Toko kain di pojok pasar itu baunya campuran kapur barus, lem, dan kain baru yang belum pernah dicuci. Rak-rak tinggi berisi gulungan kain menjulang sampai plafon, dan penjualnya, seorang perempuan paruh baya dengan meteran menggantung di leher, sudah menurunkan sebelas gulung brokat dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
"Pengantinnya yang mana, Dik?" tanyanya sebelum menarik kain. "Oh, yang ini. Pantas kulitnya cocok sama gading."
"Cuma kain, Bu. Harganya berapa?"
"Delapan puluh ribu semeter, Dik. Tapi karena pengantin, tujuh puluh lima."
"Aku yang bayar!" Maya mengangkat dompet.
"Nggak, May." Rani menahan tangannya. "Ini kebayaku. Aku bayar sendiri."
"Ran, jangan keras kepala."
"Aku nggak keras kepala. Aku cuma mau satu hal yang benar-benar aku beli sendiri."
Maya diam, lalu menyimpan dompetnya. Ia hanya mengelus punggung Rani dua kali, cepat seperti orang menghapus debu.
"Yang putih gading ini bagus buat akad, Dik," katanya sambil menarik ujung kain. "Kalau resepsinya mau yang agak berani, yang merah marun ini."
"Aku mau yang itu." Siti menunjuk celana batik di rak ujung. "Gue nggak mau pakai kebaya, Ran. Gue pakai celana batik dan blazer. Titik."
"Ti, kamu pendamping pengantin." Anita menepuk lengannya. "Nggak boleh pakai celana."
"Siapa yang bikin aturan itu? Pengantin juga manusia, dia pasti ngerti."
Rani tertawa. Sudah lama ia tidak tertawa seperti ini, lepas sampai bahunya berguncang. Hari ini ia pulang dari toko lebih cepat, dan tiga sahabatnya menjemput di depan pintu seperti penculik yang bersorak. Maya yang membawa motor, Anita dan Siti naik angkot dan tiba hampir bersamaan.
"Ya sudah," putus Anita. "Siti dapat kain hijau botol untuk blazer. Aku dan Maya kebaya hijau botol juga. Rani putih gading."
"Kok aku nggak ditanya?" protes Maya.
"Kamu sudah milih dari kemarin, May. Aku tahu kamu mau yang paling mahal."
"Wah, tahu aja." Maya menjulurkan lidah.
Ponsel Rani bergetar di saku. Ia mengeluarkannya sambil memegang kain dengan tangan satunya.
[De, Abang lagi latihan. Jangan capek-capek belanjanya ya. Kalau ada yang kurang, bilang Abang]
"Perhatian banget," komentar Siti yang mengintip dari balik bahu. "Calon suami lo manis ya, Ran."
"Manis banget," tambah Anita. "Kayak kolak."
Maya tidak ikut tertawa. Ia memandang layar ponsel itu sebentar, lalu meraba kain putih gading di tangan penjual. Jemarinya pelan sekali, dan senyum di wajahnya surut seperti air laut yang ditarik ombak.
Rani melihatnya. Bertahun-tahun bersahabat, mudah sekali mengenali perubahan wajah Maya.
"May."
"Hm?"
"Kamu belum tenang, ya?"
Maya menarik napas panjang, meletakkan kain itu pelan-pelan. Anita dan Siti berhenti bercanda. Penjual kain, yang paham kapan harus menyingkir, pamit mengambil meteran di belakang.
"Aku jujur ya, Ran," ucap Maya. "Aku belum tenang. Danu bilang terlalu rapi, dan aku belum bisa lupa. Tapi aku juga nggak mau jadi sahabat yang cuma bisa bilang jangan. Kalau kamu sudah putuskan, ya sudah. Aku di belakang kamu. Apa pun yang terjadi, kamu tahu aku di mana."
"May..."
"Terus kamu juga harus janji." Maya menuding dengan telunjuk. "Kalau besok-besok kamu ragu, bilang. Jangan disimpan sendiri kayak dulu."
"Janji."
Anita menyenggol bahu Rani. "Tuh kan, kami nggak mau jadi sahabat yang nongol pas kamu sudah babak belur. Soalnya kalau urusan hati, orang paling pintar pun bisa buta."
"Contohnya lo, Nit," celetuk Siti. "Wahyu."
"Siti!"
"Gue nyebut contoh doang."
"Jangan sebut nama itu di depanku!" Anita pura-pura menutup telinga, lalu tertawa. "Kalau dia datang ke akad Rani, aku sumpel mulutnya pakai lemper."
Mereka tertawa lagi. Tapi tawa Rani berhenti di tengah jalan. Kalimat Maya barusan, jangan disimpan sendiri, mengetuk sesuatu yang sudah ia simpan sejak semalam.
"Ran?" Anita menoleh. "Kenapa?"
Rani ragu sebentar. Lalu ia berkata pelan, "Aku mimpi semalam."
"Mimpi apa?" Siti duduk di atas tumpukan kardus, ikut mendengarkan.
"Ibu yang di pantai." Rani memandang ujung jarinya. "Ibu yang waktu itu duduk di kursi roda. Dalam mimpi itu aku juga di pantai, tapi malam. Ibu menggenggam tanganku, hangat sekali. Terus beliau bilang..." Suaranya menurun. "Pulanglah kalau lelah."
Hening. Siti menghela napas pendek. Maya yang pertama bicara.
"Kamu masih memikirkan ibu itu?"
"Aku nggak tahu, May. Aku bahkan nggak tahu namanya." Rani tertawa pendek, tapi nadanya pecah. "Kelihatannya aku cuma kangen dipeluk orang yang bilang aku boleh istirahat."
Anita menunduk, dan matanya ikut berkaca. "Mimpi itu bukan dosa, Ran. Kadang hati kita bicara pas kita lagi tidur, karena siang hari kita terlalu sibuk membantahnya."
"Tapi itu cuma mimpi, Nit."
"Aku tahu. Aku cuma bilang, dengarkan, jangan dibuang."
Maya tidak berkata apa-apa. Ia meraih tangan Rani, menggenggamnya sebentar, lalu melepas dan berpaling pada penjual kain yang kembali dengan meteran di tangan.
"Bu, putih gading ini, sepuluh meter ya."
*****
Pukul tujuh malam Rani tiba di rumah dengan dua kantong kain di tangan. Aroma tumisan menyambutnya, dan Iki berlari dari kamar dengan bola futsal tergulung di sikunya.
"Kak! Kakak beli kain buat nikah?"
"Iya, Dik."
"Bolanya sudah bisa Iki tendang sampai pagar, lho." Iki menunjukkan lutut yang berdebu sebagai bukti. "Kata Abang Rendi nanti diajarin sundulan."
"Boleh, Dik, asal tidak di dalam rumah." Rani mengusap kepala adiknya.
Rani tersenyum dan meletakkan kantong kain di lantai. Ia menarik napas, mengumpulkan keberanian yang ia bawa dari toko kain itu, lalu masuk ke dapur tempat ibu sedang mengaduk sayur di wajan. Uap tumisan bawang memenuhi ruangan. Ibu memakai daster batik yang sama dengan yang dipakainya tiga tahun terakhir, punggungnya sedikit membungkuk, dan untuk sesaat Rani merasa iba. Perempuan ini juga lelah, hanya saja dengan cara yang berbeda.
"Bu."
"Hm. Kainnya jadi dibeli? Berapa harganya?"
"Jadi, Bu. Rani bayar sendiri." Rani menaruh tas di kursi. "Bu, Rani mau tanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Kalau akadnya mundur sebulan, bagaimana? Sampai surat kontrak Bang Rendi benar-benar keluar. Biar jelas semuanya."
Sendok itu berhenti di tengah wajan. Ibu Rani berbalik perlahan. Wajahnya tidak marah. Wajahnya datar, dan itu jauh lebih menakutkan.
"Mundur?"
"Cuma sebulan, Bu. Bang Rendi bilang kontrak diteken bulan depan. Rani cuma pengin..."
"Hajjah sudah pesan gedung untuk resepsi, sudah memesan katering, sudah cetak undangan, sudah bilang ke semua keluarga di Sampit." Suara ibu pelan dan rata, dan sendok kayunya berhenti mengaduk. "Kakakmu sudah izin cuti. Adi sudah beli tiket. Dan kamu mau bilang mundur karena kamu belum lihat selembar kertas?"
"Bukan karena itu, Bu."
"Lalu karena apa?"
Rani membuka mulut. Ia tidak punya jawaban yang bisa diucapkan. Dada yang kosong bukan alasan yang ibu mau dengar. Ia terbayang wajah Hajjah dengan mata cekung dan jari yang dingin. Ia terbayang cincin di jari manisnya, gelang di pergelangan, pelukan Iki. Mundur berarti bukan hanya menarik kembali satu kata. Mundur berarti memotong tali yang sekarang mengikat banyak orang.
'Aku nggak sanggup mengecewakan mereka,' batin Rani. 'Ibu, Bu Hajjah, semua.'
"Rani cuma tanya, Bu."
"Kalau cuma tanya, tanya yang lain." Ibu berbalik lagi ke wajan, mengaduk dengan gerakan kasar. Beberapa detik kemudian suaranya terdengar lagi, rendah dan tegas, tanpa menoleh.
"Kalau kamu batal, jangan pulang ke rumah ini."