Siang itu, di Palangkaraya, rumah kontrakan itu menunggu Rani dan Rendi di gang kedua di belakang pasar, sepuluh menit jalan kaki dari toko. Temboknya cat krem yang mengelupas di bagian bawah, jendelanya dua, dan halaman depannya hanya selebar dua langkah orang dewasa. Rani berdiri di ambang pintu sambil memegang kardus berisi panci, sementara Rendi di belakangnya memanggul gulungan kasur tipis dengan gaya seorang laki-laki yang baru menang undian.
"Bagus, kan, De? Dekat toko, dekat pasar, tetangganya baik-baik. Abang survei tiga rumah sebelum ini."
"Bagus, Bang."
Sebenarnya lantainya miring sedikit dan kamar mandinya berbau lembap. Tetapi atapnya tidak bocor dan jendelanya menghadap matahari pagi, dan Rani sudah memutuskan sejak tadi malam bahwa ia akan menyukai rumah ini. Suami istri mesti mulai dari suatu tempat.
Iki berlari masuk lebih dulu, membuka semua pintu seperti petugas inspeksi. "Kak, ada dua kamar! Yang satu kecil banget. Boleh buat Iki kalau nginap?"
"Boleh, Dik. Tapi bantu angkat dulu."
"Siap!"
Ibu datang naik ojek membawa bakul nasi dan sebungkus kerupuk, dan berdiri di tengah ruangan sambil menilai langit-langit dengan mata menyipit. Kakak tertua yang menjadi wali sudah kembali ke luar kota sejak lusa, dan Adi sudah terbang pulang ke Balikpapan sehari sesudah resepsi. Ia sempat berdiri lama di depan Rani saat berpamitan, membuka mulut, lalu hanya menepuk bahunya dan berkata, "Jaga diri, Ran."
Rani masih memikirkan tepukan itu ketika ia melipat taplak.
Menjelang siang, setelah truk pindahan pulang dan para tetangga yang ramah menyodorkan gorengan, Iki menarik ujung bajunya di dapur.
"Kak Rani."
"Hm?"
"Kakak bahagia nggak?"
Sendok di tangan Rani berhenti di udara. Anak itu mendongak dengan kedua mata bulat, menunggu seperti menunggu jawaban soal ulangan.
"Kok tanya begitu, Dik?"
"Soalnya waktu hari akad, Iki dengar Kakak nangis di teras."
Rani berlutut sampai sejajar dengan wajahnya dan merapikan rambut adik bungsunya ke belakang telinga. Ia tersenyum, senyum yang ia pakai di pelaminan, rapi dan tak bisa diganggu gugat.
"Kakak nangis karena terharu, Dik. Orang menikah memang begitu. Kakak bahagia."
"Beneran?"
"Beneran. Sana bantu Abang Rendi pasang gorden."
Iki berlari pergi. Rani masih berlutut beberapa detik, memeriksa kata-katanya sendiri seperti memeriksa kembalian.
*****
Sore harinya, ketika Rendi sedang memaku tiang jemuran di belakang, ibu memanggil Rani ke teras depan dan duduk di bangku plastik dengan punggung tegak.
"Uang bulan ini."
Rani sudah menduga. "Bu, aku baru menikah empat hari. Aku juga baru bayar sewa kontrakan ini enam bulan di muka dari tabungan, tiga juta enam ratus ribu. Aku..."
"Kamu pikir ibu lupa? Ibu yang tanggung kamu dua puluh tahun." Suara ibu tidak keras, tetapi dinginnya yang lama itu merayap kembali, seperti air pasang. "Gajimu selama ini buat dapur ibu. Sekarang kamu pindah, dapur ibu tetap ada. Iki masih sekolah, tagihan listrik masih datang."
"Ibu sudah janji kemarin lusa, di rumah, kalau..."
"Kalau apa?"
Rani menutup mulutnya. Janji itu sebenarnya tidak pernah ada, hanya harapan yang ia susun sendiri selama berinai, ketika ibu memasang daun pacar di jarinya dan berbisik jangan lupa ibu. Rupanya jangan lupa itu artinya jangan lupa mentransfer.
Pintu belakang berderit. Rendi muncul membawa palu, mengelap tangan dengan handuk kecil, dan satu pandangan padanya sudah cukup untuk membaca situasi.
"Ibu mau uang bulanan ya?" tanyanya ramah, seperti menebak menu makan siang. Dari saku celananya ia mengeluarkan dompet kulit cokelat, dan dari dompet itu selembar demi selembar lima puluh ribuan, sepuluh lembar. "Ini dulu, Bu. Lima ratus. Abang baru pindahan, belum gajian, tapi insya Allah bulan depan lebih banyak."
Ibu menerima uang itu tanpa menghitung, dan wajahnya yang kaku mencair setengah. "Rendi ini memang baik. Tidak seperti..." Ia tidak menyelesaikan kalimat dan melirik Rani sekilas, lalu bangkit sambil menyelipkan uang ke dalam kutang. "Ibu pulang. Jangan lupa Iki disuruh pulang sebelum magrib."
Rani memandang punggung ibu yang menjauh. Ia seharusnya berterima kasih. Rendi menyelamatkannya dari ceramah panjang, dan lima ratus ribu itu bukan uang kecil bagi seorang pelatih futsal yang menurut ceritanya baru lolos seleksi. Tetapi di dasar kepalanya, ada hitungan kecil yang tidak mau diam: ke mana sisa uang dari dompet itu? Dari mana dompet setebal itu pada laki-laki yang belum menerima gaji?
Ia menepis hitungan itu, seperti menepis nyamuk di telinga.
*****
Malam tiba dengan bunyi jangkrik dari got belakang. Mereka makan nasi bakul ibu dengan telur dadar dan kerupuk, berdua di lantai karena meja belum ada. Rendi bercerita tentang masa kecilnya di Sampit sambil tertawa, dan Rani ikut tertawa sampai pipinya sakit.
Lalu, setelah piring dibersihkan, nada Rendi berubah menjadi lebih pelan.
"De. Abang mau minta tolong, tapi jangan marah ya."
"Apa, Bang?"
"Abang belum punya rekening di sini. Semua uang Abang masih di Sampit, dan kamu tahu sendiri jarak ke sana. Besok Abang harus setor uang muka sewa lapangan latihan, kalau terlambat tempatnya diambil klub lain." Ia menggaruk tengkuk, tampak malu. "Boleh Abang pinjam kartu ATM-mu sebentar? Cuma untuk setoran awal, nanti Abang ganti sebelum akhir bulan. Abang catat."
Rani menatap wajah itu. Alis tebal, mata yang selalu terlihat bersungguh-sungguh. Ia teringat aturan yang ia janjikan pada diri sendiri: percaya dulu, jangan mengintai. Ia teringat pula bahwa tabungannya memang hasil dua tahun menyisihkan dari sisa gaji setelah ibu mengambil bagiannya, dan bahwa angkanya tidak seberapa.
"Berapa Bang yang mau diambil?"
"Seperlunya saja. Paling satu setengah juta."
Seharusnya ia bertanya mengapa uang lapangan harus dari tabungan istri. Seharusnya ia menyuruh Rendi menunggu sampai ia sendiri yang ikut ke bank. Tetapi ia terlalu lelah, dan terlalu malu mencurigai suami yang baru empat hari, dan ia mengeluarkan kartu itu dari dompetnya.
"Nomor rahasianya nanti kutulis di kertas, Bang. Jangan diambil lebih dari yang Abang bilang tadi, ya."
"Pasti, De." Rendi menciumi kartu itu seperti jimat, lalu mencium dahi Rani. "Makasih, ya. Kamu istri paling baik di dunia."
Pagi berikutnya, selepas subuh, Rendi sudah mengemasi tas olahraga hijau lumutnya. Rani menyiapkan bekal nasi kuning, dan ketika ia memberikan bungkusan itu di pintu, Rendi menangkap kedua tangannya.
"Abang pamit ya, De. Latihan lanjutan dua hari, terus Abang harus ke Sampit urus panen sawit paman. Tiga hari, paling lama. Jangan nangis."
"Aku nggak nangis."
"Bagus. Tunggu Abang."
Mobil sewaan perak menjemputnya di ujung gang. Rani berdiri di pintu sampai lampu belakangnya tikungan, lalu menutup pintu dan memutar kunci. Rumah itu mendadak lebih besar dari kemarin. Panci-panci masih di dalam kardus, gorden satu belum terpasang, dan di meja kecil hanya ada satu cangkir.
Pukul sebelas malam, ponselnya bergetar di atas kasur tipis.
[Latihan hari pertama beres, De. Besok subuh Abang berangkat ke Sampit, sinyal kebun susah. Kalau Abang lama balas jangan marah ya, sayang]
Rani membaca pesan itu dua kali, mengetik balasan yang pendek, dan menghapusnya. Ia mengetik lagi, kali ini hanya satu kata, dan mengirimnya. [Hati-hati.] Lalu ia menatap langit-langit yang berbintik bekas bocor lama, dan menyadari bahwa ia baru saja membiarkan ATM, kunci rumah, dan hampir seluruh tabungannya pergi bersama laki-laki yang sinyalnya susah. Tetapi rasa kantuk lebih cepat daripada kecurigaan, dan ia tertidur dengan ponsel di dada.