Kursi di sebelah kiri meja hijau itu kosong, dan Rani tidak bisa berhenti menatapnya.
Pengadilan Agama Palangkaraya pagi itu lebih sepi daripada yang ia bayangkan. Ruang tunggunya berlantai tegel kusam dengan deretan kursi plastik, kipas angin menggantung di langit-langit yang berderit setiap putaran ketiga, dan di dinding ada pengumuman jadwal sidang yang ditulis tangan. Rani duduk di antara Maya dan Danu, dengan map biru di pangkuan dan kardigan panjang menutupi perut yang sudah tidak bisa disembunyikan. Setiap kali pintu depan terbuka ia menoleh, dan setiap kali itu bukan orang yang diam-diam ia harapkan. Ibunya tidak datang. Ia sudah tahu itu sejak semalam, tetapi leher dan matanya belum mau percaya.
"Jangan lihat pintu terus," bisik Maya. "Lihat aku."
"Aku lihat kamu, May. Mataku saja yang bandel."
"Mbak Rani." Pengacara perempuan berkacamata tebal itu muncul membawa dua lembar kertas. "Satu hal sebelum masuk. Atasan Mbak di toko bersedia hadir sebagai saksi. Surat kesediaannya dikirim lewat karyawan Mbak kemarin sore."
Rani menegakkan punggung. "Saya tidak memintanya, Bu."
"Saya yang memintanya, Mbak, lewat karyawan itu. Keterangan atasan tentang keadaan Mbak di tempat kerja sangat berguna. Dia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain."
Maya membuka mulut, tapi Rani lebih dulu. "Perjanjian kami tidak mengatur ruang sidang." Suaranya datar. "Baik, Bu. Selama ia hanya berbicara tentang apa yang ia lihat."
"Hanya itu."
Pintu depan terbuka dan seorang laki-laki berkemeja putih masuk membawa map tipis. Reza berhenti di ambang, menyapu ruang tunggu dengan satu pandang, dan berjalan lurus ke deretan kursi lain, sejauh mungkin dari bangku mereka. Maya mendengus pelan. Danu menyentuh lengannya.
Sebelum petugas memanggil, Reza berdiri dan mendekat dua langkah, berhenti di jarak yang sengaja dibuat lebar. "Saya cuma akan bilang yang saya lihat, Ran."
"Bilang itu saja, Bos," jawab Rani, sama datarnya.
Reza mengangguk sekali dan kembali ke kursinya.
Palu diketuk pukul sembilan lewat sepuluh. Hakim ketua perempuan, berusia hampir lima puluh, dengan jilbab hitam dan suara tenang yang tidak mengenal tergesa. Panitera membacakan perkara. Penggugat hadir. Tergugat tidak hadir.
"Tergugat berada dalam tahanan kepolisian di Sampit sejak tanggal dua bulan ini," ujar panitera sambil membaca. "Surat panggilan sudah dikirim, dan pihak rutan menyatakan yang bersangkutan menerimanya."
"Berarti mediasi tidak mungkin dilakukan hari ini." Hakim menulis sesuatu. "Penggugat, silakan maju dan jelaskan secara singkat alasan Saudari mengajukan gugatan."
Rani berdiri. Lututnya terasa seperti ditopang air, tetapi ia berjalan. Di depan meja hijau itu, ia mengucapkan namanya, usianya, alamatnya, lalu hal-hal yang sudah ia susun berhari-hari dalam kepala dan ternyata keluar lebih sederhana ketika diucapkan.
"Suami saya berbohong tentang pekerjaan dan keluarganya sebelum kami menikah, Yang Mulia. Setelah menikah saya menemukan bahwa ia memakai sabu dan berjudi. Ia mencengkeram tangan saya, mendorong saya ke dinding saat saya hamil, dan tanggal dua puluh tiga Juni ia menampar saya di Sampit. Malam itu saya masuk rumah sakit dan hampir kehilangan anak saya." Ia mengambil surat dari dalam map dan menyerahkannya kepada panitera. "Ini keterangan dokter."
Hakim membaca lama. Kipas angin berderit satu kali. "Saudari menuntut harta atau nafkah dari tergugat?"
"Tidak, Yang Mulia. Saya hanya meminta pernikahan ini diakhiri." Rani menyentuh perutnya dengan telapak, hampir tanpa disadari. "Anak ini saya yang akan besarkan. Kalau suatu hari tergugat memang sudah berubah, itu urusan kami nanti."
Hakim menatapnya sejenak, lalu menulis lagi. "Saudari mau melanjutkan pernikahan ini?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Saudari yakin?"
"Saya sudah memberi kesempatan dua kali," jawab Rani. "Saya tidak mau memberi yang ketiga dengan anak saya sebagai taruhannya."
Hakim menatapnya cukup lama, lalu mengangguk pelan. "Duduk kembali, Saudari. Saksi pertama."
*****
Danu bersaksi lebih dulu dengan suara bapak-bapak yang terbiasa menjelaskan kontrak, tetapi tangannya yang menekan lutut basah oleh keringat. Ia menceritakan apa yang ia lihat di rumah kebun: kasur lipat, kartu remi, empat laki-laki yang tidak sadar, Rendi yang menampar. "Saya menyetir ke sana karena Rani minta tolong, Yang Mulia," katanya ketika ditanya alasan. "Saya tidak menyangka akan melihat itu, tapi saya melihatnya sendiri, dan saya tidak akan menyangkal." Maya menyusul. Ia mencoba bersikap rapi, tetapi pada kalimat ketiga suaranya pecah, dan ia mengakhiri kesaksiannya dengan kalimat yang tidak ada dalam skrip: "Saya sahabatnya, Yang Mulia, dan saya melihat dia menutup perutnya sebelum menutup pipinya."
Panitera berdeham. Hakim menunduk sebentar menulis.
"Saksi ketiga. Silakan masuk."
Pintu samping terbuka. Rani tidak berbalik, tetapi ia mendengar langkah sepatu kulit yang ia kenal terlalu baik, dari kebiasaannya turun tangga ke lantai toko. Reza melintasi ruangan dengan kemeja putih berlengan panjang dan celana kain hitam. Ia lebih kurus dari yang Rani ingat. Rambutnya dipangkas pendek, dan matanya, saat sekilas melewati bangku penggugat, tidak mencari tatapan siapa pun.
Hakim memeriksa identitas. "Saksi, apa hubungan Saudara dengan penggugat?"
"Atasan, Yang Mulia. Penggugat bekerja di salah satu toko saya dan merekap keuangan semua cabang. Tidak ada hubungan keluarga."
"Apa yang Saudara ketahui berkaitan dengan perkara ini?"
Reza menarik napas. "Awal Mei, kira-kira sepuluh hari sebelum penggugat mengambil cuti hamil. Ia mengangkat kardus sepatu di gudang, dan lengan bajunya tersingkap. Di pergelangan kirinya ada lebam biru keunguan, dan di lengan atasnya ada bekas jari." Suaranya tidak naik atau turun. "Saya bertanya. Ia bilang terbentur pintu lemari. Saya tidak bertanya lagi."
"Mengapa Saudara tidak bertanya lagi?"
Jeda kecil. "Karena saat itu saya tahu ia berbohong, Yang Mulia, dan saya membiarkannya. Itu kesalahan saya, bukan kesalahannya."
"Setelah itu?"
"Beberapa hari sesudahnya ia mengajukan cuti hamil dan saya setujui sesuai aturan. Sejak itu saya tidak bertemu dengannya lagi sampai pagi ini. Hanya lewat karyawan."
Rani menunduk menatap map biru di pangkuan. Ia tidak mau memberi laki-laki itu apa pun, bahkan sebuah tatapan, dan ia tidak pernah ingin mendengar kalimat itu terucap di ruangan ini. Tetapi kalimat itu sudah terucap, dan panitera sedang mengetiknya. Maya di sampingnya menggeser bahu hingga menempel ke bahu Rani, tanpa berkata apa-apa.
"Apakah Saudara pernah melihat tergugat?"
"Dua kali, Yang Mulia. Di toko, saat ia membeli sepatu, dan di turnamen futsal beberapa tahun lalu. Itu saja."
"Cukup." Hakim mengetuk map dengan ujung pulpen. "Terima kasih, Saudara. Silakan keluar."
Reza berdiri, mengangguk ke arah meja hijau, dan pergi tanpa menoleh.
*****
Kipas angin berderit. Hakim merapikan kertas-kertas di hadapannya, menyatukan bundel keterangan dokter, kesaksian, dan salinan gugatan, lalu menatap bangku penggugat.
"Saudari Rani. Perkara ini sudah cukup jelas bagi majelis tentang keadaan Saudari. Tetapi hukum meminta tergugat dipanggil secara patut, walaupun ia berada dalam tahanan. Saudari harus bersabar."
"Berapa lama, Yang Mulia?"
"Beberapa kali sidang. Mungkin dua bulan, mungkin lebih." Hakim menutup map dan mengangkat palunya. "Sidang dilanjutkan setelah para pihak dipanggil."
Palu jatuh satu kali, pelan.
*****
Di lorong luar, bangku-bangku kayu sudah terisi orang yang menunggu perkara berikutnya. Rani berhenti untuk membetulkan kardigan, dan ketika ia mengangkat wajah, Reza sudah berdiri tiga langkah di depannya dengan map tipis di kedua tangan. Ia tidak mendekat lagi.
"Seharusnya waktu itu saya bertanya dua kali, Ran."
Maya membuka mulut, tetapi Rani mengangkat tangan sedikit supaya ia diam.
"Saya dengar, Bos." Suaranya datar dan ia tidak bergeser dari tempatnya. "Terima kasih sudah bicara yang sebenarnya di dalam."
Reza menunduk sekali, berbalik, dan berjalan ke tangga tanpa menoleh. Rani menatap punggungnya sampai hilang, dan kalimat itu tinggal di kepalanya jauh lebih lama daripada yang ia mau.