"Perempuan di pagar tadi, Abang kenal?"
Rani bertanya sambil menumpuk piring di bak cuci, malam itu juga, sepulang dari GOR. Ia sengaja tidak menoleh. Di belakangnya Rendi sedang melepas kaus kuning yang basah keringat, dan gerakannya terhenti setengah detik, setengah detik saja, sebelum berlanjut.
"Pagar mana?"
"Seberang lapangan. Blus krem, tas hitam."
"Oh." Kaus itu dilempar ke keranjang cucian. "Orang tua murid, De. Yang ngamuk soal jadwal. Anaknya pindah kelas jam, dia minta diganti, Abang bilang itu urusan koordinator. Ada saja ibu-ibu begitu."
"Ibu-ibu."
"Kenapa? Cantik?"
"Aku nggak lihat jelas."
Rendi tertawa, memeluknya dari belakang, dan mencium rambutnya. Rani membiarkan. Ia membilas piring terakhir dan meletakkannya di rak. Ia menyimpan jawaban itu, bukan sebagai bukti, hanya sebagai sesuatu yang mesti ia ingat letaknya, seperti kunci cadangan.
*****
Lima hari kemudian, pukul tiga sore, toko olahraga itu lengang. Hujan ringan jatuh di luar kaca dan dua karyawan baru sedang melipat kaus tim di meja panjang. Rani duduk di belakang etalase sepatu, memeriksa nota masuk dengan pensil terselip di telinga.
"Mbak Rani." Arman berdiri di sebelah mejanya, suaranya direndahkan. "Ada tamu cari Mbak. Perempuan. Nggak mau masuk, nunggu di bangku depan. Katanya cuma sebentar."
"Namanya?"
"Nggak mau bilang. Tapi katanya Mbak kenal suaminya."
Pensil di telinga Rani jatuh ke lantai.
Ia berjalan melewati rak-rak, mendorong pintu kaca, dan keluar ke selasar. Bangku besi panjang di depan toko basah di salah satu sisi. Di sisi yang kering duduk seorang perempuan berblus krem, tas kulit hitam di pangkuan, kedua tangannya memegang tas itu seperti memegang perisai. Rambutnya lurus sebahu. Matanya sembab, lingkar bawahnya merah, dan meski begitu tegak punggungnya.
Rani langsung mengenalinya.
"Mbak yang di GOR."
"Dan kamu yang angkat telepon malam itu." Perempuan itu tersenyum tipis, tanpa humor. "Maaf. Itu saya."
Rani duduk di sisi lain bangku, memberi jarak sepanjang lengan. Rintik hujan menetes dari kanopi di depan mereka, jatuh satu-satu ke genangan.
"Nur?"
"Dia sebut nama saya?"
"Dia bilang Mbak sepupunya. Yang jaga Mama di Sampit."
Nur tertawa, pendek dan kering, dan tawa itu patah di tengah. Ia menunduk, mengusap sudut mata dengan ujung jari. "Sepupu. Kalau begitu saya sepupu yang sudah lima tahun jadi pacarnya. Sepupu yang pernah dia bawa ke depan ayah saya untuk dilamar."
Rani tidak bergerak.
"Saya tidak datang untuk bikin kamu menangis." Nur menatap ke jalan, bukan padanya. "Saya datang karena saya capek, dan karena kamu kelihatan baik, dan karena kamu baru menikah. Kalau saya diam, kamu jadi saya."
"Mbak Nur..."
"Dia tidak mau sama kamu. Maksud saya, awalnya." Suaranya tenang sekali, dan ketenangan itu lebih menakutkan daripada tangis. "September lalu, waktu dia seleksi atlet. Dia telepon saya mabuk tengah malam, ketawa, bilang ada cewek penjaga toko, polos, katanya perawan, gampang. Dia bilang mau cari tahu. Dia bilang, 'Abang cuma mau merasakan perawan sekali, lalu Abang pulang ke kamu, Nur'. Dia kira saya akan tertawa."
Hujan jatuh lebih deras. Rani merasakan hawa dingin menjalar naik dari tumit, tetapi ia tetap duduk, tetap menatap lurus, karena menatap hal lain berarti mengaku bahwa sesuatu sudah masuk ke dalam dirinya dan tidak akan keluar lagi.
"Dan sekarang?"
"Sekarang?" Nur mengangkat bahu. "Waktu dia ke Sampit akhir Maret, dia datang ke tempat saya, nangis, bilang menyesal. Katanya menikah karena terlanjur, ibu kamu menekan, ibunya sakit. Katanya kamu cuma kewajiban. Dia minta uang, saya kasih. Dia bilang dia cinta saya. Saya..." Ia menggigit bibir. "Saya masih berhubungan dengan dia, Dik. Saya tidak akan bohong. Saya juga bukan malaikat."
Seharusnya Rani berteriak. Atau menampar. Atau pergi tanpa berkata. Tetapi ia menemukan dirinya duduk dengan tenang, terlalu tenang, seperti orang yang sudah melewati titik di mana rasa sakit masih berbentuk teriakan. Pandangannya jatuh pada tas hitam di pangkuan Nur, kulitnya licin, ada huruf emas kecil di sudut. Tas yang jelas dibeli dari gaji sendiri.
"Obat yang Mbak ingatkan itu obat apa?"
Nur terdiam. Sesuatu melintas di wajahnya, bukan rasa kasihan, tetapi seperti orang yang hampir melangkah ke lubang dan menarik kakinya mundur. "Tanya dia sendiri. Itu bukan dari saya."
"Kenapa?"
"Karena kalau saya yang bilang, kamu akan percaya sama dia, bukan sama saya." Nur tersenyum getir. "Perempuan lain selalu dianggap pembohong. Saya belajar itu."
"Kenapa baru sekarang Mbak bilang?"
"Karena semalam dia telepon, bilang tidak akan menemui saya lagi. Katanya dia janji ke kamu. Dan saya tahu dia akan bilang begitu pada saya juga, sebulan lagi, kalau kamu sudah membuatnya merasa bersalah." Nur berdiri, merapikan blusnya. "Dia punya kalimat, Dik. Kalau ketahuan, dia akan menangis dan bilang: itu sebelum aku kenal kamu. Hafal saja. Saya sudah dengar lima kali."
Rani berdiri juga. Kakinya terasa asing, tetapi suaranya keluar rata.
"Terima kasih sudah jujur, Mbak. Sisanya urusan saya dengan suami saya."
Nur menatapnya sebentar, dengan mata yang tampak ingin bertanya sesuatu yang lain, lalu berjalan ke arah jalan raya tanpa payung. Punggungnya lurus sampai ia melewati tiang listrik.
Rani baru sadar ia sedang diperhatikan ketika mendongak untuk menghindari rintik. Di lantai dua, di balik kaca besar tempat ruang kerja itu, sosok laki-laki berdiri tak bergerak. Ia memegang gagang telepon di dekat telinga. Hampir bersamaan, ponsel Arman berdering di dalam toko, dan Rani melihat melalui kaca etalase Arman menjawab, lalu bergegas ke dua pelanggan yang hendak keluar membawa payung, memegang pintu dan mengalihkan mereka ke pintu samping. Tidak ada yang melewati bangku itu.
Rani tidak mengangkat tangan. Tidak melambai, tidak mengangguk. Ia hanya memalingkan wajah dan masuk lewat pintu kaca, karena bantuan itu tidak ia minta, dan ia tidak akan membalasnya dengan isyarat apa pun.
"Arman. Tolong tutup toko jam lima saja hari ini."
"Baik, Mbak."
"Dan kalau Rendi atau siapa pun telepon, saya sudah pulang."
Arman hanya menunduk, dan ia tidak bertanya apa pun lagi. Rani mengambil tas dan payungnya, lalu keluar lewat pintu belakang sebelum hujan menjadi deras.
Ia berjalan kaki, bukan naik angkot, melewati pasar yang lapaknya sudah ditutup terpal, melewati Mamang bakso yang menyapa dan tidak ia balas. Kalimat-kalimat Nur berputar di kepalanya tanpa urutan. Perawan. Gampang. Lalu pulang ke kamu, Nur. Ia mencoba membayangkan Rendi mengucapkannya, dengan suara yang sama yang ia dengar berbisik minta dipercaya, dan tak bisa. Itu yang paling menakutkan: ia tidak bisa membayangkannya, dan juga tidak bisa tidak.
Di ujung gang, sepatu kulit hitam Rendi sudah ada di teras, basah, ujungnya berlumpur. Lampu ruang makan menyala. Dari dalam terdengar suara bersiul, dan suara air mengalir ke dalam panci.
"De?" Rendi menjenguk dari dapur dengan celemek kebesaran dan senyum lebar. "Kamu pulang cepat! Abang masak sup ayam, tadi lapangan libur karena hujan. Masuk, masuk. Kita makan berdua."