'are u not mad'
***
Perempuan itu terus saja berjalan entah kemana. Yang dia butuhkan saat ini adalah menghindar dari kerumunan orang lain maupun sahabatnya sendiri. Kini dia benar-benar marah, atas perilaku pacarnya tadi saat berada di kantin sekolah.
Emira menuju ke taman belakang sekolah yang berada jauh dari area kelas, hanya saja tempat ini lebih dekat dengan lapangan sepak bola dan terdengar sepi, cocok untuk orang yang sedang ingin sendiri.
Mata Emira menyapu ke sekelilingnya. Sepi memang, merasa agak takut namun pikirannya perlu ditenangkan di tempat seperti ini. Emira menuju ke kursi kayu yang berada di dekat pohon beringin besar. Baru beberapa langkah, Emira berhenti, baru menyadari suatu hal. Matanya tertuju pada seorang lelaki yang tengah membaca buku. Dan dia adalah Raka.
"Lo di sini juga?" tanya Emira saat memutuskan menghampiri Raka.
Raka terlonjak kaget, mendengar suara seorang perempuan. Raka tersenyum getir diselingi menutup buku tebal yang dibacanya barusan. Emira sudah mengenal watak Raka, tidak mau membuang waktu lebih lama dia langsung ikut duduk di kursi yang memang agak kusam dan lumayan lapuk, namun masih bisa dipakainya bersama Raka saat ini.
"Kakak kenapa ke sini?" tanya Raka.
"Emang gue gak boleh ya ke sini?" Emira balik bertanya.
"Aku gak bilang gak boleh ke sini padahal."
Sedangkan Emira hanya memutar bola matanya malas.
Cukup lama mereka saling berdiam diri, tanpa ada satupun yang bersuara. Mereka saling memilih sibuk dengan urusannya masing-masing. Raka sibuk menundukkan kepada sambil menggigit bibir bawahnya. Lantas Emira sibuk memandangi sekitar sambil menghirup oksigen yang ada.
Emira menatap surai rambu Raka yang lurus dan hitam pekat. Geram, dengan perilaku seorang Raka yang seperti ini. Bisa dikatakan tidak peka terhadap suasana yang ada. Emira memilih mengalah dengan membuka percakapan terlebih dahulu.
"Ka..."
Mendengar setengah namanya dipanggil, Raka mendongak, "Iya kak, ada apa?" Raka menatap manik mata milik Emira. Tanpa disadari Emira pun juga, sampai dirinya merasa enggan untuk mengalihkan pandangannya dari mata elang Raka namun teduh. Sampai akhirnya mata mereka saling terkunci sampai beberapa detik selanjutnya.
Kenapa baru sekarang Raka mendapatkan tatapan seperti itu. Tatapan yang teduh dan hangat, semua itu hanya mengingatkannya pada seseorang yang sangat disayanginya. Bundanya. Iya, tatapan itu sangat mirip sekali dengan sang bunda. Ingin sekali rasanya menangis tersedu-sedu karena rindu akan kebagian bersama sang bunda, tapi Raka masih sadar bahwa yang berada di depanya ini bukanlah bundanya melainkan adalah kakak kelasnya, yang hanya sebatas kenal. Dan entah kedepannya akan seperti apa nantinya.
Karena sudah merasa risih akan tatapan itu, mereka sama-sama membuang muka. Pipi Emira langsung merah padam. Gila, kenapa gue baper sih sama tatapan adek kelas ini? Ah anjir emang! Batin Emira.
"Eh-mm. Btw miniatur kemaren gimana kak?" Akhirnya yang ditunggu Emira berucap juga. Emira menoleh ke arah Raka, sayangnya tidak seperti tadi. Dia tersenyum menampilkan sederet gigi putihnya. "Thanks and I m so sorry?"
Raka mengrenyitkan dahi tidak tahu makna kata yang dilontarkan oleh Emira tersebut. "Maksudnya?"
"Kemaren miniaturnya dapet nilai bagus." Emira menjeda, "Dan sebenernya miniatur itu punya... Punya pacar gue."
"Oh, punya pacar kakak."
"Lo gak marah?" tanya Emira memastikan.
"Kenapa harus marah, apa ada hubungannya?"
"Eh, eng-gak deng." jawab Emira kikuk.
Di sini adalah perkembangan mereka untuk menjadi teman. Ah sungguh aneh mereka ini, berteman dengan cara aneh.
"Kakak kenapa kok mukanya asem gitu?"
"Gue habis berantem tadi sama pacar gue di kantin-" belum sempat Emira menyelesaikan perkataannya, dia lebih cepat mendekap mulutnya dengan kedua tangannya. Kenapa Emira bisa seceplas-ceplos ini, hal seperti ini tidak boleh diumbar kepada orang lain apalagi menceritakan detailnya.
"Gak papa kok kak, cerita aja. Gue-em maksudnya saya bakalan jadi pendengar yang baik dan saya gak bakal cerita ke yang lain." kata Raka mampu membuat kepala Emira mengangguk begitu saja.
Hari ini Emira benar-benar sudah terbuka dengan makhluk di depanya ini. Entah ada rasa nyaman yang bertabur ketenangan bisa bersama Raka.
"Pacar gue nuduh kalo gue selingkuh sama yang lain. Padahal gue gak-sama sekali deket sama orang lain!" mulainya. "Kadang gue ngerasa gak dihargai banget saat dia mau nongkrong sama temennya dia leluasan. Sedangkan gue dikekang, orang tua gue aja gak segitunya." akhirnya.
"Kakak gak usah takut. Kalau memang pacar kakak sayang sama kakak dia bakal gak ngungkit ini lagi. Pasti dia bakal sadar kalo kakak gak kayak dugaannya." kata Raka.
"Thank." Raka tersenyum, senyum yang membuat Emira kembali terpaku dalam menatap Raka.
Sampai akhirnya Raka melihat jam yang melingkar di tangannya. Sampai jarum panjang berwarna hitam itu menunjukkan angka sepuluh, yang berarti sudah menandakan masuk kelas untuk memulai pelajaran sesi kedua.
Raka menoleh ke arah Emira, "Kak udah hampir masuk nih, saya ke kelas dulu ya?"
Raka beranjak dari duduknya, sampai suara khas judes dan cempreng itu menggema, "Woy tunggu! Masa gue ditinggal sih?" iya Emira kembali dalam yang nyata.
"Eh kakak juga mau pergi? Ya udah ayok bareng!"
Mereka berdua berjalan berdampingan, salah satu di antaranya melontarkan lelucon. Dengan tadinya perasaan yang campur aduk, kini Emira bisa ceria lagi. Dia juga tidak menyangka Raka bisa selucu ini.
Dengan tenang ekstra Emira mendorong dengan lembut tubuh Raka karena telah membuat lelucon yang kelewatan aneh. Sampai di lorong kelas mereka tak henti tertawa. Sampai hal ganjal menyadarkan mereka.
Iya, suara tepukan tanggal di belakang mereka mampu membuat keganjalan di antara mereka. Sampai hal tidak terduga, lengan tangan Raka dipegang oleh seseorang. Otomatis Raka menghentikan langkahnya, dia menengok ke belakang.
Bruk...
Tubuh Raka didorong secara kasar oleh lelaki yang menggenakan seragam putih abu sama sepertinya. Sampai badannya menabrak tembok lalu luruh ke lantai. "Lo apa-apaan sih!" bentak Emira, lantas dia menghampiri Raka yang tengah meringis menahan nyeri di punggungnya.
"Jadi ini selingkuhan lo?" lelaki itu menarik tangan Emira yang tengah membantu Raka berdiri.
"Lo bisa gak sih kalau gak kasar tuh!?" Emira sudah tancap gas.
"Lo sekarang ikut gue!" perintah lelaki tersebut. "Awas lo sampe deketin pacar gue, mampus lo di tangan gue!" lanjutnya sambil jari telunjuknya menunjuk Raka.
Lelaki itu membawa Emira entah kemana. Dia tak ambil pusing toh dia juga tidak salah, dia hanya sekedar berteman dengan pacar lelaki tadi-Emira.
Raka hanya memegangi pinggangnya karena rasa nyeri itu masih ada. Dia melangkah pergi menuju ke kelas karena pasti pelajaran sudah dimulai. Raka tidak akan mengingat kejadian tadi. Peduli setan Raka memilih abai saja.
°°°