Serangan yang sebenarnya tidak datang dari kolam. Ia datang dari kertas, dari tempat yang Pram paling tak ia kuasai, dan ia datang lewat tangan yang sepanjang ini menyalaminya dengan kesopanan sempurna.
Lik Wage yang membongkarnya. Lelaki tua itu, yang sejak sengketa dulu masih sesekali muncul ke kantor desa dengan rokok di bibir dan mata yang membaca segalanya, suatu pagi menaruh selembar fotokopi di meja Pram tanpa banyak kata. "Coba kamu baca ini, Le. Baca pelan-pelan."
Itu salinan laporan keuangan desa—rekapitulasi penggunaan dana desa triwulan ini, yang Pram tahu samar-samar ada tapi tak pernah benar-benar ia teliti karena dunia angka dan pos anggaran masih asing baginya. Dan di situlah letak persoalannya. Lik Wage menunjuk dengan ujung jari yang menguning oleh nikotin. "Ini, pos belanja barang. Ada pembelian semen, pasir, besi—buat 'pemeliharaan jalan desa', katanya, bulan lalu. Nilainya lumayan. Tanda tangan pengesahannya—" ia geser jarinya, "—tanda tanganmu, Le."
Pram menegang. "Aku nggak pernah tanda tangan ini."
"Aku tahu kamu nggak pernah," kata Lik Wage tenang. "Karena nggak ada pemeliharaan jalan bulan lalu. Jalannya masih rusak, kamu tahu sendiri. Tapi di kertas, ada uang keluar, ada nota pembelian, ada tanda tanganmu, dan ada stempel desa. Kalau besok ada yang ngadu ke inspektorat kabupaten bahwa kades baru ngeluarin dana buat proyek fiktif—" ia membiarkan kalimat itu menggantung, "—siapa yang masuk? Bukan yang ngarang. Yang tanda tangannya nempel."
Darah Pram berdesir dingin. Ini bukan sabotase kasar seperti racun di kolam. Ini jebakan yang dirancang dengan kesabaran, di medan yang ia tak mengerti, oleh orang yang menguasai setiap huruf administrasi desa. "Carik," kata Pram, bukan pertanyaan.
Lik Wage mengangguk. "Dia yang pegang buku kas. Dia yang nyusun laporan. Dia yang bisa naruh tanda tangan palsu—gampang, dia simpan contoh tanda tanganmu dari surat-surat yang kamu teken tiap hari. Stempel di kotak mejamu, tapi siapa yang ngurus kantor pas kamu turun ke tambak seharian? Dia." Ia menyalakan rokok. "Pertanyaannya bukan siapa. Pertanyaannya: kamu mau apa."
Pram berdiri, berjalan ke jendela, menatap pohon mangga tempat dulu ia memergoki Carik menelepon punggung membelakangi kantor. Pilihannya, ia tahu, tak ada yang bersih. Ia bisa diam, pura-pura tak tahu, dan menunggu jebakan itu meledak di waktu yang dipilih lawannya—mungkin saat koperasi mulai berhasil, mungkin saat ia paling rapuh. Atau ia bisa melawan terbuka—memecat Carik—dan menghadapi kekacauan administrasi serta tuduhan bahwa ia membersihkan perangkat lama demi kekuasaan, persis seperti yang Pak Har lakukan dulu dengan caranya sendiri.
Topik, yang sejak tadi mendengarkan, berkata cepat, "Pecat aja, Pram. Orang ini bahaya. Dia bisa jebak kamu masuk penjara!"
"Kalau aku pecat dia," jawab Pram, "desa lumpuh seminggu. Nggak ada yang ngerti administrasi. Dan Pak Har bakal teriak: lihat, kades baru main pecat orang, sama otoriternya kayak yang dia tuduh." Ia mengusap wajah. "Tapi kalau aku diam, aku mimpin di bawah pisau yang bisa jatuh kapan saja dia mau."
Ia memikirkannya semalaman, dan keputusan datang di subuh, jernih dan dingin. Ia teringat pelajaran dari lapangan: pemain yang sengaja menjatuhkan timnya dari dalam lebih berbahaya daripada sebelas lawan di seberang. Kau tak bisa membangun apa pun dengan pengkhianat di ruang ganti. Kau keluarkan dia—di depan semua orang, dengan alasan yang jelas—lalu kau tanggung kekosongannya, karena kekosongan yang jujur lebih baik daripada kekuatan yang racun.
Pagi itu ia memanggil Carik ke ruangannya, menutup pintu, dan menaruh fotokopi laporan keuangan itu di atas meja, di antara mereka berdua. Tak ada teriakan. Ia sudah belajar, dari sengketa dulu, bahwa diam yang terkendali lebih menakutkan daripada amarah.
"Pak Carik," katanya, suaranya rata, "ada uang keluar buat pemeliharaan jalan bulan lalu. Tapi jalannya masih rusak. Dan ada tanda tangan saya di pengesahannya—padahal saya nggak pernah tanda tangan ini." Ia menatap lelaki tua itu lurus. "Bapak yang nyusun laporan ini. Saya kasih Bapak kesempatan jelasin. Sekarang."
Untuk pertama kalinya, kesopanan sempurna itu retak betul. Carik membuka mulut, mengeluarkan dalih—mungkin salah catat, mungkin kekeliruan administrasi, ia akan periksa, ia akan perbaiki. Tapi suaranya tak lagi mulus; ada gemetar tipis di ujungnya, gemetar orang yang baru sadar bahwa ia tertangkap di permainan yang ia kira hanya ia yang bisa main.
"Pak," potong Pram, masih tenang, "saya bukan ahli kertas. Bapak tahu itu, dan Bapak pakai itu. Tapi saya bisa baca orang. Dan saya tahu Bapak setia sama Pak Har, bukan sama desa. Dua belas tahun nggak hilang dalam sebulan, saya ngerti." Ia menarik napas. "Tapi saya nggak bisa pimpin desa dengan orang yang naruh tanda tangan palsu di laporan keuangan buat ngejebak saya. Mulai hari ini, Bapak saya berhentikan dari tugas, resmi, lewat surat, dengan alasan yang akan saya tulis terang—dugaan pemalsuan dokumen keuangan desa. Bapak boleh bawa ini ke mana saja, ke inspektorat, ke kecamatan. Saya nggak takut diperiksa. Karena yang saya takutin cuma satu: mimpin desa sambil nggak bisa percaya orang di kantor saya sendiri."
Ia berdiri, membuka pintu, dan di luar—sengaja—Bu Yuli, Pak Bowo, dan dua warga yang sedang mengurus surat bisa mendengar. Tak ada drama, tak ada usiran kasar. Hanya seorang kepala desa yang, untuk pertama kalinya, memilih melawan sabotase di terang benderang alih-alih menunggunya di kegelapan. Dan Carik, sang perangkat lama yang tak pernah membantah, keluar dari ruangan itu dengan punggung yang sedikit lebih bungkuk—bukan dipecat dengan kemarahan, melainkan dengan sesuatu yang lebih telak: ditangkap basah, lalu dikeluarkan dengan tenang, di depan saksi.