Rendi masih menatap telapak tangannya sendiri, seakan benda itu baru saja ditempelkan ke lengannya oleh orang lain.
"Ade?" Suaranya pecah, jauh lebih kecil dari tadi. "De, Abang nggak..."
Hajjah sudah menyeberangi ruangan lebih cepat daripada yang disangka siapa pun. Telapak tangannya mendarat di pipi anaknya, sekali, keras, lalu ia mencengkeram kerah kaus yang kusut itu dengan kedua tangan yang gemetar. "Anak macam apa kamu! Anak macam apa yang Mama lahirkan!"
Rendi tidak melawan. Ia limbung ke dinding, dan tawanya yang tadi memenuhi rumah menghilang tanpa bekas.
Rani berdiri bersandar di kusen dengan kedua tangan masih menutup perut. Pipi kirinya berdenyut mengikuti jantung, tetapi bukan itu yang membuatnya diam. Ada hangat yang merembes di sela pahanya, pelan dan pasti. Ia menunduk. Warna gelap sudah menyebar di kain rok batik yang ia pakai.
"May," katanya, sangat tenang. "Aku berdarah."
Maya berhenti berteriak di tengah kata. Danu sudah ada di sisi Rani sebelum Maya sempat bergerak. "Paman, tolong tahan dia di sini," katanya kepada laki-laki tua di ambang pintu, lalu kepada Rani, lebih lembut, "Jalan pelan, Dek. Pegang lenganku. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Rendi, jangan ikut." Hajjah menunjuk anaknya tanpa menoleh. "Kalau kamu melangkah satu langkah ke mobil itu, Mama tidak kenal kamu lagi."
Di kursi belakang Kijang itu Rani bersandar ke bahu Hajjah, yang memegangi kepalanya seperti memegang anak kecil yang demam. Maya duduk menyamping di kursi depan dengan mata tak lepas dari wajah Rani. Setiap lubang di jalan tanah membuat Danu mengumpat pelan dan memperlambat mobil.
"Hitung napasmu, Ran," ujar Maya. "Satu. Dua. Jangan berhenti."
"Aku nggak apa-apa, May."
"Kamu berdarah, dasar keras kepala! Hitung."
Rani menghitung. Sampai bilangan keempat puluh, ia berhenti menyebut angka dan hanya menyebut satu kata berulang-ulang dalam hati, tanpa suara: tahan, tahan, tahan.
*****
Dokter jaga di rumah sakit Sampit itu perempuan paruh baya yang bicara dengan nada seperti orang yang sudah terlalu sering menyampaikan kabar tidak enak. Lampu neon di atas ranjang berdengung. Rani berbaring dengan infus di punggung tangan dan alat kecil di perutnya, dan semua orang di ruangan itu menahan napas mengikuti bunyi yang mulai terdengar di layar.
Cepat. Berdenyut. Seperti kuda kecil yang berlari di ruang gelap.
"Detaknya masih ada," kata dokter itu. "Seratus empat puluh. Bagus untuk usia segini."
Rani baru sadar ia menggenggam seprai sampai kukunya memutih. "Jadi dia selamat, Dok?"
"Belum bisa saya bilang selamat, Bu. Saya bilang masih bertahan." Dokter itu menatapnya lurus. "Ini ancaman keguguran. Perdarahannya sudah melambat, tapi rahimnya terguncang. Ibu harus istirahat total. Berbaring, tidak berdiri kecuali ke kamar mandi, tidak naik mobil jauh sekurangnya dua hari. Dan tidak ada tekanan." Ia berhenti sebentar. "Pipi Ibu itu ditampar?"
Hajjah yang duduk di kursi sudut mengeluarkan bunyi kecil seperti orang tersedak. Rani tidak melirik ke arahnya.
"Ya, Dok."
"Saya catat dalam rekam medis. Kalau suatu hari Ibu butuh keterangan tertulis, mintalah ke bagian rekam medis, atas nama saya."
"Terima kasih, Dok."
Sesudah dokter keluar, tinggal dengung neon dan tarikan napas Hajjah yang berat. Danu menyelinap masuk membawa teh manis dalam gelas plastik, meletakkannya di meja kecil, dan hanya berkata, "Minum, Dek. Sedikit-sedikit." Ia keluar lagi sebelum Rani sempat berterima kasih, dan Rani mengerti ia sengaja memberi ruang.
Rani menatap langit-langit. Hajjah menyentuh punggung tangan Rani yang tidak berinfus, nyaris tidak menekan.
"Nak. Mama tidak punya kata."
"Mama tidak perlu cari kata sekarang." Rani menarik tangannya perlahan, bukan karena marah, tetapi karena ia butuh kedua tangan itu untuk memegangi perutnya sendiri. "Mama sudah di sini. Itu cukup."
*****
Rendi datang pukul sembilan malam.
Rani tidak melihatnya, hanya mendengar dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Suara sandal diseret, napas orang yang berlari lalu kehabisan tenaga, lalu suara paman berbisik, "Sudah kubilang jangan." Kemudian suara Hajjah, rendah dan sangat jelas karena tidak ada lagi yang ia sembunyikan.
"Berhenti di situ."
"Ma, Rendi cuma mau lihat Ade. Sebentar."
"Kamu sudah lihat dia tadi siang." Hajjah berdiri di lorong, kedua tangannya terlipat di dada, dan dari celah pintu Rani melihat bayangannya memanjang di lantai. Rendi di seberangnya kini kurus, pucat, dengan kaus yang entah milik siapa. Matanya masih merah, tetapi tangan yang menggantung di sisi tubuhnya bergetar tanpa henti. "Kamu tidak boleh masuk. Pergi dari lantai ini."
"Ma..."
"Pergi, Rendi. Mama masih bisa menahan diri untuk tidak berteriak di rumah sakit. Jangan buat Mama berhenti menahan."
Beberapa detik tidak ada suara apa pun. Lalu sandal diseret lagi, menjauh, ditemani langkah paman yang pelan. Rani menghembuskan napas yang ia tahan sejak tadi, dan merasakan seluruh kamar ikut mengendur.
Maya muncul di pintu dengan mata merah. "Ran. Ada orang yang mau ketemu kamu. Aku bilang kamu lagi istirahat, tapi dia berdiri di situ sudah dua jam."
"Siapa?"
Maya menggigit bibir. "Nur."
Hening. Rani menatap perut yang ditutup selimut tipis, lalu pintu.
"Suruh dia berdiri di pintu. Aku tidak boleh turun dari ranjang, tapi aku bisa mendengar."
Nur berdiri di ambang dengan tas kulit hitam terkepit di dada, blus krem yang tadi siang bersih kini kusut dan ada noda tanah di ujung rok. Rambut sebahunya ditarik ke belakang dengan karet seadanya. Ia tidak masuk. Ia tampak seperti orang yang takut lantai itu akan memarahinya.
"Dik." Suaranya parau. "Saya minta maaf."
"Untuk apa, Mbak?"
"Untuk semuanya." Nur menelan ludah. "Lima tahun saya bilang pada diri saya sendiri dia cuma salah jalan. Saya dengar Rendi bohong, saya diam. Saya lihat dia pakai, saya cari alasan. Saya kasih tahu kamu di toko waktu itu, tapi saya masih berharap kamu yang pergi, supaya dia kembali ke saya." Pandangannya jatuh ke perut Rani. "Tadi siang saya lihat sendiri. Saya nggak bisa lagi."
Rani diam cukup lama. Maya di sampingnya hampir membuka mulut, tetapi Rani lebih dulu.
"Mbak mau apa sekarang?"
"Selesai." Nur mengusap pipi dengan punggung tangan. "Saya sudahi semuanya. Dia bukan lagi urusan saya. Saya mau pulang ke Banjarbaru, ke keluarga saya, dan saya tidak akan telepon dia lagi, walaupun dia minta. Itu aja yang mau saya bilang." Ia membungkuk sedikit, hormat yang lebih tua kepada yang lebih muda. "Semoga bayinya sehat, Dik."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban. Langkah sepatunya terdengar menjauh di lorong, makin tipis, lalu hilang di tangga.
Rani menatap pintu yang kini kosong. Di dadanya tidak ada rasa menang, hanya capek yang bulat, sebesar kamar itu. Ia menoleh ke Maya.
"May. Ambil ponselku di tas. Telepon Ibu."
Maya mengerutkan dahi. "Ibu kamu? Bukannya ibumu..."
"Bukan ibuku." Rani membuang pandang ke jendela. "Aku sudah tahu apa yang akan dikatakan ibuku. Aku sedang tidak sanggup mendengarnya." Ia menyentuh perutnya lagi, mengusapnya satu kali, perlahan. "Ibu yang di pantai."
Hening sebentar. Maya mencari nama itu di daftar, ibu jarinya berhenti sedetik di atas tombol hijau, dan Rani melihat sahabatnya mengerti sepenuhnya apa yang baru ia minta.
Nada sambung berbunyi dua kali. Di ujung sana, suara yang hangat dan masih setengah tidur menjawab, "Halo? Rani? Kok malam-malam, Nak? Ada apa?"