Sabtu malam berlalu tanpa kabar. Pagi berikutnya pun lewat dengan ponsel Rani yang diam, tergeletak di meja makan seperti benda mati.
Rani menatapnya setiap kali lewat. Ia pura-pura sibuk menyapu halaman, menyetrika seragam Iki, mencuci kerudung, tapi matanya selalu kembali ke layar yang tak menyala. Ia tahu itu bodoh. Ia sendiri yang bilang tak mau pacaran, tak mau terburu-buru, tak mau merasa terikat. Tapi dua hari tanpa SMS atau telepon, setelah dua pekan penuh pesan pagi, siang, dan malam, terasa seperti ruangan yang tiba-tiba kehilangan satu dinding.
'Mungkin pengumumannya belum keluar,' batinnya. 'Mungkin dia sibuk. Mungkin dia tidak lolos dan malu.'
Ibu Rani ternyata ikut gelisah. Sambil melipat mukena sehabis salat, ia sempat bertanya tanpa menoleh, "Nak Rendi belum telepon?"
"Belum, Bu."
"Mungkin sibuk." Ibu terdiam sebentar. "Kamu SMS dia saja, tanya kabarnya."
"Rani nggak mau, Bu."
"Gengsi itu nggak ada gunanya, Ran." Nada ibu kembali sedikit tajam, nada yang beberapa hari terakhir sempat hilang. "Orang baik itu jangan dibiarkan menunggu. Nanti pindah ke lain."
Rani hanya diam, dan ibunya menghela napas keras sebelum masuk kamar. Rani menunduk menatap lantai. Kegelisahan ibu itu bukan untuk dirinya, ia tahu persis, melainkan untuk sesuatu yang lain: amplop, sarung, kiriman bola. Satu per satu berhenti kalau Rendi menghilang.
Dugaan terakhir itu yang paling mengganggu. Ia bahkan sempat mengetik pesan, [Bang, apa kabar? Rani doakan yang terbaik], lalu menghapusnya. Ia bukan perempuan yang mengejar.
Malam kedua, tepat pukul tujuh, ketika seluruh keluarga baru selesai makan dan ibu Rani sedang mengupas jeruk di ruang tengah, ponsel itu akhirnya berdering. Nama Rendi memenuhi layar. Rani menyambarnya hampir sebelum nada pertama selesai.
"Assalamualaikum, Bang..."
"LOLOS, DE!"
Suara itu begitu keras sampai Rani menjauhkan ponselnya dari telinga. Dari seberang terdengar tawa pecah, bercampur isak yang tak jelas apakah tangis atau tawa. "Abang lolos! Namanya ada! Abang masuk tim!"
"Ya Allah, Bang!" Rani berdiri tanpa sadar, ponselnya masih menempel di telinga. "Beneran?"
"Beneran, De! Pengumumannya diundur dua hari karena ada perubahan jadwal panitia. Tadi sore Abang dikabari langsung. Abang... Abang nggak percaya. Abang sampai duduk di tanah nggak bisa berdiri."
"Bu! Bu, Bang Rendi lolos!" teriak Rani ke arah ruang tengah.
Ibu Rani sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan sebutir jeruk di tangan. Wajahnya berbinar. "Lolos? Lolos seleksi atlet itu?"
"Iya, Bu! Sini, Rani nyalain speaker."
Rani menekan tombol pengeras suara dan meletakkan ponsel di meja makan. Iki menyerbu dari kamarnya sambil memeluk bola, ibu mendekat, dan suara Rendi memenuhi ruangan, penuh kebahagiaan yang jelas sekali tak dibuat-buat.
"Assalamualaikum, Ibu! Assalamualaikum, Iki!"
"Waalaikum salam, Nak Rendi! Selamat ya, selamat!" seru ibu Rani dengan suara yang hampir pecah. "Ibu ikut bangga, ikut bahagia!"
"Selamat, Bang Rendi!" sahut Iki bersemangat. "Nanti Iki boleh ikut latihan, ya? Boleh nonton?"
"Boleh dong, Jagoan! Nanti Abang ajarin tendangan bebas." Rendi tertawa. "Ibu, De, Abang cuma bisa bilang terima kasih. Doa dari rumah itu yang bikin Abang kuat."
Rani menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya menggenang tanpa ia sadari. Untuk pertama kalinya sejak Rendi masuk ke hidupnya, ia merasakan sesuatu yang mirip kebanggaan, bukan sekadar rasa kasihan atau rasa takut.
Tok tok tok.
Ketukan itu terdengar dari pintu depan. Ibu Rani menoleh. "Siapa malam-malam begini?"
Iki yang berlari paling dulu membuka pintu. Di ambang pintu berdiri Bu Bambang, memegang rantang plastik berisi kue, rambutnya sedikit basah oleh gerimis. Ia baru mengangkat tangan hendak menyapa ketika suara dari ponsel di meja makan menggema, "...kontraknya tinggal diteken bulan depan, Bu. Abang resmi jadi atlet daerah!"
Bu Bambang berhenti.
Hanya sedetik. Mungkin kurang. Senyum di wajahnya yang tadi sudah setengah terbit tertahan di ujung bibir, dan matanya bergeser pelan ke arah ponsel seperti orang mendengar nama yang tak sesuai dengan daftar di kepalanya. Rani menangkap perubahan itu karena ia kebetulan menoleh ke pintu.
Lalu Bu Bambang tersenyum, lebar, hangat, dan mengangkat rantangnya. "Alhamdulillah! Ya Allah, kabar baik ini! Saya bawa kue, ternyata pas sekali!"
"Bu Bambang! Silakan masuk, silakan," sambut ibu Rani, mengambil rantang dari tangannya. "Nak Rendi lolos!"
"Saya dengar tadi dari luar. Alhamdulillah." Bu Bambang masuk dan melepas sandal. Namun tangannya sedikit gemetar ketika menyentuh pinggiran meja. Rani memperhatikannya, tapi tidak bertanya. Mungkin Bu Bambang hanya terharu. Sayang Rendi seperti anak sendiri, katanya dulu.
*****
Setelah Iki diminta tidur dan ibu Rani menemani Bu Bambang ngobrol di teras, Rani membawa ponselnya ke kamar. Rendi masih menunggu di telepon.
"Ade senang?" tanyanya lembut.
"Senang, Bang. Aku bangga sama Abang."
"Terima kasih, De. Itu yang Abang tunggu-tunggu." Rendi menghela napas. "Boleh Abang minta satu hal?"
"Apa?"
"Abang pengin ketemu Ibu secara resmi. Ketemu keluarga Ade. Tidak lagi lewat telepon atau lewat Bu Bambang." Ada jeda, dan nada suaranya berubah mantap. "Abang tiba hari Sabtu ini, De. Tanggal tujuh belas. Siapkan ibumu."
Jantung Rani seperti berhenti sedetik. Ia sudah meminta pertemuan itu sendiri, tapi mendengar tanggal yang pasti membuat semuanya terasa nyata. Terlalu nyata.
"Sabtu ini, Bang?"
"Kalau Ade belum siap, Abang bisa mundur."
"Nggak. Nggak usah mundur." Rani menutup mata sebentar, menenangkan debar yang entah datang dari mana. "Sabtu, Bang. Aku sampaikan ke ibu."
"Alhamdulillah. Sampai ketemu hari Sabtu, calon istriku."
Ketika telepon ditutup, Rani duduk lama di tepi kasur. Rasanya seperti seseorang menekan tombol yang tak bisa dikembalikan. Dari teras terdengar tawa ibunya dan Bu Bambang, dan dari kamar sebelah suara pantulan bola Iki yang belum mau tidur.
Sebelum tidur, ia mengirim satu SMS kepada Maya.
[May, Bang Rendi lolos seleksi. Sabtu dia datang ke rumah]
Balasan Maya muncul beberapa menit kemudian, setelah jeda yang terasa lebih panjang dari yang biasa.
[Alhamdulillah, Ran. Selamat. Tanya kapan kontraknya diteken. Orang atlet pasti punya surat. Itu bukan curiga, cuma jaga-jaga]
[Iya, May. Nanti aku tanya]
*****
Pagi berikutnya, Rani tiba di toko dengan mata sedikit sembab karena kurang tidur, tapi senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Arman yang pertama menyadari.
"Mbak Rani kayaknya lagi senang."
"Sedikit." Rani menyalakan lampu kasir. "Arman, hari Sabtu ini saya mau izin pulang lebih awal ya. Ada tamu spesial di rumah. Jam berapa pun saya nggak bisa lembur."
"Tamu spesial?" Arman menegakkan badan. "Tamu dari mana, Mbak?"
"Dari jauh." Rani hanya tersenyum, dan itu cukup untuk membuat Arman mengangguk-angguk mengerti.
Beberapa menit kemudian, Arman menaiki tangga membawa tumpukan faktur. Di lantai dua, Reza berdiri di dekat jendela membaca laporan stok. Ia tidak menoleh.
"Pak, kata Mbak Rani hari Sabtu dia pulang cepat. Ada tamu spesial."
Reza menurunkan laporannya sedikit. "Tamu spesial."
"Iya, Pak. Katanya dari jauh." Arman menelan ludah. "Soal pelatih yang Bapak minta saya telepon, beliau lagi ke Banjarmasin, Pak. Baru pulang pekan depan."
Reza diam. Perlahan ia meletakkan laporan itu di meja, membuka buku catatan kecil bersampul hitam di laci, dan menulis sesuatu di halaman yang masih bersih. Sebuah nama dengan huruf-huruf tegak dan rapi. Rendiansyah Saputra.
"Kamu boleh pergi," katanya akhirnya.