Kantong kertas cokelat itu sudah menunggu di meja kasir ketika Rani membuka toko, ditaruh Arman dengan hati-hati seperti barang pecah belah.
"Dari kantor atas, Mbak," katanya, tanpa menatap. "Pak Reza titip lewat saya. Ada surat juga."
Rani membuka kantong itu. Di dalamnya ada dua botol vitamin kehamilan yang masih bersegel dan selembar kertas berkop toko, diketik rapi, bertanda tangan tinta biru. Perihal: Cuti Hamil dan Tunjangan Kesehatan Karyawan. Isinya tiga paragraf datar, menyebut hak cuti sebelum dan sesudah melahirkan, serta tunjangan vitamin tiap bulan selama masa kehamilan.
Ia membacanya sampai selesai, lalu membaca sekali lagi.
"Man. Sejak kapan toko ini punya aturan begini?"
Arman menggaruk telinga. "Kata Pak Reza, berlaku buat semua karyawan perempuan, Mbak. Mulai hari ini. Karyawan baru juga dapat."
"Mulai hari ini."
"Iya, Mbak."
Rani tidak bertanya dari mana Reza tahu. Seminggu bekerja dengan lengan baju panjang di cuaca panas dan wajah yang tidak bisa menyembunyikan mual, apa lagi yang perlu dicari tahu. Ia mengambil kertas, menarik pena dari saku, dan menulis di baliknya dengan huruf tegak.
Saya menerima cuti dan tunjangan ini sebagai hak karyawan sesuai aturan toko. Terima kasih. Maharani Saraswati.
"Antar ke atas, ya. Dan tolong bilang, vitamin akan saya catat di buku pengeluaran karyawan, bukan hadiah."
"Siap, Mbak."
Arman naik tangga dengan langkah cepat. Karyawan perempuan baru, yang sejak tadi pura-pura menata gantungan, melirik dan cepat menunduk.
"Ada apa?" tanya Rani.
"Nggak, Mbak. Cuma... enak ya, kerja di sini." Gadis itu tersipu. "Saya kira bos itu galak."
"Beliau bos, Dik. Tugas bos memang menjalankan aturan." Rani tersenyum tipis dan tidak menambahkan apa pun lagi. Ia menatap kantong vitamin itu sebentar, lalu memasukkannya ke tas, dan mencatat nomor serinya di buku besar yang ia rekap setiap Jumat.
*****
Sore itu, rumah kontrakan masih berbau pembersih lantai yang ia tuang berlebihan pagi tadi. Rani baru duduk di tikar ketika pintu depan dibuka tanpa diketuk.
"Jadi benar."
Ibu Rani berdiri di ambang dengan mukena lipat di tangan dan wajah yang tidak ada ramahnya. Sudah dua minggu ia tidak datang ke sini. Matanya menyisir ruang makan, kursi yang kosong, lantai yang masih menyisakan sebutir pecahan kaca di sela keramik.
"Bu Bambang yang cerita. Suami kamu di panti narkoba. Di Banjarmasin. Ya Allah, Ran." Ibu menjatuhkan diri di kursi rotan yang bunyinya berderit. "Seumur hidup ibu tidak pernah ada keluarga kita yang begini. Tetangga sudah tanya-tanya. Aib!"
"Bu, Bang Rendi sedang berobat."
"Berobat apa? Dia pakai narkoba! Kenapa ibu tidak dikasih tahu dari awal?" Suaranya naik, lalu mendadak turun, melunak, dan itu yang membuat Rani paling waspada. "Sudahlah. Yang penting kamu ambil uang dari Hajjah itu. Mereka yang bawa kamu ke sini, mereka yang tanggung. Minta uang makan, uang sewa, uang bidan. Mereka kaya, toko berlian."
"Tidak, Bu."
"Rani."
"Uang Mama itu untuk panti, untuk anaknya sendiri. Aku tidak mau ambil." Rani meletakkan tangannya di perut tanpa disadari. "Aku bisa kerja, Bu. Toko kasih tunjangan."
"Tunjangan berapa sih? Seratus ribu?" Ibu mendengus. "Ibu bilang apa dulu? Perempuan itu harus pintar cari yang mapan. Kamu pilih sendiri, kamu terima sendiri akibatnya. Jangan lupa ibu, Ran."
Mukena lipat itu diselipkan lagi ke tas. Ibu bangkit, dan di ambang pintu ia menoleh sebentar, wajahnya tidak lagi marah, hanya lelah dan sedikit takut.
"Kamu masih makan teratur?"
"Iya, Bu."
"Iki tanya terus Bang Rendi ke mana," tambahnya dari balik bahu. "Ibu bilang Abangmu kerja di luar kota ngurus kebun. Jangan kamu bocorkan ke anak itu."
"Iya, Bu."
"Jangan telat." Itu saja, dan pintu menutup.
*****
Adi tiba malam Minggu, naik travel dari Banjarmasin yang menurunkannya di terminal, lalu berjalan kaki ke gang kontrakan dengan ransel di punggung dan wajah yang jelas tidak tidur selama perjalanan.
Rani sudah menyiapkan teh. Kakaknya itu duduk di tikar, tidak menyentuh gelas, dan lama sekali hanya memutar-mutar tali ranselnya.
"Ran. Gue mau ngomong sesuatu. Lo jangan potong sampai selesai."
"Ngomong aja, Kak Adi."
"Waktu lo akad," Adi menelan ludah, "gue kenal wajah suami lo. Gue nggak tahu namanya waktu itu, cuma tahu wajahnya dari ruko judi di Banjarmasin. Tempat gue kehilangan gaji dua bulan." Ia mengangkat tangan sebelum Rani sempat bicara. "Gue pikir, siapa gue buat menunjuk muka orang? Gue sendiri penjudi. Gue diam. Gue bilang ke diri sendiri mungkin dia sudah berubah, mungkin yang gue lihat bukan dia. Gue diam, Ran, dan sekarang lo..."
Suaranya patah. Adi menutup mata dengan telapak tangan, dan Rani, yang tidak pernah melihat kakak keduanya menangis sejak ayah meninggal, hanya duduk diam.
"Gue minta maaf. Gue nggak punya muka."
"Kak." Rani mengulurkan tangan, menyentuh lututnya sebentar. "Aku yang memilih."
"Dan Bagas," Adi mengusap wajah, "orang itu baik, Ran. Bukan karena dia teman gue. Sejak balik dari akad lo, dia kerja dua kali lipat, nggak banyak ngomong, tiap Jumat sore langsung pulang ke Banjarmasin. Dia nggak pernah..."
"Kak Adi." Rani menarik tangannya perlahan. "Aku bersuami."
Adi menatapnya. Ia mengangguk satu kali, lalu menunduk lagi, dan sampai tengah malam ia tidak mengucapkan nama itu.
Tikar itu ia tinggalkan menjelang subuh dengan satu pesan yang diucapkan ke dinding. "Kalau lo butuh apa-apa, SMS gue. Jam berapa pun. Gue mungkin bukan kakak yang bener, Ran, tapi hape gue nyala."
Rani mengunci pintu sesudah ia pergi, dan baru ketika memanaskan air ia sadar sedang tersenyum kepada kompor.
*****
Pagi berikutnya, Rani berbaring di ranjang periksa klinik bersalin kecil dekat pasar. Bidan berkerudung biru menggerakkan alat kecil di perutnya yang dilumuri gel dingin, sementara Maya duduk di kursi tunggu di luar tirai dan menahan napas begitu keras hingga terdengar.
"Delapan, sembilan minggu," kata bidan. "Biasanya belum jelas, tapi alatnya bagus. Nah. Dengar."
Pertama hanya desis. Lalu, di antara desis itu, sebuah bunyi kecil, cepat, berirama seperti derap kaki di jalan tanah. Rani berhenti bernapas.
"Itu jantungnya?"
"Iya, Bu. Bagus, seratus enam puluh. Kuat."
Dari balik tirai terdengar Maya mengisap hidung keras-keras. Rani menutup mulut dengan punggung tangan, dan air matanya tumpah tanpa ada yang ia takuti, tanpa ada yang akan bertanya uangnya dari mana.
Setelah selesai, bidan itu menulis sesuatu di kartu kuning dan menyodorkannya. "Makan teratur, jangan angkat yang berat, jangan banyak pikiran. Suaminya mana, Bu? Kalau bisa bulan depan diajak."
"Sedang berobat di luar kota, Bu."
"Semoga cepat sembuh." Bidan itu tersenyum biasa saja, seperti orang yang sudah mendengar jawaban semacam itu dari banyak perempuan, dan Rani bersyukur ia tidak bertanya lagi.
Di teras klinik, Maya memeluk lengannya erat-erat. "Kamu dengar? Seratus enam puluh! Itu cepat, kan? Itu sehat, kan? Anakmu atlet, Ran."
"Anakku sehat, May," sahut Rani, dan mereka sama-sama terkejut mendengar betapa ringannya kalimat itu keluar, lalu tertawa.
Ponselnya berdering di tas ketika mereka menuruni undakan klinik, nomor Sampit. Rani berhenti di bawah pohon mangga dan menjawab.
"Nak." Suara Hajjah masih lelah, tetapi ada sesuatu yang lebih ringan di sana. "Mama baru telepon panti. Dia tenang. Dia sudah mau makan. Pihak panti bilang..." Terdengar helaan napas. "Tanggal 10 Juni, Rendi pulang."