Malam itu rumah Rani berbau daun pacar tumbuk, kembang melati, dan kopi susu yang diseduh dalam teko besar. Bibi-bibi dari pihak almarhum ayah duduk bersila di tikar ruang tengah, tetangga komplek bergantian menjenguk sambil membawa kue bolu dan amplop kecil, dan di sudut ruang tamu seorang tukang rias muda sibuk menata deretan botol di atas nampan.
"Pengantin jangan banyak bergerak," kata tukang rias itu pada Rani yang duduk di kursi rotan dengan kerudung belum dipakai. "Nanti inainya melenceng."
"Iya, Mbak."
"Kak Rani, jari Kakak merah!" Iki menyelinap di antara lutut para bibi, matanya membulat. "Kayak kena cat. Boleh pegang?"
"Jangan, Dik. Nanti luntur."
"Kalau Iki pegang sedikit?"
"Iki," tegur ibu dari dapur, "sini bantu ibu bawa gelas."
Iki merengut, tapi patuh.
Di sekelilingnya perempuan-perempuan bergurau, menyebut-nyebut malam pertama dengan nada setengah berbisik yang membuat Rani menunduk menahan panas di pipi. Maya, Anita, dan Siti duduk bersebelahan di sofa panjang, memegang gelas kopi dan terus-menerus memperbaiki posisi duduk Rani sambil memamerkan kebaya hijau botol yang sudah jadi.
"Nit, itu bunga di sanggulmu miring," bisik Maya.
"Mana ada. Itu gaya."
"Gaya apa? Gaya jatuh?"
Rani tertawa kecil. Tawa itu hilang ketika ibu masuk dari dapur membawa mangkuk tembikar kecil berisi pasta hijau kehitaman. Ruangan mendadak sunyi, dan para bibi bergeser memberi jalan.
"Biar ibu yang pasang," ujar ibu Rani, singkat saja, seperti memutuskan harga.
Ia duduk di bangku pendek di hadapan Rani. Ada jeda lama di mana keduanya hanya saling memandang, dan Rani menyadari betapa banyak garis baru di wajah ibu yang tak pernah ia perhatikan. Tangan ibu terulur meraih jemari kanan Rani, mengangkatnya ke atas pangkuan. Ibu mencelupkan lidi kecil ke pasta, lalu menggambar bulatan di kuku jari tengah dengan sapuan ragu, sebelum menjadi mantap.
Hangat. Sentuhan itu hangat, dan dalam sekejap Rani merasa kembali berumur empat tahun, ketika ibu masih sering menggendongnya ke warung membeli permen. Ia tidak ingat kapan terakhir kali tangan ibu menyentuhnya tanpa maksud menyuruh, menagih, atau memukul meja.
"Bu..."
"Diam. Nanti melenceng." Ibu menunduk, tidak menatapnya. Lidi itu bergerak ke jari berikutnya. "Dulu waktu ibu menikah dengan ayahmu, nenekmu yang memasang inai ibu. Tangannya sama kasarnya dengan tangan ibu sekarang."
Rani menggigit bibir.
"Setelah menikah," lanjut ibu sangat pelan, sehingga hanya Rani yang mendengar, "jangan lupa ibu."
Kalimat itu pendek, tidak ada tambahan. Tidak ada janji uang, tidak ada tuntutan. Hanya itu, dengan suara yang pecah di huruf terakhir. Mata Rani langsung panas. Ia mengangguk tanpa bisa mengeluarkan suara.
Di sofa, Maya buru-buru membuang muka dan pura-pura membetulkan kerudung.
Ponsel Rani berbunyi ketika inai di tangan kanannya sudah mengering setengah. Karena kedua tangannya kaku berhias, Anita mengambil ponsel itu dari meja dan membawanya ke telinga Rani.
"Rendi," bisik Anita sambil menyeringai.
"Halo, Bang."
"De..." Suara itu serak, dalam, dan terburu-buru, tidak seperti suara Rendi yang renyah. Di latarnya terdengar tawa beberapa laki-laki dan bunyi sesuatu jatuh ke lantai. "Abang cuma mau bilang, doakan Abang. Besok pagi-pagi. Abang harus tidur sekarang."
"Abang baik-baik saja? Suaranya..."
"Capek, De. Habis ngurus tamu dari Sampit seharian. Teman-teman Abang rame di kamar sebelah, iseng. Sudah ya, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Telepon terputus. Anita mengembalikan ponsel itu ke meja dengan wajah bingung. "Orangnya sibuk banget ya."
"Iya." Rani mengangguk pelan, tapi telinganya masih menyimpan bunyi barang jatuh tadi.
Beberapa menit kemudian, ketika para bibi sibuk berfoto bersama dan tukang rias memeriksa jari-jari kakinya, Rani minta izin ke teras. Ia berdiri di dekat pagar dengan kedua tangan terangkat di depan dada supaya inainya tidak terhapus. Angin malam membawa bau tanah basah dari gang sebelah.
Dadanya berdebar. Bukan karena suara serak Rendi. Ia mencoba menelusuri sumbernya, seperti menelusuri arah angin dengan jari basah, dan debar itu terasa menarik ke arah yang jauh dan tidak ia kenal, ke arah jalan raya, ke arah deretan lampu yang berkelap-kelip di kejauhan. Seolah di suatu tempat di kota ini seseorang sedang menatap ke arahnya, dan ia tak tahu siapa.
'Gugup,' batinnya. 'Cuma gugup sebelum akad.'
Ia menarik napas panjang dan kembali masuk.
*****
Di hotel yang tak jauh dari terminal, Bagas menutup pintu kamar dan menjatuhkan tas ke atas kasur. Penerbangan dari Balikpapan, ditambah antrean taksi di bandara yang berdebu, membuat punggungnya kaku. Adi sudah turun di depan hotel tadi. "Gue langsung pulang, ibu gue nyuruh bantu soal berinai," katanya, dan taksi pun melaju.
Ia berdiri di dekat jendela, memandangi lampu-lampu kota yang asing sekaligus terasa akrab. Di bawah sana ada jalan raya, deretan ruko, dan entah di sebelah mana, sebuah toko kaca dengan etalase sepatu.
Bagas membuka koper, mengeluarkan kotak beludru kecil dari saku dalam, dan duduk di tepi kasur. Cincin itu berkilau redup di bawah lampu.
Ia turun ke lobi sebentar sebelum mandi. Resepsionis muda di balik meja, yang sedang menghitung kunci, mengangkat kepala.
"Ada yang bisa dibantu, Pak?"
"Mbak, toko olahraga yang dindingnya kaca, dekat pasar. Jauh dari sini?"
"Oh, sepuluh menit naik motor, Pak. Tapi jam segini sudah tutup."
"Saya tahu." Bagas tersenyum kikuk. "Cuma nanya. Terima kasih."
Ia kembali ke kamar dan duduk lagi. Ia sudah menghafal nama toko dari nota sejak Januari. Dua kali ia hampir meminta taksi malam ini juga. Tetapi toko pasti sudah tutup, dan ia tidak mau mengetuk pintu kaca pada jam orang bersiap tidur. Datang tiba-tiba pada pukul sembilan malam hanya membuat perempuan yang ia cari merasa dikuntit, bukan dicari.
'Besok,' batinnya. 'Setelah akad Adi dan resepsi selesai, aku cari tokonya. Pelan-pelan. Dengan sopan.'
Ia menutup kotak itu dan menaruhnya di meja samping tempat tidur, seperti teman yang akan menunggu bersamanya sampai pagi.
*****
Pukul sebelas, rumah akhirnya sepi. Para bibi tidur berjejer di tikar ruang tengah. Kamar Rani yang kecil hanya berisi dua orang: Rani dan Maya, yang berbaring miring berhadapan di kasur sempit, selimut ditarik sampai dagu seperti dulu, saat mereka masih kelas satu SMA dan hobi tidur di rumah satu sama lain.
Lampu kamar dimatikan. Dari celah gorden masuk cahaya jingga lampu jalan, jatuh di langit-langit.
"Ran."
"Hm?"
"Tangan kamu cantik banget kena inai." Maya menggenggam jemari Rani yang kaku, merah, dan wangi daun. "Dulu kamu nggak pernah mau pakai kuku."
"Dulu aku sibuk jaga toko, May. Kuku panjang malah nyangkut di kardus."
"Dan sekarang kamu bakal jadi istri orang. Astaga, istri orang!" Maya menarik napas. "Kamu ingat nggak, dulu kita bikin janji, siapa yang duluan nikah harus traktir bakso Mamang sebulan?"
"Aku ingat. Kamu yang bilang harus kamu duluan."
"Kayaknya nggak jadi." Maya tertawa kecil, hampir tanpa suara, lalu tawa itu menipis. Hening beberapa detik, dan ketika bicara lagi, nadanya sangat pelan, bukan nada Maya yang biasa blak-blakan. "Ran, kalau kamu ragu, besok pagi masih bisa."
Rani menatap cahaya jingga di langit-langit. Ia memikirkan dada yang kosong, mimpi tentang Ibu di pantai, kain bergulung di toko kain, kalimat ibu di dapur, gelang di pergelangannya, Hajjah dengan mata sayu. Semua itu bergolak sebentar dalam kepalanya, lalu surut seperti air yang kembali ke saluran yang sudah ia pilih sendiri.
"Besok pagi masih bisa," ulang Maya. "Sungguh. Aku yang akan bilang ke semua orang. Aku yang tanggung."
Rani memiringkan tubuh, balas menggenggam tangan sahabatnya dengan jari-jari yang wangi daun pacar.
"Sudah."