Rendi sudah menunggu di teras ketika Rani turun dari angkot di mulut gang. Ia duduk di undakan dengan siku di lutut, masih memakai kaus latihan yang basah di bagian punggung, dan tidak berdiri menyambut seperti biasanya. Ia hanya memperhatikan kantong kertas di tangan Rani.
"Pulang telat, De."
"Tokonya ramai tadi sore, Bang." Rani membuka sandal. Tangannya sedikit gemetar, tetapi bukan karena takut. Ia masih membawa pulang bau kayu putih dari baju Ibu. "Ini kue bingka. Mau?"
"Tadi Abang jemput ke toko. Karyawan barumu bilang ada tamu, ibu-ibu pakai kursi roda, bawa perawat." Rendi berdiri pelan. "Terus kata Arman, kamu nangis di lantai."
Rani meletakkan kantong di atas meja kecil dekat pintu. Ia bisa saja berbohong. Mengarang teman lama dari kota lain, saudara jauh, pelanggan tua yang kasihan melihat wajahnya pucat. Kebohongan yang bagus, yang akan ditelan Rendi dengan senyum. Tetapi ia teringat aturannya sendiri dua minggu lalu, di ruang makan yang sama: satu kebohongan, lalu ia pulang. Dan ia tidak mau jadi orang yang mengatur aturan untuk suaminya sambil melanggarnya sendiri.
"Itu Ibu Mas Bagas, Bang. Yang di resepsi."
Wajah Rendi tidak berubah. Itu yang membuat Rani lebih waspada daripada kalau ia membentak.
"Yang laki-laki berjas abu-abu itu."
"Ibunya. Waktu itu aku pernah ketemu beliau di pantai, sebelum aku kenal Abang. Beliau menyayangi aku. Itu saja."
"Dia bilang apa soal Abang?"
"Beliau cuma tanya apakah suamiku baik."
"Dan kamu jawab?"
"Baik." Rani menatap matanya. "Itu yang aku jawab."
"Menyayangi." Rendi tertawa tanpa suara, mengambil kantong kertas itu dan mengeluarkan isinya satu per satu, kotak bingka, sebuah botol minyak kayu putih, dan akhirnya amplop putih yang tadi disematkan Kak Laila. Ia menimbangnya di telapak tangan. Tebal. "Ibu-ibu orang kaya datang jauh-jauh dari Banjarmasin ke toko istri orang, bawa amplop. Untuk apa kalau bukan ada maunya?"
"Itu dari Ibu untuk saya."
"Bagus. Sini, Abang simpan. Tabungan kita lagi tipis, De, kamu tahu sendiri."
Ia sudah membuka tutup amplop, dan Rani melihat tepi lembaran merah muda di dalamnya. Rendi menghitung dengan ibu jari.
"Tidak."
Satu kata itu keluar lebih datar daripada yang ia rencanakan. Rendi mengangkat kepala.
"Apa?"
"Tidak, Bang. Itu dari Ibu untuk saya." Rani mengulurkan tangan. "Kembalikan."
Cengkeraman itu datang bukan dengan bentakan. Jemari Rendi menutup di pergelangan tangan kirinya, rapat, keras, seperti penjepit, dan Rani merasakan tulangnya bergeser di bawah tekanan itu. Senyum Rendi masih ada, tinggal di wajah seperti topeng yang lupa dilepas, tetapi matanya sudah lain. Dingin, dan sangat dekat.
"Kamu mau melawan Abang gara-gara perempuan itu?" bisiknya.
"Sakit, Bang."
"Abang tanya."
"Kak Rani! Bang Rendi!"
Pagar berderit. Iki berlari masuk dengan bola futsal terkepit di ketiak dan sandal tertukar kiri-kanan, wajahnya merah karena berlari dari rumah. "Iki dikasih izin ibu main di sini sampai maghrib! Bang Rendi, katanya mau ajari tahan bola pakai dada!"
Cengkeraman itu lepas. Rendi menarik tangannya begitu cepat seperti menyentuh panci panas, dan amplop jatuh ke ubin. Rani memungutnya sebelum ia sendiri sadar.
"Wah, jagoan Abang datang." Suara Rendi sudah hangat lagi, riang, nyaris sempurna. Ia mengacak rambut Iki. "Ayo ke halaman belakang. Sepatu dulu dilepas, Ki, biar nggak kotor."
"Kak Rani kenapa?"
"Nggak apa-apa, Dik." Rani menyelipkan amplop ke dasar tasnya dan menarik lengan bajunya sampai menutupi pergelangan. "Kakak pusing sedikit. Main yang rapi, ya."
"Pusing gara-gara adik bayi ya?" Iki menyeringai lebar. "Ibu bilang Kakak muntah-muntah. Iki nggak bilang siapa-siapa kok. Iki cuma bilang ke tetangga sebelah, hihihi."
"Iki!"
"Ampun!" Anak itu melesat ke halaman belakang, dan Rani mendengar Rendi tertawa lantang menyambutnya, seolah tidak ada satu pun yang pernah terjadi di teras.
*****
Mereka main sampai langit di atas atap seng berubah jingga. Dari jendela dapur Rani mendengar tawa Iki dan suara Rendi menghitung, "Tahan, tahan, nah, begitu, pintar!", seperti ayah yang sabar, dan ia berdiri lama dengan tangan di bawah keran, membiarkan air dingin mengalir di pergelangan yang berdenyut. Ada empat garis kemerahan di sana, bentuk jari, belum biru.
Setelah Iki pulang diantar sampai ujung gang, Rendi masuk dengan wajah yang tidak berani menatap. Ia duduk di sebelahnya di tikar, dan untuk beberapa lama hanya terdengar jam dinding.
"Maaf, De."
Rani tidak menjawab.
"Abang kaget. Abang takut, De. Waktu dengar ada orang dari pihak laki-laki itu datang ke tokomu. Abang cemburu. Abang bodoh." Ia mengulurkan tangan hendak meraih pergelangan itu, tetapi Rani menariknya ke pangkuan, dan tangan Rendi menggantung di udara. "Abang janji nggak akan begitu lagi."
"Kata Abang tadi, tabungan tipis."
"Iya, tapi bukan..."
"Uang ini punyaku, Bang. Dari Ibu. Aku pakai untuk periksa kandungan." Rani menatap lurus. "Kalau Abang butuh, Abang bilang. Jangan ambil."
Rendi mengangguk cepat, terlalu cepat. "Iya. Iya, De. Abang salah."
Ia tidak berkata apa-apa lagi, dan Rani membiarkan hening itu. Belum pernah ia menolak dengan satu kata sejelas tadi, dan belum pernah pula ia melihat apa yang ada di balik wajah manis itu, bahkan ketika Nur membuka kartunya. Tetapi ia tidak berkata apa-apa. Ia mencatat saja, seperti mencatat angka di buku utang.
*****
Rendi tertidur lebih awal, wajahnya menghadap dinding. Rani mengendap ke teras belakang, duduk di bangku kayu di bawah jemuran yang masih basah, dan menyalakan ponsel. Sebelum menelepon, ia mengeluarkan amplop dari dasar tas dan membukanya di bawah lampu teras. Isinya satu juta rupiah dalam lembaran merah muda yang masih kaku, dan secarik kertas bergaris dengan tulisan tangan yang miring dan besar-besar, jelas ditulis Ibu sendiri sambil bersandar. Untuk jajan Rani. Bukan untuk siapa-siapa.
Rani membaca kalimat terakhir itu dua kali, lalu melipat kertasnya dan menyelipkannya ke dalam Quran kecil di saku mukena yang tergantung di jemuran. Kontak baru itu ada di bagian paling atas, hanya satu kata. Ibu.
Ia belum sempat berpikir ketika jarinya sudah menekan tombol.
"Assalamualaikum? Nak? Kok malam-malam? Ada apa? Kamu sehat?"
Suara itu langsung terdengar, tanpa jeda, seperti sudah menunggu di dekat telepon sejak mobil mereka sampai di Banjarmasin. Rani menggigit bibir dan menatap bayangan bintang di genangan air hujan di ember.
"Waalaikum salam, Ibu. Ibu sudah sampai rumah?"
"Sudah dari tadi. Laila bikinkan teh. Bagas langsung ke kamar, tidak mau makan." Ibu berhenti sebentar. "Kenapa menelepon, Nak? Bukan hari Jumat."
"Ibu." Rani memejamkan mata. Ada yang ingin ia katakan sejak tadi siang, dan ia sendiri baru mengerti sekarang bahwa kalimat itu sudah tersimpan di dadanya sepanjang pertemuan, menunggu pintu. "Saya mau Ibu tahu lebih dulu. Saya hamil."
Selama beberapa detik tidak ada suara. Lalu terdengar napas yang tersedak, lalu tangis, tangis yang meluap tanpa ditahan, yang membuat Rani menjauhkan ponsel dari telinga sambil tertawa-tertawa kecil sendiri.
"Ya Allah. Ya Allah, Nak! Laila! Laila, sini, dengar! Rani hamil!" Suara Ibu pecah di tengah-tengah. "Berapa bulan? Sudah ke dokter? Jangan angkat yang berat-berat ya, jangan naik tangga, jangan minum es! Ibu bikinkan selimut! Ibu rajut sendiri!"
"Ibu, baru tujuh minggu."
"Tidak apa-apa! Ibu mulai malam ini!"
Rani menutup panggilan setelah hampir dua puluh menit. Ia masih tersenyum ketika menurunkan ponsel, dan baru kemudian, dalam cahaya layar yang meredup, ia melihat pergelangan kirinya. Empat garis tadi sudah menjadi biru tua.
Besok ia akan memakai blus lengan panjang ke toko, walau cuaca panas.