Kring!
Bel pintu toko berbunyi pukul sepuluh lewat sedikit, dan Rani, yang sejak membuka rolling door sudah dua kali merapikan deretan kaus kaki yang sebenarnya sudah rapi, mengangkat wajah.
Rendi berdiri di ambang pintu kaca. Hari ini ia memakai kemeja polos berwarna biru tua dan celana kain, rambutnya disisir basah, dan di tangannya ada sebuah map plastik. Ia mengangguk sopan ke arah Arman lebih dulu, baru ke Rani.
"Selamat pagi, Mbak. Saya mau lihat sepatu futsal yang di etalase."
Mbak. Rani hampir tersenyum. Dua pekan terakhir ia dipanggil "De" dengan nada yang membuat telinganya hangat, dan pagi ini Rendi memanggilnya persis seperti memanggil penjaga toko mana pun. Ia mengerti. Laki-laki itu sedang menjaga namanya.
"Silakan, Pak. Yang mana?"
"Yang hitam dengan list merah itu. Nomor empat puluh dua."
Rani mengambil kunci etalase, membuka kaca, dan menurunkan sepatu itu. Arman sudah siap dengan bangku pendek di dekat lorong menuju pantry. Rendi duduk, melepas sepatu lamanya, dan mencoba sepatu baru dengan gerakan orang yang paham betul cara memilih. Ia menekan ujung jempol, menekuk telapak, dan berjalan dua langkah di atas lantai.
"Agak sempit di kelingking," katanya. "Ada setengah nomor lebih besar?"
"Ada. Sebentar."
Rani berbalik membuka rak bawah, dan saat itulah ia melihat bayangan seseorang di kaca etalase yang menghadap lorong. Bayangan tinggi, berkemeja abu-abu, berhenti di mulut lorong tepat di ujung tangga.
Reza.
Ia tidak menoleh. Perjanjian itu tidak mengatur tangga, tetapi mengatur jarak di antara dua orang, dan Rani memutuskan jarak enam meter dengan punggung menghadap rak adalah jarak yang paling aman. Ia mengeluarkan kotak setengah nomor lebih besar dan menyodorkannya ke Arman. "Arman, tolong bantu Bapak."
"Siap, Mbak."
Dari belakangnya terdengar suara berat yang sudah lama tidak ia dengar tanpa telepon di antaranya.
"Anda main di turnamen futsal antar-instansi Banjarbaru tahun lalu?"
Hening sebentar. Rendi, yang sedang menarik tali sepatu, mengangkat kepala. "Betul, Pak. Wah, Bapak ingat?"
"Final. Anda mencetak dua gol dalam sepuluh menit terakhir." Reza tidak bergerak dari tempatnya. "Seragam tim kalian dari toko saya."
"Masya Allah, jadi Bapak yang punya toko ini?" Rendi berdiri, menunduk setengah badan dengan tangan di dada. "Terima kasih banyak, Pak. Seragamnya bagus, anak-anak bangga sekali."
"Masih main?"
"Masih, Pak. Sekarang lagi ikut seleksi atlet daerah. Insya Allah dapat jalan."
"Begitu."
Hanya satu kata, tetapi Reza menatap Rendi lama sekali. Arman berhenti bergerak. Rani, yang memandang lurus ke dalam rak sepatu, bisa merasakan udara di toko menegang seperti kain dijemur terlalu rapat.
Rendi menunduk lagi, sangat sopan. Tetapi sepersekian detik sebelum kepalanya turun, matanya sempat naik ke wajah Reza, dan tatapan itu tajam, menimbang, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu.
"Selamat berbelanja," ucap Reza akhirnya, lalu langkahnya terdengar naik, satu per satu, sampai pintu lantai dua tertutup.
Rani menarik napas panjang tanpa suara. Rendi tersenyum padanya dengan raut seolah tidak ada yang terjadi.
"Yang setengah nomor ini pas, Mbak. Saya ambil."
*****
Sepatu itu dibayar tunai. Rani lalu menawarkan makan siang di warung bakso Mamang yang cuma tiga langkah dari pintu toko. Ia sadar itu melonggarkan syarat pertamanya, bertemu hanya di rumah ibu, dan ia mencatatnya sendiri di kepala: sekali ini saja, karena Rendi meminta dengan sopan lewat pesan semalam. Syaratnya tetap jelas: tempat ramai, dan Arman membawa mangkoknya sendiri ke meja sebelah.
"Saya diajak jadi saksi, nih?" bisik Arman sambil menyendok sambal.
"Makan saja, Arman."
Warung itu penuh sopir angkot dan pegawai bank. Mamang, yang selalu tahu siapa membeli apa dan siapa duduk dengan siapa, mengantar dua mangkok bakso urat sambil mengangkat alis ke arah Rani. "Tamunya baru ya, Neng?"
"Teman keluarga, Mang."
"Oh, keluarga." Mamang mengulangi pelan, dan alisnya turun sambil tersenyum.
Rendi tertawa kecil dan membuka map plastiknya. "De... maksud Abang, Rani, Abang nggak mau Rani cuma percaya kata-kata Abang. Ini."
Ia mengeluarkan selembar kartu laminasi berlogo daerah dengan foto kecil berukuran tiga kali empat dan tulisan tebal: ASRAMA ATLET, Rendiansyah Saputra, cabang futsal. Lalu beberapa lembar foto cetak. Rendi memakai kaus latihan berwarna oranye, berdiri di barisan belakang bersama sekitar sepuluh laki-laki, di lapangan dengan gawang di sisi kiri. Di foto lain ia sedang melompat menyundul bola, mulut terbuka berteriak.
Rani mengamati satu per satu. Ada rasa lega mengalir di dadanya, sedikit demi sedikit, seperti air yang masuk ke tanah retak. Ia mengangkat foto itu lebih dekat ke cahaya. Nama asrama tercetak di ujung bawah.
"Ini lapangan di belakang asrama Bu Bambang?"
"Betul, De. Ada papan skor tua di kanan, kelihatan kan?"
"Kelihatan." Rani tersenyum. "Bang, kontraknya nanti diteken kapan? Maya bilang orang atlet pasti punya surat. Bukan curiga, katanya cuma jaga-jaga."
"Bulan depan, De. Suratnya Abang kasih lihat begitu sudah ada di tangan." Rendi menyuap bakso tanpa tergesa. "Maya itu sahabat yang bagus. Bilang ke dia, Abang senang Ade punya orang yang cerewet begitu."
"Maaf, Bang. Aku bukan nggak percaya."
"Rani berhak ragu. Abang malah senang Rani teliti." Rendi menyodorkan foto-foto itu kembali ke map, matanya hangat. "Orang yang gampang percaya biasanya gampang disakiti."
Di meja sebelah, Arman menyeruput kuah dan bergumam cukup keras supaya terdengar, "Pantesan Mbak Rani senyum terus dari kemarin."
"Arman!"
"Maaf, Mbak."
Rendi tertawa lepas, dan beberapa kepala sopir angkot menoleh. Sebelum bakso habis, Rendi sempat bercerita tentang Iki. "Kemarin Abang kirim pesan ke Bu Bambang, tanya sekolah Iki di mana. Abang mau ajarin dia nahan bola tiap pagi libur di lapangan belakang asrama. Boleh, De?"
"Boleh, asal ibu ikut mengantar."
"Pasti. Abang juga maunya begitu." Rendi mengaduk kuahnya. "Abang nggak mau ada gosip soal Ade."
Kalimat itu membuat Rani menunduk menutupi senyum. Orang yang takut menimbulkan gosip biasanya orang yang ingin menjaga.
Ketika bakso mereka habis, Rendi bangkit membayar ke Mamang lebih dulu sebelum Rani sempat merogoh dompet. Mamang menyerahkan uang kembalian, beberapa lembar dua puluh ribuan dan receh. Rani sempat memperhatikan bagaimana Rendi tidak menghitungnya. Tangannya langsung masuk ke saku celana, cepat sekali, dan lembar itu hilang dalam sekali gerak.
'Mungkin dia memang tidak peduli uang kecil,' batin Rani. Ia menepis hal itu secepat Rendi menyimpan kembalian. Orang yang tak peduli uang kecil tentu lebih baik daripada orang yang menghitung tiap rupiah di depan perempuan.
"Abang pulang dulu ya, De. Latihan sore." Rendi berdiri, memeluk tas kertas berisi sepatu barunya. "Terima kasih sudah mengajak makan."
"Hati-hati, Bang."
Dari seberang jalan, ia melambai sekali, lalu menaiki angkot ke arah terminal.
*****
Ketika Rani dan Arman kembali masuk, karyawan perempuan baru sedang melipat kaus. Di ujung lorong, Reza berdiri bersandar pada dinding pantry dengan kedua tangan di saku. Entah sudah berapa lama ia di sana.
Arman, yang menutup pintu kaca di belakang mereka, menunduk dan berbisik di dekat telinga Rani. "Mbak, Bapak biasanya nggak pernah turun ke lorong kalau ada pembeli."
"Kerjakan nota yang kemarin, Arman."
"Siap, Mbak."
Rani mengerti tanpa menoleh: ia tidak boleh berhenti, tidak boleh bicara. Ia melangkah ke meja kasir dengan wajah lurus. Namun di belakangnya, suara Reza terdengar, rendah dan datar dan ditujukan bukan kepadanya.
"Arman."
"Ya, Pak?"
"Pelatih yang kamu hubungi pekan lalu, katamu pulang dari Banjarmasin pekan ini?"
"Iya, Pak. Katanya awal pekan."
"Telepon dia lagi hari ini. Sampai tersambung." Ada jeda, dan dalam jeda itu Rani merasa tengkuknya diawasi. "Tanyakan satu hal saja. Tanyakan apakah ada nama itu di daftar akhir. Jangan tanyakan yang lain."
"Baik, Pak."
Langkah sepatu Reza naik lagi ke lantai dua. Rani membuka laci kasir dan mengeluarkan nota, dan baru sadar ia belum bernapas sejak bakso terakhir.