Malam itu juga, sebelum hujan di luar sempat reda, Rani membuka pintu.
Ia tidak tahu kenapa ia yang membukanya. Mungkin karena Rendi sudah membeku di ruang makan dengan sapu di tangan, mungkin karena sudah terlalu banyak malam ia membiarkan orang lain menghadapi hal-hal yang akhirnya menimpanya juga. Udara basah masuk bersama bau rokok kretek dan jaket kulit yang lembap.
"Malam, Mbak." Si kumis tebal menunduk sopan, seperti sales yang ramah. "Maaf mengganggu. Kami cari Bang Rendi. Beliau ada?"
"Siapa Anda?"
"Teman dari Sampit, Mbak. Teman lama."
Di belakang Rani, lantai berderit. Rendi sudah berdiri di bahunya, wajah pucat seperti lilin yang baru dipadamkan. Sapu masih terpegang di tangannya, bergoyang sedikit.
"Bang Rendi!" Si kumis tersenyum lebar. "Wah, sehat sekarang kelihatannya. Dengar-dengar kemarin ke Banjarmasin dulu, ya? Pantas sulit dicari. Kami ke Sampit tiga kali, rumahnya kosong."
"Ada apa, Bang?" Rani menoleh.
"Biar Abang..."
"Tiga puluh delapan juta, Mbak," kata si badan besar, yang sampai sekarang diam. Suaranya rendah dan datar. "Poker di Sampit, awal Januari. Kartu sama kartu, tanda tangan sama tanda tangan. Bang Rendi sudah pernah janji bulan Maret, terus bulan April. Bulan ini kami datang sendiri saja, supaya enak."
Tiga puluh delapan juta. Rani mendengar angka itu dan tidak langsung mengerti, seperti mendengar nama kota yang tidak pernah ada di peta. Seluruh gajinya selama dua puluh lima bulan.
"Itu utang lama, De," bisik Rendi di dekat telinganya, bibirnya bergetar. "Itu sebelum Abang..."
"Jangan." Rani mengangkat tangan sedikit, tanpa menoleh. Suaranya keluar rendah dan dingin dan membuat dirinya sendiri terkejut. "Jangan ucapkan kalimat itu lagi, Bang."
Rendi terdiam.
"Dua minggu," ujar si kumis ramah, menjentikkan abu rokok ke genangan di teras. "Kami nggak mau bikin ribut, Mbak. Ini tempat orang baik-baik, kami tahu. Istri Bang Rendi kerja di toko olahraga dekat pasar, kan? Nah. Kami nggak perlu datang ke sana kalau semuanya lancar."
Mereka pergi dengan cara yang sama seperti datang, tanpa tergesa. Mobil mereka tidak menyalakan lampu sampai ujung gang.
*****
Hajjah mengangkat telepon pada dering kelima. Rani menaruh ponsel di meja makan dengan pengeras suara, sementara Rendi duduk di seberangnya dengan kedua tangan terkulai di antara lutut, dengan bahu merosot.
"Mama." Rendi menelan ludah. "Ini Rendi. Ada orang datang. Utang Januari."
Hening panjang. Rani bisa mendengar napas Hajjah di ujung telepon, dan suara kipas angin yang berputar.
"Berapa?"
"Tiga puluh delapan."
"Ya Allah." Hajjah menarik napas, yang tidak terdengar seperti keterkejutan, lebih mirip orang yang menaruh beban terakhir ke lantai. "Dua kali Mama bayar, Rendi. Empat puluh juta, lalu tiga puluh. Dua kali kamu berjanji di depan Mama. Mama sudah menjual sebagian emas Mama, Mama sudah bayar panti, Mama sudah..." Suaranya berhenti. "Mama tidak akan bayar yang ini."
"Ma..."
"Mama bilang tidak. Kamu laki-laki, kamu tiga puluh tahun lebih. Kamu yang berutang, kamu yang cari jalannya." Terdengar bunyi isak yang ditahan, dan suara itu sengaja digerakkan lebih keras supaya tidak pecah. "Rani, Nak. Maafkan Mama. Mama tidak ada niat membiarkan kamu menanggung ini. Mama cuma... tidak bisa lagi. Kalau Mama bayar, dia akan belajar bahwa selalu ada yang bayar."
"Saya mengerti, Ma," kata Rani.
Telepon ditutup. Rendi menatap meja, menggigit bibir bawahnya sampai putih. Di luar, hujan berhenti dengan sendirinya.
"Abang akan cari kerja tambahan," katanya akhirnya, serak. "Jaga parkir malam. Antar galon. Apa saja."
"Berapa uang Abang sekarang?"
Rendi merogoh saku celana dan mengeluarkan beberapa lembar kusut. Ia menghitungnya dua kali, bibirnya bergerak. "Dua ratus sembilan puluh ribu."
Rani mengangguk, tidak mengejek, tidak menghibur. Ia sudah menghitung sendiri sejak penagih itu pergi, dan angka mereka tidak bertemu di mana pun.
"Satu hal, Bang. Abang tidak boleh ke Sampit sendirian, tidak boleh menemui mereka, tidak boleh janji apa pun atas nama kita. Kalau mereka datang lagi, panggil aku."
"Iya, De."
"Sungguh."
"Sungguh."
*****
Pagi berikutnya, ketika Rendi sudah pergi melatih dan Rani sedang menyeduh teh jahe, pintu depan terbuka tanpa ketukan. Ibu Rani berdiri di sana dengan wajah merah dan napas pendek, di belakangnya seorang tetangga sebelah buru-buru menarik kepalanya dari pagar.
"Tadi malam ada dua laki-laki di sini. Tetangga sebelah lihat sendiri. Pakai jaket kulit!" Ibu Rani masuk tanpa melepas sandal. "Utang judi, katanya semua orang sudah tahu!"
"Bu, tolong..."
"Tiga puluh delapan juta, Ran! Dari mana kamu mau bayar? Dari uang yang tiap awal bulan kamu kasih ke Ibu?" Telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Rani. "Dia penjudi, pecandu, penipu. Suamimu sampah!"
Itu pertama kalinya Rani mendengar ibunya mengucapkan kata itu tentang Rendi. Dan anehnya, ia tidak merasa dibela.
"Bu, kemarin Ibu yang menyuruh aku menerima," ujar Rani pelan. "Ibu yang bilang jangan jadi perawan tua. Ibu yang bilang kalau batal jangan pulang."
"Jadi sekarang ini salah ibu?" Mata ibu Rani melebar. "Setelah semua yang ibu lakukan? Kamu menyalahkan ibu?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Kamu cuma bisa mengacaukan hidup!" Ibu mengempaskan diri ke kursi, napasnya turun naik, tangan memegang dada. Rani langsung meraih gelas air, tetapi ibunya menepisnya. "Dulu ayahmu, sekarang ini. Selalu saja ada yang kamu hancurkan."
"Aku sedang hamil, Bu," ucap Rani. "Tolong jangan teriak."
Ibu Rani terdiam sepersekian detik, matanya turun ke perut Rani. Lalu ia mengibaskan tangan. "Justru karena itu! Anak itu nanti punya bapak penjudi!"
Gelas bergetar di tangan Rani. Ia meletakkannya di meja. Tidak ada gunanya menjawab. Ia memutuskan akan membiarkan kalimat itu jatuh seperti hujan di atap seng, berisik tapi tidak masuk.
*****
Siang itu Danu menunggu di warung bakso Mamang depan toko, duduk di kursi plastik dengan topi proyek terlipat di lutut. Ia tidak bertanya apa-apa ketika Rani duduk. Ia menggeser mangkuk, memesan teh hangat, dan baru bicara setelah Mamang pergi.
"Maya cerita. Kamu menelepon dia pagi tadi." Danu menatapnya lurus. "Berapa?"
"Tiga puluh delapan juta, Mas."
"Aku punya tabungan. Bukan banyak, tapi cukup untuk sebagian besar. Pinjaman. Tanpa bunga, tanpa tenggat. Bayar kalau kamu bisa."
Rani menunduk menatap uap teh. Ada keinginan sesaat yang kuat dan memalukan untuk mengangguk, untuk melepaskan beban itu ke bahu laki-laki baik hati di depannya.
"Terima kasih, Mas Danu." Ia mengangkat wajah. "Tapi aku tidak bisa."
"Rani."
"Kalau aku pinjam dari Mas, nanti Rendi belajar bahwa selalu ada yang menolong. Mama bilang begitu tadi malam, dan Mama benar. Dan aku..." Ia menelan ludah. "Aku mau tahu apakah aku bisa menanggungnya sendiri. Aku punya emas."
"Emas apa?"
"Cincin dan gelang dari Mama. Dari mahar. Aku tidak akan memakainya lagi."
Danu memandangnya lama, dan Rani melihat cemas dan hormat bercampur di wajahnya. Ia berdeham, lalu hanya mengetuk meja satu kali.
"Kalau emasnya kurang, kamu tahu aku di mana."
Sore itu, sebelum kembali ke toko, Rani membuka kotak perhiasan di laci kamar kontrakan, mengangkat gelang emas Hajjah dari dasar kain beludru, dan menimbangnya di telapak tangan.