Bel pintu berbunyi pukul empat sore, dan Alya, yang baru bisa berjalan tiga bulan dan masih menganggap setiap tamu sebagai urusan pribadinya, sudah lebih dulu tiba di pintu dengan telapak tangan terentang menepuk-nepuk kayu.
"Aya buka! Aya buka!"
"Sebentar, Nak, Mama yang buka." Rani mengangkat anaknya ke pinggul, memutar anak kunci, dan membuka pintu rumah kecil mereka, di gang dua belokan dari rumah ibu Rani, yang cat temboknya baru kering enam bulan lalu.
Di teras berdiri Hajjah Salmah dengan gamis abu-abu dan kerudung biru muda, memegang tas kain di depan dada seperti perisai. Wajahnya lebih kurus dan tenang dari terakhir Rani lihat, dan ada yang baru di sana: tidak ada lagi lingkar hitam di bawah mata.
"Assalamualaikum, Nak Rani."
"Waalaikum salam, Bu Hajjah. Masuk, silakan." Rani menggeser badan. "Mas Bagas masih di kantor, tapi sebentar lagi pulang."
Hajjah duduk di ruang tamu, kursi rotan yang dibeli Bagas di pasar bulan Maret, dan menerima teh dengan kedua tangan. Alya langsung mendekat dan menunjuk ke gelang di pergelangannya. "Cantik," kata Hajjah, tersenyum goyah, dan membiarkan jari mungil itu menyentuh emas yang dingin.
Setahun ini berjalan cepat bagi Rani, dan juga sangat pelan: Bagas yang pulang tiap sore dengan kemeja berdebu dan membawa gorengan, laporan keuangan toko yang ia kerjakan dari meja makan pada malam hari, ibu Rani yang datang tanpa mengetuk dan Ibu Bagas yang mengetuk tiga kali. Dan semuanya sampai pada hari ini, tanggal terakhir tahun, ketika seorang perempuan paruh baya duduk di ruang tamunya menunggu keberanian untuk bicara.
"Mama bawa kabar," kata Hajjah akhirnya. "Dua belas Desember lalu, genap setahun."
Rani menaruh gelas.
"Rendi bersih, Nak. Setahun. Mama sendiri yang mengantarnya periksa tiga bulan sekali, hasilnya Mama bawa." Ia merogoh tas dan mengeluarkan map plastik tipis. "Ia kerja di kebun paman, yang memang punya paman, bukan yang dulu ia aku-aku. Pagi bangun subuh, malam tidur awal. Ia tidak bilang apa pun soal ini. Mama yang bilang." Suaranya menghangat. "Dan ia titip ini. Tulisannya pendek. Katanya, kalau kamu tidak mau membacanya juga tidak apa."
Selembar kertas lipat dua. Rani membukanya.
Rani, hari ini genap setahun. Aku tidak minta apa pun. Aku cuma mau kamu tahu aku masih di sini, bekerja, dan aku tidak berhenti. Tolong sampaikan pada Alya kalau suatu hari ia bertanya: ayahnya sudah belajar. Rendi.
Ia membacanya sekali. Ia tidak menangis, dan tidak merasa perlu menangis. Hanya ada rasa lapang yang aneh, seperti ruang yang dulu dipenuhi sesuatu dan sekarang cuma berisi udara bersih.
"Terima kasih, Bu Hajjah," katanya, melipat kertas itu dan menaruhnya di bawah Quran kecil, di tempat surat-surat lain. "Saya sampaikan pada Alya kalau waktunya tiba."
"Mama ingin usul." Hajjah memilin ujung kerudungnya. "Besok, tanggal satu. Di taman kota, siang hari, tempat terbuka sesuai syaratmu. Mama temani. Hanya sebentar. Rendi cuma ingin melihat Alya, tidak minta lebih. Kalau kamu belum siap, Mama bilang saja ia harus menunggu lagi, ia akan menunggu."
Rani memandang Alya, yang sedang berusaha memasukkan kancing gamis Hajjah ke mulut. Ia memikirkan syaratnya setahun lalu, kalimat yang ia ucapkan dengan lutut gemetar di teras dan mengira ia sedang menyuruh Rendi pergi, padahal ia sedang menyusun jalan pulang bagi anaknya.
"Kami akan datang, Bu Hajjah," katanya tenang. "Saya, Mas Bagas, dan Alya. Sebentar saja, di tempat ramai. Saya tidak janji lebih dari itu."
Hajjah menutup mulutnya dengan tangan dan menunduk lama.
"Itu sudah lebih dari cukup," bisiknya.
*****
Malam itu Tangkisung ramai oleh orang yang menyiapkan tahun baru. Tikar digelar sepanjang pasir, penjual jagung bakar berjajar dengan arang merah di bawah lampu temaram, dan di kejauhan ombak menjilat pasir dengan bunyi yang Rani kenal dari ingatan mana pun, bunyi yang selalu terdengar seperti seseorang berbisik "pulanglah".
Mereka menggelar tikar di tempat yang sama. Rani yakin, karena pohon ketapang itu masih menggantung dahan ke arah yang sama, miring ke laut. Ibu Bagas duduk di kursi lipat yang dibawa Kak Laila, dengan syal biru dan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih muda daripada dua tahun lalu. Ibu Rani duduk di tikar di dekatnya, membawa termos teh dan bekal pisang goreng yang ia bagikan tanpa bertanya. Iki dan Adi yang pulang sepekan bermain pasir. Bagas menggendong Alya di bahu, dan Alya memegangi rambut ayahnya seperti kemudi.
"Kamu gendong dia kayak sedang bawa pelampung," kata Rani.
"Kalau dia jatuh dari sini, pelampungnya aku."
Hitungan mundur dimulai dari kerumunan di sebelah, suara anak-anak lebih dulu: sepuluh, sembilan, delapan. Ibu Bagas meletakkan gelas teh di pasir. Ia menatap lautan, menarik napas panjang, kemudian, tanpa bantuan siapa pun, dan tanpa tongkat, berdiri.
Tujuh. Enam. Lima.
Kak Laila menutup mulut. Ibu Rani, yang duduk di sebelahnya, tidak sadar sudah menggenggam tangan perempuan itu dan tidak melepaskannya.
Empat. Tiga. Dua.
Rani memandang punggung Ibu Bagas yang berdiri tegak di depan laut, perempuan yang dua tahun lalu mengelus pipinya di tempat yang sama dan lupa bertanya namanya. Lalu ia menunduk, memandang lautan, dan berbisik, hanya untuk satu orang yang tidak ada di sana.
'Sudah Rani pikir-pikir, Yah. Bulan depan Rani mulai kuliah malam.'
Satu.
Langit meledak di atas pantai dengan warna-warna yang ia tak bisa namai, dan seluruh tikar bersorak. Alya menjerit senang di bahu Bagas. Ibu Bagas tertawa dengan kedua tangan terangkat, dan Bagas, dengan mata basah, menoleh pada istrinya dan hanya berkata, "Ran."
"Aku lihat, Mas."
*****
Mereka pulang menjelang pukul satu, dalam dua mobil. Adi menyetir mobil sewaan membawa ibu Rani, Iki yang sudah tertidur di jok, dan Rani dengan Alya di dada. Bagas menyetir mobil hitamnya sendiri bersama Ibu dan Kak Laila.
Di parkiran pasir yang gelap dan penuh, dua mobil itu berhenti berdampingan karena tidak ada ruang lain. Rani menurunkan kaca jendela untuk menghirup udara. Di sebelah, kaca mobil hitam itu juga turun.
Bagas memandangnya dari jarak satu meter, siku di jendela, rambut berantakan oleh angin laut. Sepersekian detik, mereka hanya saling menatap, dua orang yang pernah duduk di dua mobil seperti ini tanpa saling tahu, dengan dada yang berdebar oleh sesuatu yang belum bernama.
"Mas," kata Rani. "Dulu kita juga begini."
"Iya, Ran." Bagas mulai tertawa, bahunya naik turun. "Bedanya, sekarang aku tahu kamu siapa."
Rani ikut tertawa. Dari jok belakang mobil hitam, Ibu Bagas menjulurkan kepala dan bertanya apa yang lucu, dan dari mobil sebelahnya ibu Rani menjawab bahwa itu urusan anak-anak muda. Alya terbangun dan ikut tertawa tanpa tahu sebabnya, dan di malam hari pertama tahun yang baru itu, di bawah langit yang masih berasap oleh kembang api, dua mobil yang bersebelahan itu penuh oleh suara orang-orang yang pulang.
TAMAT