Pekerjaan keras itu, anehnya, menyembuhkan. Selama tiga minggu sembilan orang itu menggali pematang, membersihkan saluran yang tersumbat lumpur tambang, memperbaiki tanggul yang jebol. Tangan mereka melepuh, punggung mereka pegal, dan upah belum ada—hanya beras dari tabungan Pram dan harapan yang masih kecil. Tapi ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka, sesuatu yang Pram kenali dari lapangan: rasa memiliki. Lahan yang dulu menganggur kini berbentuk—dua kolam yang siap diisi, saluran yang mengalir, petak sawah yang dibasahi kembali.
Lalu benih pertama datang. Mas Yono membantu mengusahakannya—bukan dari dinas, yang masih berputar di prosedur, melainkan dari kelompok tambak binaan di desa tetangga yang bersedia menjual benih nila dengan harga teman dan pembayaran ditangguhkan sampai panen. Tiga ribu benih, kecil-kecil, berkilau perak di dalam kantong-kantong plastik berisi air. Mereka menebarnya sore itu dengan upacara kecil yang tak resmi: Lik Darman menuangkan kantong pertama, dan benih-benih itu berhamburan ke air keruh kolam, menghilang, lalu muncul lagi sebagai kilatan-kilatan perak yang hidup. Untuk satu sore, semua orang lupa lelah.
Dua hari kemudian, Kandar yang menemukannya pertama.
Ia datang ke garasi pagi-pagi, wajahnya pucat. "Pram—Pak Kades. Ikannya. Banyak yang mati."
Mereka bergegas ke kolam. Dan di permukaan air, mengambang putih, ratusan benih nila terapung tak bergerak, perut menghadap langit. Bukan semua—tapi cukup banyak untuk membuat dada Pram dingin. Mas Bejo menciduk air dengan tangannya, menciumnya, mengernyit. "Ada bau, Mas. Bukan bau air biasa." Ia menatap kolam, lalu menatap saluran masuk. "Kayak ada yang dimasukin ke air."
Mereka menelusuri saluran ke hulu. Di mulut saluran, di tempat air masuk dari sumber, ada bekas—tanah yang baru diinjak, jejak yang tak seharusnya ada di pagi sebelum siapa pun datang bekerja. Tak ada bukti. Tak ada wadah racun yang tertinggal, tak ada saksi. Hanya benih yang mati dan bau yang aneh dan jejak kaki yang bisa saja milik siapa pun.
Topik mengepalkan tangan. "Ini orangnya Pak Har. Pasti. Atau orangnya pengelola. Mereka nggak mau koperasi ini jalan!"
"Mungkin," kata Pram pelan, menahan amarahnya sendiri yang juga menyala. "Tapi kita nggak bisa buktiin, Pik. Dan kalau kita teriak nuduh tanpa bukti, kita cuma kelihatan kayak orang gagal yang nyari kambing hitam. Mereka udah ngitung itu."
Dan benar saja. Sebelum siang, cerita sudah berputar di desa—tapi bukan cerita tentang sabotase. Cerita tentang kegagalan. Di warung kopi orang berbisik bahwa koperasi kades baru sudah ambruk dalam dua hari, ikannya mati semua, buang-buang duit. Ada yang menambahkan bumbu lebih jahat: bahwa Pram sengaja bikin koperasi yang pura-pura gagal supaya nanti bisa minta dana bantuan dari pemerintah dan uangnya masuk kantong sendiri. Akal-akalan, kata mereka. Anak rantau itu nggak beda sama yang lain, cuma cara nilepnya lebih halus.
Pram mendengarnya dan merasakan racun yang kedua—racun yang lebih mematikan daripada yang ditebar di kolam. Bukan benih yang mereka bunuh. Mereka membunuh kepercayaan, satu-satunya modal yang ia punya, dengan cara yang paling murah: membuat kegagalan kecil terlihat seperti bukti bahwa tanpa tambang desa memang mati.
Ketika sore datang dan kolam masih berbau, beberapa anggota koperasi mulai goyah. Kandar duduk di pematang, menatap air. "Kalau begini terus, gimana, Pak? Kita kerja sebulan, ikannya mati semalam. Mungkin orang bener, mungkin sawah rusak ini emang nggak bisa diapa-apain."
Pram duduk di sampingnya. Ia ingin marah, ingin berteriak bahwa ini sabotase, bahwa mereka tidak gagal melainkan dijegal. Tapi ia tahu kemarahan tak akan menghidupkan ikan. Maka ia mengambil pendekatan yang ia tahu dari lapangan: ketika tim kebobolan gol curang dan wasit diam, kau tak bisa protes ke langit; kau cuma bisa main lebih rapat.
"Kandar," katanya, "yang mati separuh. Separuh lagi masih hidup, di kolam sebelah yang salurannya beda. Itu artinya bukan sawahnya yang rusak—kalau sawahnya yang salah, dua kolam mati semua. Ini ada yang masukin sesuatu lewat saluran utama." Ia berdiri, menatap saluran. "Jadi kita nggak nyerah. Kita ubah cara. Mulai besok, kita pasang jaga malam bergiliran di mulut saluran. Kita tutup yang bisa ditutup. Dan benih yang mati ini—" ia menatap bangkai-bangkai putih di air, "—kita kubur, lalu kita beli lagi, lebih sedikit, lebih dijaga. Tim yang dicurangi nggak boleh berhenti main, Kandar. Dia cuma harus main lebih pintar dari yang nyurangin."
Kandar memandangnya lama, lalu mengangguk pelan. Malam itu, untuk pertama kalinya, ada api unggun kecil menyala di pematang sawah hilir, dan dua lelaki berjaga di samping mulut saluran sepanjang malam—bukan melawan tambang dengan surat, kali ini, tapi menjaga ikan dengan mata terbuka, di tempat di mana mesin lama Kedungwaru, yang masih utuh dan masih licik, telah memutuskan bahwa bahkan kolam ikan pun layak diracun demi membuktikan bahwa tak ada hidup tanpa pasir.