Empat hari sesudah jawaban "ya" itu, pada pagi akad, Iki sudah menyiarkan penjelasan Kak Adi ke separuh gang sebelum matahari terbit, dan sekarang ia melapor langsung dari ambang pintu kamar dengan baju koko putih yang kekecilan di lengan dan peci miring.
"Kak Adi sudah jelasin," lapornya. "Bang Rendi itu ayahnya Alya, Kak Bagas itu suaminya Kak Rani, dan dua-duanya nggak boleh bertengkar karena nanti Alya bingung."
"Pintar," kata Anita, yang sedang menyematkan bros di bahu kebaya Rani sambil menjepit peniti di bibir.
"Tapi Iki masih bingung kenapa dua-duanya laki-laki yang sama-sama dipanggil Abang."
"Nanti kamu panggil Kak Bagas saja, Dik," kata Rani. "Kakak nggak keberatan."
"Iki juga nggak." Iki puas, dan lenyap dari pintu untuk melapor kepada seseorang yang lain.
Kamar lamanya sudah penuh sejak subuh. Siti memegang kipas kertas, Maya mengatur ujung selendang dengan wajah serius seorang insinyur jembatan, dan di tengah semuanya Rani duduk di depan cermin dengan kebaya putih gading dan kerudung bersulam benang perak. Tidak ada beludru tebal, tidak ada riasan yang membuatnya tak dikenali. Hanya dirinya sendiri, sedikit lebih matang, sedikit lebih lelah, dan lebih tenang daripada pagi akad yang pertama.
Bunyi ketukan pelan di pintu. Ibu Rani masuk dengan kebaya ungu tua yang sama dan sebuah kotak kecil di tangan.
"Dari Hajjah," katanya. "Untuk Alya. Kemarin dititip lewat Bu Bambang." Ia menaruh kotak itu di meja rias, lalu berdiri di belakang Rani dan memandang cermin. "Dan dari Reza, lewat anak buahnya. Amplop."
Rani membuka amplop. Di dalamnya ada kartu putih tanpa hiasan: selamat atas pernikahan, tanda tangan Reza, dan sebaris tulisan tangan, Semoga bahagia, Ran. Tidak lebih. Ia membaca sekali, menyimpannya, dan meminta Maya mengambilkan kertas untuk menulis kartu terima kasih resmi seperti biasa.
"Rani." Ibu Rani menatap bayangannya di cermin. "Ibu nggak pandai bicara."
"Ibu sudah sering bilang."
"Diam, ini serius." Ibu Rani mengatur kerudung Rani dengan jari yang tidak terlalu sabar. "Hari itu, waktu kamu menikah dengan yang pertama, Ibu cuma lihat jujurannya. Hari ini Ibu lihat matanya. Mata laki-laki itu waktu dia lihat kamu, Ran. Ibu tahu mata itu." Ia berhenti. "Ayahmu dulu begitu."
Rani tidak bisa menjawab. Ia hanya menggenggam tangan ibunya yang berada di bahunya, dan ibunya membiarkan.
*****
Ruang tamu sudah menjadi ruang akad: karpet merah, meja rendah bertaplak putih, penghulu yang sama dengan akad Maya, dan kursi-kursi plastik yang kali ini penuh sampai ke halaman. Rani duduk di balik sekat anyaman bersama ibu Rani dan Maya. Dari celah ia melihat sebagian: bahu kakak tertua dalam jas hitam, bagian belakang kopiah Bagas, dan Iki yang berdiri di sudut memegang bantal berisi cincin dengan sikap seperti memegang bom.
"Itu dia," bisik Maya. "Lihat. Ibu Bagas."
Rani mendorong sekat sedikit.
Di pintu depan Ibu Bagas berdiri dengan kebaya hijau tua dan kerudung perak, dan di sampingnya, terlipat diam di tangan Kak Laila, walker itu tidak dipakai. Ia berjalan sendiri melewati ambang. Satu langkah, dua, tiga, melewati karpet merah dengan punggung tegak dan dagu terangkat, melewati kursi-kursi yang tamunya tanpa sadar ikut berdiri. Tak ada yang bertepuk tangan. Ruangan hanya menahan napas.
Rani teringat pantai pagi itu, kursi roda, dan doanya yang ia ucapkan sambil memegang kedua tangan perempuan asing: semoga kaki ini kuat lagi. Ia tidak pernah mengira doa itu akan datang kepadanya di dalam rumah masa kecilnya, dengan tamu-tamu yang berdiri dan penghulu yang menunggu, dan dengan Ibu Bagas yang menjawabnya langkah demi langkah.
Ibu Bagas sampai ke bangku di samping meja akad dan duduk. Ia memandang ke arah sekat, ke celah yang Rani buka, lalu tersenyum lebar sekali sampai matanya hilang.
Rani menyeka matanya dengan ujung jari. Maya menyodorkan tisu tanpa menoleh.
Penghulu memulai khotbah. Kakak tertua Rani menjabat tangan Bagas, dan keduanya, laki-laki yang berbeda tinggi dan watak, memegang tangan satu sama lain dengan genggaman yang sama keras.
"Saya nikahkan dan kawinkan adik kandung saya, Maharani Saraswati binti Iyus," kata kakak tertua, jelas dan dalam, "dengan engkau, Bagaskara Sanjaya, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan sepuluh gram emas, tunai."
Bagas menarik napas. Dari balik sekat, Rani melihat bahunya naik.
"Saya terima nikah dan kawinnya Maharani Saraswati binti Iyus dengan mas kawin tersebut, tunai."
Satu tarikan napas. Tanpa jeda, tanpa tersendat, seperti seseorang yang sudah menghafalnya bertahun-tahun di dalam dada.
"Sah?" tanya penghulu.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah."
Sorak tertahan naik dari ruang tamu. Maya menjerit pendek, menutup mulut, lalu memeluk Rani erat-erat sampai kerudungnya miring. Ibu Rani tidak menangis; ia berdiri, membetulkan kerudung putrinya, lalu berkata dengan suara yang kedengaran sangat tertib, "Ayo. Suamimu menunggu."
*****
Rani dituntun keluar dari balik sekat, ke karpet merah, ke kursi di samping Bagas. Laki-laki itu berdiri ketika melihatnya, lalu duduk lagi terlalu cepat, seperti lututnya terlambat memutuskan.
"Assalamualaikum, Ran," katanya pelan, lucu, seakan baru bertemu.
"Waalaikum salam, Mas."
Ibu Rani berhenti di belakang kursi mereka. Ia menaruh satu tangan di bahu Bagas, dan Bagas menoleh dengan terkejut.
"Bagas," katanya, tegas, suara yang pernah memberi Rani begitu banyak luka dan kini mengatakan hal lain. "Ayahnya menitipkan Rani pada Ibu, dan Ibu tidak menjaganya baik. Sekarang Ibu tidak titip. Ibu percayakan. Jaga dia, dan jaga cucu Ibu."
"Insya Allah, Bu." Bagas menunduk dalam-dalam. "Dengan seluruh saya."
Rani menjulurkan tangan kanannya ke arah suaminya, telapak ke atas, dan menunggu. Bagas menatap tangan itu, lalu wajahnya, dan bertanya tanpa suara: boleh? Rani mengangguk, kecil, di depan seisi ruangan. Maka tangan Bagas yang besar dan agak kasar akhirnya menyentuh tangan Rani, pertama kali sepanjang mereka saling mengenal, dan genggamannya hangat dan tidak ragu.
Rani menunduk dan mencium punggung tangan itu. "Boleh?" bisik Bagas. Rani menengadah sedikit, dan Bagas mengecup keningnya, sebentar, dengan mata terpejam.
Alya, yang digendong Kak Laila, mengeluarkan bunyi protes keras. Seisi ruangan tertawa, termasuk penghulu.
Kak Laila menyerahkan bayi itu. Rani menerimanya dengan satu tangan, dan tangan lainnya tetap tinggal dalam genggaman Bagas, sehingga Alya berada tepat di antara mereka, kecil, hangat, dan sekarang tenang, menatap wajah laki-laki itu dengan mata bundar.
Para tamu bergiliran memberi selamat. Maya dan Danu, Anita dan Siti, Adi yang memeluk Bagas sambil menggerutu "Awas lo", Arman dengan kantong hadiah dari toko, dan Bu Bambang, yang berdiri paling lama di depan Rani, matanya basah dan tangannya meremas tas.
"Nak Rani, semoga..." ia tidak tahu harus bilang apa.
"Terima kasih sudah datang, Bu Bambang." Rani meraih tangannya. "Saya sudah lama nggak marah."
Di tengah semua itu ponsel Bagas bergetar. Ia merogohnya dengan satu tangan, melihat layar, dan tertawa kecil.
[Selamat ya, Mas Gas. Semoga bahagia sampai tua. Rara.]
"Dari siapa?" bisik Rani.
"Teman kantor." Bagas menyimpan ponselnya. "Orang baik yang aku tolak dengan benar."
Menjelang tamu mulai surut, Rani menoleh kepada suaminya, ke wajah yang dulu pernah ia lihat dari seberang pelaminan yang lain, di hari yang lain, dan berkata dengan suara yang hanya sampai ke telinga Bagas.
"Mas. Kamu itu pelabuhan terakhirku."
Bagas tidak menjawab. Genggamannya mengencang pelan, dan dari seberang meja Ibu Bagas, yang menyaksikan semuanya sambil memegang sapu tangan, mengangkat gelas teh seperti mengangkat piala.
"Dengar, anak-anak," katanya, cukup keras supaya seisi ruangan mendengar. "Tahun depan kita ke pantai lagi."