Bau itu sudah tidak bisa ditahan lagi.
Sejak malam ia melihat tas olahraga hijau lumut itu tersandar di sudut kamar, Rani belajar bernapas lewat mulut setiap kali melewatinya. Hampir tiga pekan. Bau plastik hangus yang manis dan pahit, menempel di kain gorden, di bantal, di rambutnya sendiri. Pagi ini Rendi sudah berangkat ke GOR dengan siulan di bibir, dan Rani, yang baru muntah dua kali di kakus, berdiri di depan tas itu sambil memegang perut.
'Aku tidak mengintai,' batinnya. 'Aku cuma mencuci. Orang mencuci tas yang bau. Itu bukan mencurigai.'
Ia tahu itu alasan yang dibuat-buat. Ia tetap membawanya ke ember di halaman belakang.
Resletingnya macet di tengah, lalu terbuka dengan bunyi yang terlalu keras. Sepatu futsal yang masih lembap. Dua kaus kotor. Handuk kecil bernoda abu-abu. Rani mengeluarkannya satu per satu dengan jepit jemuran, menahan napas, hingga tangannya menyentuh kantong bagian dalam yang bersekat kain, tempat orang biasanya menyimpan kunci atau dompet.
Ia menariknya terbuka.
Sebuah bungkus plastik kecil bening, dilipat rapat, berisi butiran putih seperti garam kasar yang berkilau. Di sebelahnya sebuah korek gas dan benda dari kaca sebesar jari, ujungnya menghitam, yang tidak pernah ia lihat langsung seumur hidup tetapi langsung ia kenali dari berita di televisi.
Rani berjongkok sampai lututnya menyentuh tanah. Tangannya terulur ke arah benda itu dan berhenti dua jari darinya.
Tangan yang gemetar. Telepon yang dijawab sambil menjauh. Ponsel kecil yang kedua. "Dulu waktu SMA, ikut-ikutan. Sudah belasan tahun berhenti." Jawaban yang selalu masuk akal. Ia menyusun semuanya, dan semuanya cocok seperti puzzle yang gambarnya sudah ia lihat sejak awal, tetapi ia menolak mengakui.
Ia membungkus benda-benda itu dengan koran lama, memakai dua lapis plastik cucian, dan meletakkannya di meja makan. Lalu ia duduk di kursi, menatapnya, dan menunggu.
Jam dinding berdetak. Di luar, tetangga menyiram tanaman sambil bersenandung. Ponselnya bergetar dua kali, pesan Ibu, [Sudah makan, Nak? Jangan lupa makan buah], dan ia tidak sanggup membalasnya. Ia mengusap perut yang masih rata itu dengan telapak dingin dan berkata dalam hati, kepada seseorang yang belum bisa mendengar, bahwa ia akan berusaha tidak menangis di depan Bapaknya.
Lalu ia sadar kalimat itu terlalu cepat menyebut Rendi "bapak", dan ia merasa mual lagi.
*****
Rendi pulang sebelum magrib dengan kantong plastik berisi rambutan. Ia baru membuka mulut untuk menyapa ketika matanya jatuh ke meja.
Ia berhenti di ambang pintu. Rani melihat darah turun dari wajahnya dalam hitungan detik.
"Dari mana dapat itu?"
"Dari tas Abang. Aku cuma mau cuci tasnya. Baunya sampai ke gorden."
"Bau apa? Itu bau sepatu!"
"Aku sudah bilang jangan dibuka!" Suaranya naik setinggi atap. "Itu bukan punyaku! Itu punya teman, dititip, mau Abang buang, Abang lupa..."
"Bang. Sudah belasan tahun berhenti, kata Abang. Waktu SMA, ikut-ikutan, kata Abang."
"Memang! Itu sisa lama, itu..."
"Plastiknya belum kering, Bang. Korek gasnya masih ada isinya."
"Jangan sok pintar!"
"Kamu pikir kamu siapa membuka-buka barang suamimu?" Gelas di meja disambarnya dan dibantingnya ke lantai. Pecahan terpental sampai ke kaki Rani. "Aku sudah menurut semua mau kamu! Aku kerja, aku shalat, aku turuti aturan kamu yang satu kebohongan itu! Kamu mau apa lagi?"
Rani berdiri. "Jujur."
Rendi menerjang ke arahnya. Jemari itu menutup di lengan atas Rani, meremasnya, dan punggungnya dihantam ke dinding sampai kepala Rani terbentur pelan dan dunia sesaat berkunang. Refleksnya bekerja tanpa pikiran: kedua lengan melingkar di perut, tubuh membungkuk, punggung menjadi tameng bagi sesuatu yang belum sebesar kelingking.
Hening.
Ketika ia berani membuka mata, Rendi masih di depannya, napasnya memburu, tangan terangkat setengah. Wajahnya tidak seperti wajah Rendi mana pun yang pernah ia kenal; seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk dan belum tahu di mana ia berada. Kemudian wajah itu runtuh, lututnya menyentuh pecahan gelas tanpa ia rasakan, dan ia menangis dengan kepala di lantai.
"Maaf. Ya Allah, maaf. De. Anak kita. Abang nggak sengaja. Abang nggak tahu kenapa..."
Rani menatap punggung yang berguncang itu. Ia sama sekali tidak merasa kasihan, dan itu mengejutkannya. Yang ia rasakan jernih saja.
Ia melangkahi pecahan gelas dan masuk ke kamar. Koper kecil di kolong ranjang ditariknya keluar, kali ini bukan untuk menggertak. Tiga potong baju, mukena, buku biru bersampul lusuh, amplop dari Ibu. Bungkusan koran di meja ia masukkan ke kantong plastik hitam dan ikut dibawa, karena Hajjah harus melihatnya dengan mata sendiri.
"De, jangan pergi." Rendi merangkak di ambang pintu kamar dengan telapak berdarah kecil. "Abang mohon. Abang bisa berhenti. Abang bisa..."
"Aku tidak pergi dari Abang." Rani menutup resleting. "Aku pergi dari tangan itu."
*****
"Mas Danu," katanya di ujung gang, dengan ponsel di telinga, tas ransel yang diisi sembarang, dan jilbab terpasang miring. "Maaf mengganggu. Bisa jemput saya sekarang?"
Danu menjawab hanya dengan satu pertanyaan, "Di mana?", dan dua puluh menit kemudian mobil kantor sawit itu berhenti di ujung gang dengan lampu menyala. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia mengambil ransel dari tangan Rani dan membukakan pintu depan, dan baru ketika mobil melaju, ia berkata pelan, "Maya sudah menunggu di rumah. Dia belum tahu apa-apa, tapi dia bilang kalau Dek Rani telepon lewat jam tujuh, berarti bukan urusan kecil."
Rumah Maya terang semua lampunya. Sahabatnya itu berdiri di teras dengan daster dan rambut digelung asal. Ketika Rani turun, Maya membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu yang sudah ia siapkan berminggu-minggu, tetapi matanya jatuh pada lengan baju Rani yang tersingkap, pada jejak merah di sana, dan ia menutup mulutnya kembali.
"Aku hamil, May," ujar Rani. Itu kalimat pertama yang ia ucapkan padanya sejak pertengkaran di pantry. "Hampir delapan minggu. Dan tadi..."
Maya menariknya masuk tanpa kata dan menutup pintu. Di dalam, ia mengambil es batu dari kulkas, membungkusnya dengan handuk, dan menempelkannya di lengan Rani dengan gerakan yang kasar dan sangat hati-hati sekaligus.
"Siapa yang bikin ini?"
"May."
"Aku tanya siapa."
"Rendi." Rani memejamkan mata ketika dingin itu menembus kulit. "Dia mendorongku ke dinding. Aku nggak apa-apa. Anaknya nggak apa-apa. Aku sudah pegangi."
"Aku bunuh dia." Maya sudah setengah berdiri mencari kunci motor, padahal sandal jepitnya tinggal sebelah. "Danu, siapkan mobil..."
"Duduk, May." Danu menangkap pergelangan Maya dengan lembut. "Dia ke sini bukan untuk melihat kamu masuk penjara."
"Aku capek," bisik Rani. Dua sahabat itu langsung diam. "Aku nggak mau ada yang dilukai lagi malam ini. Aku cuma mau duduk."
Maya duduk di sebelahnya dan merangkul bahunya yang lain, dan tangis yang tak sempat keluar di rumah kontrakan akhirnya meluncur di bahu daster berbau sabun itu.
Ponsel Maya berbunyi di meja ruang tamu tepat ketika Rani duduk. Nomor Sampit. Maya mengangkat, menatap Rani, lalu menyerahkannya dengan tangan sedikit gemetar. "Beliau dapat nomorku dari Bu Bambang," bisiknya.
"Nak. Ini Mama." Suara Hajjah serak, seperti orang yang menangis berjam-jam. "Rendi menelepon Mama. Dia bilang kamu pergi. Dia bilang... apa yang dia lakukan." Terdengar bunyi koper ditutup. "Kamu aman? Kamu di mana?"
"Di rumah teman, Ma. Saya aman."
"Alhamdulillah. Jangan pulang dulu, Nak. Jangan terima telepon dia." Napasnya bergetar. "Mama berangkat dari Sampit malam ini juga."