Rumah Arka berada di ujung gang, paling kecil di antara yang kecil. Cat tembok depannya sudah mengelupas, menampakkan bata merah di baliknya. Begitu masuk, Arka mendengar suara yang sudah ia hafal: suara ayah dan ibunya bicara dengan nada ditahan, seperti orang yang ingin teriak tapi tahu tetangga bisa mendengar.
"...gaji bulan ini belum cair, Bu. Aku udah ngomong sama mandor."
"Anak kita perlu bayar SPP, Pak. Tunggakan udah dua bulan."
Arka berdiri di balik pintu, sepatu masih basah, tidak berani masuk lebih jauh. Adiknya, Lala, kelas empat SD, duduk di sudut ruang tamu sambil pura-pura mengerjakan PR. Tapi pensilnya tidak bergerak. Ia hanya menunduk, mendengarkan, seperti Arka.
Begitu Arka melangkah masuk, suara di dapur langsung berhenti. Ayahnya keluar, masih memakai seragam kerja proyek yang berdebu. Wajah lelaki itu lelah, lebih tua dari usianya.
"Dari mana?" tanya ayahnya.
"Latihan, Yah."
Ayahnya menatapnya lama. "Latihan band itu lagi?"
Arka tidak menjawab. Ia tahu ke mana arah percakapan ini.
"Ka, Ayah nggak larang kamu main musik. Tapi lihat keadaan rumah. SPP kamu nunggak. Adikmu juga. Ayah butuh kamu mikir, bukan main-main."
"Itu bukan main-main, Yah."
Kata-kata itu keluar lebih tajam dari yang ia mau. Ayahnya terdiam, lalu mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu.
"Minggu depan kamu ikut Ayah kerja serabutan di proyek. Sabtu Minggu aja. Lumayan buat nutup SPP."
Dada Arka terasa berat. Sabtu Minggu adalah satu-satunya waktu mereka bisa latihan penuh. Tapi melihat wajah ayahnya, melihat ibunya yang muncul di ambang dapur dengan mata sembap, ia tidak sanggup membantah.
"Iya, Yah," katanya akhirnya.
Malam itu, di kamarnya yang sempit dan berbagi dengan Lala, Arka berbaring memandangi langit-langit. Lala sudah tidur, napasnya teratur. Di tangan Arka, ada buku tulis lusuh berisi lirik-lirik. Ia membuka halaman terakhir, tempat ia menulis kalimat tadi sore: rumah itu cuma dinding, bukan tempat pulang.
Ia menambahkan satu baris di bawahnya, dengan pensil, dengan tangan yang sedikit gemetar.
"...tapi aku tetap pura-pura tersenyum, biar kalian nggak tahu aku lelah..."
Ponsel butut Arka bergetar. Pesan dari grup band.
Senja: Ka, serius soal festival. Aku udah baca syaratnya. Kita harus bawa minimal 4 lagu original.
Bima: Gue setuju kita ikut. Kapan lagi?
Damar: Arka, lu yang nentuin. Kita ikut kamu.
Arka memandangi layar lama sekali. Di luar jendela, hujan sudah reda, tapi titik-titik air masih jatuh dari genteng tetangga. Tes, tes, tes. Seperti garasi tadi sore. Seperti detak yang tidak mau berhenti.
Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi.
Akhirnya ia hanya mengirim satu kata.
Arka: Ikut.
Tiga balasan masuk hampir bersamaan, penuh emoji semangat. Arka tersenyum tipis di kegelapan kamar. Untuk pertama kalinya seharian, senyumnya terasa nyata.
Tapi senyum itu memudar saat ia teringat janji pada ayahnya. Sabtu Minggu di proyek. Latihan terbatas. Empat lagu original yang harus jadi dalam hitungan minggu.
Ia menutup buku liriknya, lalu menyelipkannya di bawah bantal. Di sampingnya, Lala bergerak dalam tidurnya dan bergumam, "Kak, besok antar Lala beli buku, ya. Bukunya habis."
Arka memandangi adiknya. "Iya, Dek," bisiknya. "Nanti Kakak usahain."
Tapi dalam hati ia tahu, uang di celengannya tinggal beberapa ribu. Dunia tampak penuh dengan hal-hal yang harus ia tutupi—dari teman-temannya, dari adiknya, dari dirinya sendiri.
Ia memejamkan mata, dan di balik kelopaknya, ia mendengar melodi. Melodi yang belum ada nama, yang lahir dari semua yang tidak bisa ia ucapkan. Esok pagi, melodi itu mungkin akan jadi lagu. Atau mungkin hilang seperti embun.
Di luar, malam terus berjalan. Tes. Tes. Tes.