Bagas tidak ingat bagaimana ia sampai ke parkiran. Yang ia ingat hanya pintu gedung yang menutup di belakangnya, rebana yang mengecil, dan matahari tengah hari yang menimpa kepalanya seperti tangan yang menekan.
Mobil Kijang tua pinjaman sepupu Adi diparkir di bawah pohon ketapang. Ia membuka pintu penumpang, duduk, lalu menutupnya pelan sekali, seakan suara kecil pun bisa memecahkan sesuatu. Kotak beludru itu ia keluarkan dari saku jas dan ia letakkan di dasbor. Sudut kotak meninggalkan bekas merah di telapaknya.
Di dasbor, di sebelah kotak itu, tergeletak sebuah undangan yang tadi pagi dilemparkan Adi begitu saja. Bagas mengambilnya. Kertas krem, tinta emas. Rendiansyah Saputra dan Maharani Saraswati.
"Maharani Saraswati," bacanya lirih, lalu mengulanginya sekali lagi, seperti mencocokkan nama panjang itu dengan Rani di papan bunga tadi.
Kaca jendela diketuk. Adi membuka pintu pengemudi dan masuk dengan napas terengah, jasnya kusut.
"Lo ke mana sih, Gas? Gue cariin sampai toilet. Katanya mau kenalan sama adik gue, kok malah kabur?"
"Gue nggak kabur."
"Muka lo pucat banget." Adi menatap kotak di dasbor. "Itu apaan?"
Bagas diam cukup lama. Lalu, sebab tak ada lagi gunanya menyimpan, ia bercerita. Tentang toko berdinding kaca, nota sepatu dengan nomor telepon yang tak pernah ia hubungi, tentang pantai di pagi tahun baru, dan seorang gadis berlesung pipi yang bersimpuh di depan kursi roda ibunya. Tentang ibunya yang tiap malam masih bertanya apakah bidadari itu sudah ketemu. Tentang bagaimana ia mencari gadis itu ke mana-mana, dan baru hari ini menemukannya di atas pelaminan, dengan tangan laki-laki lain di pinggangnya.
Adi tidak menyela sekali pun. Rahangnya mengeras sedikit demi sedikit.
"Jadi selama ini yang lo cari..." Adi menelan ludah. "Adik gue."
"Ya."
"Gas, gue nggak tahu. Demi Allah gue nggak tahu. Kalau gue tahu..."
"Gue tahu lo nggak tahu. Makanya gue nggak marah sama lo."
Adi mengusap wajah dengan kedua tangan. Lalu ia menurunkannya, dan suaranya berubah. "Gas, soal laki-laki itu. Rendi. Gue kenal wajahnya, gue pernah lihat dia di..."
"Di." Bagas memotong, tegas. "Dia suami adik lo, Di. Sah sejak jam delapan pagi tadi. Apa pun yang lo tahu, bukan hari ini, dan bukan dari mulut gue yang lagi sakit hati. Kalau lo bicara sekarang, orang akan mengira itu cemburu gue."
"Tapi kalau dia..."
"Kalau lo yakin, bicara sama adik lo sendiri. Dengan bukti. Bukan sama gue di parkiran."
Adi menatapnya lama. Di luar, seorang anak kecil berlari mengejar balon yang lepas, dan teriakannya terdengar riang dan jauh. Akhirnya Adi mengembuskan napas panjang dan menyandarkan kepala ke sandaran.
"Lo orang paling sopan yang pernah gue kenal," gumamnya. "Dan itu bikin gue pengen mukul lo."
Bagas tersenyum pahit. Ia mengambil kotak itu, menutup genggamannya di atasnya, dan menatap lurus ke kaca depan yang berdebu. Ibunya menyuruh membawa cincin ini untuk seorang gadis. Ia tidak akan pernah bisa menyerahkannya.
*****
Di pelaminan, antrean tamu sudah menipis dan Rani merasa kakinya mati rasa di balik kain. Hajjah Salmah sempat naik membawa segelas air dan menyuruhnya minum, lalu turun lagi sambil mengusap mata. Rendi masih tersenyum, tetapi senyum itu lain dari tadi pagi. Ia menyalami seorang bibi, mengucapkan terima kasih, lalu menunduk ke telinga Rani sambil tetap menatap lurus ke depan.
"Orang tadi lama banget lihat kamu."
"Siapa, Bang?"
"Yang tadi pakai jas abu-abu. Teman kakakmu."
"Pembeli di toko dulu, Bang. Sudah lama sekali. Aku bahkan hampir lupa namanya." Kata-kata itu keluar lancar dan tenang, dan Rani terkejut sendiri bahwa ia sanggup mengucapkannya. Tangannya yang berhias inai menggenggam lipatan kain di pangkuannya sampai buku jarinya memutih.
Rendi diam sebentar. Lalu tawanya muncul, ringan. "Maaf, De. Abang cuma cemburu. Pengantin baru, wajar kan?"
"Wajar."
"Kamu cantik sekali hari ini. Abang nggak mau ada laki-laki lain yang lihat lama-lama."
Rani tersenyum tipis dan tidak menjawab. Dari ujung gedung Maya mengangkat kedua alis ke arahnya, bertanya tanpa suara. Rani menggeleng sangat kecil. Nanti. Bukan di sini. Bukan sementara tangan Rendi masih menempel hangat di punggung kursinya.
*****
Menjelang malam, kamar Rani yang kecil sudah berubah. Kasur ditutup seprai putih bersulam, kelopak mawar ditaburkan oleh bibi-bibi yang cekikikan, dan lampu tidur jingga menyala di sudut. Tetangga sudah pulang, para bibi menggelar tikar di ruang tengah, dan ibu menutup pintu depan dengan bunyi yang lebih pelan dari biasanya. Sebelum masuk kamarnya sendiri, ibu sempat berhenti di depan pintu Rani, seperti hendak mengatakan sesuatu, lalu hanya berkata, "Tidur yang nyenyak," dan pergi.
Rendi duduk di tepi kasur, melepas peci. Tangan kirinya meremas lutut, jarinya bergetar halus. Ia menyadari Rani memperhatikan, lalu menyembunyikannya di balik paha.
"Capek ya, De?"
"Iya, Bang."
"Abang juga." Ia tertawa kecil. "Kalau mau tidur saja malam ini, tidur saja. Abang nggak akan memaksa. Kita punya banyak waktu."
Kalimat itu manis, dan Rani tahu seharusnya hatinya menghangat. Ia menarik napas, menatap wajah laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya sejak pagi, dan memutuskan sendiri apa yang ia mau. Ini pilihannya. Ia yang berdiri di depan ibunya dan mengatakan ya, ia yang menyematkan cincin Hajjah di jarinya. Ia tidak mau memulai pernikahan dengan setengah hati yang disembunyikan.
"Aku nggak mau tidur dulu, Bang," ucapnya jelas. "Aku sudah siap. Aku istri Abang."
Rendi menatapnya sebentar, memastikan. "Beneran, De? Abang tanya baik-baik. Kalau ragu, bilang saja."
"Beneran." Rani mengangguk, dan senyumnya kecil tetapi mantap.
Rendi bangkit pelan, mematikan lampu tidur, dan pintu kamar menutup dengan bunyi klik yang halus.
*****
Rani terbangun pukul tiga lewat. Kamar gelap, napas Rendi teratur di sisinya, dan dari ruang tengah terdengar dengkur samar para bibi. Ia hendak meraih gelas di meja ketika layar ponsel Rendi, yang tergeletak di samping bantal, menyala sendiri.
Satu huruf saja di layar. N.
Layar itu menyala tiga detik, bergetar tanpa bunyi, lalu padam.
Rani menahan napas. Rendi tidak bergerak. Ia menunggu layar itu hidup lagi, tetapi gelap tetap gelap, dan huruf itu tertinggal di matanya seperti sisa cahaya setelah menatap lampu.
Pelan-pelan ia turun dari kasur, membawa selendang, dan keluar ke teras lewat pintu samping. Udara dini hari dingin dan lembap, dan bau melati dari pelaminan di ruang tamu masih terbawa sampai sini. Ia duduk di bangku kayu, memeluk lutut, dan baru di situ air matanya jatuh. Ia tidak tahu untuk apa. Bukan karena Rendi, bukan karena huruf tadi, bukan pula karena Mas Bagas, atau tidak hanya karena itu semua. Tangisnya mengalir saja, senyap, tanpa nama, sampai kain selendang itu basah di bagian dagu.
Dari dalam rumah terdengar langkah bibi yang bangun lebih awal untuk menjerang air. Rani cepat-cepat menyeka pipi dengan punggung tangan. Ia tidak mau ada yang melihat pengantin baru menangis di teras pada subuh pertamanya, sebab orang akan mengira macam-macam, dan ia sendiri belum punya jawaban untuk satu pun dugaan itu.
Di kejauhan, ayam jantan pertama berkokok, terlalu pagi.