Rani terbangun pukul empat pagi karena perutnya mengeras seperti batu.
Ia berbaring kaku di kamar tamu rumah Maya, tangan memegang bagian bawah perut, menunggu rasa itu lewat. Lima detik. Sepuluh. Lalu mengendur, dan sebelum ia sempat bernapas lega, mengeras lagi.
"Bu," bisiknya, dan suaranya terdengar kecil sekali di kamar gelap. "Bu."
Ibu Rani, yang menginap sejak kemarin sore dan tidur di kasur lipat di lantai, langsung duduk. Rambutnya acak-acakan dan matanya masih setengah menutup, tetapi tangannya sudah menyentuh perut Rani sebelum ia sadar penuh.
"Keras?"
"Keras. Dari tadi. Datang pergi."
"Berapa lama?"
"Aku nggak tahu. Sepuluh detik, mungkin."
"Tarik napas. Panjang. Dari hidung." Ibu Rani menghitung di mulut sambil mengelus dengan telapak tangan, melingkar, searah jarum jam. "Tahan. Lepas. Ibu dulu lima kali, Ran. Waktu pertama kali begini sama kamu, ibu panik dan bangunin bapakmu tengah malam. Dia cuma bilang 'tidur lagi'. Tapi ini belum. Kalau yang asli, rasanya kayak diperas dari pinggang, dan datangnya teratur."
"Dokter bilang kalau keras terus..."
"Ini nggak terus. Lihat, sudah kendor." Perut itu memang melunak di bawah telapaknya. "Ini bohongan, kata orang tua. Bayinya latihan. Tapi kita telepon bidan juga, biar tenang."
Maya muncul di pintu dengan sarung dan jaket Danu, mata merah, rambut seperti sarang burung. Ia dengar semuanya dan tidak berkata apa pun, hanya meraih ponsel dan mulai mencari nomor.
Bidan di seberang telepon mengatakan hal yang sama dengan ibu Rani, hanya dengan istilah medis, dan menyuruh Rani minum segelas air putih serta berbaring miring ke kiri. Satu jam kemudian perutnya mereda. Ibu Rani tidak kembali ke kasur lipat. Ia duduk di tepi ranjang, menyisir rambut Rani dengan jari-jarinya, lambat, seperti dulu waktu Rani kecil demam.
"Ibu masak bubur kacang hijau nanti," katanya. "Kamu kurusan."
"Perutku segede ini, Bu, kurusan dari mana?"
"Dari muka. Makan."
*****
Adi tiba pukul sebelas dengan ransel besar dan wajah yang jelas belum tidur, menyeberang dari terminal naik ojek yang ia suruh berhenti dua gang sebelum rumah. Rani menemuinya di teras.
"Kak Adi? Bukannya kerja?"
"Cuti dua hari. Gue pengen lihat lo." Adi memandang perutnya sebentar, lalu cepat-cepat memandang yang lain, seperti anak yang ketahuan menatap barang mahal di etalase. "Gede, ya. Kata Ibu, tadi pagi sempat..."
"Bohongan. Sudah lewat."
"Syukur." Ia duduk di undakan teras dan menunduk, memain-mainkan tali ransel. Rani menunggu, karena ia mengenal kakaknya yang satu ini: Adi tidak pernah bicara kalau didorong. "Ran. Gue mau ngomong. Gue nggak ke ruko itu lagi."
"Ruko yang di Banjarmasin?"
"Tiga bulan. Hari ini sembilan puluh dua hari." Ia tertawa kecil, getir. "Gue hitung di kalender kantor. Gaji gue yang dua bulan dulu hilang di sana, Ran. Lo nggak tahu itu. Dan waktu gue lihat laki-laki itu di pelaminan lo..."
"Rendi."
"Ya. Waktu gue lihat dia, gue ingat dia karena meja yang sama. Gue diam. Gue diam karena gue malu, bukan karena gue nggak tahu apa-apa." Ia menatap Rani akhirnya. "Gue tabung semua lemburan sekarang. Bukan banyak. Tapi itu buat lo sama bayi lo, kalau perlu. Dan kalau lo melahirkan, gue pulang. Gue udah izin ke atasan, kapan pun lo telepon."
Rani duduk di sebelahnya, pelan karena perutnya, dan menyandarkan kepala ke bahu kakaknya. Hanya sebentar.
"Makasih, Kak."
"Nggak usah makasih. Gue yang utang."
*****
Hajjah datang tepat ketika ibu Rani menyajikan bubur kacang hijau, seakan sudah menghitung waktu. Ia membawa kantong kain biru tua, dan kali ini ia tidak duduk di kursi plastik; Maya menarik sofa untuknya.
"Mama tidak lama, Nak." Hajjah mengeluarkan kotak kayu kecil dibungkus kain merah dari kantong itu. "Mama bawa ini dari Sampit. Sudah lama Mama simpan."
Rani membuka kain itu. Di dalam kotak, di atas beludru krem, ada gelang bayi bertatah ukiran halus dan satu kalung dengan liontin bulan sabit sebesar kuku.
"Gelangnya Mama pesan waktu Rendi lahir," kata Hajjah. "Tidak pernah sempat dipakainya, Nak. Mama simpan bertahun-tahun." Ia berhenti. "Kalungnya Mama beli bulan lalu. Dua-duanya untuk Alya."
Dari kursi pojok, ibu Rani meletakkan mangkuknya.
"Bu Hajjah." Suaranya rata, terlalu rata. "Kami bukan orang yang perlu dikasihani. Kalau soal emas, kami masih punya akal untuk beli sendiri."
"Bu, Mama tidak..."
"Ini bukan buat kamu, Ran." Ibu Rani tidak menoleh. "Ini buat harga diri."
Hening. Hajjah menunduk dalam, tangannya menggenggam tepi kantong, dan Rani sudah membuka mulut untuk menengahi ketika Hajjah bicara lebih dulu, pelan.
"Ibu benar. Dan Mama tidak datang untuk mengasihani." Ia mengangkat wajah. "Mama datang karena Alya cucu Mama juga, dan Mama tidak punya apa-apa lagi untuk diwariskan selain ini. Mama minta, bukan sebagai penebus. Sebagai nenek."
Lama sekali ibu Rani menatap kotak kayu itu. Lalu perlahan, ia berdiri, menghampiri, mengangkat gelang kecil dari beludru, dan memiringkannya di bawah cahaya jendela.
"Ukirannya halus," katanya. Dan setelah sebentar: "Simpan di lemari ibu. Biar Alya pakai kalau sudah besar." Ia menutup kotak itu dengan hati-hati, seperti menutup sesuatu yang hidup. "Bukan karena kami terima dari Bu Hajjah. Karena dia cucu kita berdua."
Maya, yang berdiri dengan baki, mengusap pipinya diam-diam dengan lengan baju.
*****
Menjelang isya, Ibu Bagas mengirim Bagas mengantar sekeranjang jeruk dan susu hamil yang disarankan dokter. Rani sudah mengatakan lewat telepon bahwa ia mau; kalau ada Maya dan ibunya di rumah, tidak ada alasan menolak. Bagas berdiri di teras, tidak masuk, menyerahkan keranjang itu ke tangan Maya, lalu bertanya kabar.
Rani keluar dan duduk di kursi rotan. Pintu di belakangnya terbuka lebar, dan dari dapur terdengar ibu Rani mencuci piring dengan lebih banyak bunyi dari yang perlu.
"Hari ini perutku keras dua kali," ujar Rani. "Tadi pagi, dan siang tadi."
"Maya cerita. Kamu tenang?"
"Sekarang tenang. Tadi tidak." Ia menatap jalan gang yang temaram. "Mas, saya mikir. Alya akan lahir tanpa ayah yang duduk di sebelahnya waktu dia belajar naik sepeda. Saya mau tahu itu, dan saya mau menerimanya. Tapi kadang rasanya berat."
Bagas lama tidak menjawab. Lalu ia berkata, hati-hati, seolah tiap kata ditimbang.
"Ran, aku nggak mau jadi pengganti. Aku tahu Alya punya ayah, dan itu bukan hakku untuk hapus." Ia menarik napas. "Tapi kalau anakmu butuh sosok, aku ada. Bukan sebagai pengganti. Sebagai sahabatnya."
Rani menoleh. Ia menunggu rasa curiga yang biasanya muncul, nada manis yang terlalu rapi. Rasa itu tidak datang.
"Sahabat boleh, Mas." Suaranya pelan. "Tapi saya yang tentukan sampai di mana."
"Itu syarat yang adil."
Bagas pamit sebelum isya selesai, dan Rani mengantar sampai pagar. Di sana Adi sudah bersandar sambil mengunyah jeruk yang entah kapan ia ambil dari keranjang. Ia dan Bagas saling memandang beberapa detik, dua laki-laki yang pernah berbagi mess dan makan mi instan di balkon atap.
"Gas."
"Di."
"Jeruknya manis." Adi mengangguk ke arah keranjang. "Gue titip yang di dalam. Maksud gue, jagain. Bukan titip beban."
"Aku tahu maksudmu."
"Bagus. Kalau lo nyakitin dia..."
"Aku tahu, Di."
Adi mengangkat bahu dan kembali mengupas jeruk, wajahnya datar, tetapi bahunya turun, dan Rani mengerti bahwa itu cara kakaknya mengucapkan terima kasih.
Bagas menyalakan mobil dan pergi. Ketika Rani kembali ke teras, ibu Rani sudah berdiri di ambang pintu dengan lap di bahu.
"Dia tahu kamu belum jawab apa-apa?"
"Tahu, Bu."
"Bagus." Ibu Rani menyampirkan lap itu lebih rapi. "Ibu mau lihat dia sabar sampai kapan."