"Sudah tidur, Nak?"
"Belum, Ibu." Rani duduk bersandar di ranjang kamar tamu dengan ponsel di telinga dan lampu meja yang dimatikan. Di ruang depan terdengar dengkur halus Danu yang memilih tidur di sofa menjaga rumah. Pagar besi yang tadi ditendang sudah miring, dan Maya bersumpah akan menggantinya besok pagi dengan uang pribadi.
"Ibu dengar dari Maya tadi." Suara Ibu Bagas di seberang pelan, dari kamar sewaan yang hanya tiga menit berjalan kaki. "Ibu tidak akan bilang jangan takut. Takut itu wajar. Tapi kamu tidak sendirian di rumah itu, ada Danu, ada Maya, dan Ibu di ujung telepon ini sampai kamu bosan."
"Dia bilang tidak akan menceraikan saya, Ibu."
"Itu perkataan orang yang sedang kehilangan pegangan. Bukan perkataan hukum." Ada jeda, bunyi minum dari gelas. "Coba tarik napas empat hitungan. Nah. Sekarang Ibu bacakan surat pendek, ya, pelan-pelan, kamu ikuti dalam hati."
Rani mendengarkan suara perempuan tua itu melantunkan ayat dengan nada yang tidak bagus, tetapi sangat tulus, dan akhirnya tertidur menjelang pukul dua belas dengan ponsel masih menyala di dadanya.
*****
Di Sampit, pukul tiga lewat sedikit, pintu depan sebuah rumah semi permanen di pinggir gang sempit terbuka tanpa sempat diketuk.
"Polisi! Jangan bergerak! Semua tiarap!"
Cahaya senter menyapu ruangan yang sesak asap rokok dan musik yang dikecilkan, menyorot muka-muka yang tiba-tiba kehilangan senyum. Rendi sedang duduk bersandar di dinding dengan jaket di pangkuan, dan untuk beberapa detik ia tidak mengerti apa yang terjadi. Seorang kawan berteriak. Gelas pecah. Dua laki-laki berseragam menjatuhkan orang di sebelahnya ke lantai dengan satu gerakan terlatih.
Ia sempat berpikir tentang motor yang diparkir di luar. Sempat berpikir tentang pagar besi di Palangkaraya yang ia tendang tadi sore, tentang suara di balik pintu yang berkata, Bang, Abang sudah janji empat kali. Lalu tangan kasar menarik lengannya ke belakang, dingin besi menutup di pergelangannya, dan seorang polisi mengangkat bungkusan kecil dari saku jaket yang terjatuh di sisi kakinya.
"Ini punya siapa?"
Rendi membuka mulut. Tidak ada kata yang keluar. Yang terdengar hanya suara sendiri di kepalanya, bukan suara polisi, melainkan suara ibunya di lorong rumah sakit: pergi, Rendi, Mama tidak mau lihat mukamu. Untuk pertama kalinya sejak SMA, tidak ada satu orang pun yang bisa ia telepon.
*****
Pagi itu Rani baru selesai shalat subuh ketika dua laki-laki berseragam cokelat berdiri di depan pintu rumah Maya dan menanyakan namanya.
"Selamat pagi, Bu. Dengan Ibu Maharani Saraswati? Istri dari Rendiansyah Saputra?"
"Ya, Pak." Ia menyadari tangannya sudah memegang perut sebelum ia sempat memikirkannya.
"Kami dari kepolisian. Pagi ini Saudara Rendiansyah diamankan di Sampit dalam penggerebekan. Ditemukan barang bukti narkotika jenis sabu di saku jaketnya." Polisi yang lebih tua membaca dari catatan kecil dengan nada datar yang sengaja dijaga. "Yang bersangkutan sudah ditahan dan akan diproses. Kami datang karena Ibu tercatat sebagai istri sahnya, dan kami butuh keterangan singkat."
Maya dan Danu sudah berdiri di belakangnya. Rani mendengar napas Maya tersendat.
"Silakan masuk, Pak."
Mereka duduk di sofa tempat tadi malam Siti makan nasi bungkus. Polisi muda mencatat. Mereka bertanya sejak kapan Rani tahu tentang kebiasaan suaminya, apakah pernah melihat barang itu, apakah ada kekerasan di rumah. Rani menjawab satu per satu, kalimat-kalimat pendek, tanggal-tanggal yang ia hafal tanpa perlu mengingat. Ia menyebut tas hijau lumut. Ia menyebut rumah kebun. Ia tidak menyebut Nur.
Danu, yang berdiri bersandar di tembok dapur, menyela dengan suara tenang. "Pak, kalau nanti Rani perlu dipanggil lagi, tolong lewat saya atau lewat pengacaranya. Dia sedang hamil dan dokter menyuruhnya istirahat."
"Baik, Pak. Kami catat." Polisi tua itu mengangguk, lalu menoleh lagi ke Rani. "Ibu mau menjenguk?" tanyanya, hampir hati-hati. "Kalau mau, ada prosedurnya."
"Tidak, Pak." Rani menggeleng pelan. "Saya sedang menggugat cerai. Surat gugatannya diantar ke pengadilan pagi ini."
"Itu urusan pengadilan, Bu, bukan urusan kami." Polisi itu berdiri dan menyodorkan kartu nama. "Kalau ada yang mengganggu, telepon nomor ini."
Setelah mereka pergi, Rani tetap duduk di sofa dengan tangan terlipat di pangkuan. Ia mengira akan merasa lega. Atau marah. Yang ada hanya ruang kosong di dalam dada, tempat sesuatu yang dulu ia sebut harapan pernah tinggal.
*****
Hajjah tiba sebelum asar, turun dari mobil hitam yang dikemudikan pamannya, dengan kerudung abu-abu dan tas tangan yang sama. Uban di sela kerudungnya bertambah banyak dalam sepekan, dan bahunya turun seperti memikul sesuatu yang tak terlihat.
"Mama sudah dengar." Ia berdiri di teras, tidak berani masuk sebelum dipersilakan. "Polisi menelepon Mama subuh tadi. Pengacara dari kenalan Rendi menawarkan jaminan siang ini. Mama tolak, Nak."
Rani menarik kursi untuk Hajjah. "Silakan duduk, Ma."
"Soal gelang itu," lanjut Hajjah sebelum Rani sempat bicara, "jangan kamu pikirkan lagi. Gelang itu cuma emas. Yang Mama pikirkan sekarang, kamu menjualnya demi membayar utang yang bukan utangmu, dan Mama tidak sanggup menggantinya dengan kata-kata." Ia menarik napas. "Mama pikir Mama akan merasa seperti ibu yang membiarkan anaknya." Hajjah duduk, dan tangannya yang memegang tas gemetar halus. "Ternyata Mama justru merasa seperti ibu yang akhirnya berani. Dua puluh tahun terlambat." Ia tertawa kecil tanpa suara. "Kamu menyesal, Rani?"
Rani berpikir cukup lama. "Saya menyesal dan tidak menyesal, Ma. Dua-duanya sekaligus. Saya tidak tahu itu bisa."
"Bisa." Hajjah membuka tasnya dan mengeluarkan bungkusan kain batik halus. Di dalamnya terlipat kain bayi yang lembut, berwarna krem, dengan sulaman kecil di tepinya. "Ini dari Mama. Mama simpan sejak Rendi lahir, tidak pernah Mama pakai. Untuk cucu Mama."
Tangan Rani terulur ragu lalu menyentuh kain itu. Wangi lemari tua, wangi kapur barus.
"Satu permintaan, Nak." Suara Hajjah turun nyaris tak terdengar. "Bukan sekarang. Kalau suatu hari anak ini lahir dan sehat, dan Rendi sudah, kalau Allah mengizinkan, sudah jadi orang lain. Izinkan dia melihat anaknya sekali. Sekali saja."
"Nanti, Ma." Rani melipat kain itu kembali ke bungkusnya dengan hati-hati. "Bukan sekarang."
"Cukup. Itu sudah lebih dari yang pantas Mama minta."
Mereka duduk berdiam sampai bunyi sandal kecil terdengar di jalan setapak. Bu Bambang berdiri di depan pagar yang miring, memakai kerudung motif bunga dan membawa bungkusan nasi kuning, matanya sudah merah sebelum ia membuka mulut.
"Nak Rani. Ibu... Ibu tidak berani masuk."
"Masuk, Bu Bambang."
"Ibu yang memberi nomormu. Ibu yang bilang dia anak baik." Perempuan paruh baya itu berdiri di tengah halaman dan menangis seperti anak kecil, tidak menutupi wajahnya. "Ibu menyayangi dia, Nak. Ibu sayang, sampai Ibu buta. Maafkan Ibu."
Rani berdiri, melintasi halaman dengan satu tangan di punggung, dan memeluk perempuan itu. Bahu Bu Bambang gemetar di pelukannya, dan untuk beberapa waktu tidak ada yang berkata apa pun.
Ponsel di saku daster Rani bergetar. Pesan dari pengacara lembaga bantuan hukum.
[Gugatan sudah terdaftar. Sidang pertama Senin pekan depan pukul sembilan. Mohon datang bersama dua saksi.]