"AWAS!"
Teriakan itu memecah siang yang gerah di lokasi proyek. Bagas yang sedang menunduk membaca gambar kerja di bawah menara langsung mengangkat kepala. Dua puluh meter di atasnya, di platform besi yang baru dipasang tadi pagi, seorang pekerja muda terpeleset. Kakinya menyapu udara kosong, tangannya meraih apa pun, dan tubuhnya meluncur miring menuju tepi.
Bagas tidak sempat berpikir. Ia sudah berada di tangga besi sebelum menyadari kakinya bergerak. Anak-anak tangga itu berderit dan panas karena terik, telapak tangannya licin oleh keringat, tapi ia terus naik, melompati dua anak tangga sekaligus, hingga sampai di tingkat platform paling bawah, tepat saat pekerja itu meluncur melewatinya.
Tangannya terulur. Menyambar kerah rompi. Tubuhnya terseret ke depan.
"Pegangan! Pegang tiang itu!"
Pekerja itu menggapai tiang dengan kedua tangan sambil terisak tanpa suara. Bagas menahan beratnya dengan satu tangan, sementara lengan satunya membentur sudut siku besi yang tak sempat dihaluskan. Rasa pedih menyambar dari siku hingga pergelangan, panas seperti terbakar. Tapi ia tidak melepaskan. Ia justru menarik, mendorong, menahan, sampai pekerja itu akhirnya berhasil merangkak naik dan duduk terengah di lantai platform.
"Pak... Pak, maaf... maaf, Pak."
"Nggak apa-apa. Napas dulu. Tarik napas pelan-pelan." Suara Bagas sendiri bergetar. "Kamu luka?"
"Nggak, Pak. Bapak yang..." Pekerja itu menunjuk lengan Bagas dengan mata melebar.
Bagas menunduk. Kemejanya robek dari siku sampai pergelangan, dan di baliknya ada garis merah memanjang yang mulai mengeluarkan darah, deras dan hangat. Baru saat itulah rasa pedihnya benar-benar terasa.
"Wah." Ia terkekeh lemah. "Pantesan."
*****
"Duduk. Jangan banyak gerak, Gas. Lo itu bandel banget." Adi menekan kain kasa di lengan Bagas dengan tangan mantap, di bawah tenda kecil tempat kotak P3K disimpan. Gusti memegang botol cairan antiseptik, sementara Gilang berdiri di pintu tenda mengawasi para pekerja yang masih berkerumun di kejauhan.
"Awas, perih!"
"Ya perih, orang robek begini." Adi menuangkan cairan dan Bagas mendesis. "Lukanya dalam, harusnya dijahit. Gue bukan dokter. Besok lo ke puskesmas. Gue paksa."
"Gue baik-baik aja."
"Lo mau gue bilang apa ke ibu lo kalau nanti infeksi? 'Bu, anak Ibu sok jagoan'?"
Bagas meringis, tidak membantah. Pekerja muda tadi berdiri di luar tenda, kepala menunduk dalam-dalam, tak berani masuk. Gusti menepuk bahunya dan menyuruhnya minum air hangat.
"Kamu nggak salah," kata Bagas pelan dari dalam tenda. "Besi licin gara-gara embun pagi. Besok kita pasang pengaman tambahan."
"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak."
Setelah anak itu pergi, Adi diam-diam melirik Bagas sambil melilit perban. Ia terlihat seperti orang yang menimbang sesuatu.
"Lo tau nggak, Gas, kalau gue yang ada di posisi lo tadi, gue mungkin nggak naik."
"Masa?"
"Serius. Gue bakal teriak minta tolong, ngelempar tali, apa kek. Tapi lo langsung naik, tanpa mikir." Adi menggeleng, tapi sudut bibirnya naik. "Lo orang baik, Gas. Beneran."
"Jangan bikin gue geer."
"Gue nggak muji. Gue bilang fakta." Adi mengencangkan simpul perban. "Siapa pun cewek yang nanti lo ajak badatang, dia beruntung. Gue mau punya adik ipar kayak lo."
"Adik ipar? Emang lo punya adik cewek yang mau gue nikahin?"
Adi mendengus. "Gue punya satu adik cewek, kebetulan nggak ada hubungannya sama lo, jadi jangan geer. Nyokap gue lagi ribut maksa dia cepet-cepet nikah. Katanya mau dijodohin sama atlet, orang berada. Nyokap gue kalau udah mau sesuatu, susah dilawan." Ia berhenti, lalu mengangkat bahu. "Kasihan juga, sebenernya. Si Ade itu anaknya manis, kerjanya rajin, tapi ya gitu. Di keluarga gue duit lebih penting dari kemauan."
"Berat ya, jadi dia."
"Banget. Tapi udahlah, itu urusan gue." Adi menepuk perban terakhir. "Selesai. Jangan basah dulu."
Bagas hanya mengangguk. Pikirannya sudah melayang ke tempat lain, ke kota yang jauh, ke gadis yang wajahnya sudah ia hafal sampai ke ujung mata, walau namanya tetap tak ia ketahui.
"Gas!"
Rara muncul di pintu tenda dengan napas tersengal, satu kantong plastik berisi obat merah, plester, dan sebotol air hangat digenggam erat di dadanya. Rambutnya terkuncir asal, sepatunya berlumpur. Jelas ia berlari dari kantor.
"Aku dengar dari Gilang... kamu luka?" Matanya langsung jatuh ke perban, dan wajahnya memucat. "Ya Allah."
"Cuma goresan, Ra."
"Goresan apanya, itu berdarah sampai ke kain!" Rara meletakkan kantong plastik di meja lipat dan berdiri kikuk, tak tahu harus menaruh tangannya di mana. "Aku bawain obat. Sama air hangat. Aku nggak ngapa-ngapain, sumpah, cuma antar."
"Makasih." Bagas menatapnya dan tersenyum tipis. "Kamu baik, Ra."
Rara menggigit bibir. Sebentar ia tampak ingin mengatakan sesuatu yang lain, tapi akhirnya hanya mengangguk, lalu menoleh ke Adi. "Di, tolong jagain ya. Jangan biarin dia kerja berat dulu."
"Siap, Bu Komandan," sahut Adi tanpa menyindir.
Setelah Rara pergi, Gilang yang sejak tadi bersandar di pintu bersiul pelan. Satu tatapan dari Bagas cukup untuk menghentikannya.
*****
Malam itu ponsel Bagas berdering saat ia baru selesai salat Isya di kamar mess. Nama di layar membuatnya menghela napas panjang: Ibu.
"Assalamualaikum, Bu."
"GAS! Kamu luka?! Kata Laila lengan kamu robek?!" Suara ibunya melengking panik, membuat Bagas harus menjauhkan ponsel dari telinga. "Kenapa nggak bilang sendiri?!"
"Waalaikum salam, Bu. Tenang dulu. Cuma luka sedikit." Dalam hati Bagas mengutuk dirinya sendiri yang mengirim SMS singkat ke Kak Laila siang tadi, semata-mata supaya tidak ada yang kaget kalau melihat perban. Kakaknya jujur sampai ke tulang, tentu saja langsung melaporkan semuanya.
"Luka sedikit apa?! Laila bilang dua belas jahitan!"
"Nggak ada jahitan, Bu. Itu Adi yang asal ngomong. Cuma digores besi, sudah dibalut."
"Kamu itu ya, Gas. Anak Ibu satu-satunya laki-laki. Kalau kenapa-kenapa, Ibu..." Suara itu bergetar. "Ibu nggak sanggup."
"Bu." Bagas menurunkan nadanya. "Bu, dengar. Aku tadi menolong orang. Pekerja kami jatuh dari tangga, aku tahan. Lukaku ini bayaran kecil buat nyawa orang. Aku nggak nyesel."
Hening. Lalu terdengar isak halus. "Kamu ini... persis ayahmu."
"Ya berarti Ibu memang pernah beruntung," canda Bagas lembut.
"Dasar kamu." Ibunya tertawa di sela tangis. "Makan yang bener. Jangan lupa minum obat. Kalau demam, jangan ditahan, ke dokter."
"Siap, Bu."
Sambungan nyaris diputus ketika Ibu berkata lagi, kali ini lebih pelan. "Gas, Ibu cuma pengin kamu cepat ketemu jodoh. Biar ada yang ngurus kamu kalau Ibu nggak ada."
"Ibu jangan ngomong begitu."
"Terus gimana gadis Palangkaraya itu? Kamu masih berharap?"
Bagas menatap perban di lengannya, yang mulai terasa berdenyut. Ia bersandar ke dinding, memejamkan mata, dan menjawab dengan kejujuran yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
"Aku sudah istikharah, Bu. Tiga malam berturut-turut. Hatiku tetap ke dia."
"Alhamdulillah." Suara ibunya melembut penuh syukur. "Kalau begitu, kerja yang benar, cepat selesai, cepat pulang. Dan hati-hati."
"Iya, Bu."
Panggilan berakhir. Bagas tetap duduk di tempatnya, memandangi langit-langit, sampai pintu kamarnya diketuk pelan. Adi muncul membawa dua gelas teh panas.
"Nih. Buat lo. Biar nggak demam." Ia menaruh satu gelas di meja kecil. "Eh, Gas. Bulan depan gue pulang beberapa hari. Ada acara keluarga."
"Ya, silakan. Bos pasti kasih."
"Lo kosong nggak? Siapa tahu lo mau ikut. Ya nggak maksa, sih." Adi menyeruput tehnya. "Cuma, gue pikir lo butuh ganti suasana."
"Nanti gue pikirin."