"Ibu..." Hanya itu yang keluar dari mulut Rani. Ponsel di telinganya terasa berat sekali, dan kata-kata yang sudah ia susun sepanjang sore menguap begitu suara Ibu Bagas menyapanya.
"Nak, kamu menangis?" Suara di seberang langsung berubah, hilang kantuknya. "Kamu di mana? Sakit? Bayinya?"
"Rumah sakit, Ibu. Sampit. Saya berdarah, tapi bayinya masih ada." Rani menelan ludah. "Saya tidak mau merepotkan Ibu. Tapi saya..."
"Kamu tidak merepotkan siapa-siapa. Dengar Ibu." Ada bunyi benda bergeser, dan suara lain di latar, perempuan, bertanya cepat-cepat. "Laila, bangunkan Bagas. Siapkan mobil. Sekarang." Lalu kembali ke telepon, nadanya mendadak jernih. "Rani, jangan ke mana-mana. Ibu berangkat malam ini juga. Sampai pagi Ibu tiba."
"Ibu sakit kaki, jangan..."
"Kaki Ibu urusan Ibu. Tutup teleponnya, Nak, tidur. Ibu datang."
*****
Mobil hitam itu masuk halaman rumah sakit sebelum pukul sepuluh pagi. Dari jendela lantai dua, Maya yang berdiri sambil mengunyah roti melihatnya lebih dulu.
"Ran. Mereka datang."
Rani tidak bisa bangun, jadi ia hanya menunggu, menatap pintu, dan menghitung bunyi langkah di lorong. Ada langkah cepat dan ringan: perawat berseragam putih yang pernah ia lihat di pantai. Ada langkah perempuan yang terukur, Kak Laila. Lalu ada bunyi logam bertemu lantai, tok, tok, tok, lambat dan teratur, bunyi yang membuat dada Rani sesak sebelum ia sadar kenapa.
Ibu Bagas berdiri di ambang pintu dengan walker, dengan kerudung biru muda yang tidak serasi dengan wajahnya yang kuyu semalaman. Matanya langsung menemukan Rani, menyapu pipi kirinya yang membiru, turun ke perut, naik lagi.
"Anakku," katanya.
Itu saja. Rani mengangkat kedua tangan dari ranjang, dan Ibu Bagas menyeberangi sisa ruangan sebelum Kak Laila sempat memegang lengannya. Pelukan itu berbau minyak kayu putih dan sabun mandi dan bau jalan sepanjang malam. Rani menangis, kali ini betul-betul, dengan bahu bergetar dan napas patah-patah. Ibu Bagas tidak berkata apa-apa, hanya mengusap rambutnya.
"Cerita kalau mau cerita," bisik Ibu Bagas akhirnya. "Kalau tidak mau, Ibu pegang tanganmu sampai kamu mau."
"Dia menampar saya, Ibu. Waktu saya hamil."
"Ya." Tangan di rambutnya tidak berhenti. "Ibu lihat pipimu."
"Saya tidak akan pulang ke dia."
"Ibu tidak menyuruh kamu pulang atau tidak pulang. Itu urusanmu." Ibu Bagas menjauhkan wajah sedikit untuk menatap Rani. "Tapi kalau kamu memutuskan begitu, Ibu mau kamu tahu: keputusan itu bukan dosa."
Kak Laila menyodorkan segelas air hangat dan duduk di tepi ranjang yang satunya, dengan keteguhan seorang kakak yang terbiasa mengatur orang sakit. "Rani, makan sedikit dulu. Bubur dari kantin sudah Kak Laila cicipi, tidak buruk." Ia menurunkan suara. "Bagas menunggu di lorong. Dia tidak mau masuk kecuali kamu yang minta."
"Jangan, Kak. Sampaikan terima kasih saja." Rani menggeleng pelan. "Saya belum sanggup bicara dengan siapa pun lagi hari ini."
"Kak Laila sampaikan."
Dari balik kaca kecil di pintu, Rani sempat menangkap bayangan seorang laki-laki di lorong, berdiri membelakangi kamar dengan punggung tegak dan kedua tangan bertaut di depan. Ia tidak menoleh sekali pun. Danu berdiri di sampingnya, dan keduanya tampak seperti dua orang yang sepakat berjaga di depan pintu tanpa pernah saling bicara.
*****
Dua hari kemudian, dokter mengizinkan Rani pulang dengan syarat berbaring sepanjang jalan. Danu menyetir seperti membawa telur, dan Ibu Bagas, Kak Laila, dan perawat mengikuti dari belakang dengan mobil hitam. Rani tidur di kamar tamu rumah Maya, dengan bantal tambahan di pinggang dan buku biru berisi hasil tes urin Rendi yang masih terselip di tasnya. Ia belum memutuskan apa yang harus dilakukan dengan buku itu.
Ibu Bagas menyewa sebuah kamar di rumah kenalan Maya di gang sebelah, hanya tiga menit berjalan. "Kalau kamu perlu, tinggal telepon," katanya sambil menaruh rantang berisi sup ikan di meja. Bagas tidak ikut masuk. Ia menurunkan barang-barang dari bagasi, menaruhnya di teras, mengetuk pintu sekali untuk memberi tahu Maya, dan kembali ke mobil dengan jendela setengah terbuka. Ketika Maya mengajaknya minum teh, ia menggeleng sopan. "Terima kasih, Mbak. Saya tunggu di sini saja kalau Ibu masih di dalam."
Sore itu Rani sedang duduk menyandar di sofa ketika pintu depan dibuka tanpa diketuk.
Ibu Rani berdiri di ambang dengan tas anyaman di tangan dan wajah yang sudah kaku sebelum ia melihat siapa pun. Pandangannya jatuh pertama kepada Rani, lalu kepada rantang sup, lalu kepada perempuan berkerudung biru yang duduk di kursi sebelah Rani dan memegang mangkuk kecil.
"Siapa ini?"
"Bu, ini Ibu..." Rani berhenti. "Ibu yang saya ceritakan, yang di pantai dulu. Bu, ini ibunya Mas Bagas."
"Oh." Hanya itu, tetapi cara ibu Rani mengucapkannya sama dinginnya dengan suhu pendingin ruangan. "Orang yang waktu itu datang ke toko. Yang duduk di kursi roda."
"Ya, Bu." Ibu Bagas tersenyum sopan. "Maaf, kami tidak bermaksud lancang. Rani sedang istirahat, jadi saya bantu menemani."
"Menemani." Ibu Rani meletakkan tas di meja dengan bunyi yang tegas. "Anak saya punya suami. Punya ibu. Kok orang asing yang menemani?"
"Bu," kata Rani pelan.
"Diam dulu, Ran." Ibu Rani tidak melepas pandangan dari Ibu Bagas. "Saya dengar dari Maya kemarin. Saya dengar dia sakit. Saya langsung ke sini naik angkot, tidak bilang apa-apa. Dan apa yang saya temukan? Orang asing yang mengambil anak saya, menyuapi dia, memberinya sup." Suaranya naik setengah nada. "Saya ibunya."
Hening yang pendek dan tajam. Kak Laila, di ambang dapur, mengepalkan tangan, tetapi Ibu Bagas yang lebih dulu menjawab, tenang dan tanpa meninggikan suara.
"Ibu benar. Ibu ibunya, dan saya tidak mengambil siapa-siapa. Saya cuma duduk di sini karena dia menelepon saya malam itu, Bu. Kalau dia menelepon Ibu, Ibu pasti yang sekarang duduk di kursi ini."
Kalimat itu mengenai sesuatu. Rani melihat rahang ibunya bergerak, bibirnya terbuka, lalu menutup tanpa suara.
"Bu, aku mau bicara." Rani menegakkan punggung walau perutnya melilit. "Rendi menampar aku. Di Sampit. Pipi ini, lihat. Dokter sampai menulisnya di rekam medis." Ia menarik napas. "Aku tidak akan kembali ke dia. Aku mau menggugat."
Ibu Rani menoleh akhirnya, benar-benar menatap anaknya. Sesaat Rani mengira ia akan melihat sesuatu yang lain di sana, sesuatu yang bergerak di bawah permukaan dingin itu. Tetapi bunyi sepatu di teras memotong momen itu: Adi berdiri di pintu dengan ransel di bahu dan wajah berdebu, napasnya tersengal seperti baru berlari dari bandara.
"Ran." Adi menyapu ruangan dengan sekali pandang, melihat Rani, pipinya, perutnya, ibu mereka. Ia melangkah masuk tanpa bertanya dan berdiri tepat di belakang sofa tempat Rani duduk, satu tangan di sandaran. "Aku di sini."
"Kamu juga ikut-ikutan?" Ibu Rani mundur satu langkah, lalu meraih tas anyamannya. "Suami istri berantem itu biasa. Dulu ibu juga pernah bertengkar dengan bapakmu. Tapi tidak ada orang yang bawa urusan rumah ke pengadilan. Itu aib, Ran. Aib keluarga!"
"Bu, dia menampar..."
"Aku lihat sendiri bekasnya, Bu," potong Adi. Suaranya rendah dan tidak biasa; Rani hampir tidak mengenalnya. "Sampai sekarang masih ungu. Kalau Ibu mau marah, marahlah padaku saja karena aku yang tidak pernah pulang."
"Dengar ibu." Ibu Rani sudah berdiri di pintu, membelakangi mereka, punggungnya kaku dan sempit. "Kamu bukan anak ibu kalau kamu cerai."
Pintu menutup. Di luar, bunyi sandalnya menjauh tanpa menoleh, melewati mobil hitam yang diparkir di seberang jalan, tempat seorang laki-laki di balik kemudi menunduk lebih dalam ketika ia lewat.