Hujan turun sejak magrib, deras dan berisik di atap seng, dan Rani baru saja memejamkan mata ketika sesuatu yang hangat mengalir pelan di antara kakinya.
Ia membuka mata. Kamar gelap, dengung kipas angin, tetesan air dari talang yang bocor. Ia diam dua detik, mengira dirinya mengompol seperti anak kecil, lalu merasakan sekali lagi: bukan tumpah, melainkan merembes, tanpa bisa ditahan.
"May." Suaranya nyaris tak keluar. Ia menggoyang bahu Maya, yang tidur di kasur lipat di samping ranjang. "May, bangun."
"Hmm. Subuh?"
"Bukan. Air. Ada air."
Maya langsung duduk. Kantuknya hilang dalam satu kedipan, seperti lampu yang dinyalakan. Ia menyalakan senter ponsel, menyorot seprai, dan wajahnya berubah.
"Ketuban." Ia meraih ponsel, bukan senter, dan jarinya sudah menekan tombol sebelum Rani sempat bicara. "Ran, tenang. Dokter bilang kalau begini langsung ke rumah sakit. Jangan bangun, jangan jalan. Aku telepon Mas Danu."
"Ini belum waktunya, May. Baru tiga puluh tiga minggu."
"Aku tahu."
"Bayinya..."
"Dia akan baik-baik saja." Maya menempelkan ponsel ke telinga, berlutut di sisi ranjang dan menggenggam tangan Rani erat-erat dengan tangan satunya. "Mas? Mas Danu, bangun. Ketuban Rani pecah. Bawa mobil kantor ke sini sekarang. Iya, sekarang."
Ia menutup telepon, menekan nomor lain tanpa jeda.
"Ibu Bagas? Maaf malam-malam. Ini Maya. Rani..." Suaranya pecah sebentar, dan ia menelan. "Rani mau ke rumah sakit. Ketubannya. Iya, Bu. Iya. Rumah Sakit Umum, yang di jalan besar. Saya tunggu."
Nomor ketiga berdering lama sekali. Maya menggigit bibir, menghitung dering, hampir menyerah ketika suara serak ibu Rani terdengar.
"Halo? Maya? Ada apa?"
"Bu, Rani mau melahirkan. Kami berangkat ke rumah sakit."
Hening sedetik. Lalu terdengar sesuatu jatuh, dan suara ibu Rani, yang selalu tegas, naik satu oktaf. "Iki! Iki, bangun! Ambil kerudung Ibu!"
Rani memejamkan mata. Ia belum merasa sakit. Ia hanya merasa dingin dan sangat takut, takut yang hening dan bundar, yang tidak menjerit.
"Tasnya, May," bisiknya. "Di bawah ranjang. Ibu yang packing minggu lalu."
"Kuambil. Jangan gerak." Maya menarik tas kain besar itu dengan kaki, tanpa melepas tangan Rani. "Sarung bayi, popok, baju ganti, buku periksa. Lengkap. Ibumu rapi banget, Ran."
"Selimutnya?"
"Selimut kuning ada. Yang ada bulan sabitnya." Maya tersenyum sambil menangis, dua hal yang sering ia lakukan bersamaan. "Dia nggak akan kedinginan. Dia punya banyak nenek."
Rani tertawa kecil, goyah, dan itu cukup membuatnya bisa bernapas lagi.
*****
Mobil kantor sawit itu menembus hujan dengan wiper bergerak sekencang jantung Rani. Danu menyetir tanpa bicara, kedua tangannya mencengkeram setir, mata tidak lepas dari jalan yang berkilat oleh lampu. Maya duduk di belakang bersama Rani, memangku kepalanya, sambil menahan handuk tebal.
"Pelan, Mas, jangan terlalu pelan," ujar Maya. "Maksudku, cepat tapi jangan menabrak."
"Aku tahu, May."
"Kamu belum pernah nyetir di hujan begini?"
"Pernah. Ke Sampit." Danu menatap kaca spion sebentar, dan Rani melihat matanya. "Waktu itu aku juga takut."
"Sekarang?"
"Lebih takut."
Rani ingin tertawa. Ia menahan tawa itu karena perutnya mengeras lagi, kali ini disusul rasa nyeri yang nyata, dari punggung menjalar ke depan seperti tangan yang meremas pinggangnya. Ia mengerang pelan dan Maya menggenggam tangannya makin erat.
"Itu kontraksi?"
"Rasanya... ya."
"Hitung, Ran. Berapa lama."
Rani menghitung. Dua puluh detik. Lalu reda. Ia menarik napas panjang seperti yang diajarkan ibunya, dari hidung, dan baru saja menghembuskan napas ketika nyeri itu datang lagi.
Gerbang rumah sakit muncul dari balik tirai hujan. Dua perawat berjas hujan sudah menunggu di depan unit gawat darurat dengan kursi roda, dan di belakang mereka berdiri seseorang yang sudah lebih dulu tiba.
Mobil hitam Bagas terparkir miring di bawah kanopi, lampu darurat masih berkedip.
*****
Ruang tunggu di depan kamar bersalin berbau antiseptik dan teh manis dingin dari gelas plastik yang ditinggalkan siapa pun. Seorang bidan jaga memeriksa Rani di atas ranjang dorong, menekan perutnya, mengecek, lalu menulis di papan klip.
"Pembukaan dua, Bu. Ketubannya sudah pecah, jadi kita pantau terus. Karena belum cukup bulan, dokter anak sudah dipanggil. Ibu akan melahirkan di sini malam ini, mungkin menjelang pagi." Bidan itu menatap Rani dengan tenang. "Inkubator sudah disiapkan. Ibu tidak sendirian."
"Boleh ada yang menemani?"
"Satu orang di dalam, nanti."
Rani menatap Maya, yang mengangguk cepat sebelum Rani sempat bertanya.
Danu dan Maya sempat bertukar pandang di sisi ranjang, dua orang yang beberapa pekan lagi akan menjadi suami istri dan malam ini hanya sibuk menjadi tiang untuk orang lain. Maya menekan tangan Rani sekali lagi, lalu mengetik pesan cepat ke Adi, hanya satu kalimat: Rani mau melahirkan, pulanglah.
Di ujung lorong, roda kursi roda berderit. Rani menoleh dan melihat Kak Laila mendorong kursi itu, perawat berjalan di belakang membawa tas, dan di atasnya, Ibu Bagas dengan kerudung yang dipakai asal-asalan dan rambut yang tampak ditata terburu-buru. Bagas di belakang mereka berhenti di mulut lorong, tidak melangkah lebih jauh.
"Nak." Ibu Bagas melambai dengan tangan gemetar. "Nak, Ibu di sini."
"Ibu..."
"Laila, berhenti." Ibu Bagas menahan lengan putrinya. "Biar Ibu."
"Bu, dokter bilang jangan..."
"Biar Ibu, Laila."
Kak Laila membuka mulut, menutupnya lagi, lalu mengunci rem kursi. Ibu Bagas meletakkan kedua telapak tangannya di pegangan, menarik napas panjang, dan mengangkat tubuhnya dari kursi itu.
Tanpa walker. Tanpa pegangan lain.
Rani menahan napas. Perawat hampir bergerak, tetapi Kak Laila mengangkat tangan, menyuruhnya diam. Ibu Bagas berdiri. Kakinya bergetar seperti dahan di angin kencang, tetapi ia berdiri. Satu langkah, tangan terulur. Dua langkah, mata terpaku pada wajah Rani yang basah oleh keringat dan air mata. Tiga, empat, lima langkah menyusuri lantai putih lorong rumah sakit, pelan sekali, dan ia sampai di sisi ranjang dorong.
Ia membungkuk dan memeluk Rani erat-erat, dengan seluruh tubuhnya yang masih belajar mengingat cara berdiri.
"Ibu berdiri..." Rani berbisik, terisak di bahunya. "Ibu berdiri sendiri."
"Ibu bilang kan, Nak." Suara Ibu Bagas basah dan bangga. "Doa kamu dijawab. Sekarang Ibu yang jawab doanya. Kamu tidak sendirian. Tarik napas. Ada Ibu."
Di mulut lorong, Bagas menutup mulut dengan tinju dan berpaling ke dinding. Kak Laila di sebelahnya menangis tanpa suara.
Danu, yang berdiri dengan jaket basah di sisi tembok, menghampiri Bagas dan menyodorkan botol air mineral yang entah dari mana ia dapat. Bagas menerimanya, memegangnya, dan lupa meminumnya.
"Dia akan baik-baik saja, Gas," kata Danu pelan.
"Aku tahu." Suara Bagas bergetar. "Aku cuma tidak boleh masuk. Itu yang membuatku gila."
"Kamu sudah benar tidak masuk."
"Aku tahu juga."
Lalu bidan kembali, kali ini dengan dua perawat lain. "Bu Rani, kita pindah ke ruang bersalin sekarang. Pembukaannya cepat."
Ibu Bagas melepaskan pelukan dengan berat hati. Seorang perawat menggantikan kursi roda, mendudukkan Ibu Bagas dengan sopan, dan ranjang dorong Rani mulai bergerak.
Dari ujung lorong yang lain terdengar langkah tergesa. Sandal karet. Napas terengah. Seseorang berlari, dan suaranya yang serak memanggil nama anaknya. "Ran! Rani!"
Ibu Rani muncul di tikungan dengan kerudung miring dan sandal yang berbeda warna kiri dan kanan, bajunya basah sampai bahu. Ia berlari dengan tangan terulur, tetapi pintu ganda kamar bersalin sudah mulai menutup, dan ranjang dorong itu sudah melewati ambangnya.
Ia terlambat selangkah.
Dari balik pintu yang menutup perlahan, suara Rani terdengar sekali, tipis dan pecah, seperti suara anak berumur tujuh tahun yang memanggil dari ujung koridor panjang.
"Ayah..."