Suara wajan beradu dengan spatula membangunkan Rani sebelum azan subuh. Ia membuka mata ke langit-langit kontrakan yang bintik bocornya sudah ia hafal, lalu mendengar siulan yang sama dengan siulan Rendi di hari-hari pertama, tetapi lebih pelan, seperti takut mengganggu.
Di dapur, lampu kuning menyala. Rendi berdiri membelakangi pintu, kaus oblong dan sarung, mengaduk nasi goreng dengan telur yang pecah di mana-mana.
"Jangan lihat," ujarnya tanpa menoleh. "Telurnya kabur. Abang nggak bisa masak, De. Tapi Abang belajar."
"Jam berapa Abang bangun?"
"Setengah empat. Takut kesiangan." Ia menoleh, rambutnya basah bekas wudu. "Abang sudah salat tahajud. Sebentar lagi subuh, kita berjamaah ya, di ruang tamu. Dulu waktu kecil nenek yang maksa. Abang pikir sudah lupa gerakannya."
Rani berdiri lama di ambang pintu. Ini baru hari keenam sejak malam di ruang makan itu, sejak isakan Hajjah di telepon yang masih terngiang di telinganya. Rani tidak lagi bertanya apa-apa; ia memilih diam dan menonton, menunggu apakah janji "Abang belajar" bertahan lebih dari satu malam. Sampai pagi ini bertahan, dan ada saja yang berubah tiap hari. Rendi pulang sebelum magrib. Rendi mencuci gelasnya sendiri. Rendi menyetrika kemeja dengan lidah terjulur karena konsentrasi.
Dan tiga hari yang lalu, lewat kenalan Bu Bambang yang pernah mengurus kantin di GOR kecamatan, Rendi mendapat pekerjaan pertamanya: melatih futsal anak-anak sekolah dasar tiga kali sepekan, honor tiga ratus lima puluh ribu sebulan. Ia pulang hari itu dengan baju penuh keringat dan wajah bersinar, memeluk Rani di dapur sampai kakinya terangkat.
"Bukan gaji besar, De. Tapi halal. Abang pegang sendiri."
Itu cukup. Rani menyuap nasi goreng bertelur pecah itu dan berkata bahwa rasanya enak. Itu bukan sepenuhnya bohong, sebab di sana ada niat.
Azan subuh menyusul tak lama kemudian. Mereka menggelar dua sajadah di ruang tamu yang masih berbau cat, Rendi di depan, Rani di belakang, dan suara Rendi ketika membaca surat pendek terdengar kaku tetapi sungguh-sungguh, seperti anak yang menghafal dengan bibir bergerak sendiri. Selesai salam, ia menoleh dan mengulurkan tangan. Rani menciumnya, dan untuk sesaat ia membiarkan dirinya merasa bahwa inilah yang dimaksud orang ketika bilang rumah tangga.
*****
Di Banjarmasin, ponsel kantor Bagas berdering saat ia sedang menggantung helm di paku belakang pintu. Nomor bosnya.
"Gas, penugasanmu di Balikpapan sudah rampung, kan?"
"Sudah, Pak. Laporan serah terima kemarin saya kirim."
"Bagus. Ada tugas. Proyek menara baru di dekat Palangkaraya, jalan ke arah Kasongan. Butuh pengawas yang tahu medan. Dua bulan, mulai pertengahan April. Kamu orang pertama yang saya ingat. Mau?"
Bagas berdiri kaku dengan helm masih tergenggam. Palangkaraya. Dua bulan. Kota yang jaraknya cuma empat jam dari sini tetapi sebulan terakhir ini rasanya sejauh bulan. Dadanya melompat dengan cara yang membuatnya malu pada dirinya sendiri.
'Di sana ada dia,' batinnya. 'Di salah satu gang dekat pasar, di rumah yang pagi dan malamnya ia habiskan bersama laki-laki itu. Dan aku, pengawas yang tiap sore lewat jalan itu dengan alasan proyek.'
"Pak?"
"Maaf, Pak." Ia menarik napas. "Saya tidak bisa. Kalau boleh, tolong tawarkan ke yang lain dulu."
"Alasannya?"
"Urusan keluarga."
Bosnya diam sebentar, lalu mendengus. "Yah. Sayang. Saya tawarkan ke yang lain dulu, kamu pikir-pikir lagi kalau berubah."
Telepon ditutup. Bagas menurunkan ponselnya dan melihat Kak Laila berdiri di pintu dapur dengan kain lap di bahu.
"Kamu tolak proyek Palangkaraya?"
"Kakak nguping."
"Rumah ini sempit, Gas. Ya nguping." Kak Laila menyandarkan bahu ke kusen. "Bagus lho itu. Ibu juga pasti senang kamu dapat lagi kerjaan dekat kampung orang."
"Bukan soal kerjaan, Kak." Bagas meletakkan helm di rak. "Aku tahu aku akan lewat jalan dekat rumahnya tiap hari. Aku tahu aku bakal cari-cari alasan. Aku tidak mau jadi alasan rumah tangga orang goyah."
Kak Laila menatap adiknya cukup lama. Ada sesuatu di matanya yang menyerupai bangga, bercampur iba.
"Kamu yakin itu bukan takut?"
"Itu juga," jawab Bagas jujur. "Dua-duanya."
Dari ruang tengah terdengar derit roda kursi dan suara Ibu bertanya, "Siapa yang telepon, Gas?" Bagas menjawab "Kantor, Bu," dan tidak menambahkan apa-apa. Ibu tidak menyahut, tetapi derit roda itu berhenti lama di depan pintu sebelum berbalik arah.
*****
Sore itu GOR kecamatan ramai oleh anak-anak berseragam kuning cerah yang berlari mengejar bola seperti anak ayam mengejar jagung. Rani berdiri di pagar pinggir lapangan, memegang tas belanja, dengan Iki berjingkrak di sampingnya dan ibu duduk di bangku semen di bawah tribun, mengipasi diri dengan selembar koran.
"Itu Abang Rendi, Kak! Itu! Yang pakai peluit!"
Rendi berdiri di tengah lapangan dalam kaus kuning dan celana pendek, peluit terjepit di giginya, tangannya terangkat menunjukkan cara menahan bola dengan sisi kaki. Seorang anak laki-laki gempal terpeleset, dan Rendi menunduk, mengangkatnya, mengibaskan debu dari lututnya, menyuruhnya mencoba lagi. Anak itu tertawa. Rendi pun tertawa. Rani tersenyum tanpa sadar. Seorang ibu murid di dekatnya, yang membawa termos dan kantong gorengan, menoleh dan berbisik ramah, "Pelatihnya sabar ya, Bu. Anak saya yang paling bandel nurut sama dia." Rani hampir berkata terima kasih seakan pujian itu miliknya.
'Yang ini nyata,' batinnya. 'Apa pun yang lain, ini nyata.'
"Jadi cuma melatih anak SD," komentar ibu dari belakang, tanpa nada. "Ibu kira atlet. Ibu kira ada kebun. Mobil sewaan kemarin itu buat apa?"
"Kebunnya milik paman, Bu. Rendi cuma bantu. Dia sendiri yang bilang."
"Hm." Ibu melipat koran. "Ibu sudah bilang ke tetangga sebelah, menantu ibu pemain bola nasional. Sekarang Ibu harus bilang apa?"
"Bilang yang benar, Bu."
Ibu menatap Rani tajam, tetapi Rani balas menatap tanpa mundur. Ada keberanian baru di dalamnya, entah dari mana datangnya. Ibu mengalihkan mata lebih dulu.
"Uang bulanan."
"Bu, Rendi baru dapat..."
"Bukan dari Rendi. Dari kamu."
Rani membuka tas belanja dan mengeluarkan amplop kecil yang sudah ia siapkan pagi itu, sebab ia tahu ibu akan menagih. Tiga ratus ribu. Dari tabungan, dari angka yang terus menyusut, dan lagi-lagi ia menolak melihat berapa sisanya.
Ibu menerimanya tanpa kata terima kasih, tanpa menghitung, menyelipkannya ke kutang dengan gerakan yang sudah seperti kebiasaan lama. Rani memalingkan wajah ke lapangan, tempat anak-anak kuning itu tertawa.
Itulah saat ia melihat seseorang di pagar seberang.
Seorang perempuan berdiri sendiri di sana, jauh dari kerumunan orang tua murid yang mengelompok di dekat tribun. Tingginya sedang, rambut lurus sebahu, blus krem yang rapi, dan tas kulit hitam yang kelihatan mahal, sekilas saja sudah kentara. Ia tidak memperhatikan anak-anak. Pandangannya menempel pada satu orang di tengah lapangan, dengan cara seseorang menatap sesuatu yang tidak lagi boleh ia sentuh.
Rani mengira ia ibu salah satu murid. Tetapi tidak ada anak yang dicarinya, dan ia tidak menunggu siapa pun yang berlari ke pelukannya.
Rendi menoleh ke arah tribun untuk melambai pada Iki, dan matanya melewati pagar seberang. Rani melihat tubuh suaminya menegang, hanya sedetik, seperti tali ditarik. Ketika ia melihat lagi ke pagar, perempuan itu sudah berbalik dan berjalan cepat menuju gerbang.
Rendi meniup peluit keras-keras, dan anak-anak berhamburan ke arah yang berlawanan.