Kring! Kring!
Telepon rumah berdering tepat ketika Rani sedang mengikat tali sepatu di ruang tamu. Pagi masih gelap-gelap terang, azan Subuh baru lewat setengah jam, dan di dapur ibu Rani sedang menjerang air untuk teh.
"Biar Ibu yang angkat!" seru ibu Rani dari dapur, lalu terdengar langkah-langkah cepat yang tak sesuai usianya. Rani menatap punggung ibunya yang berlari kecil ke meja telepon, dan ia nyaris tersenyum geli. Baru sekali ini ia melihat ibunya seperti anak gadis menunggu kabar.
"Halo? Oh, Nak Rendi! Waalaikum salam. Iya, sudah bangun, sudah salat..."
Rani tidak sengaja menguping. Ia hanya diam di tempatnya, pura-pura membetulkan simpul sepatu yang sebenarnya sudah rapi. Dari potongan-potongan percakapan, ia menangkap tawa ibunya, pujian-pujian kecil, pertanyaan soal makan dan salat. Satu jam penuh telepon itu berlangsung. Satu jam, padahal biasanya ibu menutup telepon dalam dua menit kalau yang menelepon bukan anak laki-lakinya.
Ketika gagang akhirnya diletakkan, wajah ibu Rani bercahaya.
"Orangnya baik sekali, Ran. Tadi dia cerita sendiri soal neneknya, soal masa kecilnya, lebih banyak dari yang Bu Bambang bilang kemarin." Ibu mengangkat dagu. "Nanti siang dia telepon kamu. Awas ya, jangan ketus."
"Rani nggak pernah ketus, Bu."
"Kamu itu pendiam, kalau sudah dingin lebih dingin dari es." Meski begitu, nada ibu tidak menusuk seperti kemarin-kemarin. Mungkin amplop satu juta itu sudah terlupakan. Atau mungkin ibu hanya sedang terlalu senang untuk mengungkitnya.
*****
Siang di toko berjalan lambat. Hari Jumat, pengunjung lebih sedikit, dan Rani memanfaatkan jam tenang itu untuk merekap penjualan cabang Banjarbaru. Tepat pukul dua belas lewat lima belas, ponselnya bergetar. Nama yang ia tunggu sejak pagi muncul di layar.
"Arman, saya ke belakang sebentar ya," ucap Rani. Ia membawa ponselnya ke pintu belakang toko, tempat jajaran kardus menumpuk dan seberkas cahaya matahari menembus celah atap.
"Assalamualaikum, De." Suara Rendi jernih. "Abang tadi sudah ngobrol sama ibu. Beliau baik sekali. Abang jadi merasa seperti punya ibu lagi."
"Alhamdulillah, Bang. Ibu juga senang."
"Ade sendiri gimana? Senang?" Terdengar nada main-main yang halus. Lalu hening. "Maaf, Abang nggak maksud mendesak."
"Nggak apa-apa." Rani tersenyum tanpa sadar. "Bang, aku mau tanya. Tadi ibu bilang Abang yatim. Boleh aku tahu ceritanya?"
Hening itu berlangsung lebih lama. Rani sempat mengira sambungan terputus, sampai ia mendengar helaan napas panjang.
"Abang belum pernah cerita ini lengkap ke siapa-siapa, De."
"Kalau berat, nggak usah, Bang."
"Nggak. Abang mau Ade tahu." Suara Rendi merendah. "Bapak Abang meninggal waktu Abang sepuluh tahun. Sakit, tiba-tiba. Abang ingat banget, malam itu Abang disuruh tidur di rumah tetangga. Besok paginya, rumah penuh orang berpeci." Ia berhenti, terbatuk kecil. "Setelah itu Mama kerja banting tulang, jualan, ke sana kemari. Lama-lama Mama menikah lagi. Abang dan dua adik Abang dititipkan ke nenek."
Rani meremas ponselnya. "Mama menikah lagi..."
"Iya. Abang nggak menyalahkan Mama, De. Abang tahu Mama juga perempuan, juga butuh dilindungi. Tapi waktu itu Abang masih kecil, yang Abang tahu cuma Mama pergi. Tiap malam Abang nunggu di teras. Nenek bilang, nanti Mama datang. Dan Mama memang datang, tapi cuma sebulan sekali, bawa oleh-oleh, nginap semalam, terus pergi lagi."
Suara Rendi pecah di akhir kalimat. Ada isak tertahan, dan lalu keheningan yang membuat dada Rani ikut sesak. Tanpa sadar air matanya menggenang. Ia memegang mulutnya agar suaranya tak terdengar.
"Abang minta maaf, De. Seharusnya Abang nggak cerita-cerita sedih begini."
"Nggak, Bang. Rani senang Abang cerita." Rani menyeka pipinya dengan punggung tangan. "Neneknya sekarang di mana?"
"Nenek sudah nggak ada, De. Waktu Abang SMA." Rendi menarik napas. "Sejak itu Abang sendirian. Kalau lagi kangen Mama, Abang telepon, tapi Mama selalu sibuk. Mama itu... Mama itu penjual berlian, De. Orangnya sibuk sekali."
"Mama," ulang Rani pelan. Panggilan itu terdengar hangat, rapuh, dan sama sekali bukan dari mulut seorang penipu.
"Iya. Mama." Rendi tertawa kecil di sela serak. "Kalau Ade nanti ketemu Mama, Mama pasti suka sama Ade. Mama selalu bilang Abang butuh perempuan yang bikin Abang pulang."
Rani tidak sanggup menjawab. Air mata kembali menggenang. Setelah beberapa detik yang panjang, ia justru mendengar dirinya sendiri bicara, pelan, tanpa direncanakan.
"Ayahku juga sudah nggak ada, Bang. Waktu aku masih sekolah. Sakitnya lama, aku yang sering jaga."
"Ade..."
"Sejak itu ibu berubah. Nggak seperti dulu lagi." Rani menggigit bibir. "Aku nggak pernah cerita ini ke siapa-siapa selain sahabatku."
"Jadi kita sama-sama pernah kehilangan." Suara Rendi lembut sekali. "Terima kasih sudah percaya sama Abang, De. Abang janji nggak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu."
Janji itu terdengar begitu sungguh-sungguh sampai dada Rani terasa hangat dan sakit sekaligus. Ia menarik napas, mengusap pipi, dan berkata, "Bang, Rani harus kembali ke depan. Nanti kita lanjut ya."
"Iya, De. Terima kasih sudah mau dengar. Itu berarti banyak buat Abang."
*****
Rani memasuki toko sambil menepuk-nepuk ujung matanya dengan lengan baju. Ia tidak memperhatikan bahwa di anak tangga menuju lantai dua, Reza berdiri dengan satu tangan memegang pegangan, tampaknya baru turun mengambil sesuatu. Kebetulan itu hanya terjadi beberapa detik. Reza melihat mata Rani yang merah dan hidungnya yang basah, lalu cepat-cepat memalingkan wajah.
Rani berpura-pura tidak melihat, kembali ke meja kasir dan membuka buku kas. Beberapa menit kemudian Arman muncul dari arah pantry sambil membawa secangkir teh panas yang mengepulkan uap, lalu meletakkannya hati-hati di dekat tangan Rani.
"Mbak, ini buat Mbak."
"Dari siapa?"
"Nggak tahu, Mbak. Tadi ada yang suruh buatkan." Arman menggaruk kepala, jelas tidak pandai berbohong. "Katanya Mbak kelihatan capek."
Rani menatap teh itu. Aroma melatinya akrab. Itu jenis teh yang selalu ada di lemari pantry lantai dua, bukan teh pantry biasa. Ia mendongak ke tangga tempat tadi Reza berdiri, tapi bayangan itu sudah hilang.
"Arman." Rani mengambil dompet kecil dari laci, mengeluarkan uang dua ribuan, dan menyelipkannya ke tangan Arman. "Bilang ke yang menyuruh, teh ini saya bayar sendiri. Terima kasih atas perhatiannya, tapi lain kali nggak perlu."
"Tapi, Mbak..."
"Tolong ya, Arman."
Arman menelan ludah, mengangguk, dan membawa uang itu pergi. Rani mengangkat cangkir yang masih hangat itu, ragu sejenak, lalu meminumnya perlahan. Tehnya enak. Itu yang paling menyebalkan.
*****
Malam itu, selepas isya, Rani duduk di kasur dengan ponsel di pangkuan. Cerita Rendi tadi siang masih berputar di kepalanya. Bagaimana mungkin laki-laki yang tumbuh begitu sepi bisa tetap lembut? Ibunya benar tentang satu hal, orang seperti itu jarang ada. Namun Maya juga benar, jarang bukan berarti tidak perlu diuji.
Jawabannya sederhana: ia harus bertemu langsung. Bukan lewat telepon, bukan lewat cerita orang. Matanya sendiri yang harus menilai.
Ia mengetik.
[Bang, aku mau bertemu dulu sebelum menjawab apa pun. Di rumah ibu]
Balasan datang dalam hitungan detik.
[Alhamdulillah, De. Abang mau. Seperti yang Abang bilang ke Bu Bambang, tunggu pengumuman dulu ya]
Rani menatap layar itu lama. Jarinya belum sempat menaruh ponsel ketika satu pesan lagi masuk.
[Doakan Abang ya, De. Kalau namanya tertulis di daftar itu, Abang langsung datang. Ade siapkan ibumu]
Rani membaca kalimat terakhir itu dua kali, lalu mematikan lampu tanpa membalas.