"Pak, tersambung."
Arman berdiri di ambang pintu ruang kerja lantai dua dengan telepon toko di tangan yang kabelnya terulur sepanjang tangga. Wajahnya setengah lega, setengah takut. Reza, yang sejak Senin sudah tiga kali bertanya "sudah?" dengan nada yang makin pendek, meletakkan pulpen dan menunjuk kursi di depan mejanya.
"Pelatihnya sendiri?"
"Sendiri, Pak. Empat kali saya telepon sejak Senin, baru tadi pagi diangkat. Katanya hape lamanya ketinggalan di Banjarmasin." Arman menelan ludah. "Saya tanya persis seperti pesan Bapak. Beliau bilang ingat Rendiansyah Saputra, ikut seleksi September, tendangannya bagus, orangnya sopan. Tapi..."
"Tapi?"
"Daftar akhir musim ini sudah keluar pertengahan bulan, Pak. Enam belas nama. Nama itu tidak ada. Beliau sampai buka kertasnya dua kali."
Reza tidak bergerak. Kipas angin di sudut ruangan berputar pelan, dan lembaran kertas di mejanya bergetar di tepi seolah ikut mendengarkan.
"Beliau yakin?"
"Yakin, Pak. Beliau bilang malah heran, kok ada yang masih bilang lolos."
"Siapa yang bilang begitu, kamu tidak sebut?"
"Tidak, Pak. Sesuai pesan Bapak."
"Bagus." Reza menarik selembar kertas bergaris dari laci, kertas yang biasa dipakai untuk nota internal, lalu membuka tutup pulpennya. Tangannya berhenti di atas halaman kosong. "Kamu boleh keluar."
Arman tidak langsung pergi. "Pak, kalau saya boleh bilang, Mbak Rani tidak akan senang."
"Saya tahu." Reza tidak mengangkat kepala. "Justru karena itu bukan kamu yang menulis."
Setelah pintu menutup, ia menulis tiga kalimat pendek di atas kertas nota itu, membacanya sekali, dan tidak menambah apa pun. Isinya seperti memo gudang: nama, daftar, dan satu perintah.
*****
Sore itu, Rani baru melepas sepatu di teras dan mengambil jemuran Iki ketika motor Maya berhenti di depan pagar. Maya masih memakai blus kantor, rambutnya dikuncir asal, dan ia tidak melepas helm sampai ia berdiri tepat di depan Rani.
"Ran, aku cuma kurir."
"Kurir apa?"
Maya membuka tasnya dan menarik selembar amplop putih tanpa nama. Amplop itu polos, tanpa perangko dan alamat. "Tadi siang Arman datang ke kantorku, bilang Pak Reza titip ini. Katanya karena perjanjiannya, dia tidak boleh kasih langsung. Aku nggak baca. Sumpah."
Rani menatap amplop itu seperti menatap ular kecil di ujung tangga. Ia ingin berkata "buang saja". Tetapi sekeras apa pun ia menahan, tangannya terulur sendiri.
"Dari raut Arman, aku tahu isinya bukan puisi," tambah Maya pelan. "Duduk dulu, Ran. Baca di sini aja. Aku tungguin."
Iki muncul dari dalam rumah sambil memeluk bola futsal barunya yang masih mengilap. "Kak Maya! Lihat, bola dari Abang Rendi!"
"Wah, bagus banget." Maya mengacak rambutnya, tetapi matanya sempat melirik harga yang tertinggal di sudut kotak bekas di dekat pintu. Ia tidak berkomentar. Setelah Iki berlari ke halaman, ia hanya berkata pelan, "Mahal itu, Ran."
"Katanya oleh-oleh tamu."
"Oh." Maya tersenyum tipis. "Oleh-oleh tamu."
Mereka duduk di bangku kayu teras. Rani merobek tepi amplop. Di dalamnya hanya ada selembar kertas nota bergaris dengan tulisan tegak yang dikenalnya dari ratusan faktur.
Nama Rendiansyah Saputra ikut seleksi September, tetapi tidak ada di daftar akhir musim ini. Kata pelatih langganan toko. Hanya ini. Cek sendiri.
Reza
Hanya itu. Tak ada permintaan maaf, tak ada nada menuduh. Justru itu yang membuat tengkuk Rani dingin.
"Ran?"
"Namanya tak masuk daftar." Rani membaca ulang. Suaranya sendiri terdengar kecil. "May, Bang Rendi bilang pengumumannya diundur."
"Aku tahu." Maya mengusap lengannya pelan. "Tapi Ran, kalau ini benar..."
"Kalau ini benar, Bang Rendi yang harus bilang." Rani melipat kertas itu dua kali. "Bukan Reza. Bukan kamu. Aku mau tanya dia sendiri."
"Jangan marah dulu."
"Aku nggak marah." Rani menggeleng. "Aku cuma bingung kenapa tulisan sependek ini bisa bikin kepalaku penuh."
Maya menghela napas, menyandarkan kepala ke tiang teras. "Aku nggak mau bela Reza. Dia pernah bikin kamu menampar dia. Tapi Ran, dia nggak pernah bohong soal angka. Itu satu hal yang aku tahu dari dia."
Rani tidak menjawab.
*****
Malam harinya, ketika Iki sudah tertidur dan ibu Rani menonton sinetron di ruang tengah, Rani menelepon Rendi dari kamar. Nada sambung baru berbunyi dua kali ketika suara itu muncul, renyah seperti biasa.
"Assalamualaikum, calon istri Abang. Lagi mikirin Abang?"
"Waalaikum salam, Bang." Rani duduk di tepi kasur dan menjaga suaranya tetap datar. "Aku mau tanya sesuatu, dan aku mau Abang jawab apa adanya."
"Tanya saja."
"Hari ini ada yang menyampaikan ke aku bahwa nama Abang tidak ada di daftar akhir seleksi musim ini. Kata pelatih langganan toko."
Sunyi sebentar. Rani menunggu sesuatu: napas yang berubah, tawa gugup, kata-kata yang tersendat. Tapi suara Rendi yang kembali terdengar mantap.
"Dari Pak Reza, ya?"
"Dari mana Abang tahu?"
"Karena cuma dia yang punya alasan." Rendi menghela napas, bukan napas marah, tapi napas orang yang sudah menduga. "De, pelatih langganan toko itu pelatih futsal anak-anak di asrama. Dia bukan panitia seleksi daerah. Daftar akhir yang resmi itu dari dinas, belum ditempel dan belum diumumkan ke publik. Abang tahu karena Abang dikabari langsung. Pengumuman resmi menyusul, kontrak diteken bulan depan."
"Jadi pelatih itu salah?"
"Pelatih itu bicara dari yang dia tahu. Beliau orang baik, tapi bukan dia yang memutuskan." Ia berhenti sejenak. "De, Abang nggak mau menjelekkan siapa pun. Tapi coba tanya diri Ade sendiri. Siapa yang paling tidak rela Ade menikah dengan orang lain? Siapa yang dulu menarik Ade di supermarket?"
Rani memejamkan mata. Ia sendiri yang dulu menceritakan soal supermarket itu pada salah satu telepon yang panjang, dan Rendi ternyata mengingatnya dengan baik.
"Abang punya kartu asrama, Abang punya foto latihan. Abang nggak pernah bohong soal itu, kan?"
"Nggak, Bang."
"Ade sudah lihat sendiri. Dan sekarang Ade pilih percaya kertas yang dikirim lewat Maya?"
"Aku nggak bilang begitu."
"Abang cuma minta satu hal." Suara Rendi melembut. "Percaya sampai surat resmi datang. Kalau bulan depan nggak ada surat, Abang sendiri yang pergi."
Rani diam. Ia menghitung apa yang ia punya. Ibu yang akhirnya tersenyum tiap pagi, Hajjah Salmah yang sudah disebut sebagai "Mama", Iki yang tertawa dengan bola baru, dan umurnya sendiri yang terus bertambah di ruang tamu yang makin sering membicarakan kata perawan tua. Kalau ia mundur karena selembar kertas, semua itu akan runtuh bersama-sama, dan penyebabnya adalah dirinya.
Rani memandang foto-foto yang masih ia ingat: kartu laminasi, lapangan dengan papan skor tua, wajah yang berteriak sambil menyundul bola. Kemudian ia memandang kertas bergaris di meja rias dengan lipatan yang belum rata. Satu menyodorkan bukti yang ia pegang, satu lagi menyodorkan kalimat yang tak bisa ia pegang. Lalu bayangan di supermarket kembali, bibir yang memaksa dan rasa perih di tangannya sendiri sehabis menampar.
"Aku percaya, Bang. Sampai bulan depan."
"Terima kasih, De. Abang janji nggak akan mengecewakan."
Pintu kamar berderit. Ibu Rani menyembulkan kepala, rambutnya masih tertutup kerudung rumah, dan nadanya cerah seperti orang yang baru mendapat kabar baik.
"Ran, Nak Rendi baru telepon ibu. Selasa depan Hajjah Salmah datang dari Sampit, sama pamannya. Mau bicara soal lamaran." Ia menunjuk dengan dagu. "Kamu pulang cepat hari itu. Bosmu itu kasih izin, ibu nggak mau tahu."
Rani mengangguk saja. Setelah pintu kembali tertutup, ia mengambil ponsel dan mengetik pesan kepada Maya, satu kalimat, tanpa menghapus satu huruf pun.
[May, tolong sampaikan ke Pak Reza lewat Arman. Perjanjian kita masih berlaku]
Terkirim. Tangannya tidak gemetar.