Di balik meja kasir, kotak pesan untuk Maya di ponsel Rani masih kosong, kalimat yang tak jadi dikirim sejak semalam. Layarnya sudah dua kali padam sendiri, dan perut Rani, yang pagi ini lumayan tenang, mulai bergolak lagi karena bau cat dari rak sepatu yang baru dipajang.
"Mbak Rani pucat lagi," kata Arman dari tangga kecil, sambil menata kotak sepatu lari. "Mau saya belikan teh jahe?"
"Nggak usah, Man. Terima kasih."
"Itu ada mobil hitam parkir di seberang dari tadi. Nggak turun-turun."
Rani mengangkat kepala. Mobil itu memang ada di seberang jalan, di bawah pohon ketapang, kaca depannya gelap oleh pantulan langit. Belum sempat ia memikirkan apa pun, pintu belakang mobil itu terbuka. Seorang perempuan berjilbab krem turun lebih dulu, membuka bagasi, lalu menarik keluar sebuah kursi roda yang dilipat. Perempuan kedua, berseragam putih, membantu seorang ibu yang rambutnya sudah beruban di pelipis duduk di atasnya.
Rani berdiri. Kursi di belakangnya terdorong dan menabrak rak.
Kak Laila mendorong kursi roda menyeberang. Pintu kaca toko berbunyi tring seperti biasa, tetapi kali ini bunyi itu terdengar seperti lonceng yang dipukul di dalam dadanya.
*****
Di dalam mobil, Bagas menggenggam kemudi dengan dua tangan, padahal mesin sudah mati sejak setengah jam lalu.
Ia sudah kalah berdebat sejak subuh tadi di Banjarmasin. "Ibu tidak akan bilang apa-apa yang bikin rumah tangga orang goyah," kata Ibu waktu itu, duduk tegak dengan mukena belum dilepas. "Ibu cuma mau lihat dia dengan mata Ibu sendiri. Sekali ini. Kalau kamu tidak mau mengantar, Ibu minta Laila carikan sopir."
Maka ia mengantar, dengan satu syarat yang ia ucapkan tiga kali di sepanjang jalan: Bagas menunggu di mobil. Tidak turun. Tidak melihat ke dalam toko. Pertanyaan Kak Laila pada malam setelah akad, apakah ia akan pura-pura tidak tahu kalau Rani tidak bahagia, belum pernah ia jawab dengan kata-kata. Jawabannya ada pada syarat itu: ia tidak akan mengganggu, tetapi ia juga tidak akan berbohong bahwa ia tidak peduli.
Kalimat terakhir itu gagal. Lewat kaca depan, di antara pantulan daun ketapang, ia melihat pintu toko terbuka dan kursi roda Ibu didorong masuk, dan ia melihat seorang perempuan berkerudung berdiri kaku di balik meja. Tidak jelas wajahnya dari jarak itu. Namun cara berdirinya sama dengan di pelaminan, tegak karena menahan sesuatu.
Bagas menelan ludah, memutar badan menghadap jendela samping, dan membaca doa pendek sampai habis. Lalu doa kedua. Lalu ayat yang diajarkan ayahnya dulu untuk menenangkan hati. Dari spion tengah ia melihat seorang tukang becak berhenti dan melongok ke arah toko, dan ia mengalihkan pandang sebelum matanya menangkap apa pun yang bisa ia bawa pulang sebagai ingatan.
Ponselnya bergetar di dasbor. Adi. Ia menolak panggilan itu.
*****
"Assalamualaikum, Nak."
Suara itu. Rani sudah pernah mendengarnya di pantai, di sebuah pagi yang bau garam, dan sudah mendengarnya pula di mimpi yang ia ceritakan kepada Maya di toko kain. Ia keluar dari balik meja tanpa sadar bahwa kakinya bergerak, berlutut di lantai ubin di depan kursi roda itu, dan kata yang keluar dari mulutnya bukan salam.
"Ibu."
Tangannya sudah ada dalam genggaman kedua tangan Ibu, hangat, kering, sedikit gemetar. Rani menunduk ke pangkuan perempuan itu, dan tangisnya pecah seperti air yang ditahan terlalu lama di balik pintu kamar mandi. Arman mundur diam-diam ke gudang. Karyawan perempuan baru mematung dengan sapu di tangan.
"Sudah, sudah. Jangan menangis, nanti matamu bengkak." Ibu mengelus punggung Rani dengan telapak yang hangat. "Laila, walker."
"Bu, jangan dulu."
"Walker, Laila."
Perawat berseragam putih sudah lebih dulu membuka walker lipat dan memasangnya di depan kursi. Ibu meletakkan dua telapak di pegangan, mengatur napas, lalu berdiri. Lututnya bergetar dan Kak Laila setengah mengangkat tangan, tetapi Ibu menggeleng kecil.
"Lihat Ibu, Nak."
Rani mendongak dengan wajah basah. Ibu melangkah. Satu, dua. Walker bergeser, berderak pelan di atas ubin. Tiga, empat, lima. Napasnya pendek dan keningnya berkilat. Kak Laila menghitung tanpa suara dengan bibir yang bergerak. Sepuluh. Sebelas. Seseorang di luar toko, tukang parkir mungkin, ikut berhenti di depan kaca.
Lima belas langkah, dan Ibu tiba di depan Rani yang masih berlutut. Ia merendahkan tubuh sebisanya, lalu menangkup wajah Rani.
"Doa kamu dijawab," ucapnya parau. "Kamu minta, dan Tuhan kasih. Ibu berdiri."
Rani tidak sanggup menjawab. Ia hanya menggenggam pergelangan Ibu yang kurus dan menempelkannya ke keningnya sendiri.
"Dokter bilang paling cepat tahun depan," kata Ibu ketika perawat membantunya duduk lagi, seakan sedang membicarakan cuaca. "Ibu bilang, dokter itu belum kenal doa gadis pantai. Tiap pagi Ibu latihan di teras sambil menyebut-nyebut kamu. Laila sampai hafal. Ya, kan, La?"
"Hafal, Bu," sahut Kak Laila datar, tetapi sudut bibirnya naik. "Kadang Laila yang disuruh membuka pintu supaya Ibu bisa membayangkan ada yang memberi semangat."
Rani tertawa di sela sisa tangisnya, dan tawa itu terasa asing di tenggorokannya, seperti baju lama yang masih muat.
"Jadi di sini kamu berdiri tiap hari?" Ibu memutar kepala, memandang rak sepatu, dinding kaca, tangga ke lantai dua yang gelap. "Besar juga tokonya. Kamu tidak capek?"
"Sudah biasa, Ibu."
"Orang yang bilang sudah biasa itu biasanya sedang capek."
Beberapa saat kemudian, setelah Ibu duduk lagi dan perawat menyodorkan segelas air, Ibu menatapnya lama. Rani merasakan tatapan itu menelusuri pelipisnya, lingkar matanya, bibirnya yang kehilangan warna.
"Kamu lelah sekali, Nak. Lebih kurus dari di pantai."
"Alhamdulillah, Ibu. Saya baik-baik saja." Suaranya masih serak. Ia menarik napas. "Ibu, saya sudah menikah."
"Ibu tahu." Jemari Ibu mengusap pipinya, tepat di bekas lesung yang jarang muncul sekarang. "Bagas sudah cerita. Dia pulang dengan muka yang bikin Ibu menangis tiga hari."
Rani menggigit bibir. Di belakang Ibu, Kak Laila menunduk menatap lantai. Ia tidak bertanya kenapa, dan Rani bersyukur untuk itu.
"Suamimu baik, Nak?"
Pertanyaan itu dilempar ringan, seperti bola kecil. Rani menangkapnya dengan dua tangan dan merasakan beratnya.
"Baik, Ibu. Dia melatih anak-anak main futsal di GOR. Anak-anak suka sama dia."
"Itu bagus. Anak kecil jarang salah menilai orang." Ibu mengangguk pelan, dan matanya tidak berpindah dari wajah Rani, dari bibir yang menahan sesuatu di sudutnya. "Kalau kamu bilang baik, Ibu percaya. Ibu cuma mau kamu tahu: Ibu bisa lihat kalau orang bilang baik padahal sedang menahan."
Rani menunduk menatap cincin kawin di jari manisnya dan memutarnya setengah putaran. Ia tidak menjawab, dan Ibu tidak mendesak.
"Ibu datang bukan untuk mengganggu," lanjut Ibu. "Ibu cuma ingin kamu tahu kamu tidak sendirian. Di dunia ini ada seorang tua yang bisa berjalan lima belas langkah karena kamu, dan dia akan selalu menjawab kalau kamu memanggil." Ia merogoh tas di pangkuannya. "Mana hapemu?"
Rani menyerahkan ponselnya. Ibu menyodorkannya kepada Kak Laila, dan nomor Rani berpindah ke daftar kontak dengan dua tombol saja.
"Jumat. Ibu telepon tiap Jumat sore, ya. Kalau Ibu tidak terdengar, berarti Ibu sedang di rumah sakit." Ia tertawa kecil, lalu terdiam melihat Rani tidak ikut tertawa. "Ibu serius, Nak. Angkat sendiri."
"Iya, Ibu."
Kak Laila menyerahkan kantong kertas berisi kue bingka dan sebuah amplop putih yang disematkan di bawah tali kantong. "Dari Ibu, jangan ditolak," bisiknya. "Ibu sudah menyiapkan dari subuh."
Mereka pergi dengan pelan. Perawat mendorong kursi roda ke pintu, dan sebelum ikut keluar Rani berdiri di ambang pintu kaca, tidak berani menatap seberang jalan. Di bawah pohon ketapang, mobil hitam itu berdiri diam. Rani menundukkan kepala dalam-dalam, lama, seperti orang yang memberi salam kepada seseorang di balik kaca yang tidak boleh dilihatnya.
Dari pintu mobil yang terbuka, Ibu melambai kepadanya, dan suara Ibu terdengar jelas sampai ke seberang jalan.
"Angkat teleponnya sendiri, ya, Nak! Jangan suruh orang lain!"