Tok tok tok.
"Gas, buka. Gue bukan debt collector."
Bagas yang sedang berjongkok di lantai mess, menggulung kabel ukur dengan lengan kiri yang masih berplester tipis, mendongak dan membuka pintu kamarnya. Adi berdiri di lorong dengan dua gelas kopi plastik di tangan, wajahnya serius dalam cara yang tidak biasa. Biasanya Adi datang dengan gurauan dulu, baru kalimat inti.
"Ada apa? Tumben bawa kopi."
"Gue mau ngomong." Adi menyerahkan satu gelas. "Di balkon aja."
Balkon atap berkaca itu masih sepi. Matahari Balikpapan baru naik, memantulkan cahaya jingga ke kaca-kaca yang berdebu, dan dari bawah terdengar suara mesin genset serta teriakan para pekerja yang sedang memuat peralatan. Adi duduk di kursi plastik, memutar-mutar gelas kopinya, lalu menarik napas.
"Sabtu depan, adik gue nikah."
"Si Ade? Yang calon suaminya atlet?"
"Iya." Adi mengangguk pelan. "Akadnya di Palangkaraya. Gue pengen lo ikut."
Bagas yang sedang menyeruput kopi hampir tersedak. "Hah? Palangkaraya?"
"Kenapa? Lo kaget?"
"Nggak. Eh, iya. Maksud gue..." Bagas meletakkan gelas, mengusap leher. Jantungnya mendadak memukul lebih keras dari yang seharusnya, seperti ketukan pelan di pintu yang selama berminggu-minggu ia kira tidak ada yang akan membukanya. Palangkaraya. Kota yang ia tulis di kepala tiap malam sejak Januari, kota dengan toko kaca dan gadis berlesung pipi, dan selama ini ia tidak pernah tahu Adi orang sana. Adi tidak pernah menyebut kota asalnya, dan Bagas, yang memang tidak pernah bertanya, baru sekarang mendapat jawaban. "Lo orang Palangkaraya?"
"Lahir dan gede di sana. Lo nggak pernah nanya." Adi mengangkat bahu. "Gue juga bukan tipe yang cerita soal kampung."
"Ah." Bagas menahan senyum yang naik sendiri ke ujung bibirnya. Ia menunduk menatap kopi, pura-pura mengaduk. "Kebetulan banget. Gue emang ada urusan ke sana setelah proyek ini selesai. Pribadi."
"Urusan apa?"
"Entar gue cerita." Bagas buru-buru. "Lo ngajak gue karena apa? Biasanya lo ngajak gue makan nasi goreng, bukan nikahan."
Adi diam agak lama. Ia memandangi kaca balkon yang buram, lalu berkata dengan suara yang jauh lebih pelan dari tadi. "Gue nggak kenal calon iparnya, Gas. Orang Sampit. Atlet, katanya. Ibu gue girang karena keluarganya berada. Adik gue... gue nggak tahu dia bahagia atau cuma nurut."
"Lo nggak suka?"
"Gue nggak kenal. Itu masalahnya." Adi mengusap wajahnya. "Waktu lamaran, gue duduk di situ dan nggak bisa bernapas. Ada sesuatu yang bikin gue gelisah, tapi gue nggak bisa nunjuk apa. Jadi gue pengen ada orang waras di deket gue. Orang yang bisa gue percaya, yang nggak ikut-ikutan senyum cuma karena semuanya senyum."
"Gue?"
"Lo orang baik, Gas. Gue udah bilang itu." Adi tersenyum tipis. "Dan yang paling penting, lo nggak punya kepentingan apa-apa di keluarga gue."
Bagas hampir tertawa getir. Tidak punya kepentingan. Hanya sebuah nota pembelian sepatu di dompetnya dan seorang gadis yang namanya masih ia cari dari balik tirai.
"Gue ikut."
"Serius?"
"Serius."
Dari pintu balkon terdengar siulan panjang. Gilang dan Gusti berdiri berdampingan dengan senyum selebar rel kereta.
"Ada yang mau cuti nih," sindir Gilang.
"Cuti ke Kalimantan Tengah," tambah Gusti. "Pasti ada yang nunggu di sana."
"Maksudnya?" Adi mengerutkan kening.
"Nggak ada maksud!" Bagas melempar tutup gelas ke arah Gusti. "Kalian ngapain nguping?"
"Gue lewat doang," kata Gilang, mengangkat tangan membela diri. "Telinga gue yang nempel."
Adi menatap mereka bertiga bergantian dan tertawa kecil, pertama kalinya hari itu. Ia tidak bertanya lebih jauh.
*****
Siang harinya, setelah bos proyek mengangguk memberi izin cuti empat hari dengan syarat laporan lapangan diselesaikan sebelum Jumat, Bagas naik ke balkon sendirian dan menekan nomor rumah.
"Halo, Assalamualaikum, Bu?"
"Waalaikum salam, Gas! Gimana lenganmu? Sudah tidak sakit?" Suara Ibu terdengar ceria di seberang, disusul bunyi derap pelan khas walker yang bergeser di lantai keramik.
"Sudah tidak sakit, Bu. Sudah kering semuanya. Bu, aku mau pamit ke Palangkaraya. Sabtu depan, ke nikahan adiknya Adi."
Hening dua detik. Lalu jeritan kecil, disusul suara Kak Laila di latar yang terdengar panik. "Kenapa, Bu? Ibu jatuh?"
"Tidak jatuh! Ibu tidak jatuh!" Ibu tertawa-tawa. "Gas, kamu ke Palangkaraya? Ya Allah. Ibu bilang apa! Ibu bilang apa, Gas!"
"Bu, ini cuma nikahan temen..."
"Kalau cuma nikahan temen kamu tidak akan telepon dengan suara kayak begitu. Kamu senyum, Ibu dengar." Derap walker mendekat. "Dengar, Gas. Bawa cincin nenek. Cincin yang Ibu kasih itu. Bawa."
"Bu, buat apa? Aku kan cuma datang sebagai tamu."
"Ibu tidak bilang buat apa. Ibu bilang bawa. Kalau ketemu gadis itu di sana..."
"Bu."
"Ibu tidak bilang apa-apa. Pokoknya bawa."
"Gas." Kak Laila yang mengambil telepon. Suaranya tenang, seperti biasa. "Jangan didebat. Bawa saja. Dan pakai jas yang rapi. Jangan kaus polo."
Bagas tertawa, mengelus pelipisnya. "Iya, Kak. Iya, Bu."
"Doa Ibu menyertaimu, Nak." Suara Ibu mengecil, lalu hampir berbisik. "Siapa tahu bidadari pantai juga lagi pulang ke kotanya minggu itu."
Telepon ditutup. Bagas berdiri lama di balkon dengan ponsel di tangan, lalu turun ke kamarnya dan membuka laci meja. Kotak beludru kecil itu masih di tempatnya, di bawah tumpukan nota yang sudah lecek. Ia membukanya. Cincin emas tipis itu berkilau redup, dan ia membayangkan jari manis siapa yang pas dengan ukurannya. Ia menutup kotak itu cepat-cepat sebelum pikirannya berlari lebih jauh, lalu memasukkannya ke dalam saku koper.
*****
Menjelang magrib, ketika ia keluar dari kantor membawa laporan lapangan, seseorang menunggunya di ujung tangga. Rara berdiri dengan kotak kue kecil berpita di tangan, rambutnya diikat rapi, matanya bening tapi sembab di sudut.
"Gas."
"Ra."
"Katanya kamu mau cuti. Ke Kalimantan Tengah." Rara menyodorkan kotak itu. "Ini brownies. Bikinan ibuku. Buat bekal di jalan."
"Ra, aku..."
"Aku nggak minta apa-apa." Rara tersenyum, dan senyumnya pecah sedikit di tengah. "Aku cuma mau bilang semoga ketemu. Siapa pun orangnya."
Bagas menerima kotak itu dengan dua tangan. "Makasih, Ra. Aku harap kamu juga ketemu orang yang bener-bener ngeliat kamu."
"Mudah-mudahan." Rara mengangguk cepat, berbalik, dan pergi dengan langkah tegak seolah menyuruh dirinya sendiri tidak menoleh.
Bagas naik ke balkon lagi. Adi sudah ada di sana, bersandar di pagar dengan rokok yang tak dinyalakan di antara jari.
"Gue udah izin," kata Bagas. "Cuti empat hari. Kapan kita berangkat?"
Adi menyelipkan rokok ke bibir, lalu menurunkannya lagi. Ia menatap Bagas, dan di matanya ada sesuatu yang berat sekaligus lega.
"Nanti lo nginep di hotel aja, ya. Rumah gue kecil, ibu gue ribut, adik bungsu gue main bola di ruang tamu." Adi tertawa kecil. "Kita satu pesawat, nanti habis mendarat gue antar lo ke hotel."
"Nggak apa-apa. Gue juga pengen jalan-jalan sendiri."
"Lo yakin nggak nyesel?"
Bagas tersenyum, kali ini tanpa menyembunyikan apa pun. Di tangannya ada kotak kue, di koper ada cincin tua, dan di kepalanya hanya ada satu kota.
"Jumat kita berangkat."