Layar kecil di samping ranjang periksa menampilkan bayangan abu-abu yang bergerak-gerak, dan dokter kandungan itu sudah tiga kali menggeser alat di perut Rani tanpa berkata apa pun.
"Dok?" Rani menahan napas. "Ada yang salah?"
"Belum tentu salah, Bu Rani." Dokter perempuan berkacamata itu mengukur sesuatu di layar, lalu mengetik angka di komputer. "Bayinya sehat, detak jantungnya bagus. Tapi ukurannya sedikit di bawah rata-rata untuk usia kandungan ini. Tiga puluh minggu, beratnya baru satu koma dua kilo."
"Itu kecil?"
"Kecil, bukan bahaya. Kita jaga supaya tidak tambah kecil." Dokter itu menyerahkan tisu untuk mengelap gel di perut. "Ibu harus istirahat lebih banyak. Jangan angkat yang berat, jangan banyak naik turun tangga, makan protein, tidur siang. Kontrol dua minggu sekali. Dan kalau perut mengeras terus-menerus, atau ada cairan keluar, jangan tunggu pagi, langsung ke sini. Mengerti?"
"Mengerti, Dok."
Di bangku luar tirai, Maya yang sejak tadi pura-pura membaca majalah ibu hamil langsung berdiri. "Aku catat, Ran. Protein. Tidur siang. Nggak boleh angkat yang berat." Ia mengeluarkan buku kecil dari tas. "Aku bikin jadwal. Kamu nggak boleh nyapu lagi."
"Aku cuma nyapu teras."
"Itu juga."
Mereka keluar dari klinik ke teras yang berbau obat dan sabun lantai. Rani duduk di bangku panjang sebelum melangkah ke motor, mengelus perutnya yang terasa tegang. Satu koma dua kilo. Ia mengulang angka itu dalam kepala seperti nomor telepon yang harus dihafal.
Ponselnya berbunyi. Ibu Bagas.
"Bagaimana, Nak? Dokter bilang apa?"
Rani menceritakannya apa adanya. Di seberang, Ibu Bagas diam, lalu berkata, "Ibu ke sana sore ini."
"Tapi, Ibu..."
"Ibu sudah di perjalanan. Ibu naik mobil dengan Laila dan Bagas sejak pagi. Kamu tahu Ibu, Nak. Ibu nggak bisa duduk diam kalau ada orang yang Ibu sayang sedang butuh bantuan."
Rani menutup mulut dengan punggung tangan supaya Maya tidak melihat senyumnya yang goyah.
*****
Mobil hitam itu berhenti di depan rumah Maya pukul empat sore. Rani menyambut mereka sendiri di ambang pintu yang ia buka lebar-lebar, sesuai kesepakatan yang tidak pernah diucapkan siapa pun tetapi dipatuhi semua orang: pintu terbuka kalau Bagas ada.
Ibu Bagas turun dengan walker, Kak Laila menjaga di sisi kiri, perawat membawa tas. Bagas menutup pintu mobil dan tinggal di dekat pagar.
"Duduk, Nak, duduk," Ibu Bagas langsung menuntun Rani ke sofa, bukan sebaliknya. "Laila, bawa tehnya. Kamu minum teh hangat, jangan dingin. Dokter bilang apa lagi? Ulangi yang detail."
Rani mengulang. Kak Laila mencatat di ponselnya. Maya, yang berdiri di pintu dapur, menonton keempat perempuan itu seperti menonton rapat dewan.
"Kalau begitu sudah jelas," kata Ibu Bagas setelah Rani selesai. "Kamu ikut Ibu ke Banjarmasin."
"Ibu?"
"Dokter di sana lebih lengkap. Rumah Ibu kamar bawah ada dua, tidak perlu naik tangga. Laila di sana, perawat di sana, Ibu di sana. Kamu istirahat tenang sampai melahirkan."
Itu tawaran yang tulus, dan karena tulus, Rani merasa dadanya sesak. Tidak sulit membayangkan kamar bawah yang bersih itu, teh hangat tiap pagi, tangan-tangan yang tidak menagih apa-apa. Tidak sulit pula mengatakan ya.
Ia mengatakan hal yang lain.
"Terima kasih, Ibu. Saya sungguh berterima kasih." Ia menggenggam tangan Ibu Bagas dengan kedua tangannya. "Tapi saya akan melahirkan di kota saya."
"Nak..."
"Ini bayi pertama saya, Ibu, dan dia akan lahir di tempat saya dibesarkan, dekat ibu dan adik saya. Saya tidak mau nanti ia hanya punya cerita bahwa ibunya lari ke kota lain saat sedang susah." Suaranya tetap pelan. "Ibu boleh marah."
Ibu Bagas menatapnya lama. Kak Laila berhenti mengetik. Lalu Ibu Bagas tertawa, terkejut sendiri, dan menepuk punggung tangan Rani.
"Siapa yang mau marah? Ibu bangga." Ia mengusap sudut mata. "Kamu persis seperti bidadari yang Ibu temui di pantai dulu. Keras kepala tapi sopan."
"Ibu," tegur Kak Laila lembut.
"Apa? Benar, kan."
Bagas berdeham dari pagar. Ia berdiri di sana sejak tadi, tangan di saku, tampak seperti orang yang menunggu giliran bicara di rapat yang tidak ia undang. "Ran. Boleh aku masuk? Cuma sampai teras. Pintunya sudah terbuka."
"Silakan, Mas."
Ia naik, berdiri di undakan teras tanpa melewati ambang. Dari sofa Rani bisa melihat sebagian wajahnya.
"Aku mau cerita sesuatu, supaya kamu tahu dari aku, bukan dari orang lain," katanya. "Beberapa hari lalu aku dipanggil atasan. Ada proyek perluasan jaringan di Palangkaraya sampai Kasongan, tiga bulan. Mereka butuh pengawas yang bisa langsung berangkat. Aku yang minta tugas itu."
"Mas yang minta?"
"Sehabis Lebaran. Aku bilang ke atasan bahwa aku butuh dekat keluarga." Bagas berhenti sejenak. "Itu setengah jujur. Yang jujur seluruhnya: aku nggak mau kamu ke dokter sendirian. Itu saja. Bukan untuk menekan kamu, Ran. Tugas itu resmi, surat tugasnya ada. Dan kalau kamu minta aku jauh-jauh, aku tinggal di mess dan kamu nggak akan lihat aku kecuali Ibu menyuruh."
Rani menatapnya. Ia sedang mencari tanda-tanda bahwa kalimat itu mengandung jebakan, ancaman manis, atau tuntutan yang disembunyikan. Seperti yang pernah ia lakukan pada Rendi, dulu. Dan ia tidak menemukan apa-apa selain seorang laki-laki yang berdiri di undakan teras dengan tangan di saku, menunggu dibilang boleh atau tidak.
"Mas tinggal di mana nanti?"
"Mess proyek di Kasongan seminggu, sisanya kontrak kecil di dekat kantor. Aku nggak akan ke sini kecuali kamu atau Ibu minta."
"Ibu yang minta," sela Ibu Bagas, dengan wajah polos yang sama sekali tidak meyakinkan. "Dan Ibu ikut."
"Ibu ikut ke mana?" tanya Rani.
"Ke sini, Nak. Ibu sewa rumah kecil. Tiga bulan. Kalau kamu tidak mau ke Banjarmasin, ya Ibu yang ke sini." Ibu Bagas merogoh tas kainnya dan mengeluarkan satu kunci dengan gantungan plastik berbentuk ikan. "Tadi Laila dan perawat sudah lihat. Dua gang dari sini, di belakang warung Pak Haji. Nomor empat belas."
"Dua gang..." Maya, dari pintu dapur, tidak bisa lagi menahan diri. "Itu dekat banget, Bu. Dari pintu belakang rumahku kelihatan."
"Memang itu yang Ibu cari."
Rani membuka mulut untuk memprotes, tetapi tidak ada satu pun keberatan yang terdengar jujur. Ia tidak minta Ibu pindah. Namun ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa rumah dua gang dari sini tidak membuat pundaknya turun satu senti, sesuatu yang selama berminggu-minggu menekan tanpa ia sadari.
"Ibu," katanya akhirnya, "Ibu jangan capek."
"Ibu justru lebih capek di rumah, Nak, menunggu telepon."
Ponsel Rani bergetar di pangkuannya. Satu pesan.
[Mbak Rani, ini Arman. Pak Reza minta izin mampir mengantar sesuatu dari toko dan berpamitan. Sebentar saja. Boleh, Mbak?]
Rani membaca pesan itu dua kali. Ruang tamu mendadak terasa sunyi, seakan Maya, Kak Laila, dan Ibu Bagas ikut membacanya dari balik bahunya.
"Siapa?" tanya Maya.
"Reza," jawab Rani.
Maya menurunkan baki yang ia pegang. Di teras, Bagas menatap pagar dengan sungguh-sungguh, seperti orang yang baru menemukan hal paling menarik di dunia pada besi berkarat itu. Ibu Bagas tidak berkata apa-apa, tetapi alisnya naik sedikit, dan Kak Laila mengambil cangkir tehnya.
"Kamu mau bertemu?" tanya Maya pelan. "Kamu nggak harus, Ran. Perjanjiannya masih ada."
"Aku tahu." Rani menimbang. Ia ingat amplop gaji muka, ingat lorong pengadilan, ingat satu kalimat Reza di sana yang tidak bisa ia lupakan. Ia juga ingat kenapa perjanjian itu ada, dan bahwa ia yang menulisnya. "Dia mau pamit. Orang yang mau pamit boleh diberi satu kesempatan bicara. Di teras, ada kamu, dan pintu terbuka."
Ia mengetik dengan dua jempol, pelan, dan membacakannya keras-keras supaya tak ada yang perlu menebak.
[Boleh, Arman. Minggu depan sore hari, di teras rumah Maya, sebentar saja. Barang yang dibawa saya bayar sendiri. Terima kasih sudah tanya dulu.]
Lalu ia menekan kirim, sebelum sempat berubah pikiran.