Kaca pintu toko berembun karena pendingin ruangan yang baru dinyalakan, dan Rani menghapusnya dengan lengan baju sambil menghitung stok kaus kaki olahraga untuk ketiga kalinya. Hari pertama masuk kerja sesudah cuti, dan angka-angka di buku besar tidak mau tinggal di kepalanya.
"Mbak Rani, kardus sepatu dari gudang sudah masuk semua," lapor Arman dari belakang etalase. "Mau dicek sekarang?"
"Nanti siang, Arman. Terima kasih."
Dari lantai dua tidak ada suara apa pun, dan Rani bersyukur. Reza belum pernah turun sejak ia kembali, dan Arman membawakan semua perintah dan laporan seperti kurir yang sopan. Perjanjian itu berjalan sebagaimana mestinya. Lebih mudah dari yang ia bayangkan, malah, dan entah mengapa, ia justru merasa sedikit hampa.
Pukul sebelas lewat, saat toko sedang sepi dan dua karyawan baru sibuk menata tenda di rak belakang, pintu kaca didorong. Maya masuk tanpa senyum, tanpa tawa, tanpa teriakan apa pun. Ia memakai jaket abu-abu, kerudung tipis, dan wajah seperti orang yang belum tidur.
"Ran. Kita bicara di belakang."
Rani membawanya ke pantry yang sempit, tempat loker dan teko listrik berderet, dan menutup pintu. Maya tidak duduk. Ia berdiri dengan kedua tangan di saku jaket dan memandang lantai.
"Danu punya teman di perusahaan sawit, orang Sampit asli. Aku nggak minta Danu menyelidiki, Ran, sumpah. Dia yang tawarkan kemarin, waktu aku cerita aku nggak enak hati sama Rendi." Ia menarik napas. "Temannya kenal keluarga Rendi dari kecil. Dan dia bilang..."
"Bilang apa, May?"
"Rendi bukan atlet. Dia nggak pernah lolos seleksi apa pun. Waktu SMA dia keluar masuk masalah, sama teman-temannya yang pakai sabu. Sekarang dia dikenal sebagai... orang yang sering main di tempat judi. Dan pengangguran, Ran. Kebun sawit itu punya pamannya. Bukan dia."
Pantry itu mendadak terlalu sempit. Rani meraih sandaran kursi plastik dan meremasnya.
"Siapa temannya itu?"
"Namanya nggak penting."
"Siapa yang bilang? Kenapa aku harus percaya kata orang yang aku nggak kenal?"
"Karena ada satu hal lagi." Suara Maya berubah kecil. "Dia punya pacar. Lima tahun. Namanya Nur. Pegawai kantor, tua beberapa tahun dari Rendi. Katanya dilamar, tapi ditolak ayah ceweknya karena Rendi nggak punya kerja. Ceweknya malah dijodohin sama orang lain, tapi mereka masih..."
"Nur."
Maya berhenti. "Kamu kenal?"
"Sepupu." Kata itu keluar dari mulut Rani tanpa dipikir, seperti reflek orang yang menangkap gelas jatuh. "Nur itu sepupunya, May. Yang jaga Mama di Sampit. Aku sudah dengar suaranya di telepon. Aku sudah tanya Rendi sendiri."
"Telepon? Kapan?"
"Tadi malam, bukan urusanmu."
"Ran." Maya akhirnya mengangkat wajah, dan matanya merah. "Sepupu yang jaga Mama? Kata teman Danu, Nur itu pegawai kantor di Sampit, kerjanya delapan jam, nggak jaga siapa-siapa. Dan sepupu apa yang kamu dengar suaranya di jam segitu?"
"Aku..."
"Jam berapa dia telepon, Ran?"
Rani membuka mulut dan tak menemukan jawaban. Pukul sebelas malam, bisikan, rumah sunyi. Semua itu masuk akal bagi seorang istri yang ingin masuk akal, tetapi diucapkan keras-keras di pantry yang berbau kardus, kedengarannya lain.
Rani menggertakkan gigi. Ia tahu ia sudah kalah dalam perdebatan ini, dan justru karena itulah suaranya meninggi. "Kalian nggak pernah suka dia. Dari awal. Kamu bilang takut. Danu bilang terlalu rapi. Reza kirim surat. Sekarang semua orang punya cerita tentang suamiku, dan semuanya datang sesudah akad!"
"Karena sebelum akad kamu nggak mau dengar!"
"Aku sudah menikah, May! Mau kamu apakan aku sekarang?"
Kalimat itu menggantung di antara mereka. Maya menatap sahabatnya lama sekali, bibirnya bergetar, dan ketika ia bicara, suaranya turun menjadi hampir bisikan yang menyakitkan.
"Aku cuma mau kamu nggak sendirian. Itu saja."
"Aku nggak sendirian."
"Rumahmu cuma punya satu cangkir, Ran."
Maya mengambil tasnya. Di pintu, ia berhenti tanpa menoleh. "Kalau kamu butuh aku, aku ada. Tapi jangan suruh aku pura-pura setuju." Pintu pantry menutup pelan, dan langkahnya menjauh di antara rak-rak sepatu.
Rani berdiri di tengah ruang sempit itu sampai kakinya gemetar. Lalu ia menarik tasnya dari loker, keluar, dan berkata pada Arman bahwa ia perlu keluar satu jam. Arman, yang jelas mendengar sebagian pertengkaran, hanya mengangguk dan tidak bertanya.
*****
Asrama atlet itu berada di ujung jalan di belakang stadion, bangunan memanjang bercat hijau pudar dengan jemuran handuk berderet di pagar. Rani turun dari angkot dengan sandal berdebu. Seorang penjaga berseragam coklat sedang membersihkan kuku di pos depan.
"Permisi, Pak. Saya mau tanya nama atlet. Rendiansyah Saputra, cabang futsal."
Penjaga itu mengambil buku besar bersampul koran. Membalik halaman. Membalik lagi. Jari telunjuknya menelusuri kolom nama dari atas ke bawah, lalu dari atas lagi.
"Tidak ada, Mbak."
"Mungkin salah tulis. Rendi, Rendiansyah..."
"Daftar penghuni sama daftar pemain musim ini di papan itu." Ia menunjuk dinding. Ada selembar kertas HVS dengan enam belas nama diketik rapi, dilaminating, dipaku di papan. Rani membacanya dari atas sampai bawah. Tidak ada nama yang berawalan R. "Kalau yang namanya Rendi, saya ingat. Orang Sampit, tinggi, suka tebar senyum. Tapi dia bukan atlet resmi, Mbak. Dulu sering menginap numpang di dapur, kenal Bu Bambang. Sejak Desember kemarin sudah tidak kelihatan lagi."
"Desember?"
"Iya. Sejak Desember."
Bulan ketika Rendi, menurut dongengnya, sedang berlatih keras menjelang seleksi. Rani mengucapkan terima kasih dengan suara yang bukan miliknya, lalu berjalan ke dapur di belakang bangunan.
Bu Bambang sedang mengupas bawang di bangku rendah. Begitu melihat Rani, tangannya yang memegang pisau berhenti. Ia tidak berdiri untuk memeluk seperti biasa. Bibirnya terbuka, tertutup, dan terbuka lagi.
"Nak Rani... kok ke sini? Mestinya kamu di rumah, pengantin baru..."
"Bu Bambang, nama suami saya tidak ada di daftar pemain."
Pisau jatuh ke tampah, berdenting. Bu Bambang menunduk, bahunya turun, dan dalam beberapa detik saja ia tampak sepuluh tahun lebih tua.
"Ibu nggak pernah lihat kontraknya," bisiknya. "Ibu nggak pernah tanya. Dia datang September, bilang mau seleksi, tidurnya di sini, makan di sini. Dia panggil Ibu 'Mama Bambang', dia pijitin kaki Ibu kalau Ibu pegal. Ibu... Ibu sayang sama dia, Nak. Dia anak yang manis. Ibu pikir, ah, anak muda, namanya juga mau maju. Ibu pikir kalau Ibu tutup mata, dia bakal jadi orang." Ia mengusap pipi dengan punggung tangan yang bau bawang. "Waktu dia tanya nomor kamu, Ibu kasih. Ibu pikir kamu anak baik, dia anak baik, cocok."
Rani memandang perempuan yang selama ini selalu ramah padanya itu, dan tidak bisa marah. Ia hanya merasa lelah, dari ujung kaki sampai ubun-ubun, lelah seperti berlari di tangga yang ternyata tidak ke mana-mana.
"Terima kasih, Bu Bambang," ucapnya akhirnya. "Terima kasih sudah jujur."
Di luar, awan tebal sudah menggantung. Rani duduk di halte seberang jalan, menyimpan tas di pangkuan. Rintik pertama jatuh di bahunya, lalu deras, memukul atap seng halte dengan bunyi seperti ribuan kuku. Seorang bapak tukang becak menyingkir sambil bersungut. Rani tidak bergerak.
Nur bukan sepupu. Atlet itu tidak ada. Kebun itu bukan kebun. Tiga kepingan yang ia tutup-tutupi dengan alasan masuk akal selama berminggu-minggu kini terserak di pangkuannya dalam bentuk paling jelas. Tetapi ketika ia mencari marah di dalam dirinya, yang ia temukan hanya satu pertanyaan sederhana dan kejam: kalau semuanya bohong, mengapa suara Rendi pecah ketika bercerita tentang Mama kecilnya? Mengapa Iki tertawa di pangkuannya?
Ia akan menanyakannya. Bukan sekarang, dan bukan pada Maya, bukan pula pada Bu Bambang. Pada orangnya.
Rendi pasti pulang malam ini. Dan Rani akan duduk di meja makan dengan lampu menyala, menunggu.
Ponselnya bergetar di dalam tas, tepat ketika hujan mulai reda. Satu pesan.
[De, Abang pulang larut malam ini ya, ada rapat pelatih. Jangan tunggu, tidur duluan. Cium dari Abang]