Truk kecil milik toko berhenti di depan rumah Maya pukul tiga sore, tepat pada hari yang Rani sebutkan, dan Arman turun dari bangku depan sambil membetulkan topinya.
"Mbak Rani!" Ia melambai dengan canggung, lalu menurunkan suara ketika melihat kerumunan di halaman. Pekarangan itu sedang sibuk: Maya menggantung kain putih di teras, Siti dan Anita memotong buah untuk rujak, dan dari dapur terdengar ibu Rani memerintah seseorang mengupas nanas lebih tipis. "Rame, ya. Kami nggak ganggu?"
"Tidak, Man. Bawa ke sini saja."
Dua orang kuli menurunkan kotak besar berbungkus plastik dan membawanya ke teras. Di belakang truk, seorang laki-laki berkemeja putih turun lebih pelan, berdiri sebentar di tepi jalan seakan menunggu izin untuk melangkah lebih jauh.
Reza.
Rani duduk di kursi rotan di teras dengan Maya berdiri di belakangnya. Pintu ruang tamu terbuka lebar. Reza melepas sepatu di tangga tanpa disuruh dan berhenti dua meter dari kursi itu.
"Terima kasih sudah mau menerima, Ran."
"Silakan duduk, Mas Reza."
Ia duduk di bangku plastik paling ujung. Pelan-pelan para kuli membuka plastik. Boks bayi dari kayu mahoni dicat putih, dengan pagar jeruji halus dan roda kecil di tiap kaki, muncul dari balik gelembung-gelembung udara.
"Itu dari toko mebel langganan kami," kata Reza. "Dulu saya pesan untuk keponakan. Tidak jadi dipakai. Belum pernah disentuh."
Rani menatap boks itu. Putih bersih, dan untuk sesaat ia membayangkan Alya, nama itu masih rahasia, tertidur di sana. Tenggorokannya menyempit.
"Berapa harganya?"
"Ran, itu..."
"Berapa, Mas Reza?"
Reza mengatup mulut, lalu melirik Arman. Arman, yang jelas sudah dilatih, mengeluarkan buku kuitansi kecil. "Tujuh ratus lima puluh ribu, Mbak. Harga pokok."
Rani membuka tasnya, mengeluarkan amplop cokelat yang sudah ia siapkan sejak malam, dan menghitung uang di pangkuannya di depan semua orang. Lembar demi lembar. Lalu ia menyerahkan amplop itu ke Arman, bukan ke Reza.
"Tolong ditulis lunas, Man. Atas nama saya."
"Baik, Mbak."
Reza menonton tanpa berkomentar. Wajahnya sulit dibaca: ada sesuatu di sana yang barangkali kecewa, tetapi lebih banyak pengertian. "Kamu benar," katanya akhirnya. "Terima kasih. Itu cara yang tepat."
Sunyi sampai kuli selesai memasang roda dan menyingkir. Arman, yang paham keadaan, mengajak mereka membawa kotak pembungkus ke truk.
"Saya mau pamit, Ran," kata Reza. "Cabang Banjarbaru butuh saya sepenuhnya. Mulai bulan depan saya di sana. Toko ini tetap jalan, Arman yang pegang."
"Kabar baik, Mas."
"Dan ada satu hal." Ia memasukkan tangan ke saku kemeja, mengeluarkan selembar kertas lipat, tetapi tidak membukanya. "Ibu saya minta saya sampaikan, lisan saja. Dia bilang, dulu ia salah menilai orang dari tempat tinggalnya. Ia minta maaf soal ucapannya waktu kamu baru bekerja. Dia tidak berani bilang langsung."
Rani menahan napas. Dulu ia pernah menelan kalimat "level kalian berbeda" tanpa membantah sepatah pun.
"Sampaikan terima kasih saya untuk beliau."
"Satu lagi." Kertas itu akhirnya ia letakkan di meja. "Itu bukan hadiah. Itu penawaran kerja. Kalau kamu sudah melahirkan dan siap, laporan keuangan semua cabang bisa kamu kerjakan dari rumah. Bayarannya sesuai pekerjaan, dengan kontrak tertulis. Syaratnya hanya itu."
Rani tidak menyentuh kertas itu. Ia sadar Maya di belakangnya menahan napas, menunggu ia menolak mentah-mentah, dan sadar pula bahwa bagian dirinya yang menghitung cicilan bidan dan harga popok sedang mendengarkan sangat baik.
"Saya perlu waktu, Mas Reza. Bukan karena tawarannya jelek. Karena saya mau memikirkannya dengan kepala saya sendiri, bukan karena merasa berutang."
"Itu justru yang saya harapkan." Ia berdiri, menunduk sedikit ke arah Maya, yang membalas dengan dengusan pendek, lalu berbalik ke truk dan tidak menoleh lagi.
"Ran," bisik Maya begitu mesin truk menjauh, "aku masih mau jitak dia."
"Aku tahu."
"Tapi kertas itu kamu simpan, kan?"
"Besok." Rani menyelipkan kertas itu ke bawah toples kerupuk di meja teras. "Sekarang kita punya tujuh macam buah yang harus dikupas."
*****
Menjelang magrib, halaman penuh sandal dan suara.
Ibu Rani telah menggelar tikar di ruang tamu dan menata nasi kuning, rujak tujuh macam buah, serta sepiring telur rebus yang diberi pewarna merah. Ia berdiri di dapur dengan celemek yang dulu hanya dipakai kalau ada acara keluarga, mengawasi tiap tangan yang menyentuh makanan. Di sampingnya, Hajjah Salmah duduk di kursi plastik memangku keranjang buah yang ia bawa dari Sampit, tidak berani menawarkan bantuan.
"Taruh di sana saja, Bu," kata ibu Rani akhirnya, menunjuk meja pojok. Dan setelah sedetik, dengan nada yang masih datar tetapi tidak dingin: "Jeruknya bagus."
"Dari kebun tetangga Mama, Bu." Hajjah tersenyum hati-hati. "Terima kasih sudah mengizinkan Mama hadir."
Ibu Bagas memimpin doa, duduk di kursi roda yang sengaja dibawa karena ruang tamu terlalu penuh untuk walker, suaranya serak oleh haru. Kak Laila memegang tasbih, dan Maya, yang matanya sudah merah sebelum doa dimulai, memegang erat tangan Anita. Rani duduk di tengah, di atas tikar, dengan kain batik hijau yang dililitkan ibu Rani di pinggangnya. Dari luar, di balik pintu yang dibuka lebar, Bagas berdiri di teras bersama Danu, tidak masuk, hanya mengucap amin dalam hati pada tiap jeda.
Setelah doa selesai, Ibu Bagas mengusap bahu Rani.
"Nak, sudah dipilih namanya?"
Rani memandang sekeliling. Semua orang menunggu. Ia tidak berencana mengatakannya sekarang, tetapi di sini, di antara wajah-wajah yang selama ini menopangnya, ia merasa itu tempat yang tepat.
"Alya," katanya. "Kalau perempuan. Namanya Alya."
Ibu Bagas mengulang pelan, seakan merasakan bunyinya. "Alya. Bagus sekali, Nak. Ibu orang pertama yang tahu namanya?"
"Ibu dan semua yang di sini."
Dari kursi plastik, Hajjah menutup mulut dengan telapak tangan, dan matanya basah. Iki, yang duduk bersila terlalu dekat dengan rujak, mengulang nama itu dua kali keras-keras seakan menghafal untuk ujian, lalu bertanya apakah Alya boleh ia panggil "Adik Aya" kalau susah.
"Boleh," kata Rani sambil tertawa, "asal Iki yang jaga."
Sesudah semua orang pindah ke piring masing-masing, Rani keluar membawa gelas teh untuk Danu. Bagas masih di teras, bersandar di tiang dengan sebelah tangan di saku.
"Alya," ia mengulang pelan, supaya tak terdengar sampai ke dalam. "Bagus namanya."
"Mas dengar dari sini?"
"Pintunya terbuka lebar, Ran. Aku tidak sengaja nguping." Ada senyum kecil di sudut bibirnya. "Aku cuma mau bilang aku senang. Itu saja. Selebihnya urusan bidan dan dokter."
Rani menyerahkan gelas itu kepada Danu, bukan kepadanya, dan Danu, yang tahu persis apa yang sedang ia lakukan, pura-pura sibuk mengaduk gula.
*****
Sel di rutan Sampit itu bau lembap dan keringat. Rendi duduk di lantai semen, punggung bersandar ke dinding, menyaksikan tiga temannya bermain kartu di sudut. Sudah dua minggu tidak ada satu pun yang mengajaknya ikut, dan hari-hari kunjungan lewat tanpa nama Nur dipanggil sekali pun oleh petugas.
Sipir memanggilnya. Ada tamu.
Hajjah duduk di bangku kayu di ruang kunjungan dengan wajah lelah. Ia baru turun dari travel semalam. Rendi duduk di seberangnya tanpa menyentuh kaca penyekat.
"Mama dari rumah Rani," kata Hajjah. "Ada syukuran tujuh bulan. Dia kasih nama. Alya."
Rendi tidak menjawab. Ia menatap meja.
"Banyak yang datang. Ibu Rani masak. Ibu Bagas, ibu laki-laki itu, yang pimpin doa." Hajjah memaksa dirinya menyelesaikan kalimat. "Rani punya orang yang menjaganya, Rendi. Karena kamu tidak."
Rendi masih menunduk. Dulu tangannya gemetar karena kecanduan, dan sekarang gemetar karena sebab lain yang tak punya nama.
"Siapa yang nemenin dia periksa?" tanyanya lirih.
"Teman-temannya. Dan seorang laki-laki, anak dari ibu yang kakinya sempat tak bisa berjalan. Dengan pintu terbuka, Rendi, dan tak pernah berdua."
Ketika sipir mengingatkan waktu habis, ia berdiri begitu saja, tanpa membantah. Di ambang pintu besi ia berhenti.
"Ma." Suaranya serak, seperti suara orang yang lama tidak dipakai. "Kalau dia sudah lahir. Mama bisa minta fotonya? Cuma foto. Aku nggak minta apa-apa lagi."
"Mama tidak janji, Rendi."
"Tanyakan saja." Ia tidak menoleh. "Tolong."