Sudah hampir dua pekan ponsel Rani berdering di jam yang nyaris sama. Mula-mula malam hari, lalu bergeser ke sore, dan siang itu, tepat ketika jarum jam di dinding toko menunjuk pukul satu, nada dering yang kini sangat ia kenal memenuhi saku celananya.
"Arman, tolong jaga kasir. Saya angkat telepon sebentar," ucap Rani. Sudah tak ada lagi rasa canggung saat ia meminta begitu. Arman cuma mengangguk sambil menahan senyum, dan karyawan perempuan baru mengikutinya dengan senyum yang sama.
Rani masuk ke lorong sempit menuju pantry dan berhenti di dekat tangga lantai dua, tempat lampu neon menyisakan cahaya remang. Ia menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum, Bang."
"Waalaikum salam, De. Abang kangen suara Ade siang-siang begini." Suara Rendi renyah, seperti selalu. Di latarnya terdengar bunyi peluit dan teriakan orang berlatih. "Maaf, Abang lagi di lapangan, sempat-sempatin telepon."
"Bang, boleh aku bicara serius?"
"Boleh dong. Abang di sini."
Rani menarik napas dalam-dalam. Ia sudah mengulang kalimat ini berkali-kali di dalam kepala sejak semalam, di atas kasur, sambil menatap bayangan kipas angin di langit-langit kamar. "Aku sudah setuju untuk bertemu. Tapi aku punya syarat. Kalau Abang keberatan, aku nggak apa-apa."
"Sebutkan, De."
"Pertama, Abang bertemu hanya di rumah ibu Rani. Bukan di luar, bukan di tempat lain. Kedua, kita tidak pacaran. Rani memang nggak mau pacaran dari dulu, Bang. Kalau Abang serius, datang ke keluarga, bukan ke Rani sendirian. Ketiga, kita tidak boleh berdua-duaan. Harus ada ibu atau Iki atau siapa saja di dekat kita."
Hening panjang. Rani menggigit bibir bawahnya. Di seberang sana, Rendi mungkin sedang kesal. Mungkin tersinggung. Mungkin akan mengatakan Rani kolot.
"Alhamdulillah," ucap Rendi pelan.
"Hah?"
"Alhamdulillah, De. Abang malah senang." Suara itu terdengar bergetar bahagia. "Abang takut Ade bakal minta yang lebih sulit. Ini cara yang terhormat. Abang memang nggak mau pacaran sama Ade. Abang mau Ade jadi istri Abang, secara baik-baik, lewat pintu depan."
"Jadi Abang setuju?"
"Setuju. Seratus persen. Abang janji, kalau datang nanti, Abang duduk di ruang tamu bareng ibu, makan bareng Iki, dan pulang sebelum Magrib kalau perlu." Rendi tertawa kecil. "Abang malah makin yakin Ade pilihan yang tepat."
Tanpa sadar Rani menempelkan telapak tangan ke dada. Seluruh ketegangan yang tadi mengencang di bahunya mengendur, dan ia baru sadar sudah menahan napas sejak syarat pertama. "Terima kasih, Bang."
"Terima kasih juga sudah mau menunggu Abang. Oh ya, De, hari Sabtu pengumuman seleksinya. Doakan Abang, ya."
"Iya, Bang."
Hanya dua kata. Tapi pada saat itu juga, dari arah anak tangga tepat di atas kepalanya, terdengar derit sepatu yang berhenti mendadak.
Rani mendongak. Tak ada siapa-siapa. Hanya bayangan tangga yang gelap dan bunyi langkah kaki yang menjauh, kembali naik. Dadanya berdebar. Ia menutup telepon dengan alasan harus kembali bekerja, lalu berdiri sebentar mengamati ujung tangga.
Mungkin cuma Arman yang menaruh kardus di atas. Mungkin juga bukan.
*****
Di lantai dua, Reza berdiri membelakangi pintu ruang kerjanya dengan satu tangan di pagar tangga. Ia baru turun mengambil berkas pesanan dari rak lantai satu ketika suara Rani terdengar dari lorong di bawah, dan ia berhenti di anak tangga. Ia mendengar syarat itu sampai jawaban terakhir.
'Iya, Bang.'
Sepatu Reza berderit ketika ia berbalik. Ia naik sebelum Rani menyadari dan menutup pintu ruangnya. Perjanjian itu melarangnya mendekat, dan ia tidak mendekat. Yang ia lakukan sesudahnya adalah urusan yang berbeda, dan ia tahu itu tidak akan diterima Rani.
Beberapa menit kemudian, interkom di meja Arman berbunyi.
"Arman, ke atas sebentar."
Arman muncul di ambang pintu dengan wajah tegang. Reza duduk di balik meja, kedua tangannya terlipat di atas map.
"Kamu kenal pelatih langganan yang tiap bulan beli sepatu futsal buat murid-muridnya?"
"Kenal, Pak. Beliau langganan lama."
"Dia pelatih di asrama atlet daerah, bukan?" Reza mengetuk meja pelan-pelan. "Besok kamu telepon beliau. Tanya baik-baik, jangan menuduh siapa-siapa. Tanya apakah ada atlet bernama Rendiansyah Saputra yang ikut seleksi bulan September lalu."
"Rendiansyah... Saputra." Arman mengulangi nama itu dengan alis terangkat. "Pak, ini soal siapa?"
"Itu bukan urusanmu." Reza menegakkan punggung. "Jangan bilang ke Rani. Perjanjiannya masih berlaku, dan kamu tahu itu."
"Tapi, Pak..."
"Cuma tanya. Itu saja."
Arman menelan ludah dan mengangguk. "Baik, Pak."
*****
Malam itu, rumah Maya dipenuhi bau kopi dan martabak telur yang dipesan Danu dari warung depan gang. Anita dan Siti sudah datang lebih dulu sepulang kerja, masih lengkap dengan tas laptop yang menyandar di kaki sofa. Rani duduk bersila di karpet, memeluk bantal sofa, sementara Maya setengah rebahan dan Danu duduk di kursi dengan sebuah buku kecil terbuka di lututnya.
"Jadi calon suami Rani udah lolos babak pertama," celetuk Siti, mengunyah martabak dengan santai. "Syaratnya tiga, ya? Bagus. Kalau dia macam-macam, kasih tahu gue. Gue tahu cara bikin laki-laki lupa jalan pulang."
"Siti!" Anita menepuk lengannya. "Jangan nakut-nakutin."
"Gue nggak nakut-nakutin. Gue ngasih jaminan." Siti mengangkat bahu. "Lagian ini Rani. Dia nggak pernah minta apa-apa dari kita. Sekali minta, ya kita jaga."
"Terima kasih, Ti." Rani tersenyum. Hatinya hangat. Ia lupa sudah berapa lama sejak terakhir kali keempat sahabat itu berkumpul tanpa ada yang perlu disembunyikan.
"Nah, Mas Danu. Silakan kasih laporan resminya," ucap Maya sambil melambai ke arah Danu seperti seorang ratu mempersilakan menterinya.
"Jadi," Danu menutup bukunya, "saya sudah bicara dengan teman saya lagi, dan dia bertanya ke tiga orang berbeda di Sampit. Pertama, orang di kebun. Kedua, tetangga di kampung. Ketiga, seorang kenalan yang biasa nongkrong di warung dekat pos ronda."
Jantung Rani berdetak lebih cepat. "Terus?"
"Nggak ada yang buruk." Danu mengangkat kedua tangannya. "Tidak ada yang pernah dengar dia berkelahi atau bermasalah dengan aparat. Semua orang bilang dia ramah, suka bantu, sopan sama orang tua. Tetangga bilang dia anak yatim yang dibesarkan neneknya dan kadang masih tampak kesepian."
"Alhamdulillah," bisik Rani.
"Tapi..." Danu menggeleng pelan, "justru itu yang bikin saya kurang tenang."
"Mas?"
"Terlalu rapi, Dek. Orang umur tiga puluh, hidup di kampung, nggak mungkin nggak ada cerita satu pun. Setiap orang punya kurang. Yang ini tidak ada. Entah dia memang sebersih itu, atau ada yang belum kami temukan."
Maya mengambil sepotong martabak dan menggigitnya, lalu tertawa. "Danu ini curiga sama orang baik. Sebelum ketemu aku, dia juga curiga sama semua orang yang tidak pernah telat bayar kasbon."
"Aku nggak curiga, May. Aku cuma hati-hati."
"Sama aja." Maya menggeleng sambil mengunyah, tapi saat matanya bertemu mata Rani, tawa itu tak sampai ke sana. Ada kerutan cemas yang sempat muncul di pelipisnya sebelum ia buru-buru menunduk mengambil gelas.
Rani menatap martabak di piringnya yang belum ia sentuh.
"Aku sudah kasih syarat, Mas. Hanya di rumah ibu. Tidak berdua-duaan. Dia setuju."
"Itu langkah yang bagus." Danu mengangguk. "Pegang itu terus."
"Dan kalau ternyata dia memang orang baik, Mas?"
"Kalau memang orang baik," Danu tersenyum kecil, "saya akan jadi orang pertama yang minta maaf."