Pagi itu Arman yang pertama kali menyampaikan jawaban dari lantai dua, sambil menunduk seperti orang membawa surat panggilan.
"Mbak, kata Bapak, izin setengah hari itu hak karyawan. Silakan, tidak perlu alasan."
"Terima kasih, Arman."
Hanya itu, dan Rani pulang pukul sebelas dengan perasaan seperti berjalan di atas lantai licin. Di rumah, ibu Rani sudah memasang kembali taplak bersulam, menaruh toples kue di tengah meja, dan memakai kebaya biru laut yang terakhir dipakai saat pernikahan sepupunya dua tahun lalu.
"Ran, jangan berdiri saja. Ambil nampan."
"Iya, Bu."
Pukul satu, sebuah mobil berwarna hitam yang lebih mengilap dari mobil sewaan hari Sabtu berhenti di depan pagar. Rendi turun lebih dulu dengan kemeja batik dan membukakan pintu belakang. Dari sana turun seorang perempuan yang membuat Rani tanpa sadar menegakkan punggung.
Hajjah Salmah berusia mungkin lima puluh lima. Tubuhnya tinggi dan langsing, kerudung sutranya berwarna abu-abu lembut, dan di telinganya ada sepasang anting berlian kecil yang menangkap cahaya matahari setiap kali ia menoleh. Namun yang paling Rani lihat bukan perhiasannya. Mata perempuan itu cekung dan sayu, dan kantung di bawahnya tebal, seperti mata orang yang sudah lama tidur dalam keadaan setengah terjaga.
Di belakangnya turun laki-laki bertubuh kekar dengan peci dan baju koko cokelat, membawa dua kardus kue. Paman Rendi, kata ibu Rani dalam bisikan, dan lelaki itu cukup mengangguk pada semua orang tanpa sepatah kata.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Silakan, Bu Hajjah, silakan masuk!" Ibu Rani menyambut dengan kedua tangan terbuka. Mata ibu sempat meluncur sekilas ke anting dan cincin di jari Hajjah, hanya sekejap, tetapi Rani melihatnya.
Hajjah Salmah tidak masuk lebih dulu. Ia berhenti di depan Rani, menatapnya lama, lalu merentangkan tangan.
"Maharani. Ya Allah, lebih cantik daripada cerita Rendi."
Pelukan itu hangat dan sedikit gemetar. Parfum yang melekat di kerudungnya wangi melati bercampur sesuatu yang Rani kenal dari ibunya sendiri: bau orang yang menahan tangis.
"Bu Hajjah..." Rani mencium tangannya.
"Panggil Bu Hajjah dulu tidak apa-apa. Nanti kalau sudah..." Hajjah tidak melanjutkan, hanya tersenyum, lalu menepuk pipi Rani dua kali. "Mama senang akhirnya lihat kamu."
Rendi berdiri tidak jauh dengan kedua tangan di depan, wajahnya lembut, matanya berkaca-kaca. Dalam satu detik Rani merasakan sesuatu yang mirip haru, sesuatu yang selama ini ia tunggu.
*****
Jamuan berlangsung hampir satu jam. Ibu Rani bercerita tentang cuaca, harga beras, pensiun almarhum suaminya, dan Hajjah mendengarkan semuanya dengan wajah teduh. Paman Rendi duduk sambil mengaduk kopi tanpa suara. Rendi mengambil gelas dari nampan, dan Rani melihat jari-jarinya kembali bergetar sebentar. Pamannya cepat menepuk punggung tangannya, pelan, nyaris tak kelihatan, dan getaran itu berhenti.
Rani hanya mencatat dan memilih tidak mengerti.
"Rani, boleh Mama minta tolong temani sebentar di teras?" kata Hajjah tiba-tiba. "Cuma kita berdua. Pintu dibiarkan terbuka."
Ibu Rani langsung berseri-seri. "Silakan, silakan! Ran, jangan lama-lama."
Teras sore itu sepi. Mereka duduk di bangku kayu, tempat empat hari lalu Rani membaca selembar kertas bergaris dari Reza. Hajjah memandang pagar, lalu halaman kecil dengan jemuran Iki, dan baru kemudian wajah Rani.
"Mama dengar ayahmu sudah tiada," katanya lebih dulu, suaranya turun. "Sejak kapan?"
"Sejak Rani kelas dua SMA, Bu Hajjah. Sakitnya cukup lama."
"Rendi kehilangan ayahnya umur sepuluh tahun." Hajjah memandang jemuran Iki yang bergoyang. "Dua anak yatim bertemu. Mama berdoa itu bukan kebetulan."
Ia diam sebentar, lalu menoleh. "Nak, Mama mau tanya. Kamu betul-betul mau dengan anak Mama?"
Rani menunduk. Ia sudah menyiapkan jawaban manis, jawaban yang akan membuat semua orang senang. Namun di hadapan mata yang cekung itu jawaban manis terasa tidak sopan.
"Rani belum bisa bilang cinta, Bu Hajjah. Rani jujur. Tapi Bang Rendi baik, sopan, dan menjaga syarat yang Rani minta. Rani mau mencoba."
Hajjah tersenyum, dan senyum itu pecah di tengah. "Terima kasih sudah jujur. Perempuan lain bisanya bilang cinta setengah mati padahal baru dua kali ketemu."
"Maaf, Bu."
"Jangan minta maaf." Hajjah meraih tangan Rani. Jari-jarinya dingin dan tipis. "Nak, Mama cuma punya satu pesan. Kalau suatu hari dia salah, dan manusia pasti pernah salah, jangan langsung pergi. Datang bilang Mama dulu. Mama yang akan bicara. Dulu dia memang nakal, dulu..."
Hajjah berhenti. Rani merasakan genggaman itu mengerat.
"Maksud Mama, dulu dia ikut-ikutan teman. Anak laki-laki yang tumbuh tanpa ayah itu gampang terseret. Mama tidak ada di sampingnya waktu itu." Ia menarik napas. "Sekarang dia sudah lain. Mama lihat sendiri. Dia salat, dia pulang tepat waktu, dia bicara soal kamu dengan mata yang Mama tidak pernah lihat sebelumnya."
Rani tidak menjawab. Kata "nakal" tadi menggantung di antara mereka seperti kain basah yang lupa diangkat dari jemuran. Namun wajah Hajjah begitu letih, begitu jelas ingin dimaafkan, sehingga Rani tak sanggup mengejarnya.
Hajjah melepas gelang emas dari pergelangan kirinya. Gelang itu tipis dengan ukiran halus, hangat dari kulit pemakainya. Sebelum Rani sempat mundur, benda itu sudah melingkar di tangannya.
"Bu Hajjah, ini terlalu..."
"Ini gelang pertama yang Mama beli dari hasil berjualan sendiri. Sebelum jadi apa-apa." Hajjah menutup jari Rani di atas gelang itu. "Simpan. Biar Mama tenang."
Dengan tenggorokan tersumbat, Rani hanya mengangguk. Menolak sekarang akan seperti menampar orang yang sedang berdiri di tepi jurang.
*****
Menjelang Magrib, rombongan itu pamit menuju hotel. Setelah mobil hitam menghilang di tikungan, ibu Rani langsung menyambar telepon rumah dan memutar nomor. Rani, yang sedang membereskan gelas, mendengar setiap kata dari dapur.
"Halo, Kak? Iya, Kak, ini ibu. Dengar baik-baik. Mereka orang berada. Ibunya penjual berlian, perhiasannya itu lho. Hari Sabtu mereka datang melamar. Kamu jadi walinya, siapa lagi? Jangan murah kalau ditanya jujuran, ya. Bilang tiga puluh juta. Ibu tidak peduli, pokoknya jangan kurang."
Rani meletakkan gelas dengan hati-hati supaya tidak berbunyi. Lewat jendela dapur, ia melihat sesuatu di halaman. Rendi belum ikut pulang. Ia tadi minta waktu sebentar sebelum menyusul rombongannya, dan kini berdiri membelakangi rumah di dekat pagar, ponsel menempel di telinga, bahunya membungkuk.
"...jangan telepon sekarang," katanya rendah, tertahan. "Aku sudah bilang. Nanti. Nanti aku yang telepon."
Ia menutup ponsel dengan gerakan keras, menarik napas, lalu berbalik. Ketika menyadari Rani berdiri di jendela, wajahnya langsung mencair menjadi senyum.
"Teman asrama, De. Nagih kunci lemari." Ia mengangkat tangan. "Abang pamit ya. Sampai Sabtu."
"Iya, Bang. Hati-hati."
Ia keluar lewat pagar dan menghilang di gang. Rani masih menatap tempat ia berdiri tadi, lalu menunduk pada gelang emas di pergelangannya. Hangatnya sudah hilang, berganti dingin.
"Ran." Ibu sudah berdiri di ambang dapur, telepon masih di tangan. Matanya bersinar.
"Bu, Rani belum yakin betul. Kalau boleh Rani minta waktu..."
"Yakin itu datang sesudah, bukan sebelum. Ibu dulu juga begitu sama almarhum bapakmu." Ibu mengibaskan tangan seolah menyingkirkan lalat. "Lihat sendiri tadi, ibunya sampai kasih gelang. Orang tua mana yang begitu kalau anaknya main-main?"
Rani membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di dalam kepalanya terngiang kata "nakal" yang tadi diluruskan, dan bunyi "jangan telepon sekarang" di halaman. Dua hal itu tidak cocok dengan jawaban ibunya, tetapi juga tidak cukup besar untuk dijadikan alasan di depan perempuan yang sedang tersenyum selebar itu.
"Sabtu lamaran," ulang ibu, kali ini dengan suara mantap seperti orang memberi perintah. "Jangan sampai batal."