Tok tok tok.
Ketukan di pintu terdengar ketika Rani sedang menyapu lantai ruang tamu untuk ketiga kalinya hari itu. Bukan karena lantainya kotor. Ia hanya perlu sesuatu yang membuat tangannya sibuk.
"Siapa?"
"Pengantin baru yang ditinggal suaminya cari nafkah!" Suara itu nyaring dan kenal. "Buka dong, Ran! Martabaknya dingin nih!"
Rani membuka pintu dan langsung dipeluk. Maya masuk seperti angin sore, membawa kotak martabak telur di satu tangan dan kantong plastik besar di tangan lain, matanya sudah menyapu seisi ruangan sebelum kakinya melewati ambang.
"Astaga, rumahnya mungil banget. Lucu. Aku bawa seprai, kemarin lihat di pasar, bunga-bunga gitu, cocok sama kamu." Ia meletakkan semuanya di lantai. "Mana kursinya, Ran?"
"Belum ada. Duduk di tikar aja."
"Tikar?" Maya menoleh. Gorden jendela kiri masih terpasang, tetapi yang kanan belum. Dua kardus tertumpuk di sudut, sebagian pancinya masih terbungkus koran. Di meja kecil hanya ada satu cangkir. "Ran, ini sudah hari kelima kamu pindah."
"Kemarin habis sakit sedikit, jadi belum sempat beres semua."
"Sakit apa?"
"Pegal. Biasa."
Maya duduk bersila di tikar dan membuka kotak martabak. Uapnya naik, wangi telur dan bawang. Ia memotong sepotong dan menyodorkannya pada Rani, matanya tak lepas dari wajah sahabatnya.
"Kamu kurus."
"Nggak lah."
"Kurus, Ran. Pipinya." Maya menunjuk. "Mana Rendi?"
Ini pertanyaan yang sejak tadi ditunggu Rani dan sudah ia siapkan jawabannya. "Latihan. Ada latihan lanjutan, lalu sekalian ke Sampit mengurus panen sawit pamannya. Katanya tiga hari."
"Terus sekarang?"
"Hari ini hari ketiga. Besok dia pulang."
Itu bohong, dan bohong yang sia-sia, sebab Maya menghitung dengan jarinya hanya satu detik. Rendi pergi sehari setelah mereka pindah, yaitu empat hari lalu, dan Rani menghitungnya sendiri tiap malam dengan menarik satu garis di dinding hatinya.
Namun Maya tidak membantah. Ia menyuap martabak dan mengunyah lama-lama, dan ketika menelan, ia berkata dengan nada paling hati-hati yang pernah Rani dengar darinya, "Ran, kalau ada apa-apa, kamu bilang sama aku, ya? Nggak usah gengsi."
"Nggak ada apa-apa, May."
"Oke." Maya mengangkat kedua tangan. "Cuma bilang."
Mereka mengobrol tentang hal-hal yang aman: Anita yang terus ditagih bos soal laporan, Siti yang naksir sepatu botnya penjual loak, Danu yang belajar memasang rak dan malah menjepit jarinya sendiri. Rani tertawa di tempat yang tepat. Maya tertawa lebih keras dari yang diperlukan. Pukul sepuluh, ia berdiri, mengusap jemarinya dengan tisu, dan berhenti di pintu.
"Ran."
"Hm?"
"Kamu tahu aku sayang kamu, kan?"
"Tahu."
"Kalau tahu, kenapa dari tadi kamu nggak pernah ngomong tentang suamimu sendiri?"
Rani tidak menjawab. Maya memandangnya sebentar, lalu memeluknya, singkat dan erat, dan pergi dengan motor yang bunyinya lama sekali menghilang di ujung gang.
*****
Setelah pintu terkunci, Rani mengangkut sisa martabak ke dapur dan mulai merapikan kardus yang tadi dilewati mata Maya. Ia membongkar yang paling besar, menyusun panci, mencari tempat untuk wajan. Saat hendak menggantungkan jaket jins Rendi yang tertinggal di kursi, ia merasakan ada benda keras di saku dalamnya.
Sebuah ponsel. Bukan yang biasa dibawa Rendi. Ponsel kecil berwarna hitam, layarnya sedikit retak di pojok kiri.
Ia belum sempat memikirkan apa-apa ketika benda itu bergetar di tangannya. Di layar tertulis nama: Paman Sawit.
Jarinya sudah bergerak sebelum akalnya, mungkin karena tangan yang terbiasa menjawab telepon toko. Ia menekan tombol hijau dan mendekatkannya ke telinga tanpa berkata apa-apa.
Hening. Lalu suara perempuan, rendah, nyaris berbisik, seperti seseorang yang menelepon dari tempat orang lain sedang tidur.
"Bang? Abang jangan lupa minum obat, ya. Sudah dua hari kamu nggak..."
Rani menahan napas. Di seberang sana, perempuan itu berhenti, seperti baru menyadari bahwa yang diam bukan orang yang ia kira. Sambungan putus.
Ia menurunkan ponsel itu perlahan. Layarnya padam, kembali pada nama Paman Sawit, dua kata biasa yang kini terasa seperti tulisan di pintu yang tak bisa dibuka. Dingin menjalar dari ujung jarinya ke tengkuk.
'Paman Sawit,' batinnya. 'Paman Rendi laki-laki. Suara tadi perempuan. Muda.'
Ia meletakkan ponsel itu di meja, menatapnya, memungutnya kembali. Ia tidak membuka isi pesan atau daftar panggilan. Entah apa yang menahannya, mungkin takut, mungkin janji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan mengintai. Ia hanya duduk bersila di lantai dapur dengan benda itu di pangkuan, sampai lewat tengah malam, sampai punggungnya pegal dan lampu ruang tamu berdengung sendiri di atas kepalanya.
*****
Pukul tiga dini hari terdengar bunyi mobil berhenti, pintu dibuka dengan hati-hati, dan langkah sepatu yang tergesa mendekat.
Rendi masuk dengan tas olahraga di bahu, wajahnya kusut, matanya merah dan berair. Ia berhenti ketika melihat Rani duduk di meja makan dengan lampu menyala dan ponsel kecil itu diletakkan di depannya.
"De. Kamu belum tidur? Abang kira kamu..." Pandangannya jatuh ke ponsel itu, dan cuma sepersekian detik, air mukanya kosong. Lalu hangat lagi. "Oh. Ketemu. Abang cari-cari dari kemarin."
"Tadi bunyi, Bang. Aku angkat tidak sengaja." Rani menatapnya. "Ada perempuan bilang, Abang jangan lupa minum obat."
"Itu Nur."
Nama itu keluar begitu saja, rata dan tanpa beban, seolah sudah disiapkan. Rani merasakan namanya, dua suku kata, jatuh ke lantai dapur seperti kunci.
"Nur, sepupu Abang. Yang jaga Mama di Sampit." Rendi menarik kursi dan duduk, menaruh tas, menggosok wajah dengan kedua tangan. "Dia yang ingatkan Abang minum obat saraf, De. Yang tangan Abang suka gemetar itu. Dia khawatir, soalnya Abang sering lupa kalau lagi sibuk. Kontak itu Abang namai Paman Sawit biar nggak ada yang usil baca. Ya Allah, Abang lupa memberitahumu. Maaf."
Penjelasannya lancar, terlalu lancar, dan Rani menimbangnya dengan cermat. Tangan gemetar itu nyata. Sepupu yang menjaga Hajjah di Sampit mungkin saja ada. Tetapi mengapa panggilannya berbisik? Mengapa nama paman, bukan Nur?
"Panennya selesai?"
"Molor, De. Jalan ke kebun banjir. Abang baru bisa pulang sekarang." Rendi menggenggam tangannya di atas meja. Jarinya dingin. "Kamu percaya sama Abang, kan?"
Rani memandang tangan itu. Ia menarik napas panjang. "Percaya separuh, Bang."
Rendi tertawa lemah, lega, dan mencium punggung tangannya. "Separuh juga cukup. Nanti Abang genapin."
Ia tidur nyenyak begitu kepalanya menyentuh bantal, mulutnya sedikit terbuka seperti anak kecil. Rani duduk di tepi kasur memperhatikannya. Di bawah mata Rendi ada lingkar gelap yang tidak mungkin datang dari panen sawit, dan jari tangan kirinya, bahkan dalam tidur, berkedut pelan di atas seprai. Tangan itu membuatnya ingin percaya pada cerita saraf, dan sekaligus tidak. Ia berbaring menatap bintik bocor di langit-langit sampai jendela memutih, lalu bangkit, mandi, dan menyalakan ponselnya sendiri.
Di dapur kecil ia menjerang air dan menatap uapnya naik. Ia berusaha mengingat kapan terakhir kali ada orang yang bertanya apakah ia baik-baik saja dan ia menjawab jujur. Tidak ketemu. Mungkin itu sebabnya kata "pegal" meluncur begitu mudah dari mulutnya kemarin sore, di depan Maya, seakan ia sudah berlatih.
Satu pesan baru, diterima pukul lima lewat sepuluh.
[Ran, Danu dapat kabar dari temannya di Sampit soal Rendi. Aku ke tokomu siang ini. Jangan ke mana-mana dulu ya]