Ayam jantan kedua baru berkokok ketika Rani menyeka wajah dengan ujung selendang dan masuk lagi ke rumah. Ia mencuci muka di kamar mandi belakang, lama, sampai matanya tak lagi sembab, lalu menyalakan kompor di dapur sebelum ibu bangun. Pagi itu ia ingin sarapan sudah tersedia.
Nasi goreng dengan telur mata sapi, kesukaan Iki, dan secangkir kopi tanpa gula untuk suaminya yang kemarin berkata tidak suka manis. Ia sedang memecah telur ketika dari teras samping terdengar suara Rendi, rendah dan tergesa.
"...jangan sekarang. Sudah kubilang, jangan sekarang!"
Rani berhenti. Telur di tangannya menetes ke wajan.
Suara itu terpotong. Beberapa detik hening, lalu pintu samping bergeser dan Rendi muncul dengan rambut kusut, kaus oblong, dan senyum yang dipasang terlalu cepat.
"Pagi, istriku. Wah, masak sendiri. Harum banget."
"Siapa, Bang?"
"Oh, itu." Rendi mengambil cangkir kopi, meniupnya. "Pelatih, De. Pagi-pagi nagih jadwal. Dikira Abang masih bujangan yang bisa diajak latihan jam enam." Ia tertawa, lalu mengecup puncak kepala Rani sambil lewat. "Abang bilang nanti, Abang lagi libur sama istri."
Rani tersenyum dan membalik nasi gorengnya. Tangan Rendi yang memegang cangkir tidak bergetar pagi ini. Ia memperhatikan itu, dan memperhatikan pula bahwa layar ponsel yang digenggam Rendi di tangan satunya sengaja dibalik menghadap ke bawah.
'Mau percaya,' batinnya. 'Aku sudah memilih. Aku mau percaya dulu.'
Dari ruang tengah, ibu keluar mengusap mata dan berhenti di ambang dapur. Ia memandang meja yang sudah tertata, memandang Rani, lalu mengangguk samar, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu dan mendapati angkanya cocok.
"Rajin," komentarnya pendek, dan itu pujian terpanjang yang pernah Rani terima darinya bertahun-tahun.
Iki menyusul sambil menyeret sarung, rambut berdiri di sana-sini. Ia memandang Rendi yang duduk di kursi dekat jendela dengan kopinya, lalu bertanya dengan polos yang tak bisa dimarahi, "Abang Rendi tidur di kamar Kak Rani, ya? Terus Iki tidur di mana kalau Kak Rani pindah?"
"Iki!" tegur ibu.
"Kan nanya."
Rendi terbahak dan menarik adik iparnya duduk di pangkuan. "Nanti Abang carikan rumah kecil dekat toko, Ki. Kamu boleh nginap tiap akhir pekan, main bola di halaman. Setuju?"
"Setuju!"
Rani memandang pemandangan itu dari wajan yang masih berasap, dan sebagian dari dirinya ikut melunak. Seorang laki-laki yang bisa membuat Iki tertawa seperti itu tak mungkin sepenuhnya palsu. Begitu ia berpikir, dan ia mencatat dalam hati bahwa ia sedang mencari-cari alasan, dan bahwa ia tahu itu.
Selesai sarapan, ibu menyuruh Rani mengemasi barangnya sebelum siang. Di kamar yang sebentar lagi bukan miliknya, Rani melipat baju satu per satu ke dalam koper tua dan menemukan buku catatan kecil di dasar laci, bersampul biru, berisi daftar belanja toko dan catatan gaji yang selalu habis sebelum akhir bulan.
"Itu dibawa," kata ibu dari ambang pintu. Ia tidak masuk. "Buku catatan jangan ditinggal. Siapa tahu nanti kamu perlu mengingat dari mana kamu mulai."
"Ibu kenapa bicara begitu?"
"Tidak kenapa-kenapa." Ibu memandang koper yang separuh terisi, lalu pindah menatap jendela. "Uang sekolah Iki jatuh tempo tanggal sepuluh. Jangan lupa bilang ke suamimu."
Rani memeluk buku biru itu ke dada dan tidak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk, dan ibu pergi sebelum ada yang sempat menangis.
*****
Pukul sepuluh pagi, Bagas turun dari bus di terminal Banjarmasin dengan satu tas ransel dan wajah yang tidak pernah ia biarkan Adi lihat selama perjalanan. Ia memanggil taksi, membuka pintu pagar rumahnya yang berderit, dan mendapati ibunya sudah duduk di kursi roda di teras, walker di sampingnya, Kak Laila berdiri di belakang dengan kedua tangan terlipat.
"Gas! Cepat sekali! Ibu kira kamu pulang sore." Ibu merentangkan tangan. "Bagaimana acaranya? Pengantinnya cantik? Kamu ketemu temannya Adi yang baik-baik?"
Bagas membungkuk memeluk ibunya, dan ia menahan pelukan itu lebih lama dari biasa. Aroma minyak kayu putih dan bedak bayi, sama seperti sejak ia kecil.
"Bu. Aku mau cerita. Duduk dulu, Kak, ini penting."
Kak Laila menarik kursi rotan, dan ketika Bagas membuka mulut, ia tahu tidak ada jalan memutar. Ia ceritakan semuanya dengan urut, dari akad adik Adi sampai papan pelaminan, sampai nama di undangan yang sekarang ia keluarkan dari saku dan ia letakkan di pangkuan ibunya.
"Gadis itu menikah kemarin, Bu. Dengan laki-laki lain. Namanya Maharani Saraswati." Suaranya pecah di suku kata terakhir. "Dan dia titip salam untuk Ibu."
Ibu tidak bergerak. Tangannya perlahan mengangkat undangan itu, dan bibirnya bergerak membaca satu nama.
"Rani," bisiknya. "Palangkaraya. Jadi dia..."
"Gadis yang kamu bilang waktu itu, Gas? Yang menunggu anak kecil di pantai? Ibu kira dia gadis dari Banjarmasin, kenapa Palangkaraya..." Ia berhenti, matanya bergerak cepat seperti mencocokkan kepingan. "Dia bilang dia pulang ke Palangkaraya. Ibu ingat. Ibu sendiri yang lupa menanyakan namanya."
Air mata jatuh dulu sebelum ia sempat selesai berkata. Ibu menutup mulut dengan telapak tangannya yang berkerut, dan bahunya naik-turun. Kak Laila bergegas berlutut dan menggenggam lengannya.
"Ibu, tenang. Napas."
"Ibu sudah berdoa untuk dia tiap malam, Laila. Anakku itu, anakku yang ketemu di pantai..." Ibu terisak. "Dan ternyata dia sudah milik orang."
Bagas menunduk. Ia ingin mengatakan sesuatu yang bijak, tetapi tenggorokannya terkunci.
"Bu," katanya akhirnya, serak. "Aku mohon. Jangan didatangi. Jangan ditelepon. Dia istri orang sekarang. Kita tidak berhak mengganggu rumah tangga siapa pun."
"Dia kelihatan sehat, Gas? Dia kurus? Dia makan dengan benar?"
"Dia memakai kebaya merah, Bu. Dia tersenyum." Bagas memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Aku tidak tahu itu bahagia atau cuma sopan."
"Kamu sempat bicara?"
"Tiga kalimat. Tidak lebih. Dia tanya, apa ibu yang di pantai itu ibuku."
Ibu memejamkan mata sebentar, seperti orang yang mendengar kabar baik dan buruk dalam satu napas. Lalu ia menatap Bagas lagi, dan mata merahnya tidak lagi menyalahkan siapa pun. Ia menggeleng, perlahan, dan menyeka pipi dengan ujung kerudung.
"Ibu tidak akan melamar, Gas. Ibu bukan perempuan macam itu." Suaranya masih bergetar, tetapi ada baja di dalamnya. "Ibu hanya ingin tahu dia bahagia. Itu saja. Kalau dia bahagia, Ibu pulang dengan tenang."
*****
Malamnya Bagas masuk kamar dan menutup pintu. Kotak beludru itu masih di sakunya. Ia membukanya sekali lagi di bawah lampu belajar: cincin emas tipis warisan nenek, ukiran daun di sepanjang lingkarnya, sedikit aus oleh pemakaian puluhan tahun.
Ia menutup kotak itu, membuka laci paling bawah meja, dan menaruhnya di sudut, di atas buku tabungan lama dan sebuah foto kelulusan. Laci itu didorong sampai klik.
Ia berwudhu, menggelar sajadah, dan lama sekali sujud. Ia tidak meminta Rani. Ia hanya meminta supaya hatinya kuat, dan supaya perempuan itu bahagia dengan pilihannya, kalau memang pilihan itu yang terbaik baginya.
Selesai salam, pintu kamar diketuk pelan. Kak Laila berdiri di ambang dengan segelas teh hangat.
"Ibu sudah tidur," ujarnya pelan. "Tapi dia berpesan satu hal dan menyuruh Kakak menyampaikannya persis."
"Apa?"
"Ibu bilang..." Kak Laila meletakkan gelas di meja. "Kalau dia ternyata tidak bahagia, Gas, kamu mau pura-pura tidak tahu?"
Bagas menatap laci yang tertutup itu. Tidak ada jawaban yang mau keluar dari mulutnya.