apa-apa, jadi sampai sana gak usah bilang apa-apa sama adek dulu. Pasti Raka bakal panik banget. Sekarang kamu ke rumah sakit! tinggalkan dulu acara prom night—"
"Kok ngalamun lagi sih?"
Renald rasanya habis ditarik cepat dari kenyataan. Karen yang melihat Renald melamun kembali akhirnya tangannya gatal lalu menyentil kening Renald dengan lembut. Sedangkan Renald hanya tertawa hambar.
°°°
Tok... tok... tok...
Seorang wanita paruh baya sedang mengetuk pintu kamar seseorang dengan sedikit tergesa.
"Raka! Belum bangum ya, tumben? Sekarang udah mau jam tujuh loh, nanti telat!" Asisten rumah tangga Raka berseru cemas.
Ttidak heran lagi, karena Hema sudah menganggap bi Minah dari bagian keluarganya sediri karena sudah cukup lama wanita paru baya itu mengabdi di kediaman Aldeno.
Sudah cukup menunggu terlalu lama untuk sebuah jawaban. Bi Minah merasa cemas tidak biasanya tuan mudanya seperti itu, mengabaikan pertanyaan orang lain.
Tidak peduli, tapi bi Minah langsung saja membuka pintu kamar Raka yang tidak terkunci. Bi Minah hampir saja memekik khawatir waktu melihat Raka yang meringkuk di kasurnya.
Keringat dingin membasahi kening Raka. Tanganya mencengkram kuat selimut sampai kusut. Bibirnya bergetar kedinginan dan hampir membiru.
Bi Minah mencoba menepuk pipi Raka dengan cemas. Tapi tidak ada pergerakan dari sang empu. Hanya saja suhu tubuhnya yang tinggi sudah menjelaskan kondisi Raka saat ini.
"Raka! Badan kamu panas banget!"
Samar-samar Raka mendengar ucapan bi Minah, tapi dengingan di kepalanya lebih mendominasi. Kepalanya pusing bukan main. Ingin bangun tapi sepertinya bergerak sedikit saja sendinya bisa patah.
"Bi-bi..." panggil Raka lemah.
"Iya. Raka demam." bi Minah bertambah cemas, tangannya perlahan mengelus kening Raka yang dibanjiri oleh keringat.
"Sekarang jam berapa?" tanya Raka serak.
"Udah gak usah mikirin sekolah dulu, Raka lagi sakit. Bibi ke bawah dulu ya bawain air buat ngompres Raka. Sama bubur buat ngisi perut terus minum obat ya?"
Raka ingin sekali menggeleng namun pening di kepalanya sungguh mengurungkan niatnya. Ringisan kecil mencelos dari bibir ranum Raka yang bergetar.
Bi Minah langsung turun ke bawah hendak mengambil apa yang tadi diperlukan untuk Raka. Sepeninggalnya, Raka teringat kejadian tadi malam yang membuatnya seperti ini.
Tidak masalah, kalau memang itu semua membuat ayahnya lega. Dengan Rasa sakit di luar maupun dalam, Raka akan menerima apapun yang dilakukan sang ayah padanya. Walaupun dalam hati Raka ingin sekali mengumpat dan marah.
Raka tahu betul mengeluh tidak akan membuat semuanya kembali normal. Maka dengan menghela napas Raka tersenyum menerima perlakuan ayah yang semakin hari tidak pernah meliriknya sebagai anak yang perlu dilindungi.
Raka hanya rindu perlakuan ayah yang hangat. Ayah yang selalu memeluknya, ayah yang selalu menenangkannya saat takut gelap. Raka rindu sekali perlakuan itu.
Ayah tidak tahu selama ini Raka bagaimana, Raka lelah. Sampai dadanya sesak harus menahan tangisnya sendiri. Air matanya meleleh diikuti kesadarannya yang kian menipis.
TBC