Pukul tujuh pagi, ruang tamu rumah Rani sudah disulap menjadi tempat akad. Karpet tebal digelar, meja rendah berlapis kain putih diletakkan di tengah, dan di atasnya tertata Al-Quran, seperangkat alat salat, serta kotak kecil berisi emas yang akan menjadi mas kawin. Wangi melati memenuhi udara hingga kepala Rani pening.
Ia duduk di kursi di balik tirai, mengenakan kebaya putih gading yang jahitannya diselesaikan penjahit sampai larut malam. Maya, Anita, dan Siti duduk mengapit, wajah ketiganya sama-sama tegang.
"Napas, Ran," bisik Anita. "Jangan ditahan."
"Aku nggak nahan."
"Muka kamu nahan."
"Gue ikut nahan nih," gumam Siti. "Kayaknya gue yang mau pingsan."
"Ssst. Penghulunya mulai."
Dari ruang tamu terdengar suara penghulu, seorang laki-laki tua berkacamata tebal, membacakan khotbah nikah. Rani tidak menangkap isinya. Telinganya mencari satu suara lain, dan ia menemukannya: suara Rendi, rendah, mengucap salam kepada para saksi.
"Rendiansyah Saputra, silakan duduk di sini."
Dari celah tirai, Rani melihat Rendi duduk bersila di depan kakak tertuanya, berjas putih dan berpeci hitam, wajahnya pucat sekali dan pelipisnya mengilap oleh keringat. Hajjah Salmah duduk di belakang dengan mata terpejam dan bibir bergerak berdoa. Adi berdiri di sudut ruangan dengan wajah tak terbaca.
Penghulu menyuruh kakak tertua dan Rendi berjabat tangan. Telapak kakak Rani yang besar dan kasar menggenggam tangan Rendi.
"Sudah siap, Nak?" tanya penghulu.
"Siap, Pak," jawab Rendi, suaranya serak.
"Ananda Rendiansyah Saputra," ucap kakak tertua, suaranya mantap, tak menoleh kiri atau kanan, "saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik kandung saya, Maharani Saraswati binti Iyus, dengan mas kawin berupa emas, dibayar tunai."
Rendi menarik napas, dan Rani mendengar napas itu sampai ke balik tirai.
"Saya terima nikah dan kawinnya Maharani Saraswati binti Iyus dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Sekali tarikan napas. Tanpa jeda, tanpa tersendat. Lalu hening.
"Bagaimana, saksi? Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Doa dibacakan. Telinga Rani berdenging. Maya mengusap lengannya.
"Ran, kamu nangis."
"Aku nggak tahu ini nangis apa, May," bisik Rani. Lega, atau takut, atau sesuatu yang tak punya nama.
Ia diantar keluar dari balik tirai, dituntun ibu dan Hajjah, menuju meja akad. Ibu menggenggam sikunya terlalu keras, tetapi mata ibu berkaca-kaca. Rendi berdiri menyambut, dan ketika Rani mencium tangannya, ia merasakan telapak itu dingin dan basah.
"Alhamdulillah, istriku," ucap Rendi pelan.
Istriku. Kata itu mendarat di telinganya seperti benda asing yang diletakkan di atas meja.
*****
Gedung serbaguna di dekat lapangan kota dipenuhi tamu sejak pukul sebelas, dengan musik rebana mengalun dari pengeras suara dan antrean bersalaman yang memanjang ke pintu.
Rani duduk di pelaminan dengan kebaya merah marun, senyumnya hampir kaku. Rendi duduk di sisi kanannya dalam jas hitam, menyambut setiap tamu dengan jabat tangan dan senyum lebar.
"Capek, sayang?" bisiknya di antara dua tamu.
"Sedikit, Bang."
"Tahan ya. Sebentar lagi makan."
Arman datang bersama karyawan perempuan baru dan dua pegawai gudang, semuanya berpakaian rapi. "Selamat, Mbak Rani," ucap Arman sambil menunduk. "Kami semua doakan yang terbaik."
"Terima kasih, Arman. Sudah makan?"
"Sudah, Mbak. Oh, ini ada kiriman." Arman menoleh ke sudut gedung, tempat sebuah karangan bunga besar berwarna putih dan kuning bersandar di dinding. Pitanya bertuliskan "Selamat Menikah, Keluarga Besar Toko". "Dari toko, Mbak."
Rani memandang rangkaian itu sebentar. Ia mengerti siapa yang memerintahkan, dan ia memutuskan bahwa untuk hari ini cukup mengakui kiriman itu sebagai kiriman toko kepada karyawannya.
"Tolong sampaikan terima kasih dari seluruh karyawan, ya, Arman."
"Baik, Mbak."
Di sisi pelaminan, Maya berdiri bersama Anita dan Siti, memegang segelas air mineral yang tidak ia minum, matanya menyapu pintu masuk. Lalu tubuhnya membeku.
Di pintu gedung, Adi masuk bersama seorang laki-laki berjas abu-abu. Tinggi, putih, atletis, hidung mancung, mengedarkan pandang seperti orang mencari seseorang di tengah keramaian.
"Ti," bisik Maya tanpa menoleh. Gelas di tangannya bergetar. "Itu dia."
"Siapa?" Siti ikut menoleh.
"Yang di toko. Yang waktu itu minta nomor Rani. Yang di pantai tahun baru, yang aku lihat berdiri di dekat ibu berkursi roda."
"Yang mana?"
"Yang sama Kak Adi." Maya menelan ludah. Pagi tahun baru itu ia sempat melihat laki-laki ini lewat dan nyaris memanggil, tetapi air matanya sendiri terlalu penuh. "Seandainya aku menyapa waktu itu."
"Ya Allah," desis Siti. "Lo mau bilang ke Rani?"
"Gimana caranya? Lihat, Rendi pegang lututnya." Maya mencengkeram gelas. "Kita cuma bisa nonton."
*****
Bagas mengikuti Adi menembus kerumunan tamu. Ia menyentuh saku dalam jasnya sekali lagi, memastikan kotak kecil itu masih ada.
"Ayo, Gas. Kenalin ke adik gue dulu."
"Iya. Eh, adik lo yang mana?"
"Yang di pelaminan, Gas. Masa lo nggak lihat pengantin?"
Ia melirik papan nama di pelaminan, huruf besar dari bunga plastik: Rendi & Rani. Kata kedua membuatnya berhenti setengah langkah. Rani. Jadi begitu namanya. Dua bulan lebih ia mencari tanpa nama, dan nama itu ternyata terpasang dari bunga plastik.
Di atas pelaminan, seorang pengantin perempuan berkebaya merah marun mengangkat wajah untuk menyambut tamu berikutnya.
Suara musik menjauh. Lesung pipi itu muncul sekilas karena kebiasaan menyambut tamu, lalu surut ketika mata mereka bertemu. Rambut hitam dengan sanggul melati. Bibir merah muda yang pernah ia lihat di balik kaca etalase sepatu. Gadis yang diceritakan ibunya, yang bersimpuh di depan kursi roda di pantai Tangkisung dan menitipkan doa.
Tangan Bagas menggenggam kotak beludru di sakunya begitu keras sampai sudut kotak itu menusuk telapak.
"Ade," ujar Adi riang, tidak menyadari apa pun. "Kenalin, ini temen gue, Bagas. Gue yang maksa dia datang."
Rani tidak bergerak. Wajahnya perlahan kehilangan warna. Di sampingnya, Rendi sedang membungkuk menerima amplop dari paman yang duduk di barisan depan, tertawa pada seseorang di belakang, punggungnya setengah berbalik.
"Mas," bisik Rani nyaris tanpa suara, "yang di toko."
"Iya." Suara Bagas terdengar asing bagi dirinya sendiri. Ia menangkupkan tangan di dada sebagai pengganti jabat tangan, menjaga jarak yang pantas. Adi berpaling pada kakak tertua mereka di dekat meja, dan dalam sepuluh detik yang sempit itu Bagas berkata sangat pelan, "Ibu saya sering cerita soal gadis di pantai Tangkisung yang titip doa. Yang punya lesung pipi."
Mata Rani melebar. Bibirnya bergetar.
"Ibunya Mas," bisiknya, "yang di pantai?"
"Ya."
Satu kata, dan seluruh hari terasa runtuh menjadi satu titik. Rani merasakan dadanya yang selama ini kosong berdebar, begitu keras sampai ia takut debar itu terdengar sampai ke mikrofon. Debar yang sama seperti di toko, di parkiran, di pantai. Ia mengenalinya sekarang. Hanya saja sudah terlambat beberapa jam.
"Sayang," Rendi menegakkan tubuh dan merangkul pinggang Rani, senyumnya mengembang ke arah tamu baru. Matanya bergeser dari wajah Rani ke wajah Bagas, dan dalam satu detik senyum itu mengencang di tepi. "Siapa ini?"
"Teman kakak saya, Bang. Pembeli di toko dulu."
"Oh. Terima kasih sudah datang, Mas."
Bagas menatap tangan Rendi yang melingkar di pinggang itu. Ia menelan sesuatu yang pahit, menurunkan pandangannya, dan memaksakan senyum yang terasa seperti kulit kering yang tertarik.
"Selamat," ucapnya. "Semoga berbahagia."
Ia berbalik, dan langkah pertamanya terasa lebih berat dari yang ia kira.
"Mas." Suara Rani kecil, nyaris tenggelam oleh rebana. Rendi sudah berpaling menyambut tamu lain.
Bagas berhenti, tidak menoleh.
"Titip salam untuk Ibu."