Aroma terasi yang digoreng di dapur tetangga sebelah menyusup lewat dinding tipis kontrakan dan mengenai Rani seperti pukulan. Ia sedang menjemur handuk di belakang. Perutnya terbalik begitu saja, dan ia baru sampai kamar mandi dengan satu tangan menutup mulut ketika seluruh isi perutnya, nasi goreng sisa semalam dan segelas teh, keluar ke lubang kakus.
Ini hari kelima. Atau keenam. Pagi-pagi ia mual, siang ia pusing, dan sore tiba-tiba ia lapar setengah mati tetapi tidak sanggup menelan apa pun yang berbau santan. Ia menyalahkan masuk angin, menyalahkan hujan, menyalahkan sup ayam Rendi yang kebanyakan merica. Tas olahraga itu sudah ia dorong ke sudut lemari sejak malam berbau itu, dan ia memilih diam; pertanyaannya ikut tersimpan di sana bersama semua hal yang belum sanggup ia hitung. Namun hitungan di kepalanya diam-diam berjalan tanpa diminta, dan sudah lewat sepuluh hari dari tanggal yang semestinya.
Rani menyiram air dan berkumur lama-lama. Di wastafel kecil, di sebelah sabun cuci, ada bungkus plastik putih dari apotek yang ia beli kemarin sepulang kerja, sambil menunduk dalam-dalam dan berkata pada penjaga bahwa ini untuk temannya.
Ia membaca petunjuk di bungkusnya sampai tiga kali. Lalu ia melakukan yang diminta, dan ia menaruh benda tipis itu di pinggir bak dan duduk di atas ember terbalik, menatap jam dinding dari plastik yang tergantung miring di pintu. Satu menit tidak pernah selama itu. Di luar, burung perkutut tetangga berbunyi dua kali, mengulang-ulang nadanya.
Ia menoleh.
Dua garis. Merah, tegas, tidak ragu sedikit pun, seperti dua jari yang menunjuk lurus kepadanya.
Rani tidak berteriak. Ia tidak menangis dulu. Ia hanya mengangkat benda itu dan menatapnya dengan kepala miring, seperti menatap soal ujian yang tidak ia kenali, kemudian mengusap perutnya dengan telapak tangan, perut yang masih rata, yang tidak bercerita apa-apa. Lalu air matanya jatuh, bukan satu-satu, melainkan sekaligus, dan ia membekap mulut dengan handuk supaya tidak terdengar sampai ke ruang tengah.
Bukan sedih. Bukan juga bahagia, tidak sepenuhnya. Seluruh perasaan yang selama ini berserakan, ketakutan di meja makan, bau plastik hangus, suara perempuan yang berbisik di telepon, tiba-tiba terhimpun dalam satu titik yang bernama anak. Ada seseorang yang akan memanggilnya ibu. Ada seseorang yang akan menunggu dibukakan pintu. Dan apa pun yang ia putuskan selanjutnya tentang Rendi, kamar mandi ini, rumah ini, ia tidak akan pernah lagi memutuskan sendirian.
"De? Kamu muntah lagi?" Ketukan di pintu. "Abang dengar dari dapur. Kamu sakit? Mau Abang panggil bidan?"
Rani menyeka wajah dengan punggung tangan, menatap benda di tangannya sekali lagi, dan membuka kunci.
*****
Rendi berdiri di ambang dengan sendok sayur masih di tangan. Matanya jatuh ke tangan Rani. Ia diam, membaca, lalu mendongak, dan wajahnya berubah dengan begitu cepat seakan ada yang menyalakan lampu dari dalam.
"De. Ini..."
"Dua garis, Bang."
"Alhamdulillah!" Sendok sayur jatuh berdenting. Rendi mengangkat Rani dari lantai, memutarnya setengah lingkaran dengan lengan di bawah lutut, dan tertawa seperti anak kecil yang baru dijanjikan layang-layang. "Anak Abang! Kita punya anak! Ya Allah, De!"
"Turunin, Bang. Pusing."
"Maaf, maaf." Ia menurunkannya hati-hati dan menempelkan telapak ke perut Rani, menunduk, dan berbisik ke arah perut itu dengan suara bergetar. "Halo, Nak. Ini Ayah. Kamu sehat, ya? Ayah janji..."
Wajahnya kemudian membeku di tengah kalimat.
Rani melihat itu terjadi, pelan, jelas, seperti menyaksikan awan menutup matahari di tengah lapangan. Senyum Rendi tetap di tempatnya, tetapi matanya bergerak ke kiri, ke langit-langit, ke lemari, menghitung sesuatu.
"Bidan itu mahal ya, De," ucapnya. "Periksa tiap bulan. Belum nanti lahirannya. Kalau di rumah sakit bisa lima juta, katanya. Atau lebih."
"Bang."
"Susu. Pakaian bayi. Tempat tidur. Imunisasi." Ia mengusap tengkuk. "Uangnya dari mana ya, De?"
Itu pertanyaan pertama yang diajukan Rendi sesudah mengetahui ia akan menjadi ayah. Bukan "kamu sehat?", bukan "mau makan apa?". Rani mendengarnya dan membiarkannya mengendap di dasar kepalanya, sedingin batu di dasar sumur.
"Aku masih punya tabungan, Bang."
"Tabungan kamu itu kan..." Rendi berhenti, mengatupkan bibir. "Maaf. Bukan itu maksud Abang."
"Terus maksud Abang apa?"
"Maksud Abang..." Ia memeluknya, terlalu cepat. "Abang cuma panik, De. Abang akan kerja lebih. Dua kali lipat. Abang cari tambahan melatih di sekolah lain. Abang janji, kamu nggak perlu keluar uang sepeser pun untuk anak kita."
"Janji?"
"Janji, demi anak ini."
*****
Siang itu mereka bertiga duduk di ruang tamu rumah lama. Iki di lantai dengan buku gambar, ibu di kursi rotan dengan teh yang sudah dingin, Rendi di sebelah Rani dengan tangan melingkar bahunya, dan senyum cerah yang sepenuhnya sudah kembali.
"Bu," kata Rani. "Aku mau bilang sesuatu."
Ibu menatap wajahnya yang pucat, perutnya, lalu wajahnya lagi, dan sebelum Rani sempat menyelesaikan kalimat, bibir ibu sudah bergetar.
"Kamu sering muntah pagi-pagi, kan? Ibu lihat dari kemarin kamu pucat. Jangan bilang... hamil?"
"Insya Allah, Bu."
"Cucu ibu!" Ibu bangkit dari kursi dengan kecepatan yang tidak terduga untuk perempuan yang tensinya sering tinggi, merangkul Rani, dan tertawa, tawa pecah yang sudah bertahun-tahun tak pernah terdengar di rumah itu. Iki meloncat berdiri sambil berseru, "Iki jadi om! Iki jadi om! Kak, nanti Iki yang ajari dia nendang bola, ya? Ya, Bang Rendi?"
"Wah, Abang kalah saing nih," kelakar Rendi.
Ibu menyeka matanya dengan ujung kerudung. "Alhamdulillah. Ya Allah, ibu pikir ibu tidak akan melihat cucu. Kapan lahirnya? Desember? Nanti ibu minta Bu Hajjah beli kain, ibu bikinkan selimut, ibu..."
Rani membiarkan dirinya dipeluk. Bau minyak rambut ibu, bau dapur, bau kerudung yang dijemur. Ia hampir lupa seperti apa rasanya.
Namun ibu belum selesai. Ketika Iki berlari ke dapur mengabari bibi tetangga, ibu mencondongkan tubuh dan merendahkan suara, matanya yang tadi basah sudah mulai bekerja.
"Biaya bidannya berapa, Ran? Rendi sudah punya kerjaan, kan, walau cuma di GOR itu? Nanti Hajjah itu pasti bantu, mereka punya toko berlian. Dan uang bulanan ibu, kalau kamu berhenti kerja nanti waktu hamil besar, bagaimana?"
"Bu, baru juga dua garis."
"Justru itu, harus direncanakan dari sekarang." Ibu menepuk lututnya. "Jangan lupa ibu, Ran."
Kalimat yang sama, tiga kata yang sama, yang di malam inai dulu terdengar seperti sentuhan, kini terdengar seperti catatan di akhir nota. Rani memandang ibunya, yang jemarinya bergerak pelan di atas lutut, menghitung, dan ia tersenyum karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan wajahnya.
*****
Malam datang bersama hujan tipis. Rendi tidur lebih awal dengan satu lengan bertumpu di dahi, napasnya berat. Rani duduk di tepi tikar ruang tamu dengan ponsel di pangkuan dan menekan tombol kontak sampai nama itu muncul di layar. Maya.
Pesan terakhir dari Maya masih ada di kotak masuk, sudah lebih dari dua minggu. [Ran, aku salah cara ngomongnya. Tapi aku nggak salah soal sayangnya]. Rani belum membalas. Ia tidak tahu harus bagaimana, sebab membalas berarti mengaku, dan mengaku berarti mengatakan siapa yang benar.
Ia membuka kotak pesan baru dan mengetik satu kalimat.
[May, aku hamil]
Jempolnya berhenti di atas tombol kirim. Kalau ia kirim, Maya akan datang malam ini juga, sebelum selesai membaca; ia akan memeluk, menangis, bertanya, dan di antara pertanyaan itu akan ada satu yang tak bisa Rani jawab: Rendi gimana? Dan Rani tidak punya satu jawaban pun yang tidak berisi kebohongan, atau pengakuan bahwa Maya benar.
Ia menekan tombol hapus. Satu huruf, satu huruf, dari belakang ke depan, sampai layar kembali kosong.