Dari pagi rumah Rani sudah seperti panggung yang menunggu tirai dibuka. Lantai ruang tamu dipel dua kali, taplak meja diganti yang bersulam, dan ibu Rani, yang biasanya paling malas urusan dapur kalau bukan untuk anak laki-laki, sejak subuh mengupas bawang untuk soto ayam.
"Ran, kerudungmu jangan yang itu. Terlalu pucat," seru ibu dari dapur. "Pakai yang warna pink muda."
"Ini sudah yang ketiga, Bu."
"Ya sudah, pakai yang keempat."
Iki duduk di lantai dekat pintu sambil memeluk bola lamanya, mengintip lewat celah gorden setiap dua menit. "Kak, mobilnya belum kelihatan." Ia melempar bola ke atas, menyundulnya sekali dengan dahi, dan bola itu menggelinding ke kolong lemari. "Tuh, Kak, Iki sudah bisa."
"Dik, bolanya jangan di dalam rumah." Rani menepuk kepala adiknya. Telapak tangannya dingin. Sejak pulang dari toko lebih awal, ia sudah tiga kali minum air putih dan dua kali ke kamar mandi tanpa perlu apa-apa.
Pukul dua lewat sedikit, bunyi mesin mobil berhenti di depan pagar. Iki melompat. "Datang! Datang!"
Rani berdiri kaku di dekat sofa. Lewat jendela ia melihat pintu mobil sewaan berwarna perak terbuka, dan yang turun lebih dulu Bu Bambang, memegang bungkusan besar. Sesudahnya turun seorang laki-laki tinggi dengan kemeja koko putih dan peci hitam, membawa keranjang buah dan tas kertas di tangan lain.
Hanya itu yang sempat Rani tangkap: hidung mancung, kulit sawo matang, rahang tegas, dan langkah yang mantap menuju pintu rumahnya. Suara yang dua pekan memenuhi telinganya lewat ponsel mendadak punya rupa, dan Rani belum tahu apakah ia lega atau justru kikuk.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam, silakan masuk, silakan," sambut ibu Rani, sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum yang Rani hampir tak kenali.
Rendi menunduk dan mencium tangan ibu Rani. Gerakannya pelan, nyaris khidmat. "Saya Rendi, Bu. Maaf baru bisa datang."
"Ya Allah, sopannya. Duduk, Nak. Bu Bambang, silakan."
Mereka duduk. Rani mengambil kursi di sisi ibunya, jauh dari Rendi, persis seperti syarat yang ia ucapkan lewat telepon. Rendi mengangkat wajah dan akhirnya matanya bertemu mata Rani.
"Assalamualaikum, De," ucapnya pelan.
"Waalaikum salam, Bang."
Hanya itu. Tetapi senyum di wajah Rendi hangat sekali, seperti orang yang sudah menunggu lama dan tidak ingin mengacaukan apa pun.
"Ini sedikit buah, Bu. Ini sarung untuk Ibu, kebetulan Abang... eh, saya lihat di pasar, cocok warnanya." Rendi menyodorkan tas kertas. "Dan ini untuk Iki."
Iki menerima kotak bundar dengan mata melebar. Ketika tutupnya dibuka, sebuah bola futsal bermerek mengilap muncul. "Wah! Ini yang asli, Kak!"
Rani menahan napas. Ia melirik Rendi, hendak menegur soal kiriman, tetapi Rendi sudah lebih dulu mengangkat tangan.
"Itu bukan kiriman, De. Itu oleh-oleh tamu. Masa tamu datang tangan kosong?"
Dalam hati Rani, argumen itu terdengar masuk akal. Ibunya sudah mengelus kain sarung sambil menyebut kata "bagus sekali" tiga kali, jadi ia memilih diam.
"Bang Rendi, itu bola yang dulu Iki tendang ke atap tetangga," celetuk Iki sambil menunjuk bola lamanya. "Kalau bola baru ini boleh ditendang ke atap juga?"
"Boleh, asal Iki yang naik ambil sendiri." Rendi mencondongkan badan dan menepuk bahu bocah itu. "Tapi sebelum itu, Abang ajarin dulu cara menahan bola dengan punggung kaki. Mau?"
"Mau!"
"Iki, jangan sekarang, Nak Rendi baru sampai," tegur ibu Rani, tetapi suaranya malah ikut tertawa.
Bu Bambang menyeka dahi dengan ujung kerudung. "Saya bilang apa, Bu. Anaknya baik."
Rani memilih menyimpan kalimat itu di sudut kepala. Nada bicara Bu Bambang terdengar sedikit terlalu cepat, seperti orang yang takut ditanya balik.
*****
Menjelang Asar, ibu Rani mengajak semuanya salat berjamaah di ruang tengah. Rendi menjadi imam. Suaranya ternyata merdu, bacaannya tertata, dan sesudah salam ia berdoa cukup lama dengan kepala menunduk dalam. Iki yang biasanya gelisah ikut diam di saf paling belakang.
Rani memandangi punggung itu dari balik mukena. 'Orang yang salatnya begini, mana mungkin jahat,' batinnya. Lalu ia menunggu. Menunggu debar yang dulu pernah datang tiba-tiba hanya karena seseorang berdiri di depan meja kasir dan tersenyum, atau karena sebuah mobil berhenti bersebelahan di parkiran. Ia menunggu dengan jujur, seperti menunggu hujan.
Tidak datang.
Yang ada cuma hormat, dan rasa lega karena laki-laki ini tidak seperti yang ia takutkan.
Ibu Rani menyuguhkan soto beserta teh manis. Sambil makan, Rendi bercerita tanpa diminta. Tentang kebun yang diurus pamannya dan ia ikut menengok tiap akhir bulan, tentang asrama atlet yang jadwal latihannya padat, tentang pelatih yang keras tetapi adil. Ia bercerita seperti orang yang tak sabar ingin dikenal, dan setiap kalimatnya ia tutup dengan "begitu, Bu" atau "kalau Ibu berkenan".
"Terus kalau lolos, kontrak itu jadi atlet daerah, Nak?" tanya ibu Rani.
"Insya Allah, Bu. Tinggal menunggu surat resminya. Pengumumannya sudah, tetapi penandatanganan bulan depan." Rendi meraih cangkir tehnya dengan tangan kiri.
Cangkir itu bergetar sebentar. Hanya sedikit, tetapi cukup membuat permukaan teh beriak dan bunyi dentingnya terdengar di piring alas. Rani melihatnya. Rendi juga tahu ia dilihat, sebab dengan cepat ia memindahkan cangkir itu ke tangan kanan dan tertawa kecil.
"Maaf, Bu. Tangan kiri saya suka kaku kalau kelamaan angkat beban latihan. Kata pelatih, otot saraf tertarik."
"Ya Allah, kasihan. Kecapekan itu." Ibu Rani mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah. Lama ia menatap Rendi, lalu Rani, lalu Rendi lagi. "Ibu cuma ingin anak ibu ini ada yang jaga. Dia sudah terlalu lama menjaga orang."
"Bu..." Rani menegur pelan.
"Biar saja, Ran." Ibu menyeka pipi dengan ujung kerudung. "Ibu bicara dengan Nak Rendi."
Rendi menunduk. "Insya Allah, Bu. Saya jaga. Dengan segenap kemampuan saya."
Rani menggigit bibir. Kata-kata itu persis seperti yang selalu ia impikan dari seseorang yang datang lewat pintu depan. Karena itulah ia heran kenapa dadanya masih datar.
'Cinta bisa dipelajari,' batinnya, mengulang kalimat yang pernah ia baca di salah satu novel. 'Nggak semua orang langsung berdebar.'
Mungkin itu benar. Mungkin ia saja yang terlalu banyak membaca.
*****
Sebelum azan Magrib, sesuai janji, Rendi pamit. Ia menolak tawaran makan malam dengan sopan dan berpesan, "Mama menyusul dari Sampit sebelum akhir bulan, Bu. Beliau masih menyelesaikan urusan toko berliannya. Beliau titip salam."
"Salam kembali, Nak. Hati-hati di jalan."
Bu Bambang yang sepanjang sore hampir tak bicara ikut berdiri. Ia menggenggam tangan Rani sebentar, lalu melepaskannya tanpa kata. Rani hanya sempat melihat matanya yang kelihatan lelah.
Di depan pagar, di bawah lampu yang baru dinyalakan Iki, Rendi berhenti sebentar. Ibu Rani dan Iki masih berdiri di teras, jadi mereka tidak berdua. Tetapi suaranya sengaja ia rendahkan.
"De, terima kasih sudah menjaga syaratnya. Abang senang sekali."
"Sama-sama, Bang. Hati-hati."
"Oh ya." Rendi memutar tubuh setengah di pintu mobil. "Senin Abang ke toko ya. Abang mau beli sepatu futsal yang dipajang di etalase kaca itu. Sekalian lihat tempat kerja Ade."
Jari Rani menegang di pegangan pagar. Toko itu. Lantai dua dengan jendela yang kadang berpaling dan kadang menatap.
"Ke toko, Bang?"
"Kenapa? Nggak boleh?"
"Boleh. Silakan, Bang." Rani memaksakan senyum. "Toko terbuka untuk semua pembeli."
Pintu mobil menutup. Lampu belakang menjauh di tikungan.
"Ke toko, Ran?" Ibu Rani sudah menyusul ke pagar, wajahnya masih sembap dan puas. "Bagus. Bilang sama bosmu, calon menantu ibu mau beli sepatu, minta potongan harga."
"Bu, itu bukan..."
"Kenapa? Harga teman itu wajar."
Rani tidak menjawab. Ia membayangkan jendela di lantai dua toko itu, tirainya yang kadang tersibak, dan seseorang yang mungkin sedang berdiri di baliknya pada hari Senin.