Lima minggu lebih dua hari sudah lewat sejak pintu mobil putih itu menutup, dan selama itu Rani hanya melakukan hal-hal kecil yang bisa dihitung: bekerja di toko dengan kursi lipat di balik meja kasir, kembali sekali ke klinik bidan, mengangkat telepon Ibu tiap Jumat sore, menerima kiriman bubur kacang hijau dari Maya, dan tidak sekali pun bertanya pada siapa pun bagaimana kabar suaminya. Pagi ini, tanggal sepuluh Juni, ia berdiri di teras kontrakan memegang segelas air putih yang tidak ia minum, sampai suara mesin mobil berhenti di mulut gang.
Hajjah turun lebih dulu, kali ini dengan kerudung biru muda yang bersih dan wajah yang lebih tirus daripada pertama kali Rani bertemu, dengan bahu yang turun. Di belakangnya, laki-laki berkacamata dari panti membuka pintu penumpang.
Rendi keluar pelan-pelan.
Ia kurus. Pipinya cekung, kerah kemejanya longgar, dan rambut yang dulu selalu ditata rapi kini dipotong pendek hampir botak. Tapi bukan itu yang membuat Rani menahan napas. Tangan kirinya, yang dulu gemetar memegang cangkir, menggantung diam di sisi tubuh. Dan matanya, yang dulu selalu bergerak mencari-cari sesuatu di sekeliling, kini menunduk lurus ke tanah dan tidak bergerak sama sekali.
"Assalamualaikum, De."
"Waalaikum salam."
Ia berhenti beberapa langkah dari undakan. Tidak mendekat, tidak mengulurkan tangan, tidak bicara apa-apa selama beberapa detik. Lalu ia berkata, hampir tanpa suara, "Abang nggak minta dimaafkan hari ini. Abang cuma mau pulang kalau kamu bolehkan."
Hajjah di sampingnya menahan tangis dan menatap Rani dengan sorot yang tidak berani meminta apa pun.
Rani meletakkan gelas di tiang teras. Dalam hati ia menghitung, kepala tegak: lima minggu bukan tiga bulan; satu bulan lebih bukan selamanya. Satu orang bisa baik di tempat yang tidak punya apa pun untuk digoda.
"Abang boleh masuk," ucapnya. "Tapi dengar syaratku dulu, di depan Mama."
"Iya."
"Satu. Abang tidur di ruang tengah, aku di kamar, sampai aku bilang lain. Dua." Ia mengangkat dua jari. "Tiap pekan, di hari yang sama, Abang tes urin di puskesmas. Aku ikut, aku lihat hasilnya langsung dari petugas, bukan dari mulut Abang. Tiga. Gaji melatih Abang masuk ke aku untuk bayar sewa dan makan. Abang pegang uang bensin saja."
Laki-laki berkacamata dari panti mengangguk-angguk di belakang, seolah mendengar ringkasan yang sudah ia sarankan. Rendi tidak menawar satu pun.
"Iya. Semuanya iya."
"Sekarang masuk. Mama juga."
Hajjah menggeleng sambil menyeka mata. "Mama menginap di hotel dekat terminal dua malam, Nak. Mama tidak akan campur. Mama cuma mau lihat kalian masuk rumah." Ia menyodorkan kantong plastik berisi kain batik sebagai ganti bahasa yang belum ia punya. "Untuk bayi."
Rendi lebih dulu mengambil koper kecil dari bagasi, lalu berdiri menunggu di pintu rumah kontrakan seperti tamu yang belum dipersilakan. Rani yang membukanya, dan ia mundur dua langkah supaya Rendi bisa lewat tanpa menyentuhnya. Ia memperhatikan Rendi berhenti di ruang makan, memandangi lantai yang sudah bersih dari pecahan kaca, dan di dinding tempat punggungnya dulu dihantam, ada bekas gesekan di cat yang gagal dihapus. Rendi menatap noda itu lama sekali.
"Abang tidur di sini," ujarnya, menunjuk tikar di ruang tengah, dan Rani mendengar bahwa itu bukan permintaan, hanya pengakuan bahwa ia tahu tempatnya.
*****
Dua hari kemudian, Rani menunggu di bangku plastik puskesmas dengan nomor antrean yang terbalik di tangan. Rendi duduk di sebelahnya, tidak bicara, memandangi lantai keramik yang mengilap oleh pel. Ruang itu bau karbol dan keringat orang sakit.
"Nomor tiga puluh dua."
Sebelum nomor dipanggil, Rendi berbisik tanpa menoleh. "Hari ketiga di sana, Abang kira Abang mau mati. Abang minta telepon Mama, nggak dikasih. Abang marah, Abang bentak orangnya. Dia cuma bilang, 'Tidak ada yang menahan Mas di sini. Pintunya terbuka.' Abang tahu itu benar. Itu yang bikin Abang tinggal."
"Kenapa Abang cerita itu?"
"Karena kamu nggak tanya." Rendi tersenyum tipis, tanpa beban. "Dan Abang nggak mau kamu mikir Abang cuma pintar bicara."
Rani tidak menjawab. Ia mencatat saja, seperti biasa.
"Soal GOR..."
"Tanya pelatihnya sendiri, Bang. Jangan lewat Bu Bambang."
"Iya."
"Nomor tiga puluh dua."
Rendi berdiri. Dari pintu kecil di belakang meja pendaftaran, petugas wanita setengah baya menyerahkan gelas plastik kecil dan menunjuk lorong ke arah kamar mandi. Rani melihat punggungnya menghilang, lalu mengalihkan pandang ke poster tentang cuci tangan, karena ia tidak sanggup membayangkan wajahnya.
Sepuluh menit kemudian petugas itu memanggil keduanya. Di atas meja ada selembar alat kecil yang basah, dengan satu garis merah di sisi kiri.
"Negatif," katanya, sekilas, seperti membaca kuitansi. "Bagus. Kontrol tiap minggu, jangan telat."
"Terima kasih, Bu." Rendi membungkuk lebih dalam dari yang perlu. Rani menyalin tanggal dan hasilnya ke buku biru yang sudah dua kali dipakai menghitung utang orang lain.
*****
Dokter kandungan di klinik swasta itu masih muda, berkacamata bulat, dan menyetel layar monitor ke arah mereka sebelum Rani sempat duduk di ranjang periksa.
"Ini suaminya, Bu? Bagus sekali ikut. Biasanya suami sibuk." Ia menggosokkan gel ke perut Rani dan menempelkan alat. "Nah. Lihat layarnya."
Rani sudah memejamkan mata sebelum sadar bahwa ia tidak punya alasan untuk takut. Kerumunan bayangan abu-abu di layar mulai membentuk sesuatu: sebuah kepala bulat dengan dua gelembung gelap yang mestinya mata, sebuah punggung melengkung seperti huruf C, dan di tengahnya sesuatu yang berkedip-kedip cepat sekali.
"Itu kepalanya. Itu tangannya, lihat, lagi melambai. Jantungnya normal, seratus lima puluh. Ukuran sesuai, tiga belas minggu lebih. Perkiraan lahir pertengahan Desember." Dokter itu menekan tombol. "Dan Ibu, jangan terlalu capek, ya. Tekanan darah sedikit rendah. Makan yang banyak, istirahat. Kalau ada masalah di rumah, bilang ke saya, bukan dipendam." Ia menatap Rani sebentar lebih lama dari yang perlu, seperti dokter yang sudah melihat lengan baju panjang di cuaca panas. "Mau dicetak fotonya?"
"Mau," ucap Rendi. Suaranya parau. "Mau, Dok."
Rani menoleh. Rendi berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan menempel di mulut dan mata terpaku pada layar, dan air matanya mengalir, begitu saja, tanpa dibuat-buat, tanpa melihat siapa pun melihatnya. Bahunya bergetar. Ia tidak berkata, "Abang janji." Ia tidak berkata apa pun sama sekali.
"Itu anak Abang," bisiknya akhirnya, hampir pada dirinya sendiri. "Itu... dia melambai."
Dokter tersenyum sopan dan memalingkan wajah, memberi mereka ruang. Rani menatap layar kecil itu, lalu menatap suaminya yang menangis di sisi ranjang. Ia tahu betul semua yang pernah ia saksikan dari laki-laki ini. Tangis yang berubah jadi kebohongan, tangis yang berubah jadi cengkeraman. Ia tidak lupa. Ia tidak akan lupa.
Tetapi tangis ini berbeda dari semua yang pernah ia lihat: tidak ada yang diminta dari Rani.
Foto kecil hitam putih keluar dari mesin pencetak. Rani menerimanya, memandang bayangan abu-abu dengan tangan yang melambai itu, dan untuk satu menit yang pendek ia membiarkan dirinya berpikir, hanya berpikir, bahwa mungkin orang bisa berubah.