Suara takbir dari ruang tengah membangunkan Rani sebelum azan selesai berkumandang di masjid ujung gang.
Ia berbaring diam di kamarnya, mendengarkan. Rendi mengimami dirinya sendiri dengan suara yang rendah dan tertahan, bacaan Al-Fatihah yang patah di beberapa tempat seperti orang yang menyusun ulang sesuatu yang lama tidak dipakai. Sujudnya panjang. Panjang sekali. Rani menghitung sampai empat puluh sebelum terdengar bunyi lutut mengangkat dari tikar.
Subuh keempat sejak Rendi pulang. Subuh keempat yang tidak ada bau plastik hangus, tidak ada telepon yang dijawab sambil menjauh, tidak ada suara yang bilang jangan sekarang.
Waktu ia keluar kamar, ruang makan sudah beraroma bawang goreng. Rendi berdiri di depan kompor dengan celemek kebesaran yang sama seperti hari sup ayam itu, mengaduk panci. Ia menoleh, melihat Rani, dan cepat-cepat mengalihkan pandang ke panci lagi.
"Bubur. Dokter bilang perut ibu hamil muda baiknya makan yang hangat. Abang cari di buku resep Bu Bambang." Ia mengangkat sendok. "Nggak enak mungkin. Tapi aman."
"Terima kasih, Bang."
"Abang nggak minta dinilai." Ia menyodorkan mangkuk dengan dua tangan, sopan seperti pelayan hotel. "Dimakan kalau mau."
Rani mencicip. Hambar, bawangnya gosong sedikit, dan ia menghabiskannya sampai kerongkongannya terasa hangat sampai ke dada. Hasil tes negatif pertama sudah tersimpan di buku biru, ditempel dengan isolasi. Ia tidak membuka buku itu pagi ini. Ia hanya tahu bahwa buku itu ada di tasnya, seperti orang tahu payung ada di tas, tanpa perlu hujan.
Beberapa menit kemudian Rendi mencuci mangkuk tanpa disuruh, lalu bertanya hati-hati apakah ia boleh mengantar Rani ke toko naik motor pinjaman Bu Bambang. Rani menimbang, melihat jam, dan menjawab bahwa ia lebih suka naik angkot. Rendi mengangguk tanpa memprotes. Alasan yang tidak ia ucapkan, bahwa ia belum siap duduk di boncengan laki-laki itu, tergantung di antara mereka seperti pakaian basah di jemuran.
*****
Sore Jumat, ia duduk bersandar di bangku teras dengan segelas teh jahe dan ponsel menempel di telinga.
"Nak! Nak, lihat! Eh, tidak bisa lihat. Maksud Ibu, bayangkan! Sudah dua baris!" Suara Ibu bergema dengan antusias yang membuat Rani tersenyum tanpa ia minta. "Kuning. Laila bilang jangan kuning, Ibu bilang kuning itu cocok untuk laki-laki dan perempuan. Ibu sudah memutuskan. Tidak boleh ada yang tahu jenisnya sampai lahir."
"Ibu rajut sampai malam lagi, ya?"
"Tidak kok, jam sembilan sudah tidur. Perawatnya galak. Ibu cuma merajut sambil nonton sinetron." Ibu terkekeh, lalu mendadak diam, dan di belakang suaranya Rani mendengar bunyi pintu, suara laki-laki yang berat dan tenang berseru, "Bu, mana tehku?", lalu hening sebentar. "Eh, Bagas. Sini, Gas. Ini Rani lagi telepon."
"Assalamualaikum, Bu. Titip salam buat... buat Rani, ya. Semoga sehat."
Itu saja. Pendek, bahkan tidak ditujukan kepadanya. Suara itu menghilang di balik pintu lagi dan Rani sendiri baru sadar bahwa ia menahan napas.
"Bagas bilang titip salam, Nak. Dia malu-malu." Ibu menarik napas lega. "Nanti Ibu telepon lagi Jumat depan." Ibu berhenti, menimbang. "Nak, Ibu tidak akan tanya-tanya soal suamimu. Ibu cuma mau bilang: kalau suaramu sampai terdengar capek, Ibu akan bilang Ibu rindu supaya kamu bisa cerita tanpa perlu menjelaskan."
"Saya baik-baik saja, Ibu."
"Iya. Ibu tahu kamu bilang begitu."
"Waalaikum salam, Ibu. Salamkan juga, ya."
Pintu depan berderit di belakangnya.
Rendi berdiri di sana dengan sebuah gelas teh dan sepiring pisang goreng, entah sudah berapa lama. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Matanya tertuju pada ponsel di telinga Rani, lalu pada bibirnya.
"Siapa itu?" tanyanya halus.
"Ibu. Dan Mas Bagas titip salam." Rani menurunkan ponsel, tidak menyembunyikannya. "Aku bilang waalaikum salam. Itu saja, Bang."
Rendi meletakkan gelas dan piring di bangku, pelan, tanpa bunyi. Rahangnya mengeras dalam gerak yang hampir tidak kelihatan, seperti sendi yang dikunci. Satu detik. Dua. Kemudian bahunya turun.
"Ya. Waalaikum salam," ucapnya, lurus, tanpa warna. "Ini teh sama pisang gorengnya. Abang ke dalam dulu."
Ia masuk. Rani mendengar bunyi kran air menyala lama sekali, dan ia tidak bangkit memeriksa.
*****
Ibu Rani datang hari Minggu, ditemani Iki yang meloncat dari boncengan ojek dengan bola futsal di dada.
"Bang Rendi! Bang Rendi pulang!" Anak itu menabrak pinggang Rendi dan memeluknya sampai Rendi terhuyung. "Kata Ibu Abang pergi ngurusin kebun lama banget! Iki tahan bola pakai dada sudah bisa lho, lihat!"
"Wah, kamu tambah tinggi." Rendi berlutut menyamakan tinggi. "Coba tunjukkan."
Ibu Rani berdiri di ambang pintu dengan tas tangan di lengan, mengamati menantunya dari ujung kaki sampai kepala, lalu menarik sudut bibir. "Kurusan kamu, Ren. Makan yang banyak. Kerja yang rajin. Istrimu sedang hamil."
"Iya, Ibu. Saya sudah bicara dengan pelatih GOR kemarin. Saya boleh mulai lagi pekan depan, dengan masa percobaan."
"Bagus." Wajah ibu Rani melunak, dan Rani menyaksikan perubahan itu dengan perasaan antara geli dan nyeri: seorang perempuan yang sebulan lalu menyebut menantunya aib kini menepuk lengannya, seakan pembicaraan di kontrakan tempo hari tidak pernah terjadi. Selama Rendi tampil sebagai laki-laki yang pulang dari musibah, ibu Rani mengubah sikap secepat membalik halaman.
Setelah makan siang, ibu Rani menunggu sampai Iki berlari ke halaman belakang bersama Rendi, lalu merendahkan suara.
"Ran. Uang bulanan."
Rani sudah menyiapkan. Dari buku biru ia mengeluarkan amplop, dan menyodorkannya. "Lima ratus ribu, Bu. Setiap awal bulan. Itu yang bisa aku kasih sekarang, sampai bayi lahir."
"Lima ratus?" Mata ibu Rani menyempit. "Dulu sejuta lima."
"Dulu aku belum menanggung sewa sendiri, belum periksa tiap bulan, belum menyiapkan bayi." Rani berbicara pelan dan sangat jelas, tanpa menaikkan nada. "Itu angkanya, Bu. Kalau Ibu keberatan, kita bicara lagi bulan depan."
Hening. Ibu Rani menimbang amplop itu, lalu memasukkannya ke tas tangan tanpa menghitung, dan tidak berkata terima kasih. Tetapi ia juga tidak berkata tidak.
*****
Malam itu hujan turun dengan deras lagi. Mereka makan malam hanya berdua: nasi, ikan goreng, sayur bening yang Rendi masak, dan percakapan tentang nama-nama bayi yang sama sekali tidak mengarah ke mana pun. Rendi menyebut Bintang, Garuda, Samudra, nama-nama besar yang terdengar seperti anak orang kaya. Rani hanya berkata ia ingin nama yang mudah diucapkan kalau dipanggil malam hari. Rendi tertawa, dan tawa itu hampir terasa nyata. Rani membasuh piring. Rendi menyapu. Lampu teras berayun ditiup angin.
Tok tok tok.
Ketukan itu bukan ketukan tetangga. Berat, tiga kali, berjeda, seperti orang yang sudah tahu rumah ini ada isinya. Rani mematikan keran. Di ruang makan, sapu di tangan Rendi berhenti bergerak.
"Siapa, Bang?"
"Mungkin tetangga." Rendi tidak menoleh. Suaranya tipis. "Biar Abang yang buka."
Tetapi Rani sudah melangkah ke pintu lebih dulu dan menyibak gorden. Di balik kaca, di bawah lampu teras yang remang, berdiri dua laki-laki asing berjaket kulit, satu berkumis tebal dan satu lagi bertubuh besar dengan lengan penuh gambar. Keduanya tidak tersenyum.