Lima malam berturut-turut Rani tidur dengan satu kalimat ibu menempel di langit-langit kamar. Kalau kamu batal, jangan pulang ke rumah ini. Pada malam keenam ia berhenti membantah kalimat itu dan mulai menghafalnya, seperti orang menghafal rute jalan yang tidak punya cabang lain.
Sarapan tadi berjalan seperti biasa, dan itu yang paling aneh. Ibu menyendokkan nasi untuk Iki, bertanya kapan Rani mengambil kebaya dari penjahit, dan menyebut nama Rendi dua kali tanpa menaikkan nada sama sekali. Seolah malam di dapur itu tidak pernah terjadi. Seolah ancamannya hanya soal cuaca.
Rani menjawab pertanyaan ibu satu per satu, menghabiskan tehnya, dan pamit mencium tangan. Tangan ibunya hangat. Itu yang membuatnya makin sulit.
Pagi itu ia datang ke toko lebih awal. Rolling door sudah terangkat separuh ketika Arman menyusul, napasnya agak pendek karena menaiki anak tangga dua-dua. Rani sedang menghitung stok kaus kaki dengan pensil terselip di telinga.
"Mbak Rani."
"Ya, Arman?"
"Anu, Mbak..." Arman menggosok tengkuk, menoleh ke tangga, lalu kembali pada Rani. "Pak Reza minta waktu. Lima menit. Kata Bapak, di meja kasir, di depan saya dan Mbak karyawan baru, kalau Mbak Rani bersedia."
Rani meletakkan pensil di meja. Di rak seberang, karyawan perempuan baru sedang melipat kaus. Rani sempat meliriknya, dan perempuan muda itu segera pura-pura sibuk dengan lipatan.
"Perjanjian itu bilang urusan lewat telepon, pesan, atau karyawan," kata Rani pelan. "Ini lewat karyawan."
"Betul, Mbak. Bapak bilang begitu juga."
"Kalau di depan kalian berdua dan di tempat terbuka, saya bersedia." Rani menarik napas. "Lima menit. Tidak lebih."
Arman naik. Tidak sampai dua menit kemudian, derap sepatu Reza terdengar di tangga. Ia berhenti di tepi meja kasir, tepat di titik yang jaraknya cukup lebar untuk mencegah siapa pun mengira apa-apa. Kemejanya putih bersih dan rambutnya tertata.
"Terima kasih sudah mau," ucapnya. Suaranya lebih rendah dari yang Rani ingat. "Saya cuma mau mengatakan dua hal, lalu saya naik."
"Silakan, bos."
Reza menatap permukaan meja, bukan wajah Rani. "Pertama, soal supermarket. Saya menciummu tanpa izin. Kamu menolak, dan saya tetap melakukannya. Itu salah. Saya tidak membela diri. Saya minta maaf."
Hening. Dari rak, lipatan kaus karyawan baru berhenti.
"Kedua." Reza menelan ludah. "Alasan 'masalah keuangan cabang Banjarbaru' yang dulu saya pakai itu bohong. Kamu yang merekap pembukuan semua cabang. Kamu tahu itu bohong."
"Saya tahu." Rani menjawab tenang. "Angkanya tidak pernah menunjukkan masalah apa pun."
"Saya tahu kamu tahu. Saya tidak minta dilupakan, Ran. Saya cuma ingin kamu tahu bahwa saya tahu apa yang saya lakukan."
Rani memandangi tangan Reza yang terlipat di depan perut, genggamannya erat sampai buku-bukunya memutih. Dulu tangan itu pernah menyeretnya ke satu lorong supermarket. Hari ini tangan itu diam saja.
Ia tidak membalas cepat-cepat. Seberapa pun marah yang pernah ia simpan, kemarahan itu sekarang terasa seperti benda lama di laci: masih ada, masih berat, tetapi sudah tidak perlu dikeluarkan setiap hari.
"Bos," katanya akhirnya, "saya memaafkan. Tapi memaafkan bukan melupakan."
"Saya mengerti."
"Dan perjanjian tetap berlaku."
"Saya tidak akan melanggarnya." Reza mengangkat sebuah amplop cokelat tebal yang sejak tadi terselip di bawah lengannya dan meletakkannya di meja. "Ini cuti menikah. Sepuluh hari berbayar, sesuai peraturan toko, ditambah THR yang biasa. Semua karyawan yang menikah dapat itu. Cuma tanda tangan kamu yang belum ada."
"Saya terima sebagai hak karyawan," ucap Rani. "Tolong tanda terima, bos."
Arman cepat-cepat menyodorkan lembar tanda terima dan pulpen dari laci. Rani menandatanganinya, tulisan tangannya rapi seperti saat ia merekap faktur, lalu menyerahkannya kembali.
"Undangan yang Maya titipkan sudah saya terima," lanjut Reza sambil menerima kertas itu. "Saya tidak akan datang. Perjanjian itu masih ada, dan saya tidak mau jadi tamu yang dilihat orang dengan cara yang tidak enak."
"Terima kasih atas pengertiannya, bos."
"Cuma itu." Reza berbalik setengah badan. "Selamat, Ran."
Kata terakhir itu hampir tak terdengar. Rani sudah membuka mulut untuk menjawab ketika ponsel di saku celananya berdering, nada yang sekarang dikenal seluruh toko. Karena tangan kirinya masih memegang amplop dan tangan kanannya penuh pulpen, ia menekan tombol pengeras suara sebelum sempat berpikir.
"De!" Suara itu memenuhi lorong, renyah dan hangat. "Abang lagi makan soto di depan asrama. Rasanya nggak seenak soto yang di rumah Ade! Hahaha. Ade sudah makan?"
Rani menutup mata sedetik. "Bang, aku lagi kerja. Nanti aku telepon balik ya."
"Oh, maaf, De! Abang kangen aja. Tadi pelatih puji tendangan Abang, bilang..."
Rani mematikan pengeras suara. Tetapi sebagian kata sudah lewat, dan Reza, yang masih berdiri setengah berbalik, sama sekali tidak bergerak. Rahangnya mengeras. Rani melihatnya jelas, melihat bagaimana kemeja putih itu mengerut di bahunya seperti kain yang ditarik terlalu erat.
Ia tidak berkata apa-apa dan tidak menatap Rani. Hanya jari-jarinya, yang perlahan menepuk saku di dadanya, tempat buku catatan kecil bersampul hitam itu biasa disimpan.
Lalu ia naik, dan pintu lantai dua menutup dengan bunyi pelan yang terasa lebih keras dari bantingan.
"Mbak," bisik Arman setelah beberapa detik. "Mbak baik-baik saja?"
"Baik, Arman." Rani menyentuh amplop cokelat yang kini terasa ringan, bukan berat. "Kembali ke gudang. Barang kiriman dari Banjarmasin belum dicek."
"Siap, Mbak."
Menjelang istirahat siang, ia membawa ponselnya ke lorong pantry dan menelepon Rendi. Soto di seberang sana sepertinya sudah habis, sebab suara Rendi terdengar santai dan sedikit mengantuk.
"De! Maaf ya tadi Abang..."
"Bang, tadi aku di dekat bosku, dan Abang pakai pengeras suara. Lain kali tolong tanya dulu, ya?"
Sunyi sebentar. "Bos Ade ada di situ? Pak Reza?"
"Iya. Dia datang minta maaf soal yang dulu. Sudah selesai, Bang."
"Minta maaf." Suara Rendi mengeras setengah nada, lalu cepat-cepat melunak kembali. "Baguslah. Abang cuma nggak suka dia terlalu dekat sama Ade. Abang cemburu, De. Itu tanda Abang sayang, kan?"
Rani memandang layar ponsel. Kalimat itu manis, terlalu manis, dan entah kenapa meninggalkan rasa seperti permen yang dikunyah lama-lama.
"Aku balik kerja dulu, Bang."
*****
Malam itu, di ruang kerjanya yang lampunya hanya menyala satu, Reza membuka buku hitam itu pada halaman yang hanya memuat satu nama. Ia mengambil pulpen, menatap tulisan Rendiansyah Saputra, lalu menambahkan sesuatu di bawahnya dengan huruf-huruf kecil:
Suaranya sama dengan yang tertawa di lapangan Banjarbaru. Mantap saat bicara, tapi terlalu cepat menutup pertanyaan.
Ia menutup buku itu dan duduk lama, menatap telepon di mejanya. Pelatih langganan itu sudah menjawab. Ia sudah mengirim kertas. Rani sudah membalas, jelas dan rapi, satu kalimat. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, kecuali menjaga janji yang ia tanda tangani sendiri.
Reza membuka laci, mengeluarkan selembar kertas undangan cetak yang diantar Maya kemarin sore lewat Arman. Ia membaca dua nama di atasnya. Lalu ia melipat kertas itu rapi, memasukkannya kembali ke laci, dan menguncinya.