"Ran!"
Rani yang sedang mengikat kerudung di depan cermin lemari hampir menjatuhkan peniti. Suara itu datang dari ruang tamu, serak karena perjalanan semalam, dan ia kenal betul. Ia keluar kamar dan mendapati Adi berdiri di tengah ruangan dengan ransel besar di punggung, kemeja kusut, dan jenggot tipis yang belum dicukur.
"Kak Adi! Kapan sampai?"
"Subuh tadi. Naik travel dari Banjarmasin, duduknya sempit banget, lutut gue sampe kebas." Adi melepas ransel, menarik napas, lalu mengamati adiknya dari kepala sampai ujung kaki. "Lo kurusan. Atau cuma deg-degan?"
"Dua-duanya." Rani menunduk menyembunyikan senyum. Rasanya aneh, tapi hangat, melihat kakak keduanya pulang dengan tujuan yang bukan sekadar meminta uang dari ibu.
Dari dapur terdengar suara ibu Rani. "Adi! Mandi dulu, ganti baju! Jangan dekat-dekat tamu bau debu."
"Iya, Bu, iya!" Adi menurut. Tetapi sebelum masuk kamar mandi, ia menoleh sebentar. "Ran, kakak tertua udah di sini?"
"Sudah. Di teras belakang sama Iki."
"Ran." Adi menahan lengan baju adiknya sebelum Rani sempat kembali ke kamar. Suaranya turun. "Orangnya gimana? Maksud gue, Rendi itu. Lo yakin?"
"Kak Adi sendiri belum pernah ketemu dia."
"Makanya gue nanya." Adi menggaruk tengkuk. "Ibu cuma cerita dia atlet, orang berada, baik. Gue kenal ibu. Kalau ibu bilang baik, biasanya ada uang di belakangnya."
"Rani yang memutuskan, Kak. Bukan ibu."
Adi menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Oke. Gue percaya lo."
Kakak tertua mereka duduk dengan punggung tegak, mengenakan batik cokelat tua, dan wajahnya yang jarang berubah menatap deretan sandal tamu yang belum datang. Ia hanya mengangkat dagu ketika Rani lewat. Dari dulu ia lebih pandai menghitung daripada bicara, dan hari ini hitungannya jelas berputar di angka tiga puluh.
Pukul sepuluh, rombongan keluarga Rendi tiba dengan dua mobil. Hajjah Salmah memakai kebaya hijau zamrud, paman membawa bungkusan besar berbalut kain kuning, dan Bu Bambang, dengan rambut disasak rapi, membawa nampan buah. Rendi mengenakan jas hitam dan peci, wajahnya serius seperti anak yang sedang ujian.
Setelah salam dan basa-basi, mereka duduk berhadapan di atas karpet ruang tamu yang digelar penuh. Adi duduk di sisi kanan ibu Rani, kakak tertua di tengah, sementara Rani diminta duduk di balik tirai tipis di ruang tengah bersama Iki, tempat ia hanya bisa mendengar.
Paman Rendi berdeham. Suaranya dalam dan pelan, dan ia memakai bahasa Banjar yang bertingkat-tingkat sopan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ulun datang kamari, bersama Hajjah Salmah, handak manyambung tali silaturahmi lawan pian sabarataan."
Rani tidak mengerti semua katanya, tetapi ia paham maksudnya: mereka datang membawa niat melamar. Ia menunduk dan menggenggam ujung kerudung. Iki, yang duduk bersila di sebelahnya, berbisik, "Kak, Abang Rendi gugup. Tangannya geser-geser terus."
"Jangan diperhatikan, Dik."
Bu Bambang, yang duduk agak di belakang, ikut mengucap "Amin, amin" setiap kali ada jeda, namun matanya tidak sekali pun menatap Rani lewat celah tirai. Ia memandang lantai, dan tangannya meremas ujung kerudung.
Kakak tertua menjawab dengan kalimat yang sama sopannya, menerima maksud itu "dengan hati terbuka", lalu menambahkan bahwa karena menyangkut adik perempuan satu-satunya, beberapa hal harus dibicarakan dengan jelas.
Rani tahu persis apa yang akan datang.
"Jujuran untuk adik kami," kata kakak tertua datar, "tiga puluh juta rupiah."
Ruangan hening. Rani menahan napas di balik tirai. Tiga puluh juta. Lebih dari dua puluh kali gajinya sebulan. Ia pernah menyimpan receh bertahun-tahun untuk Iki dan baru dapat dua juta.
Hajjah Salmah menggeleng halus. "Mohon maaf, Pak. Kami sanggup dua puluh lima juta, ditambah emas sesuai kesepakatan. Anak kami baru mulai karier, dan kami ingin biaya pesta tetap layak."
"Dua puluh lima juta untuk anak yang dibesarkan sendirian oleh ibunya dan sekarang jadi tulang punggung rumah?" Ibu Rani menyela, suaranya naik setengah oktaf. "Maaf, Bu Hajjah, bukan soal ibu mata duitan. Tapi Rani sudah bekerja sejak sekolah."
"Bu," tegur Adi pelan.
"Aku bicara, Di."
Rani menutup mata. Kata-kata mereka terbang di atas kepalanya seperti angka di pasar ikan. Ia merasa seperti sekarung beras yang sedang ditawar, ditimbang, dicatat selisihnya. Rasa panas naik ke pipinya.
Lalu ia mendengar suara Rendi, pelan dan jelas.
"Dua puluh lima juta ditambah emas, dan Insya Allah saya tambah sendiri dari honor kontrak nanti. Saya sanggup, Bu. Saya sanggup, Pak. Saya tidak mau Rani merasa dia dibeli. Saya mau dia merasa dihargai."
Entah bagaimana, kalimat itu membuat Rani membuka mata. Tirai tipis tidak setebal yang ia kira. Dari celahnya ia melihat Rendi menatap lurus ke arah tirai, dan ketika matanya bertemu mata Rani, laki-laki itu mengedip pelan, seperti berkata "Abang di sini."
Kakak tertua menimbang lama, lalu akhirnya mengangguk. "Dua puluh lima juta, ditambah emas. Kami terima."
Ibu Rani menarik napas, wajahnya masih tegang tetapi tidak membantah. Hajjah menyeka sudut mata. Dan Rani dipanggil keluar.
Ia duduk di antara ibu dan Hajjah. Hajjah mengeluarkan kotak beludru kecil, membukanya, dan menyematkan cincin emas bermata kecil di jari manis kanan Rani. Cincin itu dingin sebentar, lalu menghangat. "Ini bukan pengikat Rendi saja," bisik Hajjah. "Ini juga pengikat Mama pada kamu." Rendi, yang duduk di seberang meja, menunduk sedikit.
"Boleh Abang..." ia berbisik, hampir tanpa suara, sambil mengulurkan tangan di atas meja yang rendah, "genggam sebentar, De? Di depan semuanya."
Rani melihat ibunya, melihat Hajjah, lalu tangan Rendi yang terbuka. Ia mengangguk kecil. Telapak tangan Rendi menutup tangannya, hangat tetapi lembab.
"Abang sanggup," katanya, hanya untuk Rani.
Akad ditetapkan Sabtu tanggal dua puluh empat Maret.
Di sudut karpet, Adi tidak bertepuk tangan seperti yang lain. Sejak Rendi masuk, matanya tidak lepas dari laki-laki itu. Ada sesuatu pada garis rahangnya, pada cara ia memiringkan kepala saat tertawa, yang mengusik ingatan Adi. Sebuah ruko di Banjarmasin. Lampu neon, asap, dan meja panjang tempat ia sendiri pernah kehilangan gaji dua bulan. Seorang laki-laki berkaus hitam duduk di seberangnya menjepit kartu di antara jari, tersenyum sambil menyapu seluruh taruhan di meja.
Orang yang sama? Mungkin bukan. Wajah mirip itu banyak.
Adi menelan ludah. Kalau ia menyebut ruko itu sekarang, di hadapan ibu dan Hajjah, ia juga harus menjelaskan kenapa ia pernah duduk di sana. Ia memilih diam, dan diamnya terasa pahit.
*****
Malam harinya rumah akhirnya sepi. Para tamu sudah pulang, kakak tertua kembali ke penginapan, Adi tertidur sambil memeluk bantal di sofa, dan Iki bermimpi dengan bola di dekapan.
Rani duduk di tepi kasur dan memandangi cincin itu di bawah lampu. Emasnya tipis, bermata kecil, sederhana. Ia memutarnya satu kali. Sebuah janji yang ia pilih sendiri, katanya dalam hati. Tidak ada yang memaksa.
Ia menunggu rasa itu datang. Rasa seperti pengantin yang membayangkan hari esok: gugup, senang, tak sabar. Yang ia temukan di dalam dadanya hanya kosong, tanpa gugup, tanpa senang, tanpa tak sabar.
'Takut jadi perawan tua,' bisik hatinya mengingatkan. 'Takut ibu kecewa. Takut Bu Hajjah menangis.'
Ia membenarkan alasan-alasan itu satu per satu. Semuanya masuk akal. Semuanya benar. Dan tetap saja dadanya kosong.
Tiga pekan lagi. Rani mematikan lampu dan berbaring dengan tangan kanan di atas perut, cincin itu menekan kulitnya yang dingin.