'thank you'
°°°
"Udah kak, enek!"
Raka mendorong secara pelan tangan Fikry yang masih ingin menyuapi bubur padanya. Fikry berdecak, dia benar-benar jengkel dengan kelakuan sang adik. Baru saja dua suapan, Raka menolak mentah-mentah suapan ketiga darinya.
"Ayolah dek, ini baru dua suapan. Belum cukup buat minum obat." Fikry mengomel tapi respons Raka jauh berbeda.
Kedua netra itu mengembung menahan lelehan air di pelupuk matanya.
"Tapi enek kak, rasanya mual."
Fikry tersenyum kecut mendengar perkataan Raka barusan. Aslinya Fikry mengetahui beban apa yang tengah Raka pikul. Memang tidak ada hubungan darah di antara mereka. Tapi Fikry jauh lebih peduli dan sayang pada Raka. Fikry tidak ingin kehilangan sosok yang tengah menunduk lemah di hadapannya.
Karena bagi Fikry Raka itu memang berharga. Dibesarkan sebagai anak tunggal membuat keinginannya melindungi seseorang.
Selain mamanya, Fikry bertekat melindungi Raka. Adiknya yang manis dan rapuh.
Betapa kalabnya Fikry saat mengetahui Raka terserang demam dari asisten rumah tangganya tadi. Dengan kecepatan kilat Fikry meninggalkan ruang makan yang sudah terisi kedua orang tuanya.
Sampai di kamar Raka, Fikry melihat Raka yang sedang menahan sakit. Mulai dari situ Fikry rela meninggalkan jam kuliahnya demi menjaga Raka.
"Kenapa bisa demam sih? Dan kenapa gak ganti baju juga? Kalo udah pulang sekolah itu harus ganti baju biar enakan." suara Fikry memang terlihat berbeda, kali ini dengan nada tinggi dan menekan.
Raka bergeming dalam diam. Dia tidak akan memberi tahu kejadian semalam yang membuatnya seperti ini. Apa jadinya kalau Fikry mengetahuinya? Bisa-bisa dia akan marah terhadap sang ayah. Dan kembali lagi, Raka akan menjadi korban di antara semua ini.
"Ish malah diem? Ya udah tapi mi-"
Perkataan Fikry terpotong. "Fikry kamu gak kuliah?" Rida menatap heran putranya yang berada di kamar Raka.
Yang dipanggil pun menoleh, namun dengan raut khawatir. Sudah dipastikan Fikry akan disuruh secara paksa untuk masuk kuliah, padahal di sisi lain dia ingin sekali menemani Raka yang sedang sakit.
"Ma-ma, masuk kok... ma. Tapi aku-" lagi, perkataan Fikry langsung dipotong oleh ucapan mamanya.
"Kamu sekarang kuliah!" ucap Rida final. Fikry tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perkataan mamanya. Karena bagaimanapun Fikry paling tidak pernah melanggar perintah mamanya.
Raka melontarkan senyuman pada Fikry. Mengisyaratkan dia sudah tidak apa-apa.
Fikry hendak bangun dari duduknya namun tiba-tiba perasaannya tidak enak saat melihat senyuman Raka. Dia ingin tetap berada di sini, namun Rida sedang menunggunya di ambang pintu.
Dengan langkah berat Fikry meninggalkan Raka yang masih diam tak bersuara di atas kasur. Sepeningal Fikry-kakaknya. Raka masih gusar, enggan mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk.
Karena perlahan namun pasti suara langkah kaki itu semakin terdengar oleh Raka dan itu adalah langkah kaki Rida. Raka tidak tahu kenapa mamanya itu perlahan mendekat pada kasurnya.
Tangan Rida terangkat mengambil sebuah mangkuk berisi sisa makanan Raka yang masih banyak. Lantas Rida juga duduk di hadapan Raka. Jantung Raka benar-benar berdetak tidak karuan, dia seperti habis lari maraton dan entah kenapa bisa seperti ini.
Perlahan suara rendah itu mengisi keheningan di antara mereka.
"Makan!"
Seketika kepada Raka terangkat, dia kaget betul setelah mendengar ucapan Rida-mamanya. Memang suara itu singkat dan terlihat dingin, ditambah dengan ekspresi Rida yang sungguh datar.
Namun bagi Raka itu adalah sebuah keajaiban. Bertahun-tahun Raka merindukan sosok seorang bunda, dan ini kali pertamanya dia mendapatkan sosok itu kembali.
Raka melongo, dia masih tidak percaya. "Ma... ma-"
"Makan! Mama paling gak suka dibantah."
Senyuman Raka mengembang dia mulai memakan makanan sisa tadi dengan disuapi Rida. Raka mengunyah lalu menelannya dengan paksa, karena rasa enek selalu menjalar saat memakan. Dia tidak ingin menolak momen langka ini.
"Kalau gak kuat jangan dipaksain!" kata Rida saat melihat Raka mengernyitkan dahi dan menelan makanan secara mati-matian.
Rida menyetop acara menyuapi Raka. Dia mengambil obat yang berada di botol kecil dan mengambil segelas air minum. Lantas Rida menyodorkan kepada Raka.
Raka mengambil semua itu dengan ragu. Dengan kekuatan dia menahan rasa pahit di lidah lalu meneguk air minum dengan beberapa tegukan.
Rida tersenyum. Tipis. Sangat tipis, sampai Raka tidak bisa mengartikan senyuman itu.
"Cepat istirahat!" suruh Rida.
Rida beranjak dari duduknya. Dia klebat pergi begitu saja dari kamar Raka. Tapi Raka mampu menahan langkah itu.
"Ma..." panggil Raka.
"Makasih?"
Rida sempat menghentikan langkahnya. Namun dia tidak menengok kesumber suara, dia lantas melangkah lebih cepat keluar dari kamar Raka. Tidak masalah, Raka sudah merasa beruntung bisa merasakan suapan dari sang mama yang untuk kedua kalinya. Pertama, saat sang ayah memperkenalkan mama tiri beserta kakak tiri padanya. Dan di situ saat makan malam. Rida menyuapi Raka dengan pandangan suka. Dan tidak sampai sekarang, hanya tadi suatu perkembangan baginya.
Raka masih berada di tempat tidurnya. Dia hendak beranjak namun pening di kepalanya selalu saja menggagalkan keinginannya.
Dengan sisa tenaga Raka menyibak selimutnya lalu berdiri. Tiba-tiba pening di kepalanya membuatnya oleng, tapi syukurlah di samping terdapat nakas dengan cepat Raka langsung bertumpu pada nakas itu.
Raka berjalan ke arah balkon kamarnya, walaupun sangat pelan. Setelah sampai Raka langsung duduk di sofa balkon. Sepi. Raka merasa kesepian, karena memang kenyataannya tidak ada seseorangpun yang menemaninya saat ini.
Matanya perlahan menyapu pemandangan sekitar. Dia melihat awan putih yang terombang-ambing, pohon bergoyang tanpa arah mengikuti arah angin. Perlahan-lahan kedinginan menyeruak pada tubuh kecilnya.
Di sini adalah tempat yang biasa dijadikannya penyembunyi luka. Entah hatinya kini seperti apa, Raka merasa takdir sedang membolak-balikkan hatinya. Disatu sisi Raka bahagia, karena mamanya mulai peduli walaupun hanya setitik. Disisi lain Raka juga sedang merindukan seseorang.
Yah, sang kakak. Lebih tepatnya kakak kandungnya, dia adalah pelindung di saat sang ayah bekerja. Sayangnya tidak dengan sekarang. Tidak ada pelindung untuk dirinya, tidak ada seseorang yang akan dia jadikan pelebur lara.
Dunia itu memang kejam. Tapi Raka bersyukur dia masih diberi Fikry-kakak tirinya yang mungkin akan menggantikan seorang kakak kandung dan ayah yang mungkin bisa dikatakan tidak memiliki ikatan batin terhadap sang putra.
Raka hanyalah pemuda biasa, dia bukan sosok yang mampu menahan luka. Karena sekuat apapun dirinya air bening itu akan meluncur juga.
°°°